
Bastiam meninggalkan Lilis lalu masuk ke kamarnya. Setelah bersih-bersih, dia menghempas kan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Hari ini hari yang paling melelahkan" gumamnya. Dia lalu mengambil selembar foto yang terselip di bawah bantalnya, lalu menatap foto itu dengan tersenyum.
"Sudah sebulan lebih kita dekat, tapi aku belum berani nyatain persaan ini ke kamu. Aku takut kamu bakal nolak perasaan aku kalau aku bilang sekarang. Biarlah rasa ini aku simpan di hati dan aku katakan semuanya setelah aku siap nanti" batinnya.
Ting
[Lo udah lakuin apa yang gue suruh kan?]
[Udah, dia udah pulang ke rumahnya. Emang kamu ini siapa sih? Kamu pacarnya?] tanya Bastian membalas isi pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Lo nggak perlu tau. Thaks atas bantuannya]
Bastian kembali meletakkan ponselnya kemudian beralih mentap foto di tangannya.
"Tanpa di minta pun, aku akan selalu bantuin dia" ucapnya meletakkan foto itu di sampingnya.
*****
__ADS_1
Baru saja tertidur nyenyak, Bella kembali terbangun saat mendengar suara yang mengganggunya. Dia pun bangun untuk mencari asal suara itu yang ternyata berada di kamar Feli.
"Selamat ulang tahun ya Feli. Kakak doain supaya Kamu panjang umur dan sehat selalu" ucap Sara sambil memeluk Feli.
"Selamat ulang tahun sayang, sekarang usia kamu udah 19 tahun" ucap Sari.
"Terima kasih Bunda."
"Sekarang tiup lilinnya. Ayo" Sara memegang kue Ultah yang dia pegang di depan Feli.
"Mmm! Kak, apa kita bangunin Bella dulu? Biar kami bisa niup lilinnya bareng, ini kan ulang tahun dia juga" ucap Feli.
"Nggak usah Bunda" cegah Sara.
"Aku cuman ngerayain ulang tahun Feli doang, bukan orang lain."
"Tapi Kak."
"Cukup Feli, Kakak bilang nggak ya enggak. Ayo tiup lilinnya" dengan pasrah, Feli pun meniup lilin itu tanpa Bella.
__ADS_1
Air mata kini mengalir deras di pipi Bella yang menyaksikan betapa dia tidak di inginkan oleh Kakaknya sendiri. Dia kembali ke kamar dan menangis di balik selimutnya.
"Hiks...hiks! Kak, gue juga pengen di rayain sama lo, gue kangen lo yang dulu Kak, gue kangen hiks....hikss!" batinnya menjerit.
"Bella!" Bella membuka selimutnya saat
sentuhan lembut itu menyentuh kepalanya.
"Bunda" lrihnya lalu menaruh kepalanya di pangkuan Sari.
"Bunda, kenapa kehadiran aku nggak ada artinya di hidup Kak Sara? Aku tau aku penyebab Ayah pergi dan hilangnya kebahagiaan Kakak, tapi aku juga nggak bisa apa-apa. Kalau pun aku bisa, aku ingin minta pada Tuhan agar aku saja yang pergi saat itu, bukan Ayah. Mungkin saat ini Ayah masih ada dan Kak Sara nggak akan pernah benci sama aku."
"Sudah sayang, jangan ngomong gitu. Kalau kamu ngomong gitu lagi, Bunda akan marah sama kamu. Udah ya, doakan aja supaya Kakak kamu bisa sayang lagi sama kamu kaya dulu" ucap Sari.
"Setiap hari aku selalu berdoa agar Kakak aku kembali Bund, tapi sampai kapan aku harus menunggu? Sedangkan hidup aku udah nggak lama lagi, mungkin Kakak akan sayang sama aku lagi kalau aku udah nggak ada nanti" ucap Bella memeluk Sari.
"Nggak sayang, nggak! Kamu akan hidup lebih lama lagi, jangan bicara gitu lagi" ucap Sari.
Malam itu, Bella terus menangis hingga dia tertidur di pelukkan Sari. Sari yang tak tega meninggalkan Bella dalam keadaannya yang seperti ini, memutuskan untuk tidur di kamar itu dengan posisi duduk dengan Bella yang tidur di pangkuannya.
__ADS_1