Danau Cintaku

Danau Cintaku
Rencana pulang kampung


__ADS_3

Malam hari tiba semua kembali berkumpul di ruang tamu.


" Oya Alza, kata Tiara kalian akan prewed di kampung? Mama ikut ya, Mama janji tidak akan mengganggu kalian beneran, Mama akan di rumah saja." pinta Mama Ike.


" Pulang kampung, kami juga mau ikut dong Bang Alza." ucap Riski dan Ridho kompak.


"Benar tu, kalian prewed, Mama dan si kembar akan jalan-jalan. Jadi tidak akan mengganggu kalian." ucap Mama Ike semangat.


Alza berpikir sambil menatap mereka satu persatu. Tidak apa-apa mereka ikut sebenarnya, mereka pulangnya juga naik pesawat peribadi ini. Tapi yang jadi pikiran Alza, mamanya akan tidur di mana . Di kampung Tiara tidak ada hotel, begitupun penginapan yang dia Tahu.


"Ya sudah kita akan ke kampung semua, tapi yang jadi masalahnya, kita akan tidur dimana. Rumah di kampung bahkan sudah lama tidak di tempati." ucap Alza.


"Gampang Bang Alza kita nginap saja di Berastagi, disitu ada hotel dan penginapan." ucap Riski.


""Berastagi, dimana itu?" tanya Alza.


"Itu salah satu kota terbesar di kabupaten karo Bang, kalau dari Medan kita pasti melawatinya, kalau mau ke kampung kami. Kalau kampung kami kan wilayah perbatasan Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun." jawab Ridho.


"Apalagi itu aku semakin gak ngerti." ucap Alza.


"Nah maka dari itu Bang, kita nginap di Berastagi saja, sekalian biar Bang Alza tahu suku kami. Kami kan masih masuk suku Karo juga, hanya saja orang-orang dikampung sana suka manggil kami Karoja." ucap Riski.


"Karoja, apa lagi itu?" tanya Alza.


"Karoja itu, ya Karo dan Jawa," jawab Riski.


"Karoja, ada-ada saja kamu, memangnya disana banyak suku Jawanya?" tanya Mama Ike.


"Mama kayak ga tahu saja, Indonesia kan penguasanya suku Jawa dimana-mana ada. Kalau mau ke kampung kami, kita bahkan melewati kampung jawa, iya kan Pak? Bapak walaupun suka diam-diam gitu, hampir bisa 5 bahasa dia." ucap Ridho.


"Wow, benar kah, bisa bahasa apa saja Pak?" tanya Alza seakan tidak percaya.


"Yang paling Bapak kuasai sebenarnya Indonesia, Jawa dan Karo. Hanya saja karena Bapak dulu jualan gorengan di Cileungsi jadi lumayan tahulah bahasa Sunda, dan di kampung kami sendiri banyak suku Simalungun, ya Bapak juga bisa bahasa simalungun." jelas Pak Danu.


"Bisa begitu ya, kalau kamu berapa bahasa yang kamu bisa sayang?" tanya Alza pada Tiara.


"Hanya 2, Bahasa Karo dan Indonesia." jawab Tiara.


"Kok kamu gak bisa bahasa Simalungun kayak Bapak?" tanya Alza.


"Bapak kan suka pergi ke pesta, juga suka nongkrong di warung kopi jadi bertemu banyak orang. Kalau aku kan cuma ke ladang, jadi ketemunya sama penghuni ladang doang." Jawab Tiara.


"Benar juga, oh iya sampai lupa. Berarti kita nginapnya di Berastagi saja. Tapi bukannya Riski dan Ridho harus sekolah?" tanya Alza.


"Berangkatnya Jumat sore saja sepulang Riski dan Ridho sekolah, kan sabtu dan minggu mereka libur sekolah." ucap Mama Ike.


"Baiklah, kita berangkatnya jumat sore nanti, Mama bantu Tiara ya menyiapkan apa saja yang harus di bawa. Untuk urusan fotografer besrta makeupnya biar aku yang urus." ucap Alza.


Obrolan mereka terus berlanjut.


***

__ADS_1


"Bang Alza," panggil Tiara begitu mereka sudah di kamar.


"Iya, kenapa sayang" tanya Alza.


" Gak apa-apa, cuma mau manggil saja." ucap Tiara lalu membelakangi Alza.


"Kenapa? gak mungkin cuma mau manggil saja. Ayo cepat katakan kalau tidak, aku gelitiki ni." ancam Alza, bersiap menggelitik Tiara.


" Enggak apa-apa beneran, hanya ingin manggil Bang Alza saja." ucap Tiara.


"Enggak mungkin, ayo cepat katakan kalau enggak aku gelitik terus ini! Ayo katakan!" ucap Alza sambil menggelitik Tiara.


"Iya ... haha ... ampun Bang Alza, iya ini aku akan katakan ... hihi geli." ucap Tiara tidak kuat menahan geli karena digelitik Alza Terus.


Alza akhirnya menghentikan gelitikannya.


"Ayo katakan!" ucap Alza.


" Iya ... Bang Alza, apa gak apa-apa nanti kalau Mama tahu, bagaimana kondisi rumah kami di kampung. Aku takut Mama merasa jijik." ucap Tiara khawatir.


"Enggak lah, kenapa Mama merasa jijik? apa saat di kampung kamu, ada melihat aku merasa jijik pada kalian?" tanya Alza.


Tiara menggelengkan kepalanya.


"Enggak kan? Mama juga sama saja denganku. Kamu bahkan bisa melihat sendiri kan, seperti apa Mama." ucap Alza.


