Danau Cintaku

Danau Cintaku
Aku mencintaimu


__ADS_3

"Bang Axel ayo masuk!" ajak Tiara begitu melihat Axel membuka pintu kamarnya.


"Apa seperti itu caramu menyuruh suaminya masuk, kamu tidak ingin menyambutku dengan pelukan terlebih dahulu." ucap Axel menggoda Tiara.


"Oh iya lupa," ucap Tiara langsung bangun dari tidurannya dan memeluk Axel. "akhirnya kita bisa berduaan juga ya Bang." ucap Tiara di pelukan Axel.


"Iya, akhirnya kita bisa juga seperti ini, tanpa takut ketahuan. Aku sangat merindukanmu," ucap Axel.


"Aku juga, lagian salah Bang Axel juga sih, aku disuruh sandiwara segala. Aku capek tahu Bang harus sandiwara terus di depan Bang Alza." ngambek Tiara.


"Maafkan aku sayang, sebentar lagi kita akhiri semua sandiwara ini. Aku yakin dendamku sudah terbalaskan pada Alza." ucap Axel.


" Beneran ya, janji." ucap Tiara.


"Janji, sekarang saatnya kita melepaskan semua rindu dihati ini. Abang sudah tidak sabar," ucap Axel. Axel mendekatkan wajahnya pada Tiara, Tiara pun memejamkan matanya.


"Tiara tidak ...." Alza terbangun dari tidurnya. "aku mimpi lagi," gumam Alza.


Ada sedikit perasaan lega dihati Alza begitu terbangun dari tidurnya. Alza langsung memperhatikan sekitarnya, ini bukan kasur kamarnya, ini kasur di kantornya. Alza melirik jam, sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Alza buru-buru keluar dari kamarnya, dia harus pulang ke rumah sekarang juga untuk memastikan semuanya. Bagaimana kalau itu bukan mimpi tapi beneran nyata. Alza sudah siap menerima semua resikonya. Dia tidak ingin dibohongi terus seperti ini.


***


Satpam dirumahnya bingung begitu melihat Alza turun dari taxi, ditambah lagi ini tengah malam.


"Tuan Muda baru pulang?" tanya Pak Satpam.


"Iya Pak, aku langsung masuk ya." ucap Alza.


Alza langsung jalan cepat menuju kamarnya.


Alza sudah sampai di depan pintu kamarnya. Saat Alza ingin membuka pintu, pintunya dikunci. Pikiran Alza semakin kacau. Alza langsung mencari kunci cadangan.


Begitu menemukan kunci cadangan,dengan hati berdebar-debar Alza pelan-pelan membuka pintu kamarnya. Dia ingin memastikan apakah Axel sedang tidur disini bersama Tiara atau tidak.


Alza terkejut begitu pintu kamarnya terbuka, kasurnya begitu berantakan, bantal-bantal juga berjatuhan di lantai. Pikiran Alza jadi kemana-mana, terlebih lagi dia tidak mendapati Tiara di atas kasur. Alza melihat ke sekeliling kamarnya, tidak ada tanda-tanda adanya Tiara.


Ini sudah hampir jam 12 malam, tapi kemana Tiara? batin Alza penuh tanda tanya.


Hiks ... hiks ....


Alza mendengar seperti suara orang menangis dari kamar mandi. Alza langsung jalan cepat ke arah kamar mandi dan langsung membuka pintunya.


"TIARA!" panggil Alza begitu terkejut melihat keadaan Tiara saat ini. Tiara meringkuk di bawah shower, bajunya juga basah.


"Tiara, hei kamu kenapa? kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Alza begitu khawatir.


"Hiks ... hiks ... maafkan aku Bang Alza, hiks ... aku takut ... hiks ...." ucap Tiara sambil menangis.

__ADS_1


"Takut kenapa? kamu harus jelasin sama aku. Sekarang kamu harus ganti baju dulu, aku gak mau kamu sakit lagi." ucap Alza.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya sambil menghapus air matanya. Alza membantu Tiara berdiri.


Flasback on.


Tiara yang sedang gelisah diatas kasur, langsung terbangun begitu mendengar pintu dibuka.


"Bang A...xel," ucap Tiara kaget sekaligus takut.


"Kenapa, apa kamu merindukanku?" ucap Axel dan secepat kilat menghampiri Tiara di atas kasur.


"Bang Axel, apa yang Abang lakukan? lepas atau aku akan berteriak." ucap Tiara berusaha menahan Axel yang berada diatas tubuhnya.


" Teriak saja sekerasnya, tidak akan ada yang mendengar suaramu, sayang. Bukankah sudah aku bilang, saat Alza membuangmu aku siap menerimamu kembali. Sekarang Alza sudah membuangmu dia sudah tidak perduli padamu. Jadi kita bisa kembali bersama tanpa ada pengganggu lagi. Dan malam ini adalah milik kita, kita akan menikmati malam pertama kita disini. Kamu senang kan?" ucap Axel ingin mencium Tiara.


"Tidak lepaskan aku ... tolong ...." teriak Tiara.


" Sudah aku bilang tidak akan ada yang mendengar suaramu, percuma saja kamu teriak." ucap Axel.


"Tidak! lepas!" Tiara sekuat mungkin menahan Axel yang ingin menciumnya.


Plak! duk! ... akh ....


Terdengar suara tendangan Tiara, sekaligus suara kesakitan Axel. Secepat kilat Tiara menarik bantal dan memukuli Axel sekuat tenaganya.


Melihat ada pisau pemotong buah di meja, Tiara langsung berlari untuk mengambil pisau itu. Tiara menodongkan pisau itu ke lehernya sendiri.


Melihat wajah serius Tiara, untuk kali ini Axel mengalah, dia akhirnya keluar dari kamar Tiara.


Tiara langsung mengunci pintu begitu Axel keluar. Tiara jatuh merosot dan menangis di balik pintu.


Kerena takut ada yang mendengarnya menangis, Tiara masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower. Tiara menangis sekerasnya disana, Tiara melepaskan semua bebannya hari ini dibawah shower. Tiara berharap keesokan hari saat bangun tidur dia bisa mendapat sedikit kelegaan.


Flasback off.


Sementara menunggu Tiara mengganti bajunya di kamar mandi, Alza juga mengganti bajunya dengan baju tidur. Alza juga merapikan kasur mereka.


Alza duduk gelisah di atas kasurnya. Dia merasa sangat egois kali ini, hanya karena sibuk dengan ketakutannya sendiri, dia tidak bisa berpikir jernih. Mungkin benar apa yang Om Indra bilang, bisa saja ini semua ulah kakaknya, dan dia yang mengancam Tiara.


Seharusnya dari awal aku langsung menanyakan pada Tiara, bukannya malah bersikap pengecut seperti ini. batin Alza.


Begitu melihat Tiara keluar dari kamar mandi.


Alza menyuruh Tiara duduk di atas kasur bersama dengannya.


Alza memperhatikan wajah Tiara yang sedikit pucat juga matanya yang lumayan bengkak.


"Sekarang bisa kamu jelaskan kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Alza sambil mengusap mata Tiara yang membengkak.

__ADS_1


Tiara mengumpulkan semua keberaniannya.


" Ini semua karena Bang Axel, Bang. Aku ingin jujur sekarang. Sebenarnya aku sudah kenal Bang Axel, sebelum aku kenal Bang Alza. Bang Axel adalah laki-laki yang menikah denganku di KUA." ucap Tiara takut-takut melihat kearah Alza. Alza hanya diam saja dan terus menatapnya.


"Saat bertemu lagi disini, dia mengancamku. Abang ingat kan, waktu aku ke kamar mandi waktu itu. Dia mengancamku akan membunuh keluargaku, jika aku dan keluargaku berani mengatakan kalau kita kenal sebelumnya." ucap Tiara. Tiara juga menceritakan semua ancaman Axel padanya.


"Lalu kenapa kamu tidak berusaha mengatakannya padaku. Kamu tahu, hari ini saat aku mengetahui laki-laki yang menikah denganmu adalah Kak Axel. Hatiku sangat sakit Tiara, kalian dua orang yang aku sayang begitu teganya menusukku dari belakang seperti ini." ucap Alza.


" Maafkan aku Bang, tidak ada niatku sedikitpun untuk menyakiti dan membohongi Bang Alza seperti ini. Hanya saja aku memang terlalu takut untuk mengatakannya." ucap Tiara.


Tiara melihat Alza diam saja. Tiara cukup tahu diri, memang sudah sepantasnya Alza marah pada.


Tiara bangun dari duduknya.


"Mau kemana kamu?" tanya Alza dan langsung menahan tangan Tiara.


"Aku mau Tidur di kamar Kak Ana saja, aku merasa tidak pantas tidur di kamar ini." ucap Tiara lirih.


" Lalu kamu ingin pergi begitu saja?" tanya Alza.


" Lalu aku harus bagaimana Bang Alza? aku bahkan tidak tahu harus berbuat apalagi. Bang Alza juga sangat marah padaku." ucap Tiara menahan Tangisnya, dia begitu lelah dengan semua yang terjadi hari ini.


"Kamu tidak ingin tahu kenapa aku marah padamu?" tanya Alza.


"Tanpa ditanya pun, aku sudah sangat tahu jawabannya, dan sudah sangat sewajarnya Bang Alza marah padaku. Sudah jelas semua salahku, aku yang tidak berani jujur pada Bang Alza," ucap Tiara.


"Kamu salah Tiara, aku marah karena aku begitu takut kehilanganmu. Aku sangat mencintamu, aku takut kamu akan meninggalkanku dan pergi bersama dengan Kak Axel." ucap Alza.


"Bang Alza mencintaiku?" tanya Tiara seakan tidak percaya.


"Iya, aku sangat mencintaimu, dari saat kita masih di kampung." jelas Alza.


Tiara begitu bahagia mendengarnya, ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tiara tanpa sadar langsung memeluk erat Alza karena bahagianya.


"Aku juga sangat mencintai Bang Alza, aku tidak ingin jauh dari Bang Alza. Karena itulah aku tidak berani jujur selama ini, aku sangat takut bang Alza salah paham, dan marah padaku." ucap Tiara sambil menangis bahagia.


"Benarkah kamu juga mencintaiku, kamu tidak bohong kan?" tanya Alza mastikan. Alza sangat bahagia mendengarnya.


Tiara melepas pelukannya dan menatap Alza dalam.


" Tidak Bang, aku juga sangat mencintai Bang Alza," ucapTiara depan wajah Alza.


"Aku juga sangat mencintaimu," ucap Alza begitu bahagia dan langsung menempelkan bibirnya dengan bibir Tiara. Alza mencium Tiara dalam, menyalurkan semua rasa cintanya pada Tiara, lewat ciumannya. Tiara memejamkan matanya menikmati ciuman Alza.


Alza melepas tautan bibirnya dan menatap Tiara dalam, terlihat jelas senyum bahagia di wajahnya. Tiara tersenyum malu-malu membalas senyum Alza, ini adalah ciumannya. Perasaan Tiara sungguh meledak-ledak rasanya, seperti ini kah rasanya dicium orang yang kita cintai. Sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Alza kemudian menarik Tiara ke dalam pelukannya. Jantung Alza berdebar-debar begitu pun dengan Tiara.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa Vote, like dan komennya teman-teman.


__ADS_2