
"AXEL! ALZA! apa yang kalian lakukan?" teriak Mama Ike begitu sampai di kamar Alza.
Axel langsung melepas cengkramannya begitu melihat mamanya.
"Apa yang terjadi? kenapa kalian berantem seperti ini?" tanya Mama Ike lagi.
"Bukan apa-apa Ma, Mama kayak gak pernah melihat kami berantam saja." ucap Axel langsung pergi meninggalkan kamar Alza.
Mama Ike yang melihat Axel pergi, langsung menyusul Axel, dia harus mengobati lukanya.
Sementara Tiara langsung membantu Alza bangun, dan membawanya ke sofa.
Begitu Alza sudah duduk di sofa, Tiara langsung lari ke dapur.
***
"Sebenarnya apa yang terjadi? cerita sama Mama." tanya Mama Ike sambil mengompres luka Axel.
"Bukan apa-apa, dari dulu kan Mama sering melihat kami berantem seperti ini. Axel hanya kangen saja berantem dengan Alza Ma, aww ... pelan-pelan Ma. Mama masih ingat kan saat kami berebut mainan. Alza sampai masuk rumah sakit, karena kepalanya terbentur dan banyak mengeluarkan darah." jelas Axel.
"Kamu gak bohong kan, Mama tadi sekilas mendengar kalian menyebut nama Tiara. Kalian tidak berantem karena Tiara kan? Tiara itu istri adik kamu Nak, masih banyak perempuan di luar sana yang bisa kamu nikahi. Kamu jangan selalu mengingini, apapun yang dimiliki Alza." ujar Mama Ike.
"Enggak Ma, ini tidak ada hubungannya dengan Tiara sama sekali." bohong Axel.
Sementara di kamar utama, Tiara juga sedang mengompres luka Alza.
"Aww ... pelan-pelan sayang." ucap Alza manja.
" Maaf, maafkan aku Bang Alza, ini semua karena aku hu .... hu ...." ucap Tiara sambil menangis.
"Hei aku yang terluka kenapa kamu yang menangis?" tanya Alza bingung.
"Aku takut Bang Alza, aku takut melihat kalian berantem seperti tadi. Kalau tidak ada aku, kalian pasti tidak akan berantem seperti ini, hu ...." ucap Tiara.
"Sudah ya kamu jangan menangis lagi, dan kamu juga tidak perlu takut lagi." ucap Alza sambil menghapus air mata Tiara. " Dan ini semua bukan karena kamu, sebelum kenal kamu pun kami sering berantem seperti ini, namanya juga laki-laki. Aku bahkan pernah masuk rumah sakit karena Bang Axel." jelas Alza.
"Benarkah, apa separah itu?" tanya Tiara, tangannya masih sibuk mengompres luka lembam Alza.
"Iya, yang namanya saudara kan, pasti ada berantemnya ada akurnya juga. Terkadang aku juga merasa bingung dengan Kak Axel, dia terkadang menatapku penuh iri, sampai-sampai berusaha merebut semua yang aku punya." ujar Alza.
"Berarti Bang Alza juga tahu kelakuan tidak baik Bang Axel selama ini?" tanya Tiara.
"Tahu, hanya saja aku sering membiarkannya karena memikirkan Mama. Namun terkadang aku juga tidak ingin menyalhkannya, karena dia tidak sepenuhnya salah menurutku. Kamu tahu kan orang-orang sekitar kita suka berbicara seenaknya, mereka juga suka membanding-bandingkan aku dan Kak Axel. Kak Axel mungkin tidak bisa terima, karena orang-orang di luar sana suka memujiku setinggi langit sementara dia suka direndahkan." jelas Alza.
"Tapi perbuatan Bang Axel, tidak bisa dibiarkan terus seperti ini Bang, aku takutnya dia semakin nekat nanti." ucap Tiara.
"Iya aku tahu, sebenarnya aku ingin sekali berbicara 4 mata dengannya, juga ingin sekali menanyakan apa yang diinginkannya. Aku sangat yakin, dia ingin merebutmu dari aku, hanya karena obsesi rasa irinya semata. Tapi mulai sekarang, saat kamu sudah masuk kamar, jangan lupa langsung kunci pintunya. Aku tidak ingin kejadian hari ini terulang kembali." jelas Alza.
"Iya," ucap Tiara, tidak sengaja tangan Tiara menekan luka Alza.
