
"Bang sudah jam setengah sepuluh, Bang Alza mau ikut makan atau kita langsung ke tempat foto prewednya?" tanya Tiara begitu mereka sampai di rumah.
" Kita langsung kesana saja deh sayang, takutnya fotografernya, kelamaan menunggu." ucap Alza.
"Ya sudah biar aku suruh Riski mungurus makanannya ya," ucap Tiara.
"Yuk Bang Alza kita berangkat," ucap Tiara begitu urusannya selesai.
"Ma kami berangkat dulu ya, nanti kalian menyusul saja begitu selesai makan." ucap Tiara.
"Iya, hati-hati ya kalian." ucap Mama Ike.
***
Alza dan Tiara sudah berada di Sapo Juma, tempat mereka melakukan foto prewed.
Tiara sudah selesai di make up, make up alami saja.
Untuk kali ini mereka menggunakan baju tema putih dan santai.
Fotografer sudah bersiap mengambil foto mereka.
Tiara dan Alza juga sudah bersiap. Alza membawa Tiara mendekat padanya.
"Abang dan kakaknya jangan terlalu kaku ya, senyum manisnya mana? kita mulai ya 1 2 3, ok. Bagus sekali, senyumnya sangat manis. Coba gaya yang lain ya, okay ... Bagus ... mantap ... gantengnya ... cantiknya .... Abangnya ganteng sekali ya, Abangnya nanti gantengnya dihotspot sama aku ya." ucap Fotografer sambil mengarahkan Tiara dan Alza, sekaligus memfoto mereka.
Alza dan Tiara saling menatap mendengar fotografernya, kemudian mereka tertawa bersama.
Banyak foto Alza dan Tiara yang diambil di Sapo Juma ini. Dari yang awalnya terlihat kaku lama-lama terlihat santai. Bahkan sering terdengar suara tawa dari mereka.
(Maafkan editanku yang banyak kurangnya, masih belajar mengedit guys)
Tiara melihat salah satunya foto mereka, diantara bunga-bunga dan gunung sipiso-piso. Tiara benar-benar merasa ini seperti mimpi. Mereka benar-benar terlihat serasi di foto.
Fotografernya juga ternyata asik orangnya, pintar membawa suasana, sehingga tidak ada kecanggungan diantara mereka. Padahal baru kenal tapi sudah seperti teman lama.
"Bang Ginting aku mau di foto sendiri dong di tengah-tengah bunga." pinta Tiara pada fotografernya.
"Jangan Kak, Bunganya bisa layu nanti karena minder sama kecantikkan Kakak." ucap Ginting bercanda.
"Ih Bang Ginting ini, ya sudah aku foto sama Bang Alza lagi saja, tapi gayanya yang santai saja ya Bang." ucap Tiara.
"Siap Kakak cantik, apa sih yang enggak buat Kakak cantik dan Abang gantengnya." ucap Ginting.
Dia kembali memfoto Alza dan Tiara. Setelah selesai dia membereskan kameranya dan akan melanjutkan foto di tempat lain.
"Senang banget kayaknya dibilang cantik terus sama fotografernya," ucap Alza yang melihat Tiara tersenyum.
"Bang Alza sok tau ih," ucap Tiara.
" Trus kenapa senyum terus dari tadi seperti itu? senyumnya lebar banget lagi." ucap Alza.
Tiara mengalungkan tangannya di leher Alza dan menatap Alza dalam.
"Aku tersenyum terus, karena aku sangat bahagia hari ini. Dan ini karena, aku bisa bersama dengan Bang Alza terus seperti ini. Aku benar-benar bahagia Bang, Makasih gantengku ...." ucap Tiara tersenyum manis.
Alza melongo mendengarnya, ini karena fotografernya nih, dari tadi Alza di panggil Ganteng terus.
