Danau Cintaku

Danau Cintaku
Merdeka


__ADS_3

Berhubung ini hari kemerdekaan kita, maka ceritanya kita mulai dari tugu perjuangan Berastagi ya, MERDKA.


***


Waktu menunjukkan jam 5 pagi, Riski, Ridho dan Ana sudah keluar dari hotel. Mereka tidak ingin melewatkan kesempatan mengelilingi Berastagi hari ini.


Begitu keluar dari hotel mereka sudah melihat pasar buah Brastagi. Ternyata letak hotel mereka benar-benar strategis dekat ke mana-mana. Hotel Sibayak Berastagi merupakan salah satu hotel tua, yang masih bertahan sampai sakarang. Bisa dilihat dari genteng hotel, yang masih menggunakan ciri khas rumah adat Karo.


"Kak Ana kita beli sarapan dulu ya, Kak Ana mau sarapan apa?" tanya Riski.


"Apa sajalah yang penting bisa di makan," ucap Ana.


"Ok deh, kita beli mie grobak saja ya sekaian kue-kuenya." ucap Ridho.


" Siap, Riski, Ridho hah ... hah ... hihi seru ya seperti di drama korea kalau bicara keluar asapnya." ucap Ana.


"Iya benar, hah ... hah ... aku bisa membuat bulat-bulat seperti donat dong, hah ..." ucap Riski semangat.


"Hei, itu sepertinya penjual mie grobaknya ayo kita beli dulu!" ucap Ridho.


"Ok," ucap Ana dan Riski kompak.


Begitu selesai memembeli sarapan, Ana, Riski dan Ridho, makan ditempat orang-orang biasanya nongkrong. Tempatnya dipinggir jalan berdekatan dengan tugu perjuangan Berastagi.



Suasana disekitar mereka masih terlihat sepi, mungkin karena dingin, orang-orang pasti masih pada tidur.


Seperti kebayakan orang lainnya, saat melihat tugu perjuangn Berastagi Ana, Riski dan Ridho pasti ingin mengabadikan momen ini.


Mereka foto-foto berbagai macam gaya, di setiap tempat yang menarik menurut mereka. Dan selesai foto-foto mereka langsung ke tempat nongkrong.


"Tempat nongkrongnya asik ya, bangunannya juga ada ciri khasnya." ucap Ana.


"Iya Kak Ana, apalagi kalau malam-malam, sambil gitaran trus ngelihatin cewek bule-bule sexy, makin asoy deh." ucap Ridho.


"Dasar si Rihdo, kayak mengerti cewek bule sexy saja." ucap Ana.


" Kak Ana jangan salah ya, aku ini calon playboy di masa depan lho, aku bukan Riski yang sok alim ya." ucap Ridho.


"Calon playboy apaan? makan nih getuk!" ucap Riski sambil menyuapkan kue getuk ke mulut Ridho.


"Makasih kembaranku sayang, enak ini getuknya rasanya lembut, kak Ana cobain deh." ucap Ridho.


"Iya benar, sangat lembut ya manisnya juga sangat alami. Sepertinya ini gulanya terbuat dari aren asli, rasanya enak." ucap Ana.


Saat sedang asik-asik makan terdengar HP Ana berdering. Ana Langsung melihat melihat HPnya, begitu melihat Nyonya Besar memangil, Ana langsung menjawab pangilannya.


"Hallo Nyonya Besar," ucap Ana.


"Kamu dimana, apa kamu bersama Riski dan Ridho?" terdengar suara Mama Ike dari sambungan teleponnya.


"Iya Nyonya Besar, kami sedang sarapan." jawab Ana.


"Ya sudah kalau kamu bersama Riski dan Ridho, aku khawatir kamu tidak ada di kamar." ucap Mama Ike.


"Hehe, maafkan aku Nyonya Besar. Oh iya Nyonya Besar mau dibawa sarapan dari luar atau mau sarapan di hotel saja." tanya Ana.


"Aku sarapan di hotel saja, ya sudah kalian nikmati waktu sarapannya." ucap Mama Ike.


"Ok, Nyonya Besar." ucap Ana.


***


Dari pagi sampai menjelang siang, Alza dan yang lainnya sudah mutar-mutar Berastagi, mereka juga mencoba berbagai macam kuliner disana.

__ADS_1


Mama Ike bahkan sudah belanja banyak, sovenir khas tanah Karo untuk oleh-oleh buat pekerja di rumahnya.