"Aww ... pelan-pelan sayang kamu menekannya terlalu keras." ucap Alza.
"Maaf, cup ... sudah tidak sakit lagi kan?" tanya Tiara sambil mencium luka Alza.
"Ini juga masih sakit," ucap Alza menujuk pipinya.
"Cup," Tiara langsung mencium pipi Alza.
"Ini, ini, ini juga." ucap Alza menunjuk seluruh permukaan wajahnya juga lehernya.
"Cup ... cup ... cup ...." Tiara menciumi seluruh permukaan wajah Alza termasuk ke leher-lehernya.
Alza senang bukan main, kalau terus diciumi Tiara seperti ini dia rela kok di tonjok sekali lagi.
__ADS_1
"Ini juga sayang," ucap Alza menunjuk bibirnya.
"Cup,"
"Bibirku masih sakit sayang," ucap Alza jahil.
Tiara kembali mencium bibir Alza. Kali ini Alza tidak menyianyiakan kesempatan. Alza menahan tungkuk Tiara kemudian menggerakkan bibirnya me**mat bibir Tiara. Rasa sakit di bibirnya sudah tidak dipedulikannya lagi. Tiara yang tadinya sempat terkejut langsung menguasai dirinya, Tiara pun membalas ciuman Alza.
Mereka akhirnya melepaskan tautan bibirnya setelah beberapa menit.
"Bang Alza," ucap Tiara malu.
"Kenapa masih mau lagi?" Tanya Alza.
"Bang Alza ihh, bibirnya masih sakit juga." ucap Tiara.
"Tapi kalau terus dicium kamu, sakitnya benar-benar hilang deh, cium lagi dong sayang." goda Alza.
"Bang Alza ihhh ...." ucap Tiara pura-pura kesal.
"Haha ... aww ...."
Begitu selesai mengobati luka Alza, mereka membersihkan diri dan langsung Tidur.
***
Pagi hari tiba, semua penghuni kediaman Wijaya kembali ke kesibukan masing-masing.
Tiara dengan hati-hati menutup pintu kamarnya, agar Alza tidak terbangun.
Semalam Alza sudah memberitahunya kalau dia tidak akan karja hari ini. Dia tidak ingin karyawannya berpikir aneh-aneh melihat luka lembam di wajahnya.
"Bapak dan Mama Ike dimana, kok tidak ikut sarapan?" tanya Tiara, begitu hanya melihat Riski dan Ridho di meja makan.
"Iya, kalian yang rajin ya belajarnya." ucap Tiara.
Riski dan Ridho bergantian salim pada Tiara. Sejak sekolah di Jakarta, setiap kali mau berangkat sekolah, Riski dan Ridho akan selalu salim. Ini adalah ajaran dari Mama Ike.
Sekarang tinggal Tiara sendirian di meja makan.
Sebaiknya aku ke tempat Bapak saja, lagian dia juga belum sarapan ini. batin Tiara.
Tiara kemudian menyiapkan sarapan untuknya dan juga Pak Danu. Ada nasi goreng, beserta teh dan susu, tiara juga menambahkan beberapa potong buah.
"Nyonya Muda mau kemana? biar aku bantu membawakannya," tanya Ana yang melihat Tiara kerepotan membawa napan berisi makanan.
"Tidak usah Kak Ana, aku bisa sendiri. Aku hanya ingin ke belakang, mau sarapan bersama Bapak." ucap Tiara.
"Ok deh Nyonya Muda, hati-hati." ucap Ana.
***
"Pak, sarapan dulu, ini Tiara sudah bawa sarapan untuk Bapak." ucap Tiara begitu melihat Pak Danu dan meletakkan napan sarapannya di meja kursi.
"Tumben kamu nyamperin Bapak kesini," ucap Pak Danu berjalan ke Arah Tiara.
"Hehe, maafkan Tiara Pak, Tiara terlalu sibuk dengan urusan Tiara, sampai-sampai melupakan Bapak. Nih makan dulu mumpung masih hangat." ucap Tiara.
Pak Danu dan Tiara sarapan bersama.
"Bapak ada mendengar cerita kalau, Nak Alza dan kakaknya berantam tadi malam, apa benar?" tanya Pak Danu.
__ADS_1
"Iya Pak, Bang Alza sudah mengetahui tentang pernikahan palsu kami adalah ulah Bang Axel." jawab Tiara. Tiara sengaja tidak memberitahukan semuanya yang terjadi pada bapaknya. Dia tidak ingin bapaknya khawatir.
