
"Pagi Om, Ryan." sapa Alza semangat, begitu melihat omnya dan Ryan di dalam ruangannya.
"Pak Alza!" ucap Ryan terkejut sekaligus merasa lega.
"Kamu kemana saja, kami sampai pusing nyariin kamu, HP dan tas ditnggal, tidak ada kabar sama sekali." tegur Om Indra, dia sudah dibuat pusing pagi-pagi karena ulah keponakannya ini.
"Maaf Om, Alza pulang buru-buru semalam." ucap Alza.
Indra memperhatikan Alza, Alza sudah terlihat ceria dan semangat hari ini, dia merasa lega melihatnya.
"Ya sudah Ryan, kamu bisa melanjutkan kembali pekerjaan kamu, Alzanya juga sudah kembali." ucap Om Indra.
"Baik Pak," ucap Ryan.
" Apa masalahmu sudah selesai? kamu terlihat kembali bersemangat hari ini," tanya Om Indra begitu Ryan sudah keluar dari ruangan Alza.
"Dengan Tiara sudah Om, seperti yang Om bilang ternyata ini semua ulah Kak Axel, dia yang mengancam Tiara." jelas Alza.
"Baguslah kalau begitu, sepertinya perkembangan hubungan kalian cukup baik. Apa kamu tidak berencana untuk memperjelas hubungan kalian?" tanya Om Indra.
"Iya Om, Alza secepatnya akan merencanakan pernikahan ulang kami kembali, yang sah secara agama dan negara. Aku tidak ingin ada lagi yang bisa mengganggu hubunganku dengan Tiara terutama Kak Axel." jawab Alza.
"Baguslah kalau begitu, jika butuh sesuatu jangan segan-segan hubungi Om." ucap Om Indra.
"Iya Om, trima kasih." ucap Alza.
***
Tiara terbangun dari tidurnya, meraba kasur sebelahnya.
"Kemana Bang Alza?" gumam Tiara begitu melihat kasur sebelahnya kosong. Tiara melihat ke arah jam sudah menjukkan pukul 11 siang.
"Ya ampun, ini sudah siang." gumam Tiara kaget dan cepat-cepat membersihkan dirinya.
"Siang Nyonya Muda," ucap Ana sambil senyum-senyum begitu Tiara ke dapur.
"Siang juga Kak Ana, mau masak apa kita hari ini?" tanya Tiara.
" Cie ... yang sudah baikan , semangat masaknya udah kembali lagi nie. Gitu dong Nyonya Muda jangan galau-galau lagi ya." ucap Ana.
"Apa sih, Kak Ana." ucap Tiara malu-malu.
"Uhuy ... muka Nyonya Muda sampai merah begitu, gak usah malu begitu Nyonya Muda. Aku mengerti kok." ucap Ana.
"Lagi ngobrolin apa ni, sepertinya seru sekali." tanya Mama Ike yang baru datang.
"Bukan susuatu yang penting Ma, Mama bawa apa itu?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Ini pete, oleh-oleh satpam kita yang pulang kampung kemarin." ucap Mama Ike sambil meletakkan petenya di atas meja.
Mata Tiara berbinar melihatnya. Tiara tetaplah Tiara melihat pete saja berbinar. Apakah matanya akan seberbinar itu jika melihat tas mahal dan teman-temannya?
"Ma, apa bisa aku mencoba berbagai masakan menggunakan pete ini?" tanya Tiara antusias.
"Bisa, sangat bisa, Memang itu tujuan pak satpamnya membawa pete sebanyak itu. Dia berharap kamu semakin semangat lagi belajar masaknya. Sekarang ayo Mama bantu." ucap Mama Ike.
"Siap Ma," ucap Tiara bersemangat. Kalau sudah seperti ini tidak ada lagi alasannya untuk galau. Orang-orang disekitarnya begitu mendukungnya.
Tiara langsung mengeluarkan catatan masakannya. Sudah ada beberapa menu masakan yang tertulis disana yang akan dijualnya nanti. Tiara berharap dari olahan pete ini akan menemukan ya cocok, dan menu masakannya bertambah lagi.
Tiara, Mama Ike, Ana dan Bude siti sibuk untuk meracik ini dan itu. Mereka mempelajarinya dari Google dan juga YouTube. Namun meskipun belajar dari YouTube mereka akan mencoba dengan racikan bumbu yang berbeda. Begitu merasa racikan mereka pas, mereka akan langsung mencatatnya.
Mereka begitu bersemangat padahal keringat sudah bercucuran kemana-mana.
"Ma maaf ya, ini keringat Mama sampai berucucuran kemana-mana Tiara elap ya. Kalau Mama capek Mama istirahat saja," ucap Tiara sambil mengelap keringat Mama Ike menggunakan tisu.
"Enggak sayang, Mama gak capek. Mama justru sangat senang bisa melakukan ini bersama-sama. Kamu juga keringetan, sini Mama elap keringatnya." ucap Mama Ike sambil mengelap keringat Tiara. Mereka akhirnya tertawa bersama. Padahal bisa mengelap keringat masing-masing tanpa perlu repot-repot saling mengelap seperti itu.
Ana dan Bude Siti terharu sekaligus senang melihat nyonya besarnya. Sekarang dia tidak pernah kesepian lagi sejak ada Tiara. Canda dan tawa semakin sering didengar di rumah besar ini.
