
Fenina langsung mematikan telefonnya dan menuju rumah bu Risa.
Fenina langsung mengetuk pintu yang dibuka oleh Bianca. Dia tampak senang dengan kedatangan Fenina yang sangat cepat. Bianca mengajak Fenina masuk.
"tuh kan tadi aku gak salah rumah" ucap fenina
"maksud?" tanya Bianca bingung dengan ucapan fenina
"tadi tuh aku ke sini cuman yang buka ibu ibu trus dia bilang salah rumah, udah jadi ibu ibu aja masih suka boong" ucap Fenina marah marah. Tak lama keluar bu Risa dari kamar.
"nah itu tu ibuk ibuk yang boongin aku" ucap Fenina sambil menunjuk bu risa
Bianca menepuk tangan Fenina yang menunjuk bu risa
"maaf nak ibu gk maksud nipu kamu. Ibu kira kamu teman nak Bian yang jual dia jadi ibu takut." jelas bu Risa. Setelah berbincang bincang mereka mulai lapar Bianca dan Fenina masak di dapur karena ibu sudah pergi bekerja. Bu Risa merupakan ART di salah satu keluarga kaya.
" fen suruh dong anak buah mu cariin rumah dekat sini yang sederhana aja gk gede gk kecil" pintar bianca
"ok bos" ucap Fenina santai. Ayah Fenina memiliki perusahaan yang cukup besar dan mengaji banyak pengawal untuk menjaga Fenina satu satunya putrinya.
Fenina langsung menelepon anggota nya untuk mencari kan rumah 15 menit kemudian Fenina menerima beberapa informasi rumah yang sesuai dengan keinginan Bianca. Setelah selesai makan mereka pergi melihat lihat rumah itu.
Akhirnya mereka menemukan rumah yang sesuai dengan selera Bianca. Dengan harga 15 juta. Tentu saja Bianca langsung membayarnya secara cash. Dia langsung pergi bersama Fenina membeli keperluan rumah baru mulai dari perabot, alat elektronik, lemari, kasur. Mereka pulang malam tampak bu Risa sudah cemas dengan kepergian bianca.
"astagfirullah darimana aja ibu khawatir" ucap bu Risa bersyukur
"jalan jalan bu" ucap Bianca.
Fenina pamit karena dia sudah booking hotel dia sana. Setelah 2 hari tinggal di rumah bu Risa. Bianca meminta bu Risa untuk ijin pada majikannya selama 2 hari.
Setelah mendapat ijin Bianca dan Fenina membawa bu Risa menuju rumah baru mereka yang tampak asri.
__ADS_1
"bu ini rumah kita sekarang. Bianca udah beli rumah" ucap bianca
"kamu dapat uang dari mana nak?"
"Bianca kan ada uang bu cuma Bian titip sama Fenina kemaren"
"ooh gitu, jadi kita tinggal di sini? Tanya bu Risa
" fen pinjam mobil mu ntr kalau udah gk kepake aku balikin"ucap bianca
"ok nih kuncinya, ini uang mu aku malam ini baik ke kota x di suruh balik" ucap fenina
"ok"
Fenina pergi dengan mobil pengawal nya sementara mobilnya tinggal di rumah bari Bianca. Bianca mengajak bu Risa untuk belanja pakaian karena pakaian bu Risa sudah rusah dan kumuh. Setelah jalan jalan menelusuri mall mereka pulang dengan membawa puluhan papper bag. Bu Risa tampak tabjuk dengan rumah baru nya. Sederhana tapi tampak mewah. Bu Risa masuk ke kamarnya dengan di iringi Bianca yang mengan tar barang bu Risa. Setelah mandi bu Risa makan bersama Bianca. Lalu bu Risa bangkit dari duduk nya dan pamit ingin sholat.
Bianca duduk di teras rumah memandang langit dan bersyukur kini iya bahagia. Taklama seorang pria berlari memanjat pagar teras rumah Bianca. Bianca bertanya apa yang terjadi. Taklama datang segerombolan pria berbaju hitam.
"nyonya tolong saya nyonya" teriak pria yang memanjat tadi. Saat dia memanggil Bianca dengan sebutan ya nyonya semua tampak kaget dan datang lah seorang pria bertubuh kekar menuding kan pistol nya di arah jantung Bianca.
"oh jadi kau nyonya nya" tegas pria itu. Ya pria itu adalah diandra Regan pratama.
"eh bukan saya gk tau apa apa" jawab bianca
"lian kenapa kau disini?" tanya Andra (diandra) pada bianca
"siapa yang kau maksud lian? Nama ku Bianca Aurelia" ucap Bianca lantang. Sontak Andra kaget melihat sosok Bianca yang mirip sekali dengan adik nya liana dengan pratama. Andra pun menepis pikirannya
"nyonya" panggil pria itu
"nyonya kenapa berbohong" potong pria yang memanjat tadi
__ADS_1
"apa maksud mu" tanya Bianca tidak mengerti
"bersiap lah mati" ucap Andra dengan senyum
*ditempat lain
"suara apa ya ribut ribut" gumam bu Risa. Dia berjalan keluar mengintip dari jemdela. Terlihat sosok laki laki yang tak asing bagi nya.
"loh tuan andra kok disini? Astagfirullah Bian" bu Risa kaget melihat Andra menodongkan postol pada jantung bianca
"bersiaplah" ucap Andra dan
"Dooorrrr!" suara peluru yang dengan cepat menancap di jantung seseorang
Andra tampak kaget dengan seseorang yang di tembak nya. Bianca tidak merasakan apa apa. Dia membuka matanya melihat bu Risa tengah didepan ya menggantikan Bianca. Betapa kaget ya Bianca. Dia langsung memeluk bu ria san menangis historis pasalnya ia baru mengenal bu risa yang telah menjadi ibu angkat nya
"buuuuukk, bangun buk, buk jangan tinggalin Bian buk" tangis historis anak dari ibu itu tak lain ialah Bianca Aurelia
"bi Risa?, bi maafin saya bi saya tidak sengaja" ucap andra. Bianca kaget mengetahui bahwa andra mengenal ibu nya
"tuan andra, putri saya tidak salahhh! Toolong ja..ga.. dia rawat dia... sebagai ganti.. kesalahan mu.. pada bi risa.. " ucap bu risa yang masih bisa bernafas
"panggil ambulance" triak andra
"bukk jangan tinggalin Bian bu" ucap bianca
"nak... Maafin ibu... Ibu belum.. bisa bahagiaan kmu..., kamu.. Jaga.. Diri" ucap bu risa
Tak lama sebuah ambulance datang membawa bu risa. Sesampai dia di rumah sakit dokter menanggil andra pasalnya bu risa ingin menemuinya yang terakhir kali.
"tuan.. Tolong jaga anak saya. Meski dia bukan anak kandung saya. Tuan bantu dia cari keluarga kandung nya lindungi nya. Karna banyak yang ingin mencelakainya. Dia hanya punya saya dan sahabatnya fenina ingat tuan fenina hanya dia. Berikan gaji saya pada Bian tuan. Bantu dia. Hanya itu permintaan terakhir saya "ucap bu risa menahan nafas terakhirnya
__ADS_1
" baik bi saja janji bakal ngelakuin permintaan bi risa tapi bi risa harus bertahan"pinta andra