Danau Cintaku

Danau Cintaku
Melamar


__ADS_3

Alza menyalakan musik dari HPnya, dan meletakkannya di atas meja yang sudah dibersihkan.


"Maukah kamu berdansa denganku?" tanya Alza pada Tiara sambil mungulurkan tangannya.


"Tapi aku tidak bisa dansa bang Alza," ucap Tiara.


"Tenang saja, bukankah ada aku yang selalu siap mengajarimu." ucap Alza.


Tiara mengagukkan kepalanya pertanda setuju.


Alza sedang mengajari Tiara berdansa.


Alza meletakkan kedua tangannya pada pinggang. Sementara Tiara meletakkan tangannya pada bahu Alza.


"Bang Alza gampang ternyata, lebih susah belajar menari." ucap Tiara. Sekarang mereka sedang asik menggerakkan badannya, sesuai alunan musik dari HP Alza.


"Memangnya kamu bisa menari?" tanya Alza.


" Bisa sedikit-sedikit Bang, kalau anak gadis di kampungku itu pasti bisa menari. Bang Alza mau aku ajari menari?" tanya Tiara.


"Enggak deh, badanku terlalu kaku. Tiara ...." pangil Alza.


"Kenapa?" tanya Tiara.


Alza tidak menjawab pertanyaan Tiara. Alza mendekatkan wajahnya ke dekat Tiara dan mencium lama kening Tiara.


Wajah Tiara terasa begitu panas mendapat perlakuan manis dari Alza.


Begitu melepas ciumannya, Alza menatap mata Tiara dalam.


" Sayang, terima kasih ya, terima kasih sudah mau membalas cintaku. Hadirmu dalam hidupku benar-benar membuatku bahagia." ucap Alza mesra.


Tiara benar-benar bahagia mendengarnya, dia sampai tidak bisa lagi berkata-kata. Tiara sungguh tidak pernah menyangka bisa mengalami ini dalam hidupnya. Bisa dicintai laki-laki seperti Alza adalah anugrah terindah, yang dia miliki dalam hidupnya.


Tiara hanya membalas tatapan mata Alza dalam.


"Sayang ...." pangil Alza lagi.


"Iya," jawab Tiara.


" Bisa kamu tutup mata sebentar," suruh Alza.


Tiara menganggukkan kepalanya kemudian menutup matanya.


Apa Bang Alza ingin menciumku? batin Tiara berdebar-debar.


Alza melepas tangannya dari pinggang Tiara, kemudian mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya.


Alza bertekuk lutut di depan Tiara.


" Tiara, sekarang kamu bisa buka mata kamu!" ucap Alza.


Tiara perlahan membuka matanya. Tiara begitu terkejut melihat Alza yang bertekuk lutut didepannya, sambil memegang cicin yang begitu cantik.



"Maukah kamu menikah denganku, menjadi ibu bagi anak-anakku, dan menua bersamaku?" tanya Alza.


Tiara menutup mulutnya menggunakan tangannya, menahan tangis. Tiara benar-benar tidak menyangka, Alza akan secepat ini melamarnya, dan juga begitu ramantis seperi ini.


Tiara akhirnya menganggukkan kepalanya, "Aku mau Bang Alza, aku mau menikah dengan Bang Alza, mau menjadi Ibu bagi anak-anak Bang Alza, juga menua bersama Bang Alza." ucap Tiara sambil menangis bahagia.


Mendengar jawaban iya dari Tiara, Alza sangat bahagia. Alza kemudian memakaikan cincin itu di jari manis Tiara dan langsung memeluk erat Tiara.


"Terima kasih sayang, terima kasih sudah mau menerimaku, aku sangat mencintaimu hari ini, besok dan sampai selamanya." ucap Alza bahagia.


"Aku juga sangat mencintai Bang Alza," ucap Tiara. tidak kalah bahagianya.


"Oh iya, karena kamu sudah menerima lamaranku, aku ingin memberimu hadiah. Sekarang kamu tutup mata!" suruh Alza.


"Tutup mata lagi," ucap Tiara.


"Iya sayang, hanya sebentar kok." ucap Alza.


Tiara kembali menutup matanya.


Alza memberi kode, agar Ryan mendekat dan membawa pesanannya.


Ryan memerikan pesanan Alza padanya.


"Sekarang buka matanya!" suruh Alza.

__ADS_1



Mata Tiara langsung terbelalak begitu membuka matanya.


"Bang Alza bunganya banyak banget, cantik banget." ucap Tiara berbinar.


"Apa kamu suka?" tanya Alza.


"Suka Bang, sangat suka, terima kasih ya. Aku sampai susah bawanya karena besarnya. Emmm ... harum banget lagi." ucap Tiara.


"Sama-sama, baguslah kalau kamu menyukainya." ucap Alza.


