Danau Cintaku

Danau Cintaku
Kesedihan Alza


__ADS_3

Mama Ike membuka pintu ruangan Tiara. Mama Ike terkejut melihat Alza, yang terlihat gelisah dalam Tidurnya. Alza tertidur di kursi samping ranjang Tiara.


"Tidak! tidak! jangan tinggalkan aku Tiara." ucap Alza dalam Tidurnya.


"Alza, bangun nak!" ucap Mama Ike berusaha membangunkan Alza.


Alza terbangun dan melihat Mama Ike yang terlihat sangat khawatir.


Alza langsung memeluk erat mamanya.


"Ma ... Tiara pergi ninggalin Alza Ma, Tiara gak sayang sama Alza. Bagaimana aku akan menjalani hari-hariku tanpa Tiara disisiku. Aku gak akan sanggup Ma," ucap Alza menangis dipelukan mamanya.


"Kata siapa Tiara pergi ningggalin kamu sayang? kamu habis mimpi buruk ya?" tanya Mama Ike melepas pelukannya dan menghapus air mata Alza.


Alza bingung mendengar pertanyaan mamanya, dan langsung melihat ke arah ranjang Tiara. Tiara masih tertidur separti semalam. Betapa leganya hati Alza, ternyata cuma mimpi buruknya, kalau Tiara sudah tiada.


Alza langsung beralih ke Tiara. Alza menggenggam erat tangan Tiara dan kemudian menciumnya.


"Terima kasih Tiara masih tetap bertahan, cepatlah sadar Tiara. Kamu tahu betapa takutnya aku, kamu pergi meninggalkanku." ucap Alza.


Mama Ike mengusap punggung Alza.


"Manantu Mama pasti akan bertahan, sekarang ayo kita keluar dulu! dokter sudah di depan dia ingin memeriksa keadaan Tiara." ucap Mama Ike.


"Iya, Mama duluan." ucap Alza.


Mama Ike mengerti, dan langsung jalan keluar.


Alza langsung beralih ke Tiara begitu mamanya keluar.


"Selamat pagi sayang, cup ...." Alza mengcup lama kening Tiara.


"Kamu tidak menyiapkan sarapanku pagi ini? Biasanya kamu suka repot sendiri pagi-pagi, untuk membuatkanku sarapan sehat. Ya, sudah kalau kamu masih ingin tidur. Aku keluar dulu ya, kamu cepat bangun!" ucap Alza lirih, kemudian mengecup kening Tiara sekali lagi sebelum dia keluar.


***


Dokter keluar dari ruangan Tiara begitu selesai memeriksanya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Alza.


Dengan berat hati dokter menjelaskan keadaan Tiara yang sebenarnya. " Saya cuma bisa sarankan, terus berdoa untuk kesembuhannya. Saya takut dia tidak bisa melewati masa keritisnya. Keadaannya semakin melemah. Usahakan selalu memberi semangat kepadanya, mengajaknya bicara karena itu bisa sedikit membantu." ucap dokter.


"Kalian juga bisa mendekatkannya dengan sesuatu yang menjadi kesukaannya. Seperti musik, siapa tahu selama ini, dia suka mendengarkan 1 lagu. Itu bisa kalian perdengarkan padanya." jelas dokter.


"Iya dok, terima kasih." ucap Alza.


" Nak Alza, Bapak masuk terlebih dahulu ya, Bapak ingin melihat keadaan Tiara." ucap Pak Danu begitu dokter pergi.


"Iya Pak, silahkan." ucap Alza.


Pak Danu sedang mengamati wajah putrinya. Pak Danu menggenggam tangan Tiara "Nak, ini Bapak." ucap Pak Danu lirih.


" Nak, jangan tinggalkan Bapak, Tiara. Bagaimana Bapak akan mengurus kedua adikmu." ucap Pak Danu sambil mengusap air matanya.


"Bukankah kamu dulu, ingin melihat salah satu adikmu menjadi dokter. Kamu kan sangat mengagumi dokter Danang dulu, dan ingin Riski atau Ridho bisa seperti dia. Riski mau jadi dokter katanya dan dia ingin kamu menemaninya membeli buku tentang kedokteran, kamu mau kan nak?" ucap Pak Danu lirih di dekat telinga Tiara.


"Bapa juga takut Tiara, kalau kamu pergi apa yang akan Bapak katakan pada nak Alza, kalau dia tahu tentang Axel dan dia salah paham. Bagaimana Bapak akan menjelaskan semuanya. Mungkin disana kamu sudah bertemu ibumu nak, sampaikan salam Bapak padanya. Sekarang kamu kembali ya! kami disini semua menunggumu dan sangat merindukannmu." ucap Pak Danu.


