
"Bang Alza," panggil Tiara lagi.
Alza hanya diam saja.
Tiara tidak punya pilihan lain, Tiara kemudian mengode fotografernya untuk meninggalkan mereka. Tiara minta waktu sebentar untuk bicara dengan Alza. Mereka tidak bisa diam-diaman terus seperti ini.
Begitu Fotografernya menjauh. Tiara langsung menghadap ke Alza dan menatap Alza dalam.
"Bang Alza kenapa, apa aku ada salah? Kasih tahu aku Bang dimana letak kesalahanku, jangan diamkan aku seperti ini. Atau Bang Alza ingin kita menyudahi foto prewed hari ini?" tanya Tiara.
Mendengar kata menyudahi foto prewed Alza langsung menatap tajam Tiara.
Sungguh Tiara takut melihat tatapan tajam Alza. Tiara belum pernah melihat expresi Alza yang seperti ini, saat melihatnya, benar-benar menyeramkan.
"Kamu ingin menyudahi foto prewed biar bisa pergi dengan si Nangin ... Nangin itu kan?" tanya Alza terdengar menahan amarah.
"Pergi dengan si Nangin, Bang Nangin maksudnya? ya ampun ... jangan bilang Bang Alza cemburu melihat aku dengan Bang Nangin tadi. Hahahaha ... dia sudah menikah Bang Alza. Bang Alza ada-ada aja ihh cumburu kok sama Bang Nangin gak banget deh hehe ...." ucap Tiara benar-benar merasa lucu.
"Tidak ada yang lucu kenapa kamu ketawa? Wajar aku cemburu kalian sangat akrab begitu.. pakai acara bilang cantik ... semakin cantik ... minta nomor HP, apa maksudnya semua itu? Kalian benar-benar tidak menganggapku. Dan juga kamu bilang dia sudah menikah, apa kamu tidak memikirkan perasaan istinya, jika melihat kalian seperti itu." ucap Alza marah.
Tiara benar-benar manahan tawa, melihat Alza marah seperti ini. Terlihat semakin ganteng eh ...
"Sini deh Bang, aku jelasin sebentar." ucap Tiara manarik Alza duduk di bangku. Dan Alza hanya nurut saja.
"Begini Bang Alza, Bang Nangin itu adalah impal/paribanku. Dan di adat orang Karo khususnya, kalau sesama impal ya bebas bercanda dan menggombal seperti itu. Seperti saat dia bilang cantik, semakin cantik itu sah-sah saja selama dia tahu aku belum menikah. Aku bahkan bisa merengek meminta dibelikan baju padanya di depan istrinya. Ingat didepan istrinya ya, atau di depan bibik-bibikku, bukan dibelakang mereka. Dan istrinya tidak akan marah karena kami sama." jelas Tiara.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Alza.
"Itulah namanya tradisi Bang, dan itu lah sepesialnya kata impal. Dan kalau kita menikah, Bang Alza sama Bang Nangin sama bagiannya di keluargaku. Saat ada saudara yang nikah tugas Bang Alza dan dia sama, kalau di keluargaku. Jadi besok kalau bertemu Bang Alza harus minta maaf sama dia. Tadinya aku bermaksud mengenalkan kalian, Bang Alza malah cuek begitu, itu bukanlah Bang Alza yang aku kenal." ucap Tiara.
"Namanya juga cemburu, kamu tahu kan kalau orang cemburu itu bisa aneh-aneh kelakuannya." ucap Alza.
"Berarti sekarang sudah jelas kan, Bang Alza sudah gak marah kan? Bang Alza seram kalau diam begitu, aku sampai takut melihatnya." ucap Tiara.
"Iya aku mengerti sekarang, aku terlalu takut kamu meninggalkanku, dan pergi bersama laki-laki lain. Tapi kalaupun itu tradisi di kampung ini, aku tidak suka melihat kamu terlalu akrab dengannya seperti itu." ucap Alza.
"Bang Alza tidak benar-benar percaya padaku, kalau aku hanya mencintai Bang Alza seorang." ucap Tiara kesal.
"Bukannya tidak percaya sayang, hanya saja aku benar-benar tidak bisa melihatmu begitu akrab dengannya. Baiklah sebagai jalan tengahnya kamu kenalkan aku padanya, agar aku bisa terbiasa dengan tradisi kampung ini." ucap Alza.
" Siap Bang Alza ... lagian ni ya Bang, hidup ini bisa diibaratkan seperti saat kita memandang Danau itu. Semakin kita mendekat dan memandangnya, kita pasti semakin merasakan keindahannya. Begitupun dengan hidup ini semakin kita melihat perbedaannya, maka kita juga pasti akan merasakan, betapa indahnya perbedaan itu." ucap Tiara.
"Wow, sudah mulai pintar berkata-kata kesayanganku ini sekarang." ucap Alza.
__ADS_1
"Harus dong, kesayangannya bang Alza gitu. Berarti sekarang kita bisa melanjutkan pengambilan fotonya kan? kasian Bang Ginting dan timnya, sampai kebingungan begitu karana Bang Alza." ucap Tiara semangat.