Saat ini mereka ingin naik delman. Mereka akan naik ke puncak Gundaling menggunakan delman. Dari puncak gundaling akan terlihat pemandangan Berastagi, dan sekitarnya dan juga pemandangan gunung, termasuk gunung sinabung.



Mama Ike dan yang lainnya sudah siap berangkat menggunakan delmannya.


Sementara Alza dan Tiara memisahkan diri. Alza ingin naik kuda berdua saja dengan Tiara.


"Dah Bang Alza, dah Kak Tiara, kami duluan ya." ucap Ridho, begitu kreta kuda mereka melewati Alza, yang sedang bernegosiasi dengan pemilik kuda.


Alza dan Tiara melambaikan tangannya ke arah Ridho dan pasukannya.


Alza sudah mendapat kuda pilihannya dan juga sudah selesai bernegosiasi dengan Abang pemilik kudanya. Tarif menaiki kuda dikenakan Rp200.000 selama 1 jam.


"Ayo sayang naik," ucap Alza pada Tiara. Dengan takut-takut Tiara berusaha menaiki kuda, dan dibantu oleh Alza. Setelah Tiara naik, Alza juga langsung naik ke atas kuda duduk dibelakang Tiara..


"Bang Alza, kita tidak akan jatuh kan? bagaimana kalau kudanya ngamuk trus melompat-lompat?" tanya Tiara.


"Kamu tenang saja, ada aku pasti semuanya aman. Kamu sudah siap berangkat, let's go, hiat..." ucap Alza semangat sambil menarik tali kudanya.


"Bang Alza ... pelan-pelan saja aku takut jatuh," ucap Tiara takut.


"Haha ... tenang saja sayang, pegangan saja yang kuat, kalau kamu takut jatuh. Oh iya kita mau jalan kemana ni?" tanya Alza.


"Ke arah situ tuh Bang, itu pemandangannya bagus-bagus." tunjuk Tiara.


"Siap tuan putri," ucap Alza membawa kudanya ke arah yang ditunjuk Tiara.


"Bang ke situ juga," tunjuk Tiara ke arah yang lain.


"Ok," ucap Alza.


"Haha ... seru ternyata ya Bang," ucap Tiara senang, sekarang dia sudah merasa nyaman.


" Gah ah, gak berani, Bang Alza saja. Oya kita tidak menyusul Mama dan yang lainnya ke Gundaling?" tanya Tiara.


"Enggak, kita mutar-mutar sekitar sini saja." ucap Alza. Sekarang kuda mereka berhenti, Alza dan Tiara memandang pemandangannya dari atas kuda sambil ngobrol.


"Kenapa?" tanya Tiara.


"Kamu tidak dengar apa kata abang-abangnya tadi, kalau pacaran jangan ke Gundaling, hubungannya tidak akan awet pasti putus. Dan aku gak mau kalau putus hubungan dengan kamu." jelas Alza sambil memeluk Tiara dari belakang dan tangannya juga tidak lepas dari tali kuda.


"Ih Bang Alza, percaya saja sama mitos begituan." ucap Tiara.


"Aku tidak percaya mitos sayang, hanya saja jaga-jaga iya kan, takutnya benar, memangnya kamu mau putus hubungan denganku?" tanya Alza.


"Enggak," jawab Tiara cepat.


"Kalau enggak, cium dong sayang." ucap Alza sambil mendekatkan wajahnya pada Tiara.


"Bang Alza selalu saja, cup ... cup ..." ucap Tiara sambil mencium pipi Alza.


"Makasih kesayanganku, cup ...." Alza mencium kuat pipi Tiara.


"Bang Alza ayo lanjut berkeliling lagi!" ucap Tiara.


Alza dan Tiara terus berkeliling sampai puas.


***


Tiara dan yang lainnya sudah berkumpul kembali dan mereka kembali jalan-jalan bersama. Ini adalah tujuan terakhir mereka sebelum pulang ke Jakarta. Taman Lumbini pagoda Berastagi yang merupakan ikon penghormatan Buddha tertinggi di Indonesia.


__ADS_1


"Kenapa pemandangan disini bagus-bagus sekali sih, aku kan jadi gak mau pulang." ucap Ana.


"Kalau tidak mau pulang cari jodoh orang Berastagi saja Kak Ana." ucap Ridho.


"Benar juga, ya sudah Ridho cari Kak Ana jodoh sana." suruh Ana.


