
"Udahlah Ana, gue males debat ama lo. Pokoknya gue nggak mau minum obat lagi titik. Ayo kita pergi, udah waktunya gue tanding lawan yang lain lagi.
"Tapi hidung lo gimana? Bel!" Bella" Bella tak menggubris panggilan Ana. Dia kembali mengenakan topengnya tanpa memperdulikan darah yang semakin deras itu. Dia lalu meninggalkan Ana dan kembali ke atas ring.
"Siapa yang berani untuk melawa juara bertahan kita? Seorang gadis misterius yang bersembunyi di balik topengnya" ucap seorang pria yang berdiri di samping Bella.
Semua yang ada di sana hanya diam, tak ada satu orang pun yang berani melawan Bella. Hingga beberapa detik, terlihat seseorang berjalan ke atas ring dengan wajahnya yang juga di tutupi topeng.
"Apa anda berani melawan Queen kami?"
Tanpa mengeluarkan suara, orang itu mengangguk yang berarti jawabnya adalah YA.
"Baiklah! Pertarungan akan segera di mulai.
"Nyali lo kuat juga" bisik Bella pada lawannya sebelum memulai pertarungan. Bella mulai melakukan serangan pertamanya, namun dengan gesit orang itu langsung menangkisnya.
Pertarungan semakin seru dan menegangkan di mana keduanya enggan untuk mengalah. Namun ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Ana yang melihat pertarungan kedua orang itu.
"Kok gerakkan mereka mirip ya? Kayaknya ada yang nggak beres di sini. Tapi apa ya? Gue jadi bingung" ucap Ana.
__ADS_1
Bukan hanya Ana, Bella juga merasakan hal yang sama. Dia baru menyadari jika lawannya ini bukan lawan yang biasa. Buktinya, semua gerakkan Bella selalu bisa di tiru olehnya.
"Kali ini lo nggak bisa ngikutin gerakkan gue" batin Bella. Lalu dia melakukan gerakkan cepat saat bertarung agar tidak bisa di tiru lawannya. Alhasil, taktik itu berhasil dan membuat lawan Bella lengah dan dengan mudahnya Bella bisa melumpuhkannya.
Bugh!
Tendangan keras di berikan Bella di bagian perut lawannya hingga membuat orang itu tumbang.
"Aawhh!" bukan orang itu, tapi Bella yang meringis kesakitan memegangi perutnya. Namun dia menghiraukan rasa sakit itu lalu kembali menghajar lawannya tanpa ampun.
Semakin Bella melayangkan pukulannya, sakit di tubuhnya semakin menjadi. Seolah bukan dia yang menghajar lawan, tetapi lawannya yang menghajarnya.
"Ayo bangun, lawan gue" teriaknya pada orang yang kini sudah terkapar lemah.
"Feli!" pekik Bella yang terkejut ternyata orang yang bertarung dengannya adalah Feli Pantas saja setiap dia melayangkan serangannya, dia selalu merasa kesakitan. Ternyata ini sebabnya.
"Tolong!" teriakkan Bella membuat beberapa pria langsung menghampirinya dan Feli yang sudah pingsan.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit" suruhnya. Feli pun segera di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1
"Gimana bisa Feli di sini sih Ana?" tanya Bella pada Ana.
"Mana gue tau kalo itu dia
Habisnya dia pake topeng sih" ucap Ana.
"Gue bakal ke rumah sakit, lo urus ke adaan di sini. Ambil juga hadiah gue, setelah itu lo nyusul gue ke rumah sakit. Ini kunci motor gue" ucap Bella meninggalkan Ana lalu masuk ke dalam taksi bersama Feli.
_____
"Awhh sakit Kak...." ringis Feli kesakitan saat Bella menjitak kepalanya. Setelah luka akibat pukulan dari Bella sudah di obati Dokter, kini dia sudah baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Lo itu kenapa sih? Selalu aja bikin gue kesal. Ngapain coba lo pake acara ikutan itu segala? Kalau lo kenapa-napa gimana hah? Untung gue cepat tanggap saat ngerasa ada yang nggak beres" ucap Bella duduk di atas brankar, lebih tepatnya di samping Feli.
"Soalnya aku pengen ngerasain gimana di hajar sama kamu Kak" ucap Feli.
"Sekarang udah ngerasain kan? Enak nggak?"
"Enak apanya, orang aku hampir mati" ucap Feli manyun.
__ADS_1
"Itu karma buat lo. Ohya, lo sejak kapan bisa bela diri?"
"Dah lama kok. Awalnya aku sering liat kamu latihan di kamar, jadi aku juga ikutin kamu latihan tanpa kamu tau" ucap Feli.