"Benar juga sih Bang, kalau begitu aku gak perlu khawatir lagi sekarang. Oh iya Bang, HP bekas Bang Alza yang dari kampung dulu, masih ada tidak?" tanya Tiara.


"Kalau aku bawa ke kampung dan di beri untuk anaknya bibik, boleh tidak Bang?" tanya Tiara.


"Boleh, apa saja yang kamu ingin beri untuk keluaga di kampung, kamu bisa membelinya disini. Seperti baju misalnya, aku yakin orang-orang di kamung pasti akan sangat senang, jika di beri baju dari jakarta." ucap Alza.


Alza tidak mau perhitungan pada keluarga Tiara, kerena saat di kampung dia jelas melihat, bagaimana keluarga Tiara memperlakukan Tiara. Masih jelas diingatan Alza saat ada yang mengantar, jeruk, tomat, pisang ke rumah Tiara saat dia disana.


" Makasih Bang Alza, cup ..." ucap Tiara senang, Tiara kemudian memeluk Alza.


" Sama-sama kesayanganku," ucap Alza kemudian mencium kening Tiara.


"Bang Alza, beberapa hari ini aku tidak pernah melihat Bang Axel pulang ke rumah." ucap Tiara.


Alza langsung menatap tidak suka pada Tiara, begitu mendengar Tiara menyebut nama Axel.


"Untuk apa kamu menanyakannya, apa kamu merindukannya?" tanya Alza tidak suka.


"Enggak Bang Alza, kan aku sudah ada Bang Alza ini. Hanya saja aku sempat melihat Mama menanyakan Kak Ana tentang Bang Axel. Aku juga melihat Mama masuk ke dalam kamar Bang Axel, Mama pasti kawatir kan, kasihan Mama." ucap Tiara.


"Yah mau bagaimana lagi, Kak Axel samakin sulit dimengerti sekarang. Kelakuannya semakin menjadi saja, ditambah lagi pergauannya juga mungkin mempengaruhinya. Jadi sangat sulit untuk menghentikannya. Aku bisa saja melaporkannya ke polisi sekarang, karena kasus identitas palsu pernikahan tidak jelas itu. Tapi itu tidak mungkin kulakukan karena ada Mama." ucap Alza.


"Iya juga sih Bang, jika Mama tahu semua yang terjadi pasti dia sangat sedih, kasihan Mama. Tapi aku janji pada diriku sendiri akan selalu menemani dan menjaga Mama. Karena hanya dia Mama satu-satunya yang kita punya." ucap Tiara.


"Sweetnya kesayanganku ini, segitu sayangnya ya kamu sama Mama?" tanya Alza sambil membawa Tiara kepelukannya.

__ADS_1


Tiara menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih ya, sudah tulus menyayangi Mama. Aku juga akan berjuang semampuku untuk menghentikan perbuatan Kak Axel." ucap Alza.


***


Sementara orang yang mereka bicarakan sedang berada di sebuah club malam. Axel sedang memainkan alat musik DJnya. Telihat sekali Axel begitu lihainya menggerakkkan badannya sambil memainkan alat DJnya. Saat memainkan alat DJnya sepertinya, dunia ini seakan miliknya sendiri.


Terlihat juga banyak orang bergoyang mengikuti irama musik yang dimainkan Axel. Alangkah nikmatnya dunia ini bisa menikmati hidup seperti ini.Untuk sesaat tidak perlu memikirkan masalah apapun yang di hadapi, yang penting bisa happy.


Amarah Axel pada Alza masih belum mereda. Namun dia juga belum mendapat ide untuk memisahkan Alza dengan Tiara. Untuk saat ini dia tidak ingin memikikirkan Alza dan Tiara dulu, dia hanya ingin menikmati hidupnya.


Axel sengaja memberi jarak, agar disaat yang tepat, saat dia melanjutkan rencananya tidak akan gagal lagi. Dia harus lebih berhati-hati lagi, karena Alza sudah mengetahui perbuatannya.


Axel juga sengaja tidak mengaktifkan HPnya, karena dia tahu pasti Mamanya pasti mencarinya. Untuk sementara dia memilih tinggal di apartemennya dan bisa pesta sepuasnya bersama teman-temannya.


***


Hari ini Tiara, Mama Ike dan Ana sedang berbelanja untuk keperluan pulang kampung.


"Tiara oleh-olehnya mau dibeli apa? biasanya orang di kampung kalian sukanya oleh-oleh apa kalau dari jakarta?" tanya Mama Ike.


" Paling banyak sih sukanya dodol Ma, tapi buah juga suka seperti anggur, kelengkeng dan yang lainnya." jawab Tiara.


"Ya sudah kita beli dodolnya saja dulu. Untuk buahnya, biar Pak Ujang beli kepasar induknya langsung nanti." ucap Mama ike.


Saat ini mereka sudah di tempat penjualan oleh-oleh khas Jakarta.


"Mau dodol yang mana?" tanya Mama Ike.



"Yang itu Ma," Tiara menunjuk dodol garut.


"Baiklah," ucap Mama Ike.


"Pak itu dodol garutnya 10 kotak, juga semua jenis dodol yang ada masing-masing 2 kg ya!" ucap Mama Ike pada penjualnya.


" Ok Bu," ucap penjualnya semangat.


Tiara melongo mendengarnya.


"Ma kenapa belinya banyak banget?" tanya Tiara.


" Biar saja, supaya nanti semua saudara dekat kamu semuanya kebagian." ucap Mama Ike.


Begitu selesai membeli oleh-oleh mereka melanjutkan belanja yang lain lagi. Mama Ike begitu royal dalam berbelanja.


Bersambung ....


Selalu menunggu vote, like dan komennya teman-temanku yang baik hati. Semangat!

__ADS_1


__ADS_2