"Ana mau dapat jodoh orang sini?" tanya Alza.


"Iya Tuan Muda, siapa tahu ada yang mau kan, biar aku gak gigit jari terus, kalau lihat Tuan Muda dan Nyonya Muda." ucap Ana.


"Gampang Na, kamu tinggal tulis di kertas CARI JODOH terus tempel di punggung, yakin deh ada yang mau." usul Alza.


"Ih, Tuan Muda begitu, gak asik. Ah udah ah, ayo Nyonya besar kita foto-foto dulu." cemberut Ana.


Mereka berkeliling sebentar tidak lupa mengabadikan setiap momen mereka.


***


Tiara terkejut melihat bibinya sudah menunggu di depan hotel, begitu mereka sampai di hotel.


"Lho bik, kalian ngapain disini?" tanya Tiara begitu turun dari mobil.


" Itu menghantar pesanan calon ibu mertua kamu," jawab Bibinya.


"Pesanan Mama?" bingung Tiara.


"Iya sayang, Mama pesan banyak sayuran juga buah-buahan, sama bibik-bibik kamu semalam. Mama sangat suka sayuran rebus yang di masak bibik kamu. Oh itu ya barang-barangnya sudah disusun rapi ya." ucap Mama Ike sambil menunjuk mobil Pick up.


"Iya Kak, sudah aku susun rapi semua dalam dus, dan sudah aku lapisi dengan daun pisang juga." ucap Bibi Tiara.


"Ini Banyak banget Ma, Mama sekalian mau jualan di Jakarta?" tanya Tiara heren melihat ada banyak dus, entah apa itu isinya, juga ada labu kuning 1 karung.


"Biar semuanya pekerja di rumah kita kebagian, mereka pasti senang di bagi oleh-oleh, jarang-jarang juga kita bisa ke kampung seperti ini." ucap Mama Ike.


Tiara hanya mangut-mangut, tahu sendiri Mama Ike orangnya seperti apa.


1 jam kemudian, semuanya sudah siap berangkat ke Jakarta. Alza harus menyewa 1 mobil lagi, untuk barang-barang mereka.


"Bik, kami berangkat ya. Oh iya ini Bik ini ada uang ..."


"Tidak usah Nak Alza, Mama kamu sudah ngasih banyak uang untuk Bibik," ucap Bibi Tiara cepat.


"Bukan itu maksudnya Bik, kalau soal yang itu, tidak ada hubungannya denganku. Uang ini untuk keperluan kalian nanti saat berangkat ke Jakarta nanti. Kalian pasti membutuhkannya selama di perjalanan. Dan ini no telepon orang yang akan mengurus kalian nanti selama di Jakarta. Aku mungkin akan terlalu sibuk, jadi tidak bisa langsung mengurus kalian, tidak apa-apa kan?" jelas Alza.


"Oh itu, iya bibik mengerti." ucap Bibi Tiara.


"Ya sudah kalau begitu kami berangkat ya Bik." ucap Alza dan Tiara.


"Iya, hati-hati ya kalian selamat sampai Jakarta." ucap Bibi Tiara sambil melambaikan tangannya.


***



Begitu sampai di Medan, mereka masih sempat-sempatnya singgah di Ucok durian Medan sebentar. Karena kurang lengkap rasanya kalau ke Medan tapi tidak makan Durian.


Sekarang Mama Ike dan yang lainnya sudah dalam pesawat, siap berangkat ke Jakarta.


Sementara Alza dan Tiara lagi-lagi terpisah dari mereka. Seperti yang sudah Alza rencanakan dia ingin mengecek kantor cabang Medan dulu, sekaligus menemui keluarga pilot itu.


Bersambung ....


Semoga masih dapat feelnya ya guys, tadinya tidak mau up hari ini,juga bagian ini ingin aku lewatkan saja. Tapi pas buka HP baru ingat kalau ini, hari kamerdekaan kita.


Kemerdekaan kita kali ini, pasti menciptakan sejarah baru untuk kita semua. Dan aku juga ingin berpartisipasi makanya cepat-cepat nulis bab ini. Dan setelah berpikir sejenak, mungkin bab ini adalah sedikit unsur kedaerahannya. Dan juga untuk mengenang jasa para pahlawan kita, aku persembahkan Tugu perjuangan Berastagi. MERDEKA MERDEKA MERDEKA

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komennya ya guys. Semangat!


__ADS_2