
"Bentar, bentar Feli" Bella menghentikan langkahnya saat akan masuk ke ruang BK.
"Kenapa sih?" Feli menatap Bella bingung.
"Kira-kira guru BK mau apain kita ya?"
"Mana gue tau."
"Gue takut kalo kita di dari sekolah, kasian Bunda ama Kakak gue pasti mereka kecewa banget sama gue kalo sampe itu terjadi.
"Aduh.....Bella sayang, nggak mungkinlah lagian bunda dan kak kita sama.
"Lp yakin?"
"Mmmm, banget malah" jawab Feli.
"Yaudah ayo masuk"
Mereka pun perlahan membuka pintu ruang BK dan terlihat ada dua orang yang duduk di depan Guru BK. Kedua orang itu pun berbalik menatap dua gadis itu.
Keduanya tampak kaget melihat sang Kakak tiba-tiba ada di sana. Bella langsung menunduk saat melihat tatapan datar mengarah padanya. Inilah yang dia takuti, dia tau Siska pasti akan marah padanya.
"Bapak mengundang Kakak kalian ke sini untuk menunjukkan apa yang sudah kalian lakukan pada teman kalian. Agar mereka bisa mendidik kalian menjadi lebih baik lagi. Untuk itu, Bella dan Feli kalian, Bapak skors selama hari dan hari ini kalian di perboleh kan pulang" ucap Guru BK.
"Sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan adik saya Pak. Saya janji, Bella dan Feli tidak akan melakukan ini lagi" ucap Siska.
"Saya juga minta maaf Pak. Kalo begitu kami permisi dulu."
"Silahkan"
Mereka ber3 pun keluar dari ruang BK dan langsung pulang ke rumah masing-masing.
Selama di perjalanan pulang, Sisks terus saja diam tanpa memperdulikan adiknya yang terus saja meminta maaf padanya. Feli dan Bella memang satu mobil dengan Sisks karna ingin membujuk Kakaknya agar tidak marah pada mereka, sedangkan mobilnya, dia sudah menyuru orang untuk mengambilnya.
"Kak dengarin aku dulu, aku bisa jelasin" ucap Feli.
"Diam nggak? Kamu itu dari tadi udah bikin Kakak kesal tau nggak. Dari pada Kakak lebih marah lagi sama kamu, mending diam aja" ucap Siska sedikit membentak.
__ADS_1
"Ya udah" lirih Feli dan Bella.
Melihat adiknya yang tampak sedih, Siska pun akhirnya memberhentikan mobilnya di tepi jalan.
"Ayo jelasin" seketika mereka berdua langsung menatap sang Kakak.
"Sebenarnya aku nggak mau mukul Jesica sama Berlian, tapi mereka itu udah keterlaluan sama Feli. Dari pertama dia masuk sekolah, mereka berdua selalu Bully dia. Tapi kali ini mereka udah lukain fisik Feli, aku nggak suka ada yang nyakitin saudara aku Kak, jadi aku kasih pelajaran yang setimpal buat mereka agar mereka jera" jelas Bella.
"Serius?" Bella mengangguk.
"Kenapa nggak bilang dari tadi sih? Kan Kakak jadi salah paham sama kamu.
"Gimana mau bilang coba, dari tadi aku ngomong nggak di tanggapin" ucap Bella.
"Maaf-maaf sayang, tadi tuh Kaka lagi kesal, tapi sekarang udah enggak."
"Jadi Kakak nggak marah?"
"Nggak. Buat apa marah? Kalo Kakak yang ada di posisi kamu, Kakak juga akan lakuin hal yang sama kalo ada yang nyakitin saudara Kakak. "
"Kakak tau gimana kerasnya bunda saat tau kamu bikin ulah di sekolah, pasti dia akan marah besar sama kamu. Jadi Kakak nggak akan kasih tau apapun sama bunda.
Setelah itu, Sisks kembali menyalakan mobilnya. Dan beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah.
"Assalamualaikum Ma" Sisks langsung menyalami Sari yang membukakan pintu untuk mereka.
"Walaikum salam, udah pulang ya?"
"Iya Bun, kebetulan urusan di sekolah udah selesai.
"Ayo, Salim sama Bunda" suruhnya pada Feli dan Bella.
"Iya ucap mereka serempak.
"Udah nak, nggak Papa" Sari tersenyum tulus. "Ngomong-ngomong, kok kalin juga pulang cepat hari ini?"
"
__ADS_1
"Astaghfirullah hal'adzim" Sari mengelus dadanya, Sisks yang menahan tubuhnya hanya mampu mengelus pungungnya.
"Maafin dia bun, suatu hari nanti dia pasti akan nerima bunda" ucap Siska sambil memeluk Sari.
"Udah nggak papa sayang" Sari tersenyum. Kemudian mereka menyusul Bella ke dalam.
"Ini belum waktunya pulang sekolah kan? Terus ngapain kamu pulang jam segini hah?" bentak.
"A-aku, aku--"
"Dia di skors" jawab Siska. Dengan cepat Feli segera bersembunyi di belakang sang Kakak.
"Tolongin aku Kak" lirihnya ketakutan.
"Dia di skors karna mukulin orang yang nyakitin temannya, " Ucap Sislacepat saat melihat yang akan memarahi adiknya lagi.
"Ayo Dek, pergi ke kamar kamu."
"Iya" mereka pun berjalan pergi ke kamarnya.
Di kamarnya, setelah mengganti pakaiannya, dia mengambil ponsel lalu menelfon Setelah mencoba beberapa kali, masih tidak ada jawaban dari orang itu.
"Semoga dia nggak di marahin Kakaknya" gumamamnya.
Tok! Tok!
Feli menoleh pada orang yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
.
"
"Jangan Pa, aku mohon jangan pergi. Udah lama aku ingin di peluk Papa, dan di saat itu udah terwujud Papa mau ninggalin aku? Enggak, Papa nggak boleh pergi" Putri memeluk Ramzi dengan erat
"
Maaf yah cerita yang ini kurang jelas gak mau dilanjutin tapi sayang, jadi nunggu akhir bulan aja ditamatin cerita nya. Maaf kalau pada gak suka soal nya cerita nya beda dari judul.
__ADS_1