
Tiara langsung buru-buru keluar dari mobil begitu mereka sampai di rumah sakit.
Tiara berlari sekencang mungkin melewati koridor rumah sakit, dan diikuti oleh Ana dibelakangnya.
"Nyonya muda ... Nyonya Muda jangan lari terus, kita harus menanyakan resepsionisnya dulu." ucap Ana ngos-ngosan.
Tiara berhenti sejenak dan menghapus air matanya. Benar kata Ana rumah sakit ini sangat besar, dia bahkan asal lari saja karena linglungnya, untung ada Ana.
Mereka langsung menuju resepsionis.
"Mbak, maaf barusan ada pasien korban tabrakan, pasiennya dirawat dimana ya?" tanya Ana pada resepsionis.
"Pasien korban tabrakan , Pak Alza ya? pasiennya sedang di tangani dokter di ruang IGD. Ruang IGD dari sini lurus saja, nanti belok kiri ya." jelas resepsionis.
Ternyata pihak rumah sakit ada yang mengenal Alza. Begitu melihat dia yang menjadi korban kecelakaan, mereka langsung memberikan pelayanan terbaiknya.
"Iya terima kasih ya Mbak," ucap Ana.
Begitu resepsionis menujuk arah ruang IGD, Tiara langsung berlari kearah yang ditunjuk.
Tiara melihat ada seorang Bapak menunggu di depan ruang IGD.
"Pak, apa benar Bapak yang tadi menelpon saya, bagaimana keadaan Bang Alza , Bang Alza baik-baik saja kan Pak?" tanya Tiara sambil berurai air mata juga ngos-ngosan.
"Iya saya yang menelpon Anda, Anda tenang ya, suami Anda sedang ditangani dokter. Saya juga belum tahu keadaannya." Jelas Bapak Itu.
"Bagaimana aku bisa tenang, bagaimana kalau Bang Alza terluka parah dan tidak bangun lagi. Bang Alza aku mohon jangan tinggalkan aku hiks ...." ucap Tiara badannya jatah merosot ke lantai. Tiara benar-benar takut sekarang.
Ana yang mengerti kesedihan Nyonya Mudanya, ikut jongkok dilantai, dan menarik Tiara ke dalam pelukannya.
"Nyonya muda, yang kuat ya. Aku tahu Tuan Muda orang kuat, dia pasti baik-baik saja di dalam sana." ucap Ana berusaha menenangkan Tiara.
"Tapi hiks ... hiks ... aku takut Kak Ana hiks ... hiks ... Bagaimana kalau Bang Alza hiks ... tidak bisa diselamatkan hiks ...?" ucap Tiara sambil menangis.
"Huss.. Nyonya Muda jangan berkata seperti itu. Nyonya Muda harus yakin, kalau semuanya akan baik-baik saja." ucap Ana sambil mengapus air mata Tiara.
Sementara Bapak yang membantu menolong Alza, menatap prihatin pada Tiara. Dia merasa tidak asing dengan orang yang dia tolong, dia juga berdoa agar orang yang bernama Bang Alza itu bisa selamat.
Pintu IGD dibuka, terlihat dokter keluar dari ruangan itu.
Tiara yang melihat dokter itu langsung bangun dan menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan Bang Alza dokter?" tanya Tiara.
"Pasien berhasil melewati masa keritisnya. Pasien mengalami benturan di bagian kepala, dan juga ada sedikit memar di bagian buhunya, selebihnya tidak ada yang serius. Dia sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan dan sebentar lagi juga pasti sadar." jelas Dokter itu.
Bertapa leganya hati Tiara mendengarnya, dia langsung memeluk Ana karena leganya.
"Terima kasih dokter, terima kasih." ucap Tiara.
"Iya sama-sama kalau begitu saya permisi dulu ya." ucap dokternya.
***
__ADS_1
Alza akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Disaat bersamaan Om Indra datang terburu-buru bersama Pak Ujang.
Pak Ujang yang menghantar Tiara dan Ana ke rumah sakit, langsung menghubungi Om Indra. Karena dia tahu mereka mereka pasti sangat membutuhkan bantuan Om Indra.
Mama Ike dan yang lainnya belum mengetahui tentang kecelakaan Alza.
"Tiara bagaimana keadaan Alza?" tanya Om Indra ngos-ngosan.
"Bang Alza berhasil melewati masa keritisnya Om, dan akan dipindahkan keruang perawatan." ucap Tiara.
"Syukurlah," ucap Om Indra merasa lega.
"Oh iya Om, Bapak ini yang tadi membantu menolong Bang Alza. Itu Bang Alza, saya ikut Bang Alza ke ruang perawatannya ya Om." ucap Tiara.
Om Indra mengangguk mengerti.
Tiara langsung ikut berjalan bersama para suster yang membawa Alza, dan langsung menggenggam tangan Alza.
Sementara Ana memilih membantu Om Indra, lumayan bisa berdekatan dengan Om tampan. Lagian Ana cukup mengerti nyonya mudanya pasti butuh waktu berdua dengan pujaan hatinya.
***
Tiara memperhatikan wajah Alza yang masih menutup matanya. Ada lilitan perban dikepalanya, dan ada beberapa luka kecil disekitar wajah akibat terkena pecahan kaca.
"Bang Alza matanya dibuka dong cup ... cup," ucap Tiara sambil mengecup pipi Alza.
"Bang Alza kenapa matanya belum terbuka juga, kata dokternya Bang Alza akan segera sadar, tapi kenapa matanya belum terbuka juga?" ucap Tiara sambil membuka tutup mata Alza.
"Bang Alza aku sangat takut tadi, aku takut Bang Alza terluka parah dan pergi meninggalkanku. Aku bahkan terus berlarian karena linglungnya, untung ada Kak Ana yang membantuku." curhat Tiara.
