Danau Cintaku

Danau Cintaku
Pulang kampung


__ADS_3

"Ryan apa kamu sudah menghubungi, orang-orang yang aku butuhkan selama di kampung?" tanya Alza.


" Sudah Pak, semua sudah siap. Hotelnya sudah aku booking dan ini no HP pemilik paket foto preweddingnya. Pak Alza perlunya untuk saptu dan minggu kan? Pak Alza tinggal menghubunginya untuk ketemuan dimana. Kalau tidak salah dia tinggalnya di Tigapanah." jelas Ryan sambil memberi secarik kertas.


"Kalau untuk mobil?" tanya Alza.


"Untuk mobil juga beres Pak, salah satu karyawan yang dikantor cabang Medan, yang akan menjadi supir Bapak menggunakan mobil kantor. Jika mobilnya tidak cukup 1, Pak Alza bisa minta jemput ke bandara sama pihak hotel tempat Pak Alza menginap." ucap Ryan.


"Bagus lah kalau begitu, saya juga kemungkinan akan mengecek perkembangan proyek kita yang ada disana. Sekarang kamu bisa melanjutkan kembali pekerjaanmu!" suruh Alza.


"Baik Pak, kalau Bapak butuh sesuatu segera hubungi saya." ucap Ryan kemudian keluar dari ruangan Alza.


"Eh Om sudah datang, duduk Om." ucap Alza begitu melihat Om Indra masuk ruangannya.


" Sudah, oya kata Ryan kamu ingin ke kampung Tiara?" tanya Om Indra.


" Iya Om, Tiara ingin kami zarah ke makam ibunya juga sekalian prewed disana." ucap Alza.


" Bagus lah kalau begitu, kamu sekalian bisa nge cek perkembangan proyek kita disana, dan juga Om ingin kamu mendatangi keluarga pilot yang bersama denganmu waktu itu." ucap Om Indra.


"Aku juga rencananya ingin ngecek proyek itu om. Apa Om sudah tahu keluarga pilotnya?" tanya Alza.


"Sudah, Om bahkan sudah ke Medan untuk mengecek kebenarannya dan sekalian mendatangi keluarga pilot itu. Atas nama perusahaan Om sudah menyampaikan belasungkawa kita. Om juga sudah menyerahkan sejumblah uang padanya. Mereka akan merasa sangat di senang kalau kamu juga datang pada keluarganya, secara peribadi." ucap Om Indra.


"Iya Om, Alza akan langsung kerumahnya begitu selesai mengecek proyek kita. Om kirimkan saja alamatnya padaku. Aku dan Tiara saja yang akan kesana, karena aku juga tidak ingin Mama mengetahui hal ini." ucap Alza.


"Iya, sebaiknya juga begitu, kerena aku yakin Mbak Ike pasti akan sangat sedih kalau mengetahui semua ini. Om juga merasa jatuhnya helikopter kalian kemungkinan karena ulah Axel." ucap Om Indra.


"Maksud Om?" tanya Alza.


"Jadi sebelum kamu menggunakan helikopter itu, ternyata Axel sudah lebih dulu menggunakannya. Kata karyawan kita yang Ada di kantor cabang Medan, dia ingin meninjau tempat menggunakan helikopter itu. Karyawan kita tidak mungkin menolak karena mereka tahu dia kakak kamu, juga pemegang saham no 2 terbanyak di perusahaan kita. Dan Om yakin begitu selesai menggunakannya, dia kemungkinan menyuruh orang untuk melakukan sesuatu terhadap helikopter itu." jelas Om Indra.


"Benar juga sih Om. Seingat Alza saat Alza sedang mengecek pekembangan proyek perumahann kita yang ada di Medan. Saat itu ada telepon masuk ke HP Alza, dia mengatakan ada tempat di dekat Danau yang cocok untuk pembangunan resort. Alza pikir selagi masih di medan, tidak ada salahnya juga Alza meninjau lokasinya. Seperti biasa, aku akan s'lalu menggunakan helikopter untuk meninjau lokasi. Sangat janggal rasanya jika tiba-tiba helikopternya tiba-tiba rusak seperti itu." jelas Alza.


