
Pagi Pun tiba. Terlihat Sari sedang menyiapkan sarapan pagi di bantu oleh ART-nya.
Ting! Tong!
Terdengar suara bel pintu yang baru saja berbunyi, pertanda ada tamu yang datang.
"Biar saya saja yang buka Nyonya." ucap ART saat Sari akan membuka pintu. ART itu langsung berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi seperti ini.
"Bundaa!" senyum Sari mengembang saat tamu yang datang itu adalah Sisks dan Daniel.
"Ya ampun Siska; Bunda kira siapa yang namu pagi-pagi, eh taunya kalian. Kok kalian cepat sih pulangnya? Nggak santai dulu di hotel? Kan kalian baru menikah dan butuh suasana yang kaya gitu." ucap Sari.
"Maunya sih gitu Bund, tapi Siska katanya kangen sarapan di rumah. Dia nggak mau makan di hotel." ucap Daniel.
"Iya karena aku udah terbiasa makan makanan buatan Bunda."
"Ya udah. Daniel , kamu tunggu di sini dulu ya, soalnya Siska mau nemenin Bunda nyiapin sarapan. Boleh kan?"
"Ya boleh lah Bund, silahkan. Daniel juga mau ambil barang-barang di mobil." ucap Daniel, Sari pun kembali menyiapkan sarapan bersama Siska.
"Bella sama Feli belum bangun Bund?"
"Belum. Mungkin bentar lagi, ini juga kan masih terlalu pagi." jawab Sari.
"Iya juga sih!."
Beberapa menit kemudian, sarapan pun sudah siap di meja makan. Namun Bella dan Feli juga masih belum turun.
"Bella sama Feli mana Bund? Kok mereka masih belum turun juga?" tanya Daniel.
"Biar aku panggil mereka dulu." ucap Siska yang berjalan menaiki anak tangga.
Tap!
Tap!
Tap!
Langkah Siska terhenti saat dua gadis turun dan berhenti di depanmu.
"Waww.....Feli, Bella. Kalian kok bisa sama sih? Feli kamu juga udah ngerubah penampilan kamu sama kaya Bella?" tanya Siska. Pasalnya kini Feli sudah tidak berpenampilan cupu seperti sebelumnya. Kini penampilannya hampir mirip dengan Bella. Hanya saja ada perbedaan gaya rambut. Rambut Feli yang di kuncir, sementara Bella membiarkan rambutnya tergerai.
"Karena saking miripnya, Abang jadi bingung yang mana Bella, yang mana Feli." ucap Daniel.
"Bedainnya gampang kok Bang. Kalau aku rambutnya di kuncir. Kalo Kak Bella rambutnya nggak di kuncir." jelas Feli.
__ADS_1
"Jadi mulai sekarang, Feli nggak akan berpenampilan cupu lagi di sekolah. Karena aku nggak mau ada yang bully dia lagi." ucap Bella.
"Bunda setuju. Dengan begini Feli akan di kenal jadi anak Bunda."
"Ya kan aku emang anak Bunda."
"Maksudnya di sekolah." ucap Bella.
"Yaudah yaudah. Sekarang kalian duduk, kita sarapan dulu." ucap Sari.
Mereka semua pun mengambil tempat duduk di meja makan untuk menikmati sarapan masing-masing.
*****
"Aku dan Feli berangkat dulu. Dah Kak, dah Bang." pamit Bella lalu memasuki mobil bersama Feli. Feli pun segera memacu mobil menuju Sekolah.
"Rasanya adem ya liat Bella ceria kaya gitu. Dulu dia dingin dan kasar. Tapi sekarang setelah kalian baikan, dia udah berubah 180 derajat." ucap Daniel.
"Iya kamu benar. Sekarang aku menyesal dulu udah benci sama dia. Dan saat aku tau dia lagi sakit, aku baru sadar ternyata aku sayang banget sama dia. Aku berharap dia bisa sembuh dari penyakitnya." ucap Siska.
"Amin," keduanya tersenyum, saling merangkul satu sama lain. Tak lama Sari datang, dia berpamitan pada Siska dan Daniel untuk pergi ke sekolah.