***
Sesi foto kembali di lanjutkan, Alza dan Tiara masih harus 2 kali ganti baju. Sesuai tema yang sudah mereka persiapkan.
Kali ini semua berjalan dengan lancar canda dan tawa kembali terdengar di sela-sela pengambilan foto.
"Kakaknya dan abangnya bersiap ya, ini pengambilan foto terakhir, ok tahan ya 1 2 3 cekrek ... mantap." ucap Ginting.
"Ini sudah pas kan menurut kalian?" ucap Ginting menunjukkan foto tema siluet mereka.
"Bagus Bang Ginting aku sangat suka, terima kasih ya." ucap Tiara.
"Sama-sama Kakak cantik. Oh iya untuk fotonya nanti akan aku kirim file-filenya biar kalian bisa memilih yang mana yang harus dicetak." ucap Ginting.
"Iya, terima kasih Bang Ginting, terima kasih juga untuk pengertian dan arahannya. Aku berharap hasinya seperti yang kita harapkan." ucap Alza.
"Sama-sama Bang Alza, oh iya gantengnya gak jadi di hotspot nih?" tanya Ginting bercanda.
"Haha ... Bang Ginting bisa saja. Kalian mau langsung pulang, atau mau makan bersama dulu?" tanya Alza.
"Langsung pulang saja Bang Alza, kalian juga pasti masih ada acara hari ini. Oh iya, jika Bang Alza perlu jasa kami lagi, jangan sungkan-sungkan menghubungi aku ya Bang Alza." ucap Ginting.
***
Kediaman Wijaya.
Axel pulang ke rumah merasa heran melihat keadaan rumahnya benar-benar sepi.
"Bude, Mama dimana? kenapa rumah terlihat sepi sekali?" tanya Axel begitu melihat Bude Siti.
"Nyonya Besar dan yang lainnya pergi ke kampung Nyonya Muda, Tuan Muda." jawab Bude Siti.
"Ke kampung? ngapain mereka ke kampung?" tanya Axel.
"Kata Nyonya Muda, mereka ingin zarah sekalian prewed, Tuan Muda." jawab Bude Siti.
"Prewed?" bingung Axel.
"Iya Tuan Muda, Tuan Muda Alza ingin kambali menikah ulang katanya." jelas Bude Siti.
__ADS_1
Menikah ulang? kurang Ajar, benar-benar bergerak cepat itu si Alza. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus segera menyusun rencana. Pernikahan mereka tidak boleh terjadi. batin Axel marah.
Axel mengepalkan kuat tangannya dan pergi begitu saja.
Bude Siti heran melihat Axel pergi seakan menahan amarah. Namun dia tidak ingin ambil pusing, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Alza dan Tiara sampai di rumah Tiara, tepat jam 7 malam.
"Lho Bang kenapa rumah banyak orang?" bingung Tiara begitu turun dari mobil, di luar rumahnya juga sampai digelar tikar.
"Aku juga tidak tahu," ucap Alza.
Meraka turun dari mobil dengan penuh tanya.
"Ini dia calon pengantin kita sudah pulang, sudah selesai foto prewednya?" tanya Bibi Tiara.
"Sudah Bik, acara apa kok rumahku penuh orang begitu?" tanya Tiara.
"Oh itu seperti biasa, mereka cuma membicarakan tentang pernikahan kalian. Nih pakai sarung dulu, kalian langsung masuk, kasih salam sama semua saudara kita." suruh Bibi Tiara.
"Iya Bik," ucap Tiara.
Tiara dan Alza menyalami seluruh keluarga Tiara. Setelahnya Alza ikut dalam pembicaraan pernikahan mereka. Sementara Tiara dibantu Ana dan Bibinya menyiapkan beberapa sanck, termasuk sisa oleh-oleh dari Jakarta.
"Nyonya Muda tadi aku ikut membatu membuat cimpanya dong, seru ternyata. Terima kasih Nyonya Muda hari ini aku benar-benar bahagia." ucap Ana. Mereka sedang di rumah Bibi Tiara menyiapkan cimpa untuk snack tambahan.
"Sama-sama, berarti kalian di rumah terus, tidak jalan-jalan?" tanya Tiara.
"Jalan-jalan dong, kami ke sapo juma terus mampir sebentar ke kafenya. Kami juga singgah di air terjunnya. Kami juga melihat foto prewed Nyonya muda tadi, keren Nyonya Muda." ucap Ana.
"Terus yang ngurusin ini semua siapa?" tanya Tiara.
"Bapaknya Nyonya muda, dia tidak ikut jalan-jalan, sama Bibik-bibiknya Nyonya Muda, baik ya mereka Nyonya Muda." ucap Ana.
"Iya dong, bibiknya Tiara gitu." ucap Tiara lebay.
Permbicaraan tentang pernikahaan Alza dan tiara sudah menemukan titik terang. Satu bulan lagi, pernikahan akan dilangsungkan karena Alza tidak ingin menunggu terlalu lama.
Begitu urusan di kampung selesai Alza dan yang lainnya langsung kembali ke hotel tempat mereka menginap.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa vote, like dan komennya teman-teman, terima kasih.