Tiara kembali menggenggam tangan Alza lalu menciumnya.
"Bang Alza, tadi Bang Alza minta, aku menunggu Bang Alza di teras sambil tersenyum manis, nih aku sudah tersenyum manis, Bang Alza mana senyumnya? senyumku tidak di balas nih?" ucap Tiara sambil tersenyum-senyum manis di depan wajah Alza.
Sementara Alza sekuat tenaga menahan tawanya. Kesayangannya ini ada-ada saja, bukannya nangis-nangis gitu melihat dia terluka seperti ini.
"Bang Alza ini kepalanya Pasti sakit banget ya, dililit perban sampai sebanyak ini. Aku saja yang terluka sekecil ini terasa sa ...."
"Apa? kamu terluka, mana yang terluka? Aaaa..." Alza langsung membuka matanya begitu mendengar Tiara yang terluka. Alza merasakan sakit dibagian kepalanya juga bahunya.
"Bang Alza! akhirnya Bang Alza bangun juga." ucap Tiara berbinar dan langsung memeluk Alza.
"Sayang, ackhh ... jangan terlalu kuat meluknya, bahuku terasa sakit." ucap Alza pelan.
"Maaf Bang Alza, apa benar-benar sakit?" tanya Tiara khawatir.
"Iya, bahu kananku masih terasa sangat sakit." ucap Alza.
Tiara mendekatkan wajahnya pada bahu Alza kemudian mengecupnya pelan-pelan, begitupun dengan kepala Alza yang dibalut perban semua mendapat kecupan dari Tiara.
"Cepat sembuh ya gantengku," ucap Tiara.
__ADS_1
"Iya, kesayanganku. Kamu terluka, mana yang terluka?" tanya Alza.
"Ini," ucap Tiara sambil menunjuk jari telunjuknya yang di plester.
Dengan pelan Alza menggapai jari telunjuk Tiara, menggunakan tangan kirinya, kemudian mengecupnya.
"Bang Alza, kenapa bisa kecelakaan seperti ini? padahal tadi di telpon Bang Alza baik-baik saja."? tanya Tiara.
"Entahlah sayang, hanya saja aku rasa, saat diperjalanan pulang tadi ada yang berniat jahat padaku. Oh iya siapa yang menolongku dan membawaku kerumah sakit?" ucap Alza.
"Aku juga belum tahu Bang, hanya saja tadi ada seorang Bapak yang menelponku. Dia juga yang menunggui Bang Alza sebelum kami datang." jawab Tiara.
"Lalu sekarang dimana dia, aku ingin berterima kasih padanya?" tanya Alza.
"Sepertinya dia bersama Om Indra dan yang lainnya," ucap Tiara.
"Yang lainnya, apa ada Mama juga?" tanya Alza khawatir, Alza tidak ingin Mama Ike mengetahui tentang kecelakaannya. Alza khawatir ini ada kaitannya dengan Axel. Dan untuk saat ini dia tidak ingin merusak kebahagiaan Mama Ike.
"Mama ya, aku bahkan belum memberitahu Mama tentang kecelakaan Bang Alza. Aku akan memberitahu Mama dulu, Bang Alza sebaiknya istirahat saja ya." ucap Tiara.
"Jangan sayang, sebaiknya Mama dan yang lainnya jangan diberitahu. Lagian aku juga tidak parah dan sudah membaik. Aku tidak ingin keadaan kacau dan merusak rencana pernikahan kita." jelas Alza.
Tiara mengangguk pertanda mengerti.
"Sekarang sebaiknya kamu temani aku, lagian sudah ada Om Indra ini. Aku yakin dia pasti bisa mengurus semuanya." ucap Alza.
"Iya, ya sudah sekarang Bang Alza tidur ya." ucap Tiara kemudian mencium kening Alza dan mnggenggam pelan jari tangan Alza.
***
"Om," Ucap Alza begitu terbangun dari tidurnya, dan mendapati Om Indra yang sedang menatapnya.
"Iya ini aku," ucap Om Indra.
"Dimana Tiara?" tanya Alza langsung begitu tidak mendapati Tiara di dekatnya.
"Tiara dan Ana sedang makan di kantin. Bagaimana keadaan kamu?" tanya Om Indra.
"Sudah semakin membaik Om, Oh iya apa Om sudah mengurus semuanya?" tanya Alza.
"Sudah kamu tenang saja. Om sudah mengatur semuanya. Mamamu juga tahunya, kalau kamu menginap malam ini dirumah Om, bersama Tiara dan Ana. Dan Om juga sudah mengucapkan rasa trimakasih kita untuk orang-orang yang sudah menolong kamu." jawab Om Indra.
"Dan untuk kecelakaanku apa Om sudah menyelidikinya?" tanya Alza.
"Sudah, ternyata ini ulahnya Axel. Om heran dia ingin mencelakakan kamu tapi lokasinya berdekatan dengan rumah sakit. Dia yang bodoh atau ini hanya sekedar pancingan saja, agar rencana pernikahan kalian kacau." ucap Om Indra.
"Entah lah Om, hanya saja saat pernikahanku nanti aku ingin disediakan penjagaan yang ketat. Semua tamu harus benar-benar diperhatikan. Jika ada yang mencurigakan secepatnya diamankan. Aku takutnya Kak Axel membuat ulah lagi dan berusaha mengacaukan semuanya." ucap Alza.
"Iya, Om akan membicarakannya dengan Ryan." ucap Om Indra.
Pembicaraan mereka terhenti, karena ada dokter yang membuka pintu ruangan Alza.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komennya ya teman-temanku. Semangat!