Danau Cintaku

Danau Cintaku
Serunya berbagi oleh-oleh


__ADS_3

"Tidak apa-apa sayang, kamu mendingan masih punya rumah seperti ini, Mama bahkan saat menikah dengan papanya Alza tidak punya apa-apa." ucap Mama Ike.


" Makasih ya Ma, sudah menerima semua keadaan Tiara." ucap Tiara.


" Sama-sama, Mama bukan orang yang kacang lupa akan kulitnya. Untuk itu mama juga ingin kalian semua nantinya, bisa selalu berbuat baik pada sesama, tanpa membedakan setatus sosialnya. Karena kita semua sama di mata Tuhan." jelas mama Ike.


" Tuh dengar kan sayang yang diucapkan Mama," ucap Alza yang tiba-tiba datang merangkul Tiara dan Mama Ike.


"Kalau di kampung ini ada gak sih istilah seperti kacang lupa kulitnya gitu?" tanya Alza.


"Ada Bang, biasanya orang menyebutnya si pentang


mbaru medak, atau kalau di bahasa Indonesia artinya si buta yang baru melihat." ucap Tiara.


"Ow, memang kalau di kampung ada ya orang seperti itu?" tanya Alza.


"Pasti adalah, namanya manusia kan suka khilaf. Oya Mama mau makan di sini tidak, sepulang kita dari makam nanti?" tanya Tiara.


"Mau, tapi dimana masaknya?" tanya Mama Ike yang melihat dapur tiara yang terlihat berantakan.


"Aku minta bibik saja yang memasaknya ya Ma," ucap Tiara kemudian pergi ke rumah Bibinya diikuti Alza.


Mama Ike yang melihat rumah Tiara kotor, berniat membersihkannya, dia mencari Ana untuk membantunya.


"Ana!" panggil Mama Ike, yang melihat Ana asik-asikan foto bersama si kembar, di kebun belakang rumah Tiara.


"Iya Nyonya Besar," ucap Ana.


"Sini bantu membersihkan semua ini." ucap Mama Ike.


" Siap Nyonya Besar," ucap Ana semangat langsung lari ke arah Mama Ike.


"Apa itu yang kamu bawa?" tanya Mama Ike, melihat Ana membawa sesuatu di tangannya.



"Ini buah kecombrang Nyonya besar, tuh pohonnya. Unik ya Nyonya Besar, kata Riski ini asamnya orang karo." jelas Ana.


"Benarkah? ya sudah kumpulin dulu disitu! Nanti untuk oleh-oleh kita ke Jakarta, sekarang ayo kita bersihkan dulu rumahnya." ucap Mama Ike.


Riski dan Ridho melihat Mama Ike menyapu, langsung ikut membantu.


***


Tiara sedang membagi oleh-olehnya dibantu bibinya dan Alza.


"Bik ini buat Bibik. Ini yang sudah Tiara bagi-bagi nanti bibik bagikan ke saudara dekat kita ya bik. Sampaikan salam keluarga Tiara pada mereka." ucap Tiara


"Iya, terima kasih banyak ya Nak, aku benar-benar tidak menyangka kalian memberiku oleh-oleh sebanyak ini. Adikmu pasti senang sekali dikasih HP ini. Ini juga bajunya, aku sangat menyukainya. Aku doakan rencana pernikahan kalian berjalan dengan lancar." ucap Bibi Tiara.


"Sama-sama Bik," ucap Tiara.


"Oh iya, aku pikir kamu dulu sempat nikah diam-diam. Bukankah kamu dulu pernah ke KUA? aku sempat berpikir yang tidak-tidak dulu, tapi aku juga heran saat pulang hanya kalian ber 4 tidak ada suami kamu." ucap Bibi Tiara.


"Tiara memang salah banget waktu itu Bik, tapi itu juga yang membuka jalan, hingga akhirnya aku bisa bersama Bang Alza. Tapi untuk pernikahan kali ini aku tidak akan diam-diam lagi." ucap Tiara.


"Saharusnya juga begitu, kamu anggap apa kami ini. Kamu tahu Pak tengahmu dulu, sudah memperhatikan kalian dari jauh. Benar tidak kamu menikah dan tidak memberitahukannya pada kami. Mungkin kalau dia mendapati suamimu dan kalian menikah diam-diam dia pasti akan sangat marah pada Abang(Pak Danu)." jelas Bibi Tiara.


"Iya juga sih Bik, maafkan aku ya." ucap Tiara.


"Iya, lagian sudah terjadi ini, anggap saja ini sebagai pelajaran. Kalau kamu ingin nikah, Bibik yang akan membantumu, Bibik ini kan sama saja dengan Ibumu." ucap Bibi Tiara.


"Makasih bibikku yang paling baik hati. Oh iya Bik, Mama ingin makan disini pulang dari zarah, Bibik gak usah ke ladang ya, Bibik masak untuk kami." ucap Tiara.


" Tenang kalau soal itu, bibik ke rumah Bibikmu Mak Ita ya, supaya dia yang membantu Bibik." ucap Bibi Tiara, kemudian mengambil beberapa oleh-oleh untuk di bagikan.


