
"Bang Alza, sepertinya Bang Nangin sudah datang." ucap Tiara begitu mereka sampai di rumah.
"Kalau dilihat dari mobilnya sih iya, siapa lagi yang berani datang pakai mobil pick up kerumah ini, kalau bukan Bang Nangin." ucap Alza.
"Benar juga, preman pasar." ucap Tiara.
Beberapa hari yang lalu begitu sampai di Jakarta, Tiara mengenalkan Alza pada Bang Nangin. Mereka bahkan datang langsung ke tempat Bang Nangin dagang, yaitu pasar induk Jakarta.
Bang Nangin menyambut hangat kedatangan mereka, dia bahkan sempat menggoda Alza dengan tingkah konyolnya. Dan Bang Nangin sudah beberapa kali datang ke rumah Alza, untuk mengajari Alza dan Tiara tentang apa saja yang akan dilakukan saat bayar utang Adat.
Bang Nangin ternyata sangat banyak membantu, terutama bagi Tiara. Bang Nangin juga membantu menyebar undangan, terkhusus untuk saudara satu kampung mereka yang merantau di Jakarta.
"Wah ... wah seru sekali kalian," ucap Tiara begitu melihat semua penghuni kediaman Wijaya menari barsama Bang Nangin, mengikuti alunan musik Karo yang di mainkan.
"Nyonya Muda sudah datang, sini gabung kita menari bersama, seru ...." ucap Ana sambil menari mengoyangkan badannya.
"Mau ... mau ..." ucap Tiara semangat dan langsung ikut gabung bersama mereka.
Sementara Alza menghampiri Bang Nangin, kemudian meraka saling berjabat tangan dengan erat.
Alza dan Bang Nangin membahas tentang rincian pernikahan Alza dan Tiara. Terkhusus untuk acara siangnya untuk bayar utang adat, seperti yang sudah Alza bicarakan, bersama keluaga Tiara saat mereka di kampung.
Begitu selesai pembahasan mereka, Alza kembali melanjutkan latihan menari bersama Tiara. Dan Alza selalu saja manjadi bahan tertawaan mereka, karena gerakannya yang masih terlihat sangat kaku.
***
Siang ini Alza dan Om Indra sedang mengadakan rapat, bersama beberapa karyawan Wijaya, terutama mereka yang bekerja di hotel Wijaya. Rapat kali ini terasa sangat sepesial bagi Alza, karena pembahasaan mereka tidak tentang pekerjaan tapi tentang pernikahan Alza sendiri.
Acara pernikahan Alza benar-benar dirayakan besar-besaran. Dan dikarenakan Alza yang sudah tidak memiliki ayah, jadi dialah yang harus turun tangan mengurus semuanya, tentunya dibantu oleh orang-orang terdekatnya.
"Rony, berhubung keluarga dari kedua belah pihak banyak yang datang dari kampung, dan juga luar kota. Aku dan Alza sudah memutuskan saat hari H, hotel tidak menerima tamu. Semua kamar dikhusus untuk tamu undangan saja." ucap Om Indra
" Baik, Pak." ucap Rony.
"Dan untuk Feri kamu khusus melayani tamu dari pihak keluarga perempuan. Mulai dari penjemputan mereka di bandara, sampai semua kebutuhan mereka selama disini, kamu yang bertanggung jawab. Dan untuk Adi kamu bertanggung jawab untuk keluarga dari pihaku atau Alza yang dari kampung. Dan aku juga berharap kalian bisa melayani mereka sebaik mungkin, karena kalian pasti tahu bagaimana orang yang baru datang dari kampung." ujar Om Indra.
"Baik Pak," ucap Feri dan Adi kompak.
Sementara Alza hanya menatap haru pada omnya ini. Om Indra sudah seperti sosok seorang ayah di mata Alza. Dia juga benar-benar banyak membantu Alza dalam segala hal, begitupun dengan pernikahannya ini. Om Indra banyak memberi ide padanya.
"Sampai disini ada yang ingin bertanya?" tanya Om Indra.
"Saya Pak, untuk tamu undangannya, apa semua karyawan Wijaya akan diundang?" tanya Heru.
"Kalau untuk karyawan mungkin akan sebagian saja, hanya para atasan juga masing-masing perwakilan dari kantor cabang. Tapi kalau ada para karyawan yang mau menjadi panitia, yang membantu jalannya acara, kalian bisa melapor pada Ryan." ucap Om indra.
"Siap Pak," ucap Heru semangat, dia sangat yakin pasti banyak banget yang mau menjadi panitia.
Pembicaraan mereka masih terus berlanjut. Om indra berusaha semaksimal mungkin agar pernikahan Alza dan Tiara bisa berjalan dengan lancar.
***
Begitu rapat mereka selesai Alza ingin menuju ke suatu tempat. Alza benar-benar bersemangat melakukan pekerjaannya akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Pak, ini uang untuk ongkos Bapak pulang ke rumah, Bapak naik taxi saja ya. Aku ingin menyetir sendiri, aku ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu." ucap Alza pada Pak Ujang.
"Tuan Muda yakin ingin menyetir sendiri?" tanya Pak Ujang, entah kenapa dia merasa ada perasaan tidak enak saat ini.
"Iya Pak,saya yakin." ucap Alza heran. Ada-ada saja pak supirnya ini, Alza seperti tidak pernah menyetir sendiri saja.
Begitu Pak Ujang turun dari mobilnya, Alza pindah ke kursi kemudi dan langsung menjalankan mobilnya.
Sementara itu tidak jauh dari mobil Alza, terlihat Axel mengikuti mobil alza dari belakang. Kali ini Axel sengaja menyewa mobil orang lain sekaligus supirnya, agar Alza tidak curiga. Dia tidak ingin tertipu lagi seperti waktu itu. Untuk kali ini, rencananya harus berhasil.
Beberapa menit perjalanan, sampailah Alza di tempat tujuannya yaitu Rumah Makan. Ini yang akan Alza jadikan sebagai mas kawin yaitu satu buah rumah makan lengkap dengan isi-isinya.
Alza sangat bersyukur, semua bisa berjalan dengan lancar, termasuk rumah makan ini. Rumah makan yang dulu dia bicarakan bersama Tiara.
"Tuan Muda sudah datang," ucap Dani. Dani ini adalah satpam dirumahnya yang minta ijin pulang kampung saat itu. Dan saat kembali, dia meminta tolong pada Alza agar istrinya di beri pekerjaan. Berhubung Istri Dani pintar memasak, Alza akan meperkerjakannya untuk membantu Tiara sekaligus penanggung jawab rumah makan ini.
"Iya, apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Alza sembil memeriksa isi rumah makan.
"Sangat lancar Tuan Muda," ucap Dani.
Alza terus memeriksa semua bagian isi rumah makan. Tidak lupa juga Alza menyapa beberapa pekerjanya, memberi semangat pada mereka. Alza juga memberi masukan pada sesuatu yang menurutnya kurang pas. Walau ini hanya rumah makan sederhana tapi Alza benar-benar ingin menyiapkannyanya sebaik mungkin untuk Tiara.
Alza semakin tidak sabar ingin melihat, seperti apa reaksi Tiara nanti saat milihat rumah makan ini.
Begitu selesai dengan urusan rumah makan, Alza langsung bersiap pulang kerumah, dia sudah sangat merindukan Tiara.
"Hallo kesayanganku, lagi apa?" Tanya Alza begitu sambungan telepon terhubung dengan Tiara.
"Ini lagi bantu-bantu masak, Bang Alza ingin dimasakin apa?" Tanya Tiara dari sambungan telepon.
"Aku enggak ingin apa-apa, yang aku mau Bang Alza secepatnya sampai di rumah dengan selamat, itu saja." ucap Tiara.
" Ya sudah, tunggu kedatangganku di teras ya, dan jangan lupa, siapkan senyum termanis untukku, aku sangat mencintaimu." ucap Alza.
"Aku juga sangat ... sangat mencintai Bang Alza." ucap Tiara tersenyum manis kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Alza juga tersenyum tidak kalah manisnya sambil mematikan sambungan teleponnya. Dan Alza langsung bersiap menjalankan mobilnya.
Axel yang dari tadi mengikuti Alza, begitu melihat mobil Alza jalan langsung menghubungi anak buahnya.
"Target sudah jalan, kalian semua bersiap disitu jangan sampai ada yang lengah. Semua harus berjalan seperti yang sudah kuperintahkan, MENGERTI!" perintah Axel dan langsung menutup sambungan telponnya. Axel terus mengikuti Alza.
Sementara Alza yang merasa begitu berbunga-bunga. Singgah sebentar di toko bunga, membeli satu ikat mawar merah untuk Tiara. Alza mencium aroma bunganya, Hemm ... Tiara pasti sangat menyukainya. batin Alza.
Alza meletakkan bunganya di samping kursi kemudinya, dan Alza kembali melanjutkan perjalannannya.
"Brakkk ...." terdengar suara mobil Alza bertabrakan, yang di senggol dari belakang. Alza terkejut namun tetap menjalankan mobilnya.
"Brakkk ..." kali ini mobil itu terlihat sekali sengaja menabrakkan mobilnya pada mobil Alza.
Axel yang sengaja menabrakkan mobilnya pada mobil Alza merasa senang, Kali ini pasti berhasil. batin Axel.
__ADS_1
"Brak ...." kali ini Axel sengaja menabrakkan mobilnya dari samping. Dia benar-benar ingin merusak konsentrasi Alza saat menyetir.
Sementara Alza sudah mulai terlihat kesal, melihat mobilnya sengaja di tabrakkan seperti itu.
"Brak .... " mobil Alza kembali di tabrak dari samping.
"Hei, ini mobil maksudnya apa sih?" gumam Alza mulai marah.
"Brak ... Brak ..." mobil Alza kembali di senggol. Alza benar-benar terlihat semakin marah, dia tahu pasti orang dalam mobil itu pasti ada niat jahat padanya.
Alza tidak Ingin meladeninya dan terus mejalankan mobilnya, namun lagi-lagi mobilnya terus-terusan disenggol. Konsentrasi Alza benar buyar, dan dengan cepat Alza menjalankan mobilnya.
Mobil Axel yang sengaja menabrak mobil Alza, masih terus menjalankan Aksinya.
Alza benar-benar kehilangan fokus, hingga akhirnya saat di persimpangan jalan, Alza melihat ada truk yang melintas. Alza sekuat tenaga menginjak rem mobilnya. "BRAKKKK ... AAaaaaa ..." Terjadi tabrakan yang tidak bisa dihindari.
Pengemudi truk suruhan Axel merasa puas, pekerjaan berhasil dengan baik, dan secepatnya menjalankan truknya, meninggalkan mobil Alza yang sudah menaraknya.
Begitupun dengan Axel, melihat mobil Alza yang sudah hancur bagian depannya, secepatnya pergi mejalankan mobilnya.
Axel benar-benar puas rencananya berjalan dengan lancar. Kabar bahagia yang sudah direncanakan Alza sedemikin rupa, dalam sekejap berganti menjadi kabar duka.
Sementara Tiara di kediaman Wijaya benar-benar merasa tidak tenang. Tiara tidak sengaja menyenggol gelas hingga pecahannya jatuh berserakan. Jatuhnya gelas berketepatan dengan mobil Alza yang menabrak truk.
Dengan hati yang tidak karuan, Tiara berusaha mengumpulkan pecahan gelas tersebut.
"Achkkk ... " ucap Tiara ssat jari tangannya tertusuk pecahan gelas.
"Nyonya Muda ngapian?" tanya Ana yang melihat Tiara jongkok di dekat meja.
"Ini Kak Ana, aku tidak sengaja menjatuhkan gelas." ucap Tiara.
"Ya ampun, tangan Nyonya muda sampai berdarah begini. Ayo aku bantu mengobatinya dulu, ini biar aku saja nanti yang membersihkannya." ucap Ana khawatir.
Ana membawa Tiara ke wastafel, kemudian membatu mencuci jari tangan Tiara yang terluka. Ana kemudian mengambil kotak obat dan mencari plester. Begitu menemukan plester Ana langsung menepelkannya di jari tangan Tiara.
"Makasih Kak Ana, maaf ya aku ngerepotin Kak Ana terus." ucap Tiara.
"Tidak apa-apa Nyonya Muda, wajah nyonya muda terlihat kurang baik, apa Nyonya Muda tidak enak badan?" tanya Ana.
"Enggak Kak Ana, aku baik-baik saja. Hanya saja hatiku begitu berdebar-debar dan aku merasa seperti ada sesuatu yang tidak baik terjadi. Apa yang terjadi ya Kak Ana? aku benar-benar tidak bisa tenang ...." penjelasan Tiara terhenti begitu mendengar ada panggilan masuk dari HPnya.
"Sebentar ya Kak Ana, aku angkat dulu!" ucap Tiara begitu melihat ada panggilan dari Alza.
"Hallo Bang Alza," ucap Tiara begitu sambungan telepon terhubung.
"Maaf apa benar ini, istri dari pemilik HP ini?" tanya orang dari sambungan telepon.
"Iya Pak aku istrinya, kemana Bang Alza?" tanya Tiara tidak sabaran.
"Suami Anda mengalami tabrak lari, dan saat ini sedang dilarikan ke rumah sakit." jelasnya.
"APA ...." ucap Tiara benar-benar terkejut seakan tidak percaya.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa vote, like dan komennya ya teman-temanku. Semangat!