Mereka sangat puas begitu melihat banyak makanan olahan dari pete di atas meja. Ada nasi goreng pete dan rawit, ada pete tauco pedas, ada sambal goreng kentang pete dan masih ada yang lainnya.
Tiara terharu sendiri melihat hasil masakannya, kemampuan memasaknya sudah begitu lumayan sekarang.
"Benar juga Kak Ana," ucap Tiara langsung mengambil Hpnya lalu memotret masing-masing masakannya.
Mereka akhirnya mencobanya, dan pilihan menunya jatuh ke telur dadar bihun pete dan sambel goreng kentang pete.
Namun jika ada orang ingin memesan seperti yang sudah di upload di Instagram nanti. Tiara akan dengan senang hati menerima pesanannya.
Begitulah lah jika kita ingin memulai usaha dari nol. Butuh kerja keras dan banyak yang harus dipelajari. Tapi percayalah suatu saat nanti, usaha tidak akan menghianati hasil. Tiara yakin suatu saat nanti, dia pasti bisa tersenyum melihat kerja kerasnya hari ini.
***
Tiara sedang memakai cream diwajahnya, seperti malam-malam sebelumnya.
Alza mendekat ke Tiara dan memeluknya erat dari belakang.
"Wangi banget kesayanganku ini," ucap Alza sambil mencium pipi Tiara. Sekarang Alza sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi jika ingin mencium Tiara.
Bibir Alza nyasar kemana-mana, sekarang leher Tiara yang jadi sasarannya.
__ADS_1
"Sudah belum pakai creamnya, aku benar-benar sudah tidak tahan ini." ucap Alza terus menciumi Tiara.
Jangan-jangan Bang Alza ingin melakukan itu bersamaku. Tidak-tidak ini tidak boleh terjadi sebelum hubungan kami sah di mata hukum dan agama. Tapi bagaimana cara aku menolaknya, aku takut kalau Bang Alza akan salah paham nanti. batin Tiara.
Saat Alza ingin mencium bibir Tiara, terdengar HPnya berdering. Dengan berat hati Alza menghentikan aktivitasnya dan segera menjawab panggilan di HPnya.
Begitu melihat Alza sibuk dengan HPnya, Tiara langsung naik ke kasur dan memejamkan matanya.
Alza yang sudah selesai dengan HPnya juga naik ke kasur menyusul Tiara.
"Sayang, Tiara, kamu sudah tidur ya, tumben tidak seperti biasanya. Kita bahkan belum bercerita tentang aktivitas kita hari ini. Mungkin kamu terlalu lelah hari ini. Ya sudah selamat tidur kesayanganku, semoga kita bertemu dalam mimpi." ucap Alza lalu mencium kening Tiara, dan ikut tidur sambil memeluk Tiara.
Tiara yang pura-pura tidur, membuka matanya begitu Alza tidur. Tiara memperhatikan wajah Alza dalam Tidurnya.
" Wajah ini benar-benar tampan, bulu mata yang lentik juga hidung yang mancung. Aku benar-benar beruntung bisa memilikinya. Tapi aku belum siap Bang kalau kita melakukan hubungan itu sekarang. Mungkin bagi Bang Alza melakukan hubungan itu suatu yang wajar dan biasa karena orang-orang disekitar Bang Alza. Tapi tidak denganku Bang, aku benar-benar tidak bisa, sebelum kita sah di mata hukum dan agama." gumam Tiara.
Tiara memejamkan matanya, berharap dia punya keberanian untuk mengatakannya esok hari. Tiara mulai mengerti untuk menjalin suatu hubungan itu, pasti akan ada banyak perbedaan. Untuk itu butuh kejujuran agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi.
***
Pagi hari tiba Alza terbangun dari tidurnya, ada senyum di wajah Alza melihat Tiara tidur di depannya.
Alza mencium kuat pipi Tiara, ini cara terbaru Alza membangunkan Tiara.
" Pagi sayang," ucap Alza begitu Tiara membuka matanya.
"Pagi Bang," ucap Tiara dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"Gemes banget sih melihat kesayanganku ini, kalau bangun seperti ini." ucap Alza sambil menciumi seluruh wajah Tiara gemas.
"Ih Bang Alza lepas, jangan cium-cium terus." ucap Tiara berusaha manahan Alza yang sekarang sudah berada diatas tubuhnya.
Tiara bingung harus bagaimana dia menghentikan Alza, terlebih lagi ada susuatu yang berbeda dengan Alza pagi ini.
"Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang tertunda semalam, pagi ini. Aku benar-benar sudah tidak tahan." ucap Alza jujur. Wajar saja, dia laki-laki normal, terlebih lagi dia bersama orang yang begitu dicintainya dan mencintainya saat ini.
Tiara cepat menutup mulutnya dengan tangan begitu Alza ingin mencium bibirnya.
"Kenapa?" bingung Alza.
"Aku belum gosok gigi Bang, aku juga kebelet ingin pipis. Bang Alza geseran dulu ya, " alasan Tiara.
Begitu Alza menggeser tubuhnya, Tiara langsung cepat ke kamar mandi.
Alza menatap Tiara yang masuk kamar mandi.
"Kenapa aku merasa Tiara menolakku, aku jadi ragu, apakah dia benar-benar mencintaiku." gumam Alza merasa galau.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa vote, like dan komennya teman-teman.