"Dasar, pintar ngegombal sekarang, kamu selamat hari ini karena kita di tempat umum. Lihat saja nanti kalau sudah sah. Ayo kita siap-siap pindah tempat." ucap Alza di telinga Tiara.
"Siap gantengku haha ..." ucap Tiara merasa lucu sendiri. Benar-benar ketularan si Ginting ini Tiara.
***
Hanya butuh 5 menit perjalanan menggunakan mobil, mereka sudah sampai di Air terjun sipiso-piso.
__ADS_1
Sementara menunggu fotografer dan timnya yang sedang istirahat, karena mereka baru selesai makan siang. Alza mengajak Tiara menikmati pemandangan.
Alza menatap kagum pada air terjun dari tempatnya berdiri, juga sesekali memandang ke arah Danau Toba.
"Sayang aku baru tahu kalau dekat kampung kamu pemandangannya sangat bagus-bagus, kenapa saat aku dulu disini, kamu tidak pernah membawaku ke sini?" ucap Alza sambil memeluk Tiara dari belakang.
Di tempat meraka menikmati pemandangan tidak banyak orang, karena memang bukan hari libur, jadi pengunjungnya lumayan sepi. Dan Alza tidak ingin melewatkan kesempatan ini, untuk bisa bermesraan dengan Tiara, sembari menikmati pemandangan yang indah. Lengkap rasanya kebahagiaan Alza saat ini.
"Salah Bang Alza sendiri pakai acara menjauh waktu itu. Oh iya aku masih penasaran kenapa Bang Alza tiba-tiba menjadi pendiam saat itu? Dan saat aku ajak bicara pun bang Alza tidak mau menatapku, padahal saat kita ke Medan semuanya baik-baik saja." tanya Tiara.
"Itu karena kamu membuatuku patah hati," jawab Alza.
"Patah hati kenapa?" bingung Tiara.
"Patah hati saat tahu kamu sudah menikah waktu itu." jawab Alza.
"Ya ampun, berarti Bang Alza sudah mencintaiku dari saat itu?" tanya Tiara seakan tidak percaya.
"Iya, kamu perempuan pertama yang berhasil menarik semua perhatianku." ucap Alza.
"Benarkah, berararti sebelum kenal aku, Bang Alza tidak pernah sedekat ini dengan perempuan lain?" tanya Tiara.
"Enggak, karena aku memang sangat menjaga jarak dengan perempuan diluar sana, kerena pernah satu kejadian yang membuatku sedikit trauma." ucap Alza.
" Trauma gimana?" tanya Tiara penasaran.
"Saat aku SMA dan Kak Axel sudah kuliah, ada teman kuliahnya seorang perempuan yang suka diajak main ke rumah. Karena seringnya main kerumah, semua orang di rumah kami sudah sangat dekat dengannya, bahkan kami sudah mengangapnya seperti keluarga sendiri. Dia sangat perhatian padaku dan juga banyak membantuku di bidang pelajaran. Namun suatu hari, aku begitu terkejut saat dia mengutarakan cintanya padaku,"
"Trus bang Alza langsung menerimanya," potong Tiara merasa cemburu ada yang sangat perhatian dan mencintai Alza selain dirinya.
"Dengarkan aku dulu sayang, kamu ini emah ..." ucap Alza gemas, mencium kuat pipi Tiara dan mengeratkan pelukannya.
"Iya, iya lanjutkan ceritanya." ucap Tiara tidak sabar.
"Saat dia mengutarakan cintanya padaku, Kak Axel tiba-tiba datang langsung menghajarku dan menuduhku penghianat. Dia benar-benar marah saat itu. Hingga akhirnya aku tahu kalau Kak Axel sangat mencintai perempuan itu. Padahal aku tidak ada sedikit pun perasaan pada perempuan itu, aku justru merasa perhatiannya, hanya sebatas perhatian kakak pada adiknya, itu saja." jelas Alza
"Setelah kejadian itu dia menghilang. Sementara aku dan Kak axel hampir 1 tahun tidak bertegur sapa. Hingga akhirnya, saat aku kuliah di luar negeri, baru lah hubunganku dan Kak Axel berlahan-lahan membaik. Namun sejak saat itu aku selalu menjaga jarak dengan perempuan. Aku selalu berpikir setiap mereka mau dekat denganku hanya karena maksud tertentu saja. Bukan benar-benar tulus padaku. Terlebih lagi saat mereka tahu siapa aku, aku selalu berpikir, mereka mendekatiku karena uangku." jelas Alza.