Ryan yang dari tadi, berdiri tidak jauh dari Alza dan Tiara akhirnya mendekat.


"Selamat ya Pak Alza dan Ibu Tiara, kalian benar-benar pasangan yang serasi. Aku doakan segala yang direncanakan berjalan dengan lancar." ucap Ryan.


"Amin." ucap Alza dan Tiara kompak.


"Ada Bang Ryan juga disini, pasti Bang Ryan ya yang sudah membawa bunganya kesini? Terima kasih Bang Ryan," ucap Tiara ramah.


" Sama-sama Ibu Tiara," ucap Ryan.


" Jangan panggil Ibu Tiara dong Bang Ryan, panggil Tiara saja." ucap Tiara.


"EHEM ...." Alza berdehem sekeras mungkin. Apa-apa ini Tiara, baru juga di lamar, sudah sok akrab saja dengan laki-laki lain.


"Baik, Tiara." ucap Ryan sambil tersenyum, pura-pura tidak mengerti maksud Alza.


"Ryan! sudah bosan kerja kamu?" ucap Alza akhirnya.


"Haha ... bercanda Pak Alza, kerena semua sudah selesai aku sudah bisa pulang kan?" tanya Ryan.


"Tunggu dulu, panggil dulu yang lainnya kesini!" suruh Alza.


"Siap Pak." ucap Ryan dan langsung berlari memanggil teman-temannya sesama tim sukses Alza hari ini.


Beberapa menit kemudian Ryan datang bersama dengan 4 orang temannya, yang mengatur bagian makanan, bunga dan fotografer.


Tanpa Tiara ketahui, semua momen mereka hari ini sudah diabadikan oleh sang fotografer.


"Terima kasih, buat kerja keras kalian hari ini. Berkat kalian, semua berjalan dengan lancar. Karena aku ingin mengabadikan momen ini, mau kan kalian foto bersama kami. Anggap saja ini sesi foto di lamaran resmi." ucap Alza.


Tiara menatap kagum pada Alza.


Tim sukses Alza tentu saja tidak menolaknya. Mereka justru begitu antusias, terlebih Ryan yang terlihat begitu bersemangat.


Mereka foto banyak pose, tim sukses Alza terlihat seperti teman dekatnya. Terlebih Ryan, dia terliat cekcok beberapa kali dengan Alza. Benar-benar tidak terlihat seperti bos dan anak buah.


Alza benar-benar bahagia melihatnya, selama kenal dengan Tiara semua sifat kakunya benar-benar hilang. Ternyata hidup dengan sesama, tanpa jarak seperti ini, benar-benar luar biasa.


***


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Tiara tidak hentinya memandang, juga mencium bunganya.


Sesekali Tiara juga melihat ka arah Alza, senyumnya tidak pernah hilang dari wajahnya. Begitu pun dengan Alza, disaat ada kesempatan dia akan menggenggam tangan Tiara kemudian menciumnya.


Mereka benar-benar sedang mabuk cinta.


Semua yang terjadi hari ini sungguh seperti mimpi, mimpi yang begitu indah, bagi mereka.


"Kamu mau sampai kapan mencium bunganya seperti itu, tidak mau turun?" tanya Alza begitu mereka sampai rumah.


"Oh iya," Tiara langsung sadar seketika.


Alza dan Tiara berjalan sambil menggenggam tangan masuk ke dalam rumah.


"Tuan Muda ... Tuan Muda ...." panggil Pak satpam yang datang terburu-buru.


" Ada apa Pak?" tanya Alza.


"Maaf banget Tuan Muda, aku mengganggu Tuan Muda, tapi aku benar-benar butuh pertolongan Tuan Muda saat ini." jelas Pak satpam.


"Sayang, kamu masuk ke dalam duluan ya, aku akan bicara sebentar dengan Pak satpam." ucap Alza sambil menyerahkan bunganya pada Tiara.


"Iya," ucap Tiara lalu masuk ke dalam rumah.


"Oh iya, ada masalah apa pak?" tanya Alza pada Pak satpam.


"Begini Tuan Muda, saya harus pulang ke kampung malam ini juga. Baru saja saya mendapat telpon kalau anak saya sakit, dan pihak rumah sakit tidak mau menanganinya karena tidak ada biaya. Apa saya bisa minta gaji saya terlebih dahulu pada Tuan Muda." jelas Pak satpam.


Alza langsung prihatin melihat satpamnya ini.

__ADS_1


"Bisa Pak sangat bisa, ayo kita selesaikan di post." ucap Alza.


"Terima kasih Tuan Muda, saya juga sudah menyuruh Dani(satpam Alza yang lainnya) untuk menggantikan saya malam hari ini." jelas Pak satpam.


Di sudut rumah terlihat Axel sedang memperhatikan mereka.