_____
Setelah berpamitan pada Ibunya, kini Bastian sedang mengendarai sepedanya untuk pergi ke sekolah. Selama perjalanan, dia tak henti-hentinya tersenyum, entah apa yang sedang dia bayangkan saat ini.
Karena tidak memperhatikan jalanan, hampir saja Bastian tertabrak oleh sebuah mobil. Untung pemilik mobil tersebut menginjak rem depan cepat.
Beberapa pria keluar dari mobil tersebut. Mereka mengenakan seragam sekolah yang sama dengan yang di kenakan Bastian.
Salah satu dari mereka menghampiri Bastian yang tersungkur di jalanan, tangannya menarik kerah kemeja Bastian hingga dia berdiri.
BUGH!
"Kurang ajar lo cupu. Lo mau bikin mobil kita lecet hah?" pria itu terlihat sangat marah.
"udah Yo, rusakin aja sepedanya. Biar tau rasa dia." timpal teman pria itu yang di ketahui bernama Rafli
"Benar juga lo Fi. Sal, kerjain." suruh pria yang bernama Rio itu pada temannya yang lain yang bernama Faisal.
"Tolong jangan rusakin sepeda aku. Aku mohon sama kalian." mohon Bastian. Dia berusaha melepaskan diri dari Rio, Rio memegangnya sangat kuat.
"Diam lo cupu."
BUGH!
__ADS_1
Lagi-lagi pria itu menghantam wajah Bastian.
Faisal yang di bantu Rafli merusak sepeda milik Bastian, hingga sepeda itu hancur tak berbentuk.
Tin! Tin!
Seseorang membunyikan klakson mobil tiga pria itu. Lalu seorang pria berkaca mata hitam memunculkan kepalanya dari jendela mobil.
"Udah Yo, tinggalin aja dia. Kita udah telat nih." ucap pria itu.
"Oke Bos. Cabut guys." Rio mendorong Bastian hingga dia tersungkur, kemudian mereka meninggalkan dirinya begitu saja.
Bastian menatap sepedanya yang telah rusak. Dengan sekuat tenaga dia berusaha menahan air matanya yang akan jatuh."
"Maafin Bas, Bu. Bastian nggak bisa jaga barang pemberian Ibu." lirihnya.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Lalu seseorang keluar dari mobil tersebut.
"Astagfirullah Bastian, apa yang udah terjadi sama kamu?" tanya Sari. Ya pemilik mobil itu adalah Sari.
"Nggak ada apa-apa kok Bu. Tadi saya jatuh dari sepeda."
Sari menyadari Bastian sedang berbohong. Terlihat dari wajahnya yang lebam bekas tonjokkan dan di tambah dengan sepedanya yang sudah tak berbentuk.
"Ya udah, kamu mau ke sekolah kan? Ayo bareng Ibu. Biar luka kamu bisa di obati di UKS." ajak Sari.
"Nggak usah Bu. Saya bisa jalan kaki kok. Lagian sekolahnya udah tinggal dekat." tolak Bastian.
"Udah jangan nolak. Ayo masuk mobil, bentar lagi apel, dan luka kamu juga harus cepat di obati."
Bastian hanya diam, dia hanya pasrah saat Sari menariknya memasuki mobil. Mobil pun melaju mengarah ke sekolah.
_____
Kini Bella dan Feli sudah sampai di sekolah. Mereka pun langsung menuju kelas masing-masing.
"Pagi." ucap Bella. Ternyata dia datang terlambat. Pasalnya saat di perjalanan, mobilnya terjebak macet.
"Maaf Bu telat." ucapnya. Guru mapel pertama hari ini adalah Bu Rani.
"Alasannya?"
Bella yang berjalan ke arah mejanya terhenti, lalu berbalik menghadap Bu Rani.
"Macet Bu. Udahkan? Saya boleh duduk?"
__ADS_1
"Hmmm, duduk saja."
Diapun kembali melangkah menuju bangkunya. Sesampainya di bangkunya.