Alza kemudian melepas pelukannya dan menggenggam tangan Tiara.
"Tapi saat aku mengenalmu, aku benar-benar merasa rancangan Tuhan itu memang terbaik buatku. Dia mempertemukanku denganmu yang benar-benar tulus padaku, terima kasih sayang." ucap Alza.
"Sama-sama," ucap Tiara.
"Tiara ... Tiara ... hai, kamu beneran Tiara kan?" panggil seseorang mendekat ke arah Tiara dan Alza.
Tiara dan Alza langsung menoleh begitu mendengar ada yang memanggil nama Tiara.
"Bang Nangin ... Bang Nangin kangen aku." teriak Tiara tanpa sadar, Tiara langsung melepas genggaman tangan Alza dan mendekat ke orang itu.
Mereka kemudian berjabat tangan erat. Terlihat binar bahagia di wajah Tiara, saat melihat orang itu. Dan Alza tidak suka melihat binar bahagia itu.
"Abang juga, Abang gak menyangka kita bertemu disini, bagaimana kabarmu? makin cantik kali pun kau kulihat, langsung naksir pulak aku. Aku hampir tidak mengenalimu lagi, karena cantiknya." ucap orang itu, seperti biasa kalau bicara dengan Tiara.
Cantik? Naksir? siapa orang ini? dia tidak tahu apa kalau Tiara itu sudah Mau menikah, berani-beraninya dia. Batin Alza merasa kesal.
Alza memperhatikan orang itu, masih muda, juga lumayan tampan. Tapi masiih jauh lebih tampan Alza, menurut Alza.
" Bang Nangin ih, bicaranya selalu begitu. Baik Bang, sangat baik, Bang Nangin sendiri apa kabar? ada acara apa Abang pulang ke sini?" tanya Tiara. Tiara sangat tahu seperti orang ini.
"Ada acara nikahan saudara dek, aku dengar kamu juga sudah pindah ke Jakarta ya? Main lah ke tempat Abang, kenalan sama kakakmu. Kamu sendiri acara apa pulang kesini?" tanya orang itu.
"Mau zarah ke makam Ibu Bang, sekalian mau prewed." ucap Tiara.
"Bagus itu, prewed di kampung biar kampungnya bisa dikenang terus." ucap Orang itu.
__ADS_1
"Iya Bang, Oh iya kenalkan ... lho Bang Alza dimana?" bingung Tiara saat tidak mendapati Alza di tempatnya semula.
Tiara langsung melihat ke sekelilingnya mencari Alza.
Sementara Alza yang merasa gerah hati,pergi mengobrol dengan fotografer mereka.
"Bang Alza!" panggil Tiara saat sudah melihat Alza.
Alza pura-pura tidak mendengarnya, dan terus melanjutkan pembicaraannya dengan fotografernya.
"Bang Alza dipanggil juga," ucap Tiara jalan mendekat ke arah Alza bersama orang itu.
"Apa? aku lagi sibuk ini," ucap Alza kesal.
Tiara heran mendengar nada suara alza, tidak biasanya dia bersikap cuek begini pada orang lain.
Padahal kan Tiara ingin mengenalkan Bang Nangin padanya. Bang Nangin ini impal/pariban Tiara. Dia juga tinggal di Jakata. Tiara juga berharap Bang Nangin bisa membantu acara pernikahan mereka, karena dia sudah menikah. Paling tidak dia bisa datang sebagai tamu dari keluarga perempuan.
