
Alex berdiri dari tempatnya, membuat ke tiga temannya menatapnya. "Mau kemana Bos?"
"Lo semua tunggu disini."
Alex meninggalkan mejanya lalu menghampiri meja Bella and the geng.
"Boleh gabung?" mereka semua menoleh termasuk Bastian dan Bella.
"Dia kan cowok yang tadi pagi? Mau ngapain ya dia?" batin Bastian yang mulai gelisah.
"Kenapa lo?" tanya Bella sambil berbisik pada Bastian
"Enggak papa kok." jawabnya sambil menggeleng.
"Aaaa, lo ganteng banget sih. Boleh, boleh. Lo boleh gabung ama kita." ucap Ani antusias.
Beberapa detik Meli datang membawa makanan pesanan Jacky.
"Duduk di sini aja." ucap Ani yang memberikan tempat dduduk Meli
"Thanks."
"Lah terus gue duduk dimana dong? Itu kan tempat duduk gue Ani." ucapnya kesal.
"Ya cari tempat duduk lain lah, ini khusus buat cowok seganteng dia." ucap Ani.
Saat Ani dan Meli sedang berdebat masalah tempat duduk, Bella membisikkan sesuatu pada Feli. Setelah itu Feli tampak mengangguk.
"Pokoknya gua mau duduk di situ Ani." ucap Meli lagi.
Tak ingin suasana semakin ribut, Bella memegang tangan Meli, memberinya isyarat agar duduk di sampingnya. Meli menurut saja, karena ketakutannya pada Bella masih belum hilang.
Alex terus memperhatikan Bella dan Feli. Dia bingung sendiri menentukan mana Feli dan mana Bella, karna tingkah laku mereka sama di depan Alex.
Setelah selesai makan, semuanya meninggalkan kantin lalu menuju kelas masing-masing.
"Tunggu!" Langkah Bella terhenti saat Alex memegang tangannya. Bella menepis tangannya lalu menatap pria itu dengan tajam.
"Berani banget ya lo nyentuh gue? Emang hak lo apa hah?" murid baru udah belagu lo." caci Bella.
"Sorry, gue cuman mau kenalan kok sama lo. Lo yang di ruang kepala sekolah tadi ya?"
"Kalau iya emang kenapa? Masalah buat lo?" ketusnya.
"Nggak sih. Kenalin, nama gue Alex, lo?"
"Queen."
"Queen?"
"Iya Queen. Queen Bella. Semua orang di sekolah ini manggil gue Queen, jadi lo juga harus manggil gue kaya gitu."
"Tapi gue pengen manggil lo Bella boleh?"
__ADS_1
"Terserah."
Bella hendak pergi, namun lagi-lagi Alex mencekal lengannya. "Apa lagi sih?"
"Gue boleh minta kontak lo nggak? Buat nambah teman aja."
Bella tampak berfikir sejenak. "Catet."
Alex dengan cepat mengambil ponselnya lalu mengetik angka yang di bacakan Bella.
"Udah kan? Apa gue boleh pergi?"
"Iya silahkan. Tapi boleh nggak gue nelfon lo bentar malam?"
"Terserah."
Alex tersenyum bahagia setelah kepergian Bella.
"Kenapa lo Bos? Kok kayanya senang banget?" tanya Rio.
"Pake nanya lagi lo. Gue aja bisa tau kalo Bos itu lagi jatuh cinta. Iya nggak Bos?" timpal Faisal.
"Bener banget. Dia memang cantik dari yang lain. Ya walaupun agak jutek, tapi dia menarik."
"Emang siapa namanya Bos?" tanya Rafli
"Bella. Udah ah, ayo balik ke kekals kita." ketiga temannya mengangguk, kemudian langgeng masuk ke kelas mereka.
*****
"Berhasil dong Kak. Cowok itu kayaknya percaya kalo yang bicara sama dia tadi itu kamu, tapi dia nggak tau kalo itu aku." ucap Bella.
"Udah gue duga."
"Tapi Kak, tadi dia minta nomor HP kamu." ucap Feli.
"Terus lo kasih?"
