Cowok Cupu Vs Cewek Bar Bar

Cowok Cupu Vs Cewek Bar Bar
Memaafkan


__ADS_3

"Ya mau gimana lagi? Gue nggak punya pilihan, nyawa Kak Siska bisa melayang.


"Tapi gimana sama Kamu? Kamu rela drop gini hanya demi Kakak yang sama sekali nggak pernah hargain kamu dan malah benci sama kamu."


"Karena dia Kakak kita. Itu kan yang lo bilang ke gue setiap hari? Kalo lo atau Bunda yang ada di posisi dia, gue juga bakal lakuin hal yang sama yang gue lakuin ke Kakak. Dan satu lagi, walaupun dia nggak pernah peduli ataupun benci sama gue, tapi gue akan selalu berharap suatu hari nanti dia bakal meluk gue dan panggil gue adiknya, walaupun itu setelah gue mati nanti" lagi-lagi Bella berkata dengan lirih.


"Sekarang lo mau lepasin tabungnya atau enggak?" tanya Bella sekali lagi.


"Nggakk" jawab Feli dengan tegas.


"Yaudah" akhirnya Bella melepas tabung oksigen itu sendiri.


"Ihh lo itu ngeyel banget ya di bilangin Kak, keras kepala tau nggak" ucap Feli.


"Kok lo jadi marah? Ini kan hidup gue. Lagian gue suruh lepas lo nya nggak mau, yaudah gue lepas sendiri" ucap Bella.


"Au ah, Aku malas nanggapin kamu" ucap Feli yang kembali fokus pada ponselnya.


"Feli, seandainya gue pergi hari ini, tolong jaga keluarga kita ya. Tolong jangan biarin Bunda nangisin gue nanti" ucap Bella membuat Feli langsung menatapnya.


"Jangan ngomong gitu Kak. Kamu pasti sembuh, aku yakin itu. Kamu harus sembuh demi Bunda dan demi semua orang yang kamu sayang.


"Tapi aku enggak" ucap Siska yang masuk bersama Tasya yang mendorong kursi rodanya.


"Kak" dengan bahagia Feli langsung memeluk Siska, sedangkan Bella dengan cepat mengambil ponsel Feli, seolah-olah dia terlihat baik-baik saja.


"Akhirnya Kakak udah siuman, aku senang liat Kakak udah baik-baik aja. Aku akan kasih tau Bunda dulu, pasti Bunda juga senang liat Kakak" ucap Feli lalu keluar dari sana.

__ADS_1


"Sya" Siska memberikan kode agar Tasya juga keluar dari ruangan itu. Tasya yang mengerti pun segera menuruti keinginannya, dan kini tinggal Siska dan Rara Bella tersisa.


"Ngapain lo kesini?" ketus Bella.


"Suka-suka gue dong mau kemana aja yang gue mau. Ini kan bukan rumah sakit punya lo, jadi gue bebas lakuin apa aja. Seharusnya gue yang nanya kenapa.....kenapa lo donorin darah buat gue?" Bella hanya menatap Siska sejenak, lalu kembali menatap layar ponsel.


"Ya karena gue nggak mau liat Bunda nangis gara-gara takut kehilangan lo.


"Tapi harusnya lo nggak lakuin itu, gue nggak mau lo kenapa-napa gara-gara gue" mendengar itu, Bella kembali menatap Siska bingung.


"Maksud lo?"


Siska menghelai nafas, lalu kemudian mendekatkan kursi rodanya dengan ranjang Bella.


"Waktu itu gue nggak sengaja dengar lo bicara sama Bunda tentang penyakit lo. Lo punya kangker kan?" kali ini Siska berbicara sangat lembut, namun Bella hanya tersenyum hambar.


"Emang iya. Tapi apa urusannya sama lo? Lo pasti senang kan bentar lagi gue bakal pergi dan nggak akan ngusik hidup lo lagi. Gue nggak akan rebut kasih sayang Bunda dari lo, dan--"


"Dari kecil sampai sekarang gue selalu berpikir lo itu perebut kebahagiaan gue. Lo udah bikin Ayah pergi selamanya dan saat itu hidup gue hancur, sehancur-hancurnya. Setiap hari gue selalu nganggap dunia itu nggak adil sama gue. Pertama Ayah dan sekarang, sekarang lo, gue nggak mau kehilangan lo juga Bel. Saat gue tau lo sakit, gue nggak bisa nyembunyiin rasa takut gue buat lo. Emang iya gue benci lo Bel, bahkan gue nggak sudi nyebut nama lo. Tapi dalam hati kecil gue masih ada rasa sayang seorang Kakak buat adiknya" Siska berhenti sejenak untuk mengusap air mata yang kini sudah mengalir di pipinya.


