
"Suami!" Alza terkejut seakan tidak percaya.
"Apa Tiara sudah memiliki suami?" tanya Alza memastikan berharap dia salah mendengar.
"Iya Bang ... apa Abang ingin tahu, suami kak Tiara juga namanya Alza dan asalnya juga dari Jakarta." jelas Ridho
"Alza ... Jakarta." entah kenapa Alza tiba-tiba membenci nama itu. Bunga yang baru saja mekar dihatinya tiba-tiba layu bagitu saja.
***
Kediaman Wijaya.
Mama Ike, Axel dan Om Indra saat ini sedang berdiskusi di ruang keluarga.
"Ini sudah hampir 1 minggu kita kehilanga Alza, apa kalian belum juga mendapat kabar tentangnya?" tanya Mama Ike.
"Belum ada Mbak, aku bahkan sudah mencari tahu ke semua kerabat dan tempat yang mungkin di datanginya, tapi semua tidak ada yang tahu keberadaaan Alza. Aku juga sangat dipusingkan dengan keadaan perusahann saat ini, saham perusahaan kita mengalami penurunan karena banyaknya media yang meliput hilangnya pimpinan perusahaan Wijaya grup." Jelas Om Indra.
"Media meliput, tahu dari mana media kalau kita kehilangan Alza?" tanya mama Ike.
"Aku juga tidak tahu Mbak , aku sudah berusaha menutupinya agar perusahaan tetap setabil. Tapi ada media yang memuat tentang hilangnya Alza dan sekarang beritanya sudah menyebar kemana-mana." ucap Om Indra sambil memijat pelepisnya , dia merasa sangat pusing saat ini.
Kehilangan keponakan yang paling dia sayangi merupakan pukulan besar baginya ditambah tanggung jawab perusahaan dilimpahkan kepadanya.
Axel memperhatikan mama Ike dan om Indra, dia suka keadaan ini. Ada senyum sinis diwajahnya. Rencananya berjalan dengan mulus, kalau keadaannya terus seperti ini maka dia bisa menguasai semuanya.
"Aku juga belum mendapat laporan dari polisi Ma, bagaimana kalau kita periksa kamar Alza dan juga ruang kerjanya siapa tahu Alza menyembunyikan sesuatu disana." ucap Axel pura-pura perduli keadaan Alza.
"Benar! kenapa tidak kepikiran dari kemarin, siapa tahu kita menemukan petunjuk tentang keberadaan Alza." ucap Mama Ike.
***
Saat ini Mama Ike, Axel dan Om Indra memeriksa ruang kerja Alza. Tidak ada petujuk apapun yang mereka temukan hanya dokumen-dokumen, buku-buku dan kebutuhan pekerjaan Alza lainnya. Om Indra memeriksa isi leptop Alza, tetapi tidak ada yang aneh , semua isinya tentang pekerjaan Alza.
Pencarian mereka berlanjut ke kamar utama rumah ini.
__ADS_1
Mama Ike sibuk memeriksa isi lemari Alza, om Indra memeriksa laci-laci sementara Axel pura-pura sibuk mencari didekat sofa. Mata Axel sekali-kali melirik ke arah om dan mamanya berharap salah satu dari mereka menemukan sesuatu yang disimpannya di kamar ini.
"Apa ini?" tanya Om Indra saat dia menemukan 2 buku kecil menyerupai buku nikah. Mama Ike dan Axel ikut melihat.
"Wahh ... bukannya ini buku nikah om?" tanya Axel pura-pura terkejut akhirnya mereka menemukannya juga. batin Axel.
"Iya, tapi buku nikah siapa?" ucap Im Indra sembari memeriksa isinya.
"Alza! ini buku nikah Alza, kapan dia menikah?" kaget Om Indra, dia benar-benar terkejut saat membaca nama yang tertera dalam buku nikah itu.
Mereka membaca dengan teliti dari atas sampai bawah semua jelas data yang tertulis adalah data sesuai dengan KTP Alza, hanya fotonya saja yang kurang jelas, tanda tangan jelas-jelas itu tanda tangan Alza.
Mereka memeriksa buku satunya.
"Siapa gadis ini? Mama tidak mengenalnya sama sekali, tapi kenapa Alza diam-diam menikah dengannya?" tanya Mama Ike masih tidak menyangka anak kasayangannya menikah tanpa memberitahunya.
"Axel juga tidak mengenalnya, sepertinya dia gadis dari kampung, aku yakin Alza menikahinya saat Alza melakukan perjalanan bisnis. Belum lama ini kan Alza kesana, kalau dilihat dari tanggal dan bulan pernikahannya sepertinya mereka menikah belum lama. Apa Alza takut mama tidak merestuinya makanya dia menikah diam-diam?" tanya Axel berpura-pura tidak mengetahuinya.
"Mama pasti akan merestuinya asalkan dia gadis yang baik dan tulus sayang sama Alza." Ucap mama Ike.