"Tiara!" panggil Pak Danu begitu melihat Tiara membereskan sisa oleh-oleh di dalam Mobil.


"Iya Pak," ucap Tiara.


" Apa kamu sudah menyiapkan oleh-oleh untuk yang di rumah Nenek?" tanya Pak Danu.


"Sudah Pak, ini!" ucap Tiara sambil menyerahkan beberapa kg dodol juga buahnya pada Pak Danu.


"Ya sudah Bapak kesana sebentar ya," ucap Pak Danu.


"Iya Pak hati-hati ya," ucap Tiara.


"Kamu masih punya Nenek sayang?" tanya Alza yang dari tadi menjadi pendengar setia Tiara.


"Enggak Bang, hanya saja di rumah Nenek memang ada Paman. Bang Alza ingat orang yang pernah memberi pisang, itu orangnya. Dia adalah adik angkat Bapak. Sama Mamak Ari juga, mereka Adik Kakak. Kalau di kampung sini, siapa yang mau nikah biasanya ada yang menjadi orang tua angkat gitu. Dan oang tua mereka adalah orang tua angkat Bapak." jelas Tiara.

__ADS_1


"Berarti kalau kita nikah, aku juga ada orang tua angkat?" tanya Alza.


"Enggak, kan pesta nikahnya tidak di sini. Tapi kalau Abang mau, bisa diomongin nanti. Bang ini sisa oleh-olehnya ayo kita bawa ke rumah dulu." ucap Tiara.


***


Tiara dan yang lainnya sedang dalam perjalanan ke makam Ibu Tiara.


"Nyonya Muda, kalian punya pohon jeruk?" tanya Ana begitu melihat banyak pohon jeruk yang mereka lewati.


"Tidak Kak Ana," ucap Tiara.


"Yah ... padahal ingin banget metik jeruk, Nyonya Besar juga pasti ingin ini, iya kan Nyonya Besar?" tanya Ana.


Mama Ike hanya tersenyum menanggapinya.


"Tenang Kak Ana, walaupun di ladang kami tidak ada jeruk, tapi banyak pohon cabainya kok." ucap Ridho.


"Cabai mah, gak asik." ucap Ana.


"Hey kalian mau kemana? kita sudah sampai," tanya Pak Danu bingung. Dia yang jalan di belakangan merasa heran, melihat Riski dan Ridho membawa pasukannya jalan terus.


" Hahahaha ...." terdengar suara tawa Riski, Ridho dan Tiara.


Mereka sengaja mengerjai Alza dan yang lainnya.


"Kalian ngerjain kami ya," ucap Alza.


"Hehe ... lagian Bang Alza kan sudah tahu dimana ladang kami, kenapa jalan terus." ucap Tiara.


"Memangnya makamnya ada di ladang ya?" tanya Alza merasa tidak pernah melihat makam Ibu Tiara.


"Iya makamnya ada dipojok ladang kami Bang, tuh kita sudah sampai." ucap Tiara.


Mereka langsung membersihkan makam yang banyak ditumbuhi rumput liarnya.


"Kenapa ini makamnya ada tiga, apa semua orang kampung akan dimakamkan diladangnya seperti ini?" tanya Mama Ike.


"Ini ada makam Kakek dan Nenek juga Ma, tidak semua, disini ada juga pemakaman umumnya. Hanya saja kebanyakan yang dimakamkan di ladangnya masing-masing." jelas Tiara yang sedang menata bunga.


Begitu selesai memersihkan makam dan doa bersama, Pak Danu beserta yang lainnya berjalan keliling ladang. Hanya Tinggal Tiara dan Alza di makam Ibunya Tiara.


Tiara sengaja mununggu yang lainnya pergi, karena ingin mengenalkan Alza pada Ibunya.


Alza hanya menahan senyum mendengarnya.


"Tadi juga ada Mama Ike, mamanya Bang Alza dia benar-benar baik Bu. Aku yakin Ibu pasti minder kalau bertemu dia, dia tidak pernah marah-marah seperti Ibu. Tapi aku rindu dimarahi Ibu, Tiara juga rindu cerita dengan Ibu. Tiara juga rindu bermanja pada Ibu ... hiks ..." ucap Tiara sambil menangis, mengenang saat-saat bersama ibunya.


Alza yang melihat Tiara menangis langsung mendekat.


"Sayang kamu jangan menangis, Ibu sudah tenang dan bahagia sekarang." ucap Alza mengusap air mata Tiara.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya.


"Hallo Bu, ini aku Alza calon menantu Ibu. Bu terima kasih ya sudah melahirkan Tiara. Aku sangat mencintai anak Ibu, aku janji akan selalu menjaga dan membimbingnya. Aku juga berjanji akan menjaga Bapak, Riski dan Ridho. Dan sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan, untuk itu kami datang meminta restu pada Ibu. Aku sangat berharap ibu memberikan restu Ibu pada kami." ucap Alza.


Tiara melihat ada kupu-kupu begitu cantik hinggap di kepala Alza saat Alza meminta restu pada ibunya.


"Bang Alza, Ibu merestui kita." ucap Tiara senang.