"Di balik kebencian yang gue tunjukkin ke elo, sebenarnya ada rasa sayang Bel. Iya Bel, gue sayang sama lo, tapi gue malu, gue gengsi harus bilang kalo gue saayaaaang banget sama adik gue yang satu ini" ucap Siska yang tersenyum.


"Tolong maafin gue Bel, maaf kalau selama ini gue udah bikin lo kesal dan selalu cuekin lo, maafin gue yang nggak pernah ada buat lo di saat lo butuh Kakak lo ini. Tolong maafin Kakak Bel, maaf....hiks!" isak Siska yang tertunduk.


"Kenapa gue harus maafin lo?" Siaka seketika menatap Bella.


"Jadi kamu nggak mau maafin Kakak kamu ini?" tanyanya lirih.

__ADS_1


"Enggak!"


"Karna lo nggak punya salah sama gue Kak, gue malah senang akhirnya Kakak gue kembali setelah dia pergi ninggalin gue di belakang tanpa sedikitpun ninggalin kasih sayangnya buat gue, gue juga sayang lo Kak."


Dengan bersusah payah, Siska mencoba berdiri dari kursi rodanya kemudian berhambur memeluk Bella dengan erat, kemudian mereka menangis bersama mencurahkan rasa rindu yang kini sudah terobati. Setelah berpelukkan, Siska menciumi seluruh wajah Bella dengan sayang, hal yang dulu tidak pernah dia lewatkan saat adik-adiknya terbaring sakit. Dan hari ini dia melakukannya lagi pada Bella setelah bertahun-tahun.


"Terima kasih karena udah mau maafin Kakak, Kakak janji akan selalu ada buat Bella,, dan akan lakuin apapun buat Bella asal Bella bisa sembuh" ucap Siska.


"Aku juga senang dan bahagia Kak. Akhirnya keinginan terakhir aku terpenuhi, yaitu aku ingin Kakak kembali, dan sekarang itu udah terwujud, sekarang aku bisa pergi dengan tenang" ucap Bella pelan.


"Jangan ngomong gitu. Kita baru aja baikan, masa kamu mau ninggalin Kakak? Kakak nggak akan biarin itu terjadi" ucap Siska.


"Tapi waktu aku udah nggak banyak Kak. Tolong peluk aku lagi untuk yang terakhir kali Kak" ucap Bella lagi. Tanpa menjawab, Siska kembali memeluk Bella, kali ini tangisannya semakin keras.


"Aku pergi Kak, jaga diri Kakak baik-baik" ucap Bella dengan nafas yang tersengal-sengal. Siska yang merasakan itu semakin mempererat pelukkannya pada Bella, tangisannya semakin kuat saat tak lagi merasakan hembusan nafas adiknya itu. Perlahan dia melepas pelukkannya lalu menatap Bella yang kini matanya sudah terpejam.


"Nggak!!, kamu nggak boleh perig Bel. Kamu nggak boleh pergi....Kakak mohon bangun Bel, bangun. Bel lo jangan becanda ya, gue nggak suka semua ini. Tolong bangun hiks..." Siska mengguncang-guncangkan tubuh Bella, namun Bella tak kunjung bangun.


"Hiks...hiks! Bella bangun, Kakak mohon jangan pergi" lirihnya yang kembali memeluk tubuh Bella.


"Bellaaaa!!"


"Becanda" wajah pucat itu tersenyum tanpa dosa. Membuat Siska yang tadinya memangis kini nafasnya mulai memburu karena amarah yang memuncak.


"Bellaaa!" pakik Siska.


"Aaaaa" Bella menjerit kesakitan saat Siska menjewernya dengan kuat.

__ADS_1


"Bunda tolongin aku" jerit Bella.


"Siaka" ucap Sari yang masuk saat mendengar jeritan Bella.


__ADS_2