"Sayang sarapan dulu ya! ini Mama sudah buatkan sarapan untuk kamu, seperti yang bisanya Tiara buat." bujuk Mama Ike.


"Alza tidak lapar Ma, aku juga tidak nafsu untuk makan." ucap Alza.


"Alza, dengarkan Mama dulu, Mama sangat tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Mama juga pernah mengalaminya nak. Kamu ingatkan saat papa kamu masuk rumah sakit? Mama berusaha bertahan sekuat tenaga Mama nak, karena Mama melihat kamu dan kakakmu. Siapa yang akan menjaga kalian kalau Mama juga ikutan sakit." jelas Mama Ike.


"Mama ... maafin Alza Ma," ucap Alza langsung memeluk mamanya.


"Sekarang kamu makan ya! Mama suapin. Kamu juga habis donor darah, jadi kamu juga harus menjaga kesehatanmu. Kamu gak mau kan, saat Tiara bangun nanti kamu malah jatuh sakit." ucap Mama Ike kemudian menyuapi Alza.


Alza akhirnya mau memakan sarapannya, dengan susah payah dia menelannya. Benar kata Mamanya dia harus kuat dan semangat, agar Tiara yang di dalam sana juga semangat untuk melawan masa kritisnya.


Begitu Pak Danu keluar dari ruangan Tiara, dia langsung bergabung dengan Alza dan mamanya. Hanya mereka bertiga yang berjaga, Riski dan Ridho dipaksa harus sekolah hari ini.


"Nak Alza, akhir-akhir ini apa yang disukai Tiara? Bukankah kata dokter, sesuatu yang disukainya bisa sedikit membantu." tanya Pak Danu.


Alza terlihat sedang berpikir, apa saja yang disukai Tiara.

__ADS_1


" Tiara paling suka memasak Pak. Bapak bisa lihat kan saat dia begitu antusias mencoba berbagai macam makanan, hanya untuk makanan pekerja lahan kosong belakang rumah. Sampai-sampai semua pekerja disana sangat senang bisa makan enak terus." jelas Alza.


"Benar juga, selama satu minggu ini, kerjanya hanya mamasak dan belajar pakai sepatu heels saja." ucap Pak Danu mengingat Tiara.


"Oh iya Pak boneka," ucap Alza akhirnya. Alza ingat setiap malam sebelum tidur, Tiara cuma sibuk ngelonin bonekanya. Alza saja sampai cemburu dibuat itu boneka.


Alza langsung menelpon Ana.


***


Ana sudah siap akan berangkat ke rumah sakit begitu diperintahkan tuan mudanya.


"Kamu mau kemana Ana, bawa boneka besar begitu? " tanya Axel saat Ana mau masuk mobil.


" Ini Tuan, untuk Nyonya muda. Kata Tuan muda Alza keadaan nyonya muda semakin kritis, dia berharap ini bisa membantu Nyonya muda." jelas Ana.


" Apa! Jadi Tiara sedang kritis sekarang?" tanya Axel terkejut. Axel mengepalkan kuat tangannya dan langsung pergi ke dalam rumah.


Kenapa tuan muda Axel terlihat marah begitu? batin Ana bingung. Tapi Ana tidak mau ambil pusing. Dia harus cepat-cepat ke rumah sakit sekarang.


Begitu sampai di kamarnya Axel langsung meluapkan kamarahannya. Axel melempar keras semua benda yang tersentuh tangannya.


" ALZA SIALAN! BERENGSEK! seharusnya kamu yang kritis sekarang bukan Tiara" marah Axel.


Axel benar-benar ingin membunuh Alza sekarang juga. Tapi bagaimana dengan Tiara? Axel harus bersabar menunggu kersembuhan Tiara, dan Alza juga akan sangat berpengaruh untuk kesembuhan Tiara. Karena Axel yakin Alza pasti mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Tiara.


***


Alza sedang mengelap tangan Tiara, kemudian wajah Tiara. Alza menatap wajah Tiara dalam, bisakah dia merelakan kalau Tiara pergi untuk selamanya meninggalkannya. Setelah tadi mencoba dengan boneka ternyata tidak ada reaksi sama sekali. Alza cuma bisa pasrah sekarang.


"Cup cup cup cup ...." Alza mengecup seluruh wajah Tiara. "Hei, Tiara kamu gak marah, kalau aku cium terus seperti ini. Cup ... kan gak baik kalau setengah-setengah ya cup ...." Alza mencium pipi Tiara.


Alza menempelkan bibirnya dengan bibir Tiara. Mencium dalam bibir Tiara, air mata Alza jatuh tepat di mata Tiara. Alza sudah mengiklaskannya sekarang. Kalaupun mimpinya menjadi kenyataan, biarlah Tiara pergi dengan Tenang.


Bersambung ....


Jangan lupa Vote, like dan komennya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2