"Iya lah. Tapi dia nggak tau siapa yang punya nomor itu."
"Btw, kok kamu tau kalo dia bakal ngikutin kamu habis dari kantin tadi?"
"Karena gue bisa nebak kalo dia suka sama gue. Bukannya gue GR ya, tapi dari cara dia liatin kita di kantin, gue udah bisa nebak apa yang ada di pikiran cowok itu. Ya udah yuk, kita ke kelas."
"Oke."
_____
"Akhirnya lo datang juga bantuin kita Rind."
Tiga orang siswi terlihat sedang membicarakan sesuatu di taman yang terletak di area belakang sekolah. Mereka adalah, Risa, Alif dan yang terakhir adalah Rindi Si murid baru di kelas Bella.
"Siapa bilang gue bantuin kalian? Justru gue ke sini hanya demi Bella, gue pastiin dia akan dapat balasan atas penderitaan yang udah dia kasih buat Kakak gue Findi."
__ADS_1
Sebut saja namanya Rindi Batalipu adik dari Findi. Saat kecil dia sudah tinggal bersama Kakek dan Neneknya di Gorontalo. Saat mendengar kabar Findi yang di tahan oleh polisi membuat kebencian muncul di hatinya untuk Bella. Dia lalu menyusun rencana bersama Risa dan Alif untuk menghancurkan Bella dengan berbagai cara.
"Dan untuk dendam gue ini, lo berdua harus berdiri di belakang gue. Kita bertiga akan kasih cewek sok jagoan itu pelajaran yang setimpal.
"Findi itu sahabat kami dari kecil. Apapun itu, kami bakal dukung Lo Rind, demi Findi." ucap Alif
Mereka bertiga menyatukan tangan dengan di iringi senyuman liciknya masing-masing.
_____
"Huffh, segar banget." seru seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian santainya. Dia meraih ponselnya yang ada di atas nakas kemudian berjalan menuju balkon kamarnya. Dengan tersenyum, pria itu mencari nomor seseorang lalu segera menghubunginya.
Tutt...
Terdengar nada sambung sebelum beberapa saat panggilan pun terhubung.
[Hallo?]
"Hai, ini gue Alex."
[Aaaa! Beneran ini Irwan? Aaaa, Alex I love You]
Dengan cepat Alex menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar suara cempreng di sebrang sana.
"Kok suara Bella yang ini beda ya sama yang di sekolah tadi?" batinnya.
[Hallo Alex , kamu masih di situ kan?]
"Iya, iya. Lo siapa ya? Lo Bella kan?"
[Bukan, aku Ani, temannya Bellq. Kamu tau nggak Alex, aku tuh senang banget di telfon sama kamu. Kamu kangen ya sama aku? Makanya kamu nelfon aku,iya kan?"
"Ani?"
[Iya. A--"
Tutt...
Akex langsung mematikan ponselnya lalu duduk di kursi dengan kesal.
"Sialan, ternyata itu bukan nomor Bella. Gue di kerjain sama tuh cewek. Gagal kan pdkt-nya. Yaudahlah, nanti gue coba cara lain buat deketin Bella." dia pun kembali masuk ke dalam ke kamar.
_____
"Alhamdulillah ya Bu, hari ini penghasilan warung bakso kita meningkat. Aku senang deh, kita bisa dapat untung banyak hari ini." seru Bastian.
Saat ini mereka sedang berdada di perjalanan menuju pulang setelah selesai berjualan.
"Iya Bas, Alhamdulillah ya. Besok kamu juga udah bisa bayar uang spp untuk 3 Bulan ke depan. Ibu juga udah punya uang untuk beli sepeda kamu yang rusak itu." ucap Lilis.
"Nggak perlu Bu. Uang untuk beli sepeda itu di simpan aja untuk keperluan lain. Bas bisa kok jalan kaki ke sekolah. Atau enggak numpang sama Jack."
"Bener nggak papa?"
__ADS_1
"Iya Bu, bener." Bastian tersenyum pada ibunya.
Beberapa menit mereka pun telah sampai di rumah. Namun mereka di buat heran dengan adanya mobil mewah yang terparkir di depan rumah.