***
"Wah Bang Alza beli handphon juga boleh aku melihatnya?" pinta Ridho antusias saat melihat Alza mengeluarkan HP dari dalam saku celananya.
"Iya ada HP aku juga mau melihatnya," ucap Riski tidak kalah antusiasnya.
"Ni pakai saja!" ucap Alza terlihat tidak bersemangat.
"Makasih Bang Alza ganteng,"ucap Riski dan Ridho kompak.
Riski dan Ridho begitu bahagia hari ini. Mereka asik bermain handphon mencoba permainan dari handphon Alza sambil memakan buah. Kebahagiaan Riski dan Ridho sangat lengkap hari ini.
Sementara Alza menatap mereka dengan dengan pandangan yang sulit diartikan. Alza bahkan tidak berani menatap Tiara lagi. Bagaimana mungkin dia ingin memiliki istri orang lain. Rasa bahagia yang tercipta hari ini seakan meluap begitu saja tanpa sisa. Ingin rasanya Alza menghilang dari tempat ini seperti halnya dia tiba-tiba ada ditempat ini. Sudah cukup Tuhan pengalam baru yang Engkau berikan dalam mimpiku, sekarang saatnya Engkau membangunkanku. batin Alza. Alza berharap yang terjadi belakangan ini cuma mimpi, dia tidak ingin sakit hati lebih dalam lagi. Bagaimana nanti kalau suami Tiara datang, apa yang harus dilakukannya? *K*enapa dada ini terasa begitu sesak?
***
__ADS_1
Beberapa hari ini Tiara merasa Alza begitu berbeda dari biasanya, ada apa dengannya?
Kenapa aku merasa Bang Alza seperti menghindariku, dia bahkan tidak manatap mataku lagi saat berbicara dan berusaha selalu menghindariku, apa aku ada salah? perasaan saat kami di Medan semuanya baik-baik saja. batin Tiara.
Hari ini adalah hari minggu, hari yang ditunggu-tunggu untuk memancing. Dan juga hari terakhir bagi Alza menikmati tempat ini. Alza sudah memutuskan akan segera kembali ke Jakarta, dia sudah tidak memiliki tujuan ditempat ini. Dan sudah saatnya dia melanjutkan pekerjaannya. Pekerjaan yang mungkin saat ini sedang kacau karena ditinggalkan oleh pemiliknya.
Saat ini Tiara, Riski, Ridho dan Alza sudah di dekat Danau.
" Tempatnya sangat bagus ya? Apa di Danau ini kalian menemukannku?" Tanya Alza.
"Iya Bang, disitu tuh ... agak ketengahan, aku melihat Abang mengapung. mungkin karena memakai baju pengapung." Jelas Ridho.
"Cekre ... cekrek ... cekrek ...."
Alza mengambil foto bagian yang ditunjuk Ridho, juga foto di seputaran Danau siapa tahu dibutuhkan untuk penyelidikannya nanti. Pasti ada sesuatu yang tidak beres sehingga dia bisa sampai di tempat ini.
"Bang Alza tidak mengambil foto kami sebagai kenang-kenangan?" tanya Riski sedih.
Mereka sudah tahu kalau Alza akan pulang besok. Tepatnya tadi malam Alza sudah membicarakannya dengan keluarga Tiara. Riski dan Ridho bahkan menangis sambil bepelukan. Biar bagaimanapun Alza sudah seperti Abang mereka sendiri. Walau kebersamaan mereka cuma sebentar Alza sudah memberikan banyak kebahagiaan untuk keluarga ini.
"Apa kalian sangat ingin difoto, baiklah bergaya yang keren, Abang tidak mau saat melihat foto kalian nanti terlihat jelek-jelek semua." canda Alza.
Mereka foto banyak, Riski dan Ridho bergaya apa saja yang menurutnya keren. Alza juga sempat meminta foto berdua bersama Tiara walaupun rasanya sangat canggung, Alza ingin mengabadikan foto bersama cinta pertama sekaligus terlarangnya.
"Abang tidak ikut memancing ya, kalian saja! Abang ingin menikmati pemandangannya," pinta Alza begitu mereka selesai berfoto, dan ingin segera memancing.
"Baik lah Bang, terserah abang saja, kami mancing di sini ya, abang keliling saja siapa tahu abang bisa mengingat sesuatu." ucap Riski.
Alza berjalan di sekitaran Danau, tempat ini begitu asri dan sejuk, Alza cukup menikmati suasananya.
Alza duduk sambil memandang Danau yang begitu luas. Dari tempatnya duduk masih terlihat Tiara beserta Adik-adiknya . Walau mereka hidupnya sangat sederhana tapi mereka terlihat sangat bahagia seandainya aku bisa terus bersama mereka. batin Alza.
Dari kejauhan Alza terus memperhatikan Tiara dan adik-adiknya, entah kenapa berat sekali rasanya harus berpisah dengan mereka.
Bersambung ....
__ADS_1
Selalu setia menunggu vote, komen dan like kalian teman-teman.