"Ya sudah Tiara, Abang pergi dulu ya, kalian pasti masih sibuk." ucap Bang Nangin, yang langsung mengerti kemauan Alza.
"Iya, oh iya Bang Nangin aku bisa minta no HPnya?" tanya Tiara.
Mendengar ucapan Tiara, Alza semakin kesal, Alza mengepalkan kuat tangannya.
Maksud Tiara apa sih, pakai minta nomor HP segala, dia ingin merusak acara foto prewed hari ini? batin Alza marah.
Bang Nangin yang melihat muka marah alza, merasa lucu.
"No HP ya bisa-bisa, apa sih yang tidak bisa, untuk adik cantik ku ini. Nih kartu nama Abang, disitu ada tertulis no HPnya." ucap Nangin.
Tiara langsung menerima kartu nama itu dan membacanya.
"UD NANGIN, mantap Bang Nangin memang juara. Nanti aku hubungi ya. Ya sudah aku aku mau siap-siap dulu Bang, mau lanjut foto lagi, dah Bang Nangin." ucap Tiara.
"Dah adik cantikku, yang semakin cantik, sampai berjumpa lagi." ucapnya sengaja memancing Alza.
Alza benar-benar menahan amarahnya kali ini. Jelas-jelas ada dirinya disini, tapi Tiara begitu akrabnya dengan laki-laki itu. Adik cantikku, semakin cantik, apa maksudnya semua itu? batin Alza semakin marah.
Bang Nangin pergi sambil tersenyum manis. Ada-ada saja calon suaminya Tiara. Bertemu dengan saudara calon istinya, bukannya disapa dengan ramah malah dijutekin begitu.
Alza yang melihat Tiara masih tersenyum manis, semakin kesal dan marah.
Saat berganti baju dan rambutnya kembali di rapikan, Alza diam terus. Tidak ada senyum sama sekali. Perias mereka sampai heran melihatnya. Ada apa dengan calon pengantin laki-laki ini pikirnya.
Sementara Tiara terlihat biasa saja, hanya saja dia sedikit ribet dengan gaunnya. Karena tema baju prewed mereka kali ini sedikit formal. Tiara dengan gaunnya dan alza dengan setelan baju jasnya.
Ginting sudah siap mengambil foto mereka dengan pemandangan Air terjun sipiso-piso.
"Bang senyum sedikit ya, seperti kakaknya, Bang ... Bang Alza ... Bang Alza ganteng ...." ucap Ginting sambil garuk-garuk kepala, melihat Alza yang diam saja seperti patung.
Apa calon pengantin prianya kemasukuan ruh penunggu air terjun ini, kenapa sikapnya tiba-tiba berubah begitu? batin Ginting merasa bingung.
"Bang Alza senyum dong, jangan diam terus. Bang Alza merasa kurang nyaman dengan bajunya atau bagaimana?" tanya Tiara merasa bingung dengan perubahan sikap Alza.
"Malas," ucap Alza cuek.
Bagaimana ini? haruskah kami foto prewednya diam-diam saja seperti ini. Bang Alza kenapa sih? batin Tiara benar-benar bingung.
Tiara melihat ke arah Ginting, "Bang Ginting gimana ini?" tanya Tiara tanpa suara.
Bang Ginting hanya mengangkat bahunya pertanda tidak mengerti.
Tiara kembali melihat Alza, Alza masih tidak bergeming, hanya diam seperti patung, mukanya juga terlihat datar saja.
Tiara benar-benar bingung, haruskah foto prewednya dilanjutkan, tapi diam-diaman seperti ini atau di hentikan saja.
Bersambung ....
__ADS_1
Catatan: Ginting dan nangin itu nama marga orang Karo ya guys.
Jangan lupa vote, vote, vote, like dan komenya ya teman-temanku yang baik hati.