"Maka dari itu Om rasa dialah dalang semua ini. Untuk saat ini keluarga pilotnya yakin, kalau itu hanya kecelakaan. Om juga tidak mungkin mengatakan kejadian sebenarnya pada mereka. Tapi biar bagaimanapun kita berhutang nyawa pada mereka. Kita juga harus menjamin kehidupan mereka, agar tetap baik dan tidak kekurangan." ucap Om Indra.


"Iya Om, Alza mengerti. Tapi Om, jika ini memang benar-benar perbuatan Kak Axel, apa menurut Om dia memang menginginkan kematianku?" tanya Alza.


"Itu juga yang Om tidak mengerti, apa dia benar-benar ingin minghilangkan nyawamu, tapi untuk apa? Saham milik papa kamu bahkan langsung di bagi dua untuk kalian. Saham kamu semakin banyak karena membeli saham yang orang lain. Kalau untuk harta, mama kamu bahkan belum membaginya. Kalau untuk peminpin perusahaan, dia bahkan belum memiliki kemampuan untuk itu. Bisa hancur perusahaan kita kalau dia yang pimpin. Dan Memang kamulah yang seharusnya menggantikan papamu." ucap Om Indra.


"Entahlah Om, Kak Axel terlalu susah untuk dimengerti." ucap Alza.


***


Sementara Tiara begitu sibuk hari ini. Mereka sudah selesai belanja, saat ini dia sedang berada di kamar Mama Ike.


Mama Ike terlihat Membongkar isi lemarinya. Mama Ike mengeluarkan semua baju-baju yang sudah lama tidak dipakainya yang terlihat masih sangat bagus.


"Ini muat gak buat bibik kamu?" tanya Mama Ike.

__ADS_1


" Muat Ma, tapi apa tidak apa-apa ini bajunya di beri untuk saudaranya Tiara?" tanya Tiara ragu. Itu kan pasti mahal-mahal banget pikir Tiara.


" Tidak apa-apa, Mama juga sudah jarang memakainya. Lagian gampang nanti bisa beli lagi." ucap Mama Ike.


Tiara selalu saja terharu kalau sudah seperti ini. Mama Ike benar-benar baik. Tiara sudah membayangkan pasti bibik-bibiknya sangat senang di beri baju ini. Tadi juga mereka sudah membeli beberapa baju baru untuk keluarga Tiara.


Mama Ike juga memberi beberapa tasnya. Ujung-ujungnya untuk baju dan tas pemberian Mama Ike saja, penuh 1 koper berukuran sedang.


***


Hari ini hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, tinggal beberapa jam lagi sampai lah di kampung halaman.


Sembari menunggu Riski, Ridho pulang sekolah, dan juga Alza pulang dari kantornya, Tiara di bantu yang lainnya menyiapkan barang-barangnya.


" Sudah dong Kak Ana jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang lo." ucap Tiara.


"Aku pingin ikut Nyonya Muda," ucap Ana sedih.


"Pulang kampung sekali lagi ya Kak Ana, janji."ucap Tiara. Tiara sebenarnya tidak masalah Ana ngikut, tapi dia tidak berani memutuskannya sendiri.


"Baiklah," ucap Ana tidak semangat. Ana kan juga pingin ngerasain seperti apa itu pulang kampung. Dia tidak punya saudara yang harus dia datangi. Uang gajinya bahkan sudah terkumpul banyak, tapi gak tau mau dipakai kemana. Sekalinya pergi jalan-jalan, selalu bersama Mama Ike.


Alza datang bersama Om Indra. Alza melihat banyak koper yang berjejer, juga ada beberapa dus dodol dan buah.


"Apa sudah siap semua?" tanya Alza sambil membawa koper. Alza kemudian mengecup kening Tiara yang sudah menunggunya di teras.


"Sudah Bang, itu yang Bang Alza bawa koper berisi apa?" tanya Tiara.


Tiara memeriksa kembali isi kopernya.


Sementara Alza menyuruh satpam memasukkan koper-koper dan dus-dusnya ke dalam mobil. 1 mobil penuh berisi barang-barang mereka saja.