"Lalu setelah mengetahuinya, apa di tidak salah paham padamu?" tanya Pak Danu.
"Bang Alza sempat salah paham sih Pak, tapi Tiara sudah menjelaskan semuanya. Dan Bang Alza sudah tahu kebenarannya sekarang. Bang Alza bahkan sudah melamarku." ucap Tiara sambil memamerkan cincinnya.
"Benarkah? Bapak ikut senang mendengarnya. Jadi kapan kalian ingin menikah secara sah?" tanya Pak Danu.
"Tiara belum tahu Pak, Bang Alza belum ada membahasnya." ucap Tiara.
"Ya sudah, kamu yang sabar ya. Bapak yakin Nak Alza pasti akan mengutarakan niat baiknya. Bapak benar-benar bangga padanya, dia begitu baik dan perhatian. Dia juga tidak pernah memandang rendah orang lain, terbuat dari apa itu hatinya." ucap Pak Danu.
"Makasih Pak untuk pujiannya," ucap Alza yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Eh, sudah ada Nak Alza, kamu sudah sarapan? sini ikut sarapan bersama kami," ucap Pak Danu.
"Baiklah, karena Bapak memaksa aku tidak akan menolak." ucap Alza langsung duduk disamping Tiara.
" Suapin dong sayang," ucap Alza tanpa malu-malu.
Tiara tidak protes, dia langsung menyapi Alza.
Pak Danu hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Begitulah kalau orang sedang dimabuk cita, mereka benar-benar lupa tempat.
Tatapan mata Pak Danu fokus ke wajah Alza. Wajah Alza masih terlihat banyak luka memarnya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Axel, entah setan apa yang merasuki tubuhnya.
"Pak, sudah berapa jenis hewan yang Bapak pelihara," tanya Alza disela-sela kunyahannya.
"Baru ada Ayam, sama itu kura-kura yang baru diantar, Nak Alza." jawab Pak Danu.
"Kenapa masih sedikit Pak?" tanya Alza.
"Pelan-pelan saja nambahnya Nak Alza, tidak ada yang perlu diburu-buru ini." jawab Pak Danu.
Mereka terus mengobrol ini dan itu.
***
Hari menjelang siang, saat ini Alza dan Tiara lagi berada dalam mobil.
Tiara benar-benar bingung dengan Alza. Tadi katanya tidak mau kerja, karena tidak ingin orang berpikir aneh-aneh dengan luka lembanya. Sekarang dia malah mengajak Tira keluar. Tiara benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya.
"Lho Bang Alza, kita ngapain beli bunga?" bingung Tiara. Semalam Alza sudah memberinya bunga begitu besar, masak hari ini dikasih bunga lagi, pikir Tiara.
"Nanti juga kamu akan tahu," ucap Alza misterius.
"Sekarang kita sudah sampai, yuk turun!" ucap Alza.
Tiara hanya nurut saja kemana Alza membawanya. Tiara benar-benar sudah tidak asing dengan tempat ini.
Kenapa Bang Alza membawaku kesini, dan kami mau ngapain disini? batin Tiara.
Bersambung ....
Yang nyari Pak Danu, dia sudah muncul ya, hehe.
Jangan bosan-bosan memberi masukan untukku ya teman-teman. Aku masih terbilang penulis amatiran. Aku belum bisa fokus pada semua orang yang ada dalam ceritaku. Aku sadar, karena terlalu fokusnya pada peran utama, aku sampai melupakan peran pendukungnya.
Aku juga sebenarnya ingin mengingatkan kita dipart ini. Semoga ada yang ngeh dengan kata membanding-bandingkan. Untuk kita semua sebisa mungkin janganlah membanding-bandingkan orang lain ya guys, entah siapa pun ini. Karena itu bisa benar-benar berakibat fatal, dan itu aku lihat langsung di depan kostku.
Dan terima kasih sebesar-besarnya untuk kalian semua. Berkat dukungan kalian yang sungguh luar biasa, tepat tanggal 6 agustus DANAU CINTAKU akhirnya lulus review juga.
Aku doakan untuk teman-teman yang masih dalam proses review, semoga secepatnya dikontrak ya. Ingat-ingat kerja keras kita tidak akan menghianati hasil, yang penting tetap semangat berkarya ya guys.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komennya teman-teman. Terima kasih.