"Dari mana kamu tahu, Ibu merestui kita?" tanya Alza bingung.


"Itu ada kupu-kupu hinggap di Bang Alza, aku yakin itu adalah restu ibu, karena Ibu sangat menyukai kupu-kupu." ucap Tiara.


"Benarkah? terimakasih Ibu. Ibu memang yang terbaik, cup ... cup ... " ucap Alza senang kemudian mencium pipi Tiara.


"Bang Alza!" ucap Tiara terkejut tiba-tiba dicium Alza.


" Haha ... Itu hadiah buat Ibu sayang, kamu saja yang mewakilkannya" ucap Alza senang.


" Kami pulang dulu ya Bu, doakan kami agar semuanya berjalan dengan lancar." ucap Tiara.


***


"Kalian makan apa itu?" tanya Tiara melihat Mama Ike dan Ana asik duduk berdua sambil makan buah.


"Ini nyonya muda makan anggur Karo, asem-asem manis gimana gitu, Nyonya Muda mau?" ucap Ana.



Tiara menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Anggur apaan itu buah biwa." protes Alza.


"Hay ... hay yuk kita pulang!" ucap Ridho yang datang bersama Riski sambil menenteng buah dalam karung. Pak Danu ikut jalan di belakang mereka.


"Kalian bawa apa Itu?" tanya Tiara.


"Alpukat sama markisah ungu Kak, kata Mama untuk oleh-oleh ke Jakarta." jelas Riski.


"Mama yakin mau membawanya ke Jakarta?" tanya Alza.


"Yakin dong, jarang-jarang kan bisa makan buah, langsung metik dari pohonnya, iya kan Na?" ucap Mama Ike.


"Benar banget Nyonya Besar, dan yang paling penting gratis lagi." ucap Ana.


"Ya sudah, ayo kita pulang." ucap Tiara.


***


"Tiara," panggil Mama Ike. Saat ini mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Iya Ma," ucap Tiara.


"Kalau misalkan kita minta pada pemilik ladangnya, bisa tidak kita membeli jeruknya tapi metik sendiri gitu, Mama ingin sekali memetik jeruknya." ucap Mama Ike.


"Kita singgah diladang bibik kalian saja Tiara, mereka pasti sudah di ladang. Biar bisa metik sepuasnya." ucap Pak Danu.


"Oh iya benar juga, kita ke ladang Bibik mamak Ari saja Ma, sekalian Mama kenalan dengan adik angkatnya bapak." ucap Tiara.


"Ya sudah ayo," ucap Mama Ike semangat.


***


Tiara dan yang lainnya sudah berada di ladang bibi Tiara.



"Itu jeruknya petik saja sepuas kalian. Ridho itu bibik ada terong belanda Petik sekalian sana, bawa untuk oleh-oleh ke Jakarta!" suruh Bibi Tiara. Bibi Tiara kembali berbincang dengan Pak Danu dan juga suaminya.


Sementara Mama Ike dan Ana terlihat begitu heboh memetik jeruk, Mama Ike seakan lupa umur kalau sudah seperti ini.


"Nyonya Besar manis ya jeruknya," ucap Ana berbinar.


"Tapi Ini asem, hu ..." ucap Mama Ike.


"Makan yang ini saja Nyonya Besar," ucap Ana memberi jeruk miliknya, dan kembali memetik jeruk didekatnya.


"Riski fotoin aku dan Bang Alza dong," pinta Tiara.


"Ok," ucap Riski.


Riski mengambil foto Alza dan Tiara berbagai macam gaya di tengah-tengah pohon jeruk.


"Riski kami juga mau di foto," ucap Ana.


Dan mereka akhirnya foto-foto diantara pohon jeruk. Bibi Tiara dan suami beserta anaknya juga ikut foto bersama.


Mama Ike begitu senang saat ini terlihat senyum yang tidak pernah hilang di wajahnya.


Alza yang melihat mamanya begitu bahagia juga ikut bahagia.


"Makasih ya sayang," ucap Alza berbisik di telinga Tiara.


"Makasih untuk apa?" tanya Tiara bingung.


"Sudah membuat Mama terus tersenyum bahagaia seperti itu." ucap Alza.


" Sama-sama, bukankah kita semua sama-sama bahagia saat ini. Semoga kita bisa terus seperti ini ya Bang," ucap Tiara.


"Amin," ucap Alza, mereka saling berbalas senyum, senyum yang begitu manis.


Jeruk yang dipetik sudah sangat banyak.


"Itu jeruknya biarkan saja, nanti kami saja yang membawanya ke rumah." ucap Bibi Tiara.


"Iya, terima kasih banyak ya Bik. Ari ini ya uang buat beli baju, doakan Kak Tiara ya biar bisa sukses di Jakarta." ucap Tiara sambil memberikan uang yang dititipkan Mama Ike.


"Makasih Kak Tiara cantik, Ari doakan kak tiara semakin sukses dan sukses di Jakarta, biar ngasih uang lebih banyak lagi" uca Ari sangat senang.


"Amin." ucap Tiara.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komennya ya teman-temanku yang baik hati. SEMANGAT!


__ADS_2