Danau Cintaku

Danau Cintaku
Kita pulang


__ADS_3

"BANG ALZAAA ...." teriak Tiara sambil melompat ke dalam air.


Alza langsung membalikkan badannya begitu mendengar terikan Tiara. Alza menepuk jidatnya begitu melihat Tiara sudah berenang dengan serunya. Dasar Tiara, ternyata Tiara sengaja mencari alasan haus agar bisa nyemplung ke laut.


"Bang Alza hua ... hua... ini sangat seru Bang Alza, airnya begitu segar dan jernih." ucap Tiara kesenengan.


Alza langsung melompat ke dalam air, dan langsung menangkap Tiara.


"Nakal ya, rasain ni hukuman dariku." ucap Alza sambil menggelitiki Tiara di dalam air.


"Haha ... geli bang Alza, ampun haha ... ampun Bang Alza geli haha ...." ucap Tiara tidak kuat menahan geli, namun dia juga begitu bahagia bisa bercanda dengan Alza seperti ini.


"Nakal sih," ucap Alza menghentikan gelitikannya.


"Hehe, habisnya dari tadi airnya manggil-manggil terus Bang Alza, aku kan tidak enak kalau pura-pura tidak dengar terus." ucap Tiara.


"Dasar kamu," ucap Alza sambil mencubit gemes hidung Tiara. "Oh iya mau berenang sampai ketengah tidak?" tanya Alza yang sudah terlanjur nyebur, jadi mau tidak mau ikut berenang bersama Tiara.


"Mau ... mau," ucap Tiara antusias.


Mereka berenang bolak-balik sampai ketengah, kemudian istirahat sejenak karena capek.


"Oh iya Bang Alza, dulu di Danau akan dan Riski, Ridho suka main kejar-kejaran. Bagaimana kalau kita main kejar-kejaran?" ujar Tiara.


"Ok siapa takut." ucap Alza.


"Nah, sekarang aku hitung sampai 20 sambil tutup mata. Dan kalau berhasil menangkap Bang Alza, aku bebas menghukum Bang Alza, begitupun sebaliknya, siap." jelas Tiara semangat.


"Siap!" ucap Alza. Alza tahu permainan ini sangat kekanak-kanakan tapi selama Tiara bahagia, tidak ada salahnya kan dia menurutinya.


Saat Tiara menghitung Alza diam saja, Alza penasaran hukuman apa yang akan diberi Tiara untuknya.


Begitu hitungannya selesai Tiara langsung membuka matanya. Tiara melihat Alza yang tidak jauh darinya, langsung menangkap Alza.


"Ketangkap!" seru Tiara semangat.


Hukuman yang Tiara berikan cukup mudah, Alza harus tahan nafas di dalam air selama mungkin.


"Huh ... huh ... kamu begitu kejam sayang." ucap Alza sambil menghirup udara sebanyak-banyak.


"Haha ... sekarang giliranku." ucap Tiara sambil berenang sejauh mungkin.


Tidak mudah bagi Alza untuk menangkap Tiara, Tiara cukup ahli berenangnya. Tiara mengerahkan semua kekuatanya agar tidak tertangkap. Canda dan tawa terlihat jelas di kedua anak manusia yang sedang sedang jatuh cinta itu.


"Ketangkap juga kamu akhirnya." ucap Alza semangat sambil memeluk Tiara dari belakang.


"Bang Alza, udahan saja ya gak perlu ada hukuman ya." ucap Tiara memelas.


"No, kamu harus dihukum sekarang, harus adil dong sayang." ucap Alza.


"Iya sudah deh, apa hukumanya?" tanya Tiara.


"Gampang saja, berikan aku ciuman terbaikmu, selama ini kan aku terus yang memulainya." jawab Alza.


"Hah ..."


Tiara membelalakkan matanya. Harusnya Tiara tahu, kalau Alza pasti tidak akan pernah, jauh-jauh dari yang satu itu. Dan karena ini hukuman jadi mau tidak mau Tiara harus melakukannya.


Sambil menahan malu, perlahan-lahan Tiara mendekatkan wajahnya pada Alza. Tiara mencium Alza, sementara Alza tersenyum puas dalam ciumannya. Ciuman merekan berlangsung lama, karena Alza tidak akan melepas Tiara begitu saja. Alza benar-benar kecanduan bibir madu Tiara.


Ciuman sambil berenang di laut, di saat matahari terbenam, sungguh pemandangan yang begitu indah.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, kamu cepat belajar juga, sering-sering ya menciumku seperti itu." goda Alza begitu tautan bibir mereka terlepas.


"Bang Alza ihhh," ucap Tiara malu, dan langsung menjauh dari Alza dan kembali berenang.


***


"Sayang jadi makan malam diluar tidak?" tanya Alza yang melihat Tiara tiduran diatas kasur mereka.


