Danau Cintaku

Danau Cintaku
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Semua penghuni kediaman Wijaya sedang makan-makan enak di taman belakang, kecuali Pak Satpam yang sedang jaga, juga Axel. Axel belum terlihat pulang ke rumah, begitu lukanya selesai diobati dia langsung pergi, dan tidak pulang-pulang sampai sekarang.


"Ma, Pak Danu, ada yang ingin aku bicarakan." ucap Alza begitu mereka sudah selesai makan dan sekarang sedang duduk santai di gajebo.


"Mau membicarakan apa?" tanya Mama Ike.


"Jadi aku dan Tiara ingin segera menikah ulang kembali, dan kami ingin mengadakan resepsi, apa kalian menyetujuinya?" ucap Alza.


"Kalau Mama sih sangat setuju, kalian harus mengadakan resepsi besar-besaran." ucap Mama Ike antusias.


"Bapak juga sangat setuju Nak Alza," ucap Pak Danu menahan haru. Akhirnya putrinya akan jelas juga setatusnya di keluarga ini. Jadi dia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana nasib putrinya nantinya. Dan dia juga sudah sangat mempercayakan Tiara pada Alza.


"Baiklah karena Mama dan Pak Danu sudah setuju, mulai besok kami akan mulai mengurusnya. Tentunya kami juga berharap Mama dan Pak Danu ikut membantu." ucap Alza.


" Bang Alza tidak tanya pendapat kami?" tanya Riski yang merasa tidak dianggap dari tadi.


"Kalau masih kecil tidak usah ikut campur urusan orang dewasa." jawab Alza.


"Ya ampun Ki, kita masih kecil katanya, sakitnya hati ini. Kak Tiara tidak menganggap kami anak kecil kan?" ucap Ridho lebay.


"Enggak kok, kalian sudah dewasa sekarang. Jadi sekarang kalian sudah bisa masuk kamar sana, belajar dulu yang benar." ucap Tiara.


"Kita memang benar-benar tidak dibutuhkan disini Dho, ya sudah kita masuk kamar saja yuk!" ucap Riski pura-pura sedih.


"Ok lah, kami akan pergi ke kamar sekarang. Kami ke kamar dulu ya semua, kalau sudah memerlukan bantuan kami, jangan malu-malu ya memintanya." ucap Ridho.


"Oh iya untuk pernikahannya nanti, kalian ingin di buat konsepnya seperti apa? apa kalian ingin secara adat jawa? Tiara juga masih ada keturunan jawanya kan ya, walaupun ada darah bataknya?" tanya Mama Ike, begitu Riski dan Ridho sudah pergi.


"Pernikahan seperti pada umumnya saja lah ,Ma. Lagian orang-orang juga tahunya ini pernikahan ulang khan. Tapi menurut Bapak baiknya seperti apa, apa Bapak ingin ada unsur bataknya?" tanya Alza.


"Kalau Bapak sih terserah kalian saja. Bapak juga campuran Sunda, Jawa, gak mengerti adat Batak. Hanya saja di kalau di kampung kami, biasanya kalau ada yang nikah jika ingin danggap sah masuk ke keluarga tersebut harus membayar utang adat." ucap Pak Danu.


"Utang adat gimana maksudnya pak?" tanya Alza.


" Sejenis mahar gitu, yang harus dibayar oleh pihak laki-laki ke pihak perempuan. Dan uangnya itu akan di bagikan ke keluarga si perempuan, masing-masing akan mendapat bagiannya. Biasanya proses pernikahan disana, begitu selesai akad bagi yