Danau Cintaku

Danau Cintaku
Jual jam tangan


__ADS_3

Mereka sampai di pasar. Setelah mengucapkan terima kasih pada bibinya Tiara dan Alza langsung menuju ke toko jam.


"Pak mau jual jam, kira-kira laku berapa ya?" Tanya Tiara sambil menyerahkan jam tangan Alza. Bapak itu meriksa jam tangan Alza dengan teliti, karena barang terlihat bagus dan mulus si Bapak langsung tertarik.


"Rp200.000,00 lah kalau mau?" Bapak itu menawarkan harga.


Mata Alza terbelalak seakan mau keluar mendengar penawaran harganya. Alza memperhatikan sekeliling toko jam si Bapak. Pantas saja ini hanya toko jam kecil pinggir jalan, Alza yakin si Bapak pasti tidak mengerti itu jam merek terkenal yang harganya ratusan juta.


"Gimana Bang? apa mau dijual?" tanya Tiara. menurut Tiara wajar saja si Bapak menawarkan harga segitu, itu juga sudah mahal kan? lagi pula itu hanya jam bekas.


Alza melotot lagi ke Tiara, Di jual katanya seharga Rp200.000,00 ohhh tidakkk .... batin Alza


"Kenapa Abang melotot begitu?" heran Tiara.


"Oh tidak, tidak apa-apa." ucap Alza langsung berusaha menguasai dirinya. "Kita tanyakan ke toko yang lain saja Tiara." pinta Alza.


"Maaf pak kami coba tanyakan ke toko lain dulu ya," Ucap Tiara gak enak sama si Bapak.


"Tiara apa tidak ada toko jam yang lebih besar disini yang menjual jam-jam mahal?" tanya Alza begitu mereka keluar dari toko itu.


"Kalau disekitaran sini, kebanyakan tokonya kurang lebihnya seperti toko itu Bang. Memangnya itu jam harganya mahal ya?" tanya Tiara.


"Tidak terlalu mahal, tidak seperti jam para pengusaha diluar sana yang harganya sampai miliaran." jelas Alza.


Mendengar kata miliaran mata Tiara terbelalak , Memangnya ada jam tangan harganya miliaran, terbuat dari apa itu jam? batin Tiara.


"Kalau yang jual jam mahal begitu di kota Medannya mungkin ada Bang, tapi kesana jauh sekitar 3 jam dari sini." jelas Tiara.


Benar juga pasti hanya orang-orang di kota besar yang mengerti jam ini. batin Alza.


"Seandainya kita ke Medan apakah Tiara keberatan? eh tidak masalah kan kita menggunakan uang kamu terlebih dulu untuk ongkos?" tanya Alza.


"Kalau Abang mau ayo!" ucap Tiara bersemangat.


"Loh kenapa jadi kamu yang bersemangat?" heran Alza.


"Sudah lama sekali aku ingin ke Medan bang, seingatku aku belum pernah kesana, jadi aku penasaran seperti apa itu kota Medan." jelas Tiara


"Benarkah? ya sudah ayo!" Ucap Alza ikutan semangat. Ada perasaan bahagia dihatinya bisa membawa gadis di depannya ini ke tempat yang ingin didatanginya. Padahal Alza sendiri cukup sering ke kota Medan dalam perjalanan bisnisnya.


***

__ADS_1


Setelah tiga jam perjalanan sampailah mereka di Medan.


"Bang kita makan dulu ya," pinta Tiara


Dia sudah merasa lapar dan sudah saatnya jam makan siang.


Alza tahu tempat makan yang enak di Medan ini, tapi dia tidak mungkin mengajak Tiara makan disana. Dia tidak memiliki uang untuk membayarnya.


Tatapan mata Tiara tertuju pada rumah makan yang begitu unik menurut Tiara. Makanan disusun rapi diatas piring begitu melihat banyaknya itu makanan Tiara semakin ngiler.


"Bang, kita maka disana saja ya!" tunjuk Tiara.


"Ok." ucap Alza langsung setuju.


Saat makan jika orang mendengar yang diucap kan Tiara, orang pasti berpikir gadis ini terlalu lebay. Ya gimana gak lebay dari tadi dia begitu memuji makanan yang dimakannya. Wajar aja sebenarnya Tiara memuji makanannya dia tidak pernah makan makana seperti ini, sehari-harinya hanya memakan hasil masakannya sendiri dan sesekali diberi sama tetangganya.


"Bang apa boleh nambah nasi lagi?" tanya Tiara, padahal Tiara sudah nambah nasi 1 kali.


"Mau nambah lagi? bisa ... bisa ...." Alza heran melihat gadis di depannya ini makannya banyak tapi badannya masih langsing saja. "Apa kamu begitu menyukainya?" tanya Alza.


"Iya bang rasanya sangat enak," ucap Tiara sambil memakan makanannya dengan lahap.


"Padahal menurutku jauh lebih enak masakan kamu," ucap Alza karena menurut Alza makanan ini sangatlah biasa rasanya.


"Beneran, jika kamu mau kamu bahkan bisa punya rumah makan lebih besar dari pada ini, bahkan restoran juga bisa." ucap Alza tulus


Alza tidak bohong, masakan Tiara memang sangat enak padahal dia tidak pernah kursus atau sekolah memasak.


"Benarkah ... Amin." ucap Tiara semangat berharap suatu saat nanti bisa punya rumah makan sendiri.


***


Berkat pertolongan Abang tukang becak Alza dan Tiara sampai ditoko Jam terbesar di kota Medan.


Tiara merasa minder melihat toko yang didatanginya berasa tidak pantas memasukinya. Mungkin jika dia sendiri yang datang kesini dia sudah diusir sebelum masuk. Jalas saja mereka yang keluar masuk toko ini pasti hanya orang kaya dan para pengusaha. Itulah yang ada dipikiran Tiara.


Tapi tidak dengan Alza, dia dengan percaya diri masuk ke dalam toko bersama Tiara.


Tiara begitu mengagumi jam yang ada di toko tersebut terlihat sekali perbedaannya dengan toko jam yang ada di kampungnya.


Sementara Alza langsung meminta pada pelayan toko agar bertemu langsung dengan pemilik toko. Saat ini Alza sedang tawar menawar dengan pemilik toko, ada prasaan lega dihati Alza karena pemilik toko mengerti jam tangan merek terkenal. Pemilik toko jelas mengerti, toko jamnya bukan toko jam sembarangan.

__ADS_1


Saat Alza lagi sibuk bernegosiasi, Tiara memberanikan diri mecoba beberapa jam.


"Kak, apa bisa aku melihat jam yang itu?" tanya Tiara menunjuk jam yang menarik perhatiannya.



"Ini silahkan, sini aku bantu memakaikannya." ucap pelayan ramah.


Begitu jam tepasang ditangannya , Tiara takjub


bagus sekali batin Tiara . Tiara sampai tidak menyadari Alza sedari tadi diam-diam memperhatikannya sembari bernegosiasi.


"Kalau yang ini harganya berapa ya kak?" tanya Tiara menunjukkan jam yang dipakainya.


"Rp1.100.000,00" ucap pelayan itu.


"Hah... Rp1.100.000,00 mahal sekali." kaget Tiara.


"Justru itu jam yang paling murah disini, kamu lihat pajangan jam di estalase yang itu, itu bahkan harganya ratusan juta." jelas pelayan itu.


Mata Tiara terbelalak mendengar penjelasan si pelayan. Tiara buru-buru ingin melapas jam tangan yang sempat di cobanya. Saat berusaha melepas jam itu, tidak sengaja mata Tiara melihat ke Alza. Mata Tiara melotot seakan mau keluar begitu melihat yang di depan Alza. Tiara terkejut seakan tidak percaya 'itu beneran uang?' batin Tiara sampai tidak menyadari kakinya melangkah ke arah Alza yang sudah selesai bernegosiasi dan pemilik toko, saat ini sedang menyerahkan uang hasil penjualan jam.


Saat mengobrol pemilik toko ternyata mengenali Alza, mereka yang sering berhubungan dengan pengusaha pasti tahu pengusah Wijaya grup. Alza salah satunya pengusaha muda yang namanya sering muncul di majalah bisnis. Dan dari hasil kesepakatan bersama jam itu dihargai Rp40 juta.


"Bang Alza ini hasil penjualan jamnya?" Tanya Tiara seakan tak percaya.


"Iya," Ucap alza sembari memasukkan uang itu kedalam tas pelastik.


Wow semahal itu! berapa juta itu? aku bahkan baru melihat uang sebanyak itu. Itu beneran uang semua itu? batin Tiara seakan masih belum percaya.


"Udah kan? yuk pulang!" ucap Alza setelah selesai.


"Oh iya Pak , apa aku boleh minta jam yang dipakainya sebagai bonus?" tanya Alza . Alza tahu Tiara masih memakai jam yang dicobanya. Alza juga tahu Tiara sangat menyukai jam itu, karena alza mengawasinya sedari tadi, Tiara saja yang tidak menyadarinya.


"Eh ... eh tidak usah." ucap Tiara tidak enak , Tiara bahkan sempat melupakan jam yang dipakainya karena terlalu fokus melihat uang Alza.


"Iya sudah tidak apa-apa, ambil saja! itu bonus dariku buat kalian berdua." ucap pemilik toko merasa senang.


Tiara dibuat takjub lagi, jam seharga Rp1 jutaan diberikan sebagai bonus begitu saja.


Apa mereka tidak akan rugi? batin Tiara.

__ADS_1


bersambung ....


Selalu menanti vote, like ,keritik dan saran kalian teman-teman.


__ADS_2