Ana semakin ingin menangis melihat barang-barang sudah masuk mobil semua. Biasanya kalau ada Om Indra dia pasti semangat, tapi ini melirik Om Indra saja enggak, tatapannya hanya pada koper-koper yang sudah dalam mobil itu.


"Hei Ana kamu menangis, kenapa?" tanya Alza yang melihat Ana duduk di teras.


Ana menghapus air matanya.


"Pingin ikut Tuan Muda boleh ya? di satuin dengan barang-barang itu juga tidak apa-apa." ucap Ana.


Alza ingin ketawa melihat Ana seperti ini. Benar-benar seperti Anak yang hilang.


"Ya sudah sana kamu beresin barang kamu, cepat sebelum Riski dan Ridho pulang!" suruh Alza.


"Beneran Tuan Muda, aku boleh ikut. Makasih Tuan Muda, Tuan Muda memang yang terbaik." ucap Ana langsung semangat, secepat kilat lari ke kamarnya membereskan barang-barangnya.


Alza hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Kenapa itu si Ana?" tanya Om Indra.

__ADS_1


"Ingin ikut pulang kampung Om," ucap Alza.


"Terus kamu mengijinkannya," ucap Om Indra.


"Ga apa-apa lah Om, biar bagaimanapun kan kami harus 2 mobil, dia bisa ngikut mobil barang nanti. Mama juga pasti membutuhkannya." ucap Alza.


Om Indra hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


***


Sekarang semuanya sudah siap mau berangkat.


Pak Danu duduk di sebelah Pak Ujang, Mama Ike beserta Riski dan Ridho duduk di bangku tengah, sementara Alza dan Tiara duduk di bangku belakang.


Ana yang tadi mau nagis malah merasa ketiban rejeki, bagaimana tidak. Dia duduk di sebelah Om Indra dan hanya mereka berdua dalam 1 mobil. Om Indra harus ikut menghantar mereka ke bandara.


"Kami pulang dulu ya, kalian baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku." ucap Mama Ike pada pekerja di rumahnya.


"Baik Nyonya Besar, hati-hati di jalan selamat sampai tujuan." ucap Bude Siti mewakili yang lainnya. Mereka kemudian melambaikan tangannya ke arah mobil yang berjalan perlahan meninggalkan rumah.


***



Pukul 6 sore pesawat yang ditumpangi Alza beserta yang lain sampai di bandara kualanamu Medan. Hari masih terlihat terang, tidak seperti di Jakarta jam 6 sudah terlihat malam. Hanya saja persamaan waktu antara Madan dan Jakarta masih sama.


"Yey Medan kita bertemu lagi!" teriak Riski begitu mereka keluar dari pesawat pribadi Alza.


"Bagaimana perasaan kesayanganku ini sekarang, apa kamu sesenang si kembar?" tanya Alza sambil menggenggam tangan Tiara.


"Sangat sanang Bang Alza, aku benar-benar tidak menyangka bisa pulang kampung lagi. Dan kadaannya benar-benar berubah. Saat meninggalkan kampung saat itu, aku benar-benar linglung, tapi saat pulang kembali hatiku benar-benar lagi berbunga-bunga. Makasih Bang Alza sayang," ucap Tiara bahagia.


"Bang Alza apa?" tanya Alza pura-pura tidak mendengar.


"Bang Alza sayang dan yang ter ... ter sayang," ucap Tiara.


"Dasar ya kesayanganku ini, pintar gombal sekarang cup ... cup." ucap Alza gemas kemudian mecium pipi Tiara.


" Hey kalian benar-benar tidak tahu tempat ya," protes Mama Ike, yang dari memperhatikan Tiara dan Alza. Dari kediaman Wijaya sampai Medan asik saja berdua.


"Benar tu Nyonya muda, jiwa jombloku benar-benar meronta-ronta melihatnya." ucap Ana.


Sementara Riski dan Ridho malah asik berfoto dengan Pak Danu sambil berjalan.


"Oh iya tunggu-tunggu kita foto dulu, jarang-jarang kan kita bisa berpergian seperti ini." ucap Ridho.


"Mau, mau." ucap Ana antusias. Mereka akhirnya foto berbagai macam gaya.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komennya teman-temanku yang baik hati. SEMANGAT!


__ADS_2