"Makan malam disini saja ya bang Alza," ucap Tiara pelan sambil mengeratkan selimutnya. Tiara merasa begitu dingin, juga kepalanya terasa sangat pusing.


Alza yang merasa heran melihat tingkah Tiara, langsung mendekat ke arah kasur.


"Sayang kamu sakit, badan kamu panas banget. Wajah kamu juga terihat pucat." ucap Alza begitu khawatir.


"Hanya panas bisa saja kok Bang Alza," ucap Tiara lirih.


"Biasa gimana, ini panas banget sayang, bagaimana ini?" ucap Alza bingung, baru kali ini Tiara sakit seperti ini, dan parahnya lagi disini tidak ada rumah sakit. Alza bahkan masih sangat asing dengan tempat ini. Alza juga tidak berpengalaman merawat orang sakit seperti ini.


"Gak usah khawatir begitu Bang Alza, nanti juga baikan kok." ucap Tiara menahan sakitnya.


"Baikan gimana, ini sangat panas sayang. Oh iya, kamu tunggu disini sebentar ya!" ucap Alza langsung lari keluar dari kamar mereka. Alza ingin menemui pihak resort, mereka pasti ada persediaan obat.


Beberapa menit kemudian, Alza datang sambil terburu-buru membawa baskom kecil, berisi air kompresan untuk Tiara.


"Sayang, buka dulu selimutnya, aku kompres dulu ya!" Ucap Alza.


Tiara menurut dan Alza langsung meletakkan handuk kecil di kening Tiara. Alza mengecek suhu badan Tiara yang lain, benar-benar panas semua. Alza terlihat semakin khawatir.


"Maaf Bang Alza," ucap Tiara merasa bersalah, seandainya dia menuruti perkataan Alza, dia pasti tidak akan sakit seperti ini.


"Kamu sudah merasa bersalah sekarang. Aku mengerti sayang, kamu begitu suka berenang disini, tapi tidak terus-terusan juga. Bahkan saat hujan turun pun kamu tetap kekeh berenang terus, badan kamu ini butuh istirahat. Kalau masih panas seperti ini terus, besok kita pulang saja." ucap Alza.


"Jangan Bang Alza, aku janji besok pagi pasti sudah sembuh kok." ucap Tiara memohon. Tiara merasa tidak rela kalau pulang begitu saja dari tempat ini. Tiara masih ingin berkeliling dan mencoba banyak hal disini.


"Bang Alza jangan, ini hanya sakit biasa kok, kalau dibawa tidur juga pasti sembuh." ucap Tiara lirih.


"Enggak Tiara, kamu kenapa jadi susah dibilangin seperti ini sih. KALAU AKU BILANG PULANG YA PULANG!" ucap Alza tanpa sadar mengeraskan suaranya. Biar bagaimanapun, kita tidak boleh menganggap gampang suatu penyakit.


Bagaimana kalau penyakitnya yang kita kira bisa, tapi malah bisa merenggut nyawa kita. Sudah banyak berita diluar sana, hanya karena menyepelekan suatu penyakit, dan akibatnya sangat fatal.


Tiara menciut mendengar suara keras Alza. Baru kali ini Alza berkara sekeras itu padanya. Kenapa rasanya begitu sakit, lebih sakit dari sakit dikepalanya. Sekuat tenaga Tiara menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Tiara bukan menyepelekan penyakitnya, hanya saja di kampung dulu dia sering sakit seperti ini. Jadi Tiara sangat tahu cara mengobatinya.


Alza langsung bangkit dari duduknya, begitu mendengar ada yang mengetuk pintu kamar mereka.


Alza kembali ke kasur mereka, membawa napan berisi bubur dan sup, juga ada beberapa obat-obatan.


"Sayang, kamu makan dulu ya, supaya obatnya bisa langsung diminum." ucap Alza lembut.


Tiara menganggukkan kepalanya, dan bangun dari tidurnya, meski kepalanya sangat pusing, tapi Tiara menahannya. Tiara tidak ingin melihat Alza marah lagi.


"Mau aku suapi?" tanya Alza.


Tiara menggelengkan kepalanya.


"Biar aku sendiri saja Bang Alza," ucap Tiara dan langsung memakan makanannya dengan cepat. Meski mulutnya terasa pahit, dan rasanya benar-benar tidak enak, tapi Tiara memaksakan menelan makanannya.


Melihat cara makan Tiara, Alza jadi merasa bersalah.


Kata-kataku tadi pasti melukai hati Tiara? Dia bahkan tidak mau merengek, dan bersikap manja padaku. Padahal aku sangat yakin dia benar-benar terpaksa memakan makanan itu. Sayang maafkan aku, aku tidak bermasud marah pada mu. Aku hanya terlalu khawatir sayang. batin Alza.