Axel yang dari tadi masih belum mereda amarahnya, merasa dia memiliki kesempataan saat ini.


Axel langsung masuk ke dalam rumah begitu melihat Alza sudah di post satpam.


Alza sedang mengeluarkan uang dari dalam dompetnya untuk Pak satpam. Untung saja dia selalu sedia uang cash di dalam dompetnya. Sebenarnya masalah gaji orang yang kerja di rumahnya, Alza tidak pernah tahu menahu. Semuanya mamanya yang ngurus.


Saat akan menghitung uangnya, tidak sengaja matanya melihat ke arah layar monitor CCTV.


Bukannya itu Bang Axel? mau apa dia? batin Alza yang melihat Axel masuk ke dalam kamarnya.


Alza langsung mengeluarkan semua uang dalam dompetnya dan menyerahkannya pada Pak satpam.


"Ini Pak, ambil saja semua, semoga anaknya cepat sembuh.Saya harus pergi sekarang." ucap Alza langsung berlari masuk kedalam rumah.


Pak satpam bingung melihat Alza yang pergi terburu-buru. Uang yang diberikan Alza lumayan banyak lebih dari 1 bulan gajinya.


Sementara di dalam kamar Alza, Tiara sedang berusaha melawan Axel.


"Lepas Bang Axel, aku mencintai Bang Alza bukan Bang Axel." ucap Tiara.


Mendengar Tiara mengucapkan mencintai Alza langsung dari mulutnya, membuat Amarah Axel semakin menjadi.


"Tidak! kamu tidak mungkin mencintai Alza, kamu itu hanya milikku, dan selamanya akan menjadi milikku." marah Axel.


Tiara semakin terpojok dalam kungkungan Axel. Dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk menahan Axel.


Axel semakin mendekatkan mulutnya ke mulut Tiara. Sedikit lagi bibirnya menyentuh bibir Tiara tiba-tiba tubuhnya terpental karena tendangan Alza.


"Apa yang Kakak lakukan? beraninya Kakak menyentuh istriku!" marah Alza.


Axel yang tidak terima langsung meninju Alza.


Terjadi baku hantam yang tidak terelakkan diantara mereka.


Tiara yang melihatnya berusaha melarainya.


"Bang Alza, Bang Axel hentikan kalian jangan berantem seperti ini." ucap Tiara takut


Mereka tidak mendengarkan Tiara.


"Aku peringatkan Kakak, jangan pernah mengganggu Tiara lagi." marah Alza sambil melayangkan pukulannya pada Axel.


"Apa hakmu melarangku bersama Tiara, asal kamu tahu saja ya dia itu adalah istriku, bukan istrimu." marah Axel dan membalas pukulan Alza.


"Jadi Kakak sudah mengakuinya sekarang, kalau Kakak yang melakukan pernikahan palsu itu." ucap Alza kembali memukul Axel.


"Baguslah kalau kamu sudah mengetahuinya, jadi sekarang aku minta, lepaskan Tiara karena dia adalah milikku, bukan milikmu!" marah Axel sambil mencengkram kerah baju Alza.


" Tidak akan, sampai kapan aku tidak akan melepaskan Tiara." ucap Alza.


Axel yang tidak terima dengan ucapan Alza kembali memukuli Alza, bibir Alza sampai memgeluarkan darah.


"Bang Alza tidak!" teriak Tiara begitu ketakutan, Tiara langsung lari keluar dari kamar mencari pertolongan.


"Kamu harus melepaskannya karena aku lah yang lebih dulu mengenalnya." marah Axel.


" Kakak memang lebih dulu mengengenalnya, tapi akulah laki-laki yang dicintainya." balas Alza.


"Tidak, itu tidak mungkin! Tiara itu hanya milikku," amarah Axel semakin menjadi.


***


"Ma ... Mama ... Mama!" teriak Tiara sambil mengetuk keras pintu kamar Mama Ike.


Mama Ike terbangun begitu mendengar ketukan keras dipintu kamarnya.


Begitu membuka pintu kamarnya, dia terkejut melihat keadaan Tiara. Tiara masih memakai baju saat mereka keluar makan malam, juga penampilannya sangat berantakan.


"Kamu kenapa, apa terjadi sesuatu?" tanya Mama Ike khawatir.


" Itu ma, Bang Alza dan Bang Axel berantam di kamar kami Ma," ucap Tiara sambil menangis.


"APA!, ayo kita kesana!" ucap Mama Ike langsung lari ke kamar utama.


Bersambung ....

__ADS_1


Ini episode terpanjang selama aku menulis, 1658 kata guys, benar-benar kejar target seperti author yang lain, yang bisa menulis hampir 2000 kata.


Jangan lupa, vote, like dan komennya ya teman-temanku yang baik hati dan luar biasa. SEMANGAT!


__ADS_2