__ADS_1


Makanan di depan Tiara sudah habis, dan Tiara langsung meminum obatnya. Tiara juga minum air putih sebanyak mungkin.


"Sayang kamu mau kemana?" tanya Alza cepat begitu Tiara bangun dari kasur.


"Mau mengambil minyak angin, di tasku Bang Alza," jawab Tiara pelan sambil menunduk, tidak berani menatap Alza.


"Kamu duduk disitu saja biar aku saja yang mengambilnya." ucap Alza dan langsung mencari tas Tiara.


Begitu Alza memberikan minyak anginnya.


Tiara langung menuang minyak angin sebanyak mungkin ke tangannya, dan langsung mengolesinya pada perut dan lehernya.


"Bang Alza aku tidur dulu ya, Bang Alza juga lupa makan ya!" ucap Tiara dan langsung menarik selimut menutupi seluruh tubunnya.


Dari balik selimut Tiara berusaha menghilangkan pikiran negatifnya.


Ayo Tiara kamu pasti cepat sembuh, Bang Alza pasti tidak sengaja marah seperti itu. Kamu adalah perempuan yang kuat bukan lemah, semangat Tiara semangat. batin Tiara menyemangati dirinya sendiri. Tiara berharap saat bangun nanti sakitnya sudah hilang, dan Alza tidak akan marah lagi, juga mereka tidak jadi pulang.


Alza semakin merasa bersalah melihat Tiara seperti itu. Ini mungkin cobaan dalam pernikahan mereka, dan Alza berjanji untuk bisa lebih bersabar lagi, juga bisa membimbing Tiara lebih baik lagi. Dan yang terpenting adalah, Alza akan lebih mencintai dan menyayanginya lagi.


Perlahan Alza berjalan mendekat ke arah Tiara.


Alza mengusap kepala Tiara yang tertutup selimut.


"Sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud berkata keras seperti itu. Aku hanya terlalu khawatir sayang, aku benar-benar tidak bisa melihat kamu menahan sakit seperti ini. Cepat sembuh ya kesayangaku, aku sangat mencintaimu." gumam Alza, kemudian mencium lama kening Tiara yang tertutup selimut.


Alza Naik ke atas ranjang dan langsung memeluk Tiara.


Alza tidak memperdulikan dinginnya malam yang menusuk-nusuk kulitnya, yang penting baginya Tiara merasa nyaman. Perutnya bahkan sudah berbunyi terus dari tadi, tapi Alza membiarkannya saja.


Satu jam kemudian Tiara sudah merasa begitu kegerahan, keringatnya sudah bercucuran. Rasa sakit dikepalanya sudah hilang entah kemana.


"Sayang," panggil Alza begitu Tiara membuka selimutnya.


"Bang Alza, Bang Alza aku sudah sembuh, kita tidak jadi pulang kan?" tanya Tiara semangat.


"Sembuh," bingung Alza.


"Iya," ucap Tiara sambil menarik tangan Alza dan menempelkannya di keningnya. "Nih ... nih, sudah tidak panas lagi kan, kepalaku juga sudah tidak sakit lagi Bang Alza, yey ...." ucap Tiara semangat dan langsung memeluk Alza.


Alza membalas pelukan Tiara dengan erat.


"Syukurlah ... maafkan aku ya sayang," ucap Alza.


"Maaf untuk apa?" tanya tiara bingung sambil melepas pelukannya.


"Maaf aku sempat berkata keras tadi .... "


" Suttt ... setelah aku pikirkan, aku yakin Bang Alza pasti tidak sengaja berkata keras seperti itu. Orang terlalu khawatir kan suka tidak bisa kontrol diri. Tapi aku akan memaafkan Bang Alza, kalau kita tidak jadi pulang. Kita tidak jadi pulang kan?" tanya Tiara was-was.


Alza menangkap wajah Tiara dengan kedua tangannya, dan menatap Tiara dalam.


"Kita tetap akan pulang ...."


Bersambung ....


Akhirnya bisa next juga guys, tadinya sempat ingin hiatus untuk sementara. Selain lumayan sibuk dunia nyata, aku juga sedikit jenuh, dan mengalami kubuntuan untuk ceritanya.


Sempat ada godaan buat cerita baru saja. Tapi setelah dipikir-pikir PRku akan semakin banyak kalau buat cerita baru. Dan saat aku jadi pembaca, paling kesal kalau penulisnya menggantung ceritanya.


Meskipun akan ada naik turunnya, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menamatkan ceritaku ini. Biar bagaimanapun ini adalah cerita pertamaku, jadi aku harus lebih bekerja karas lagi, benar kan guys?

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komennya ya teman-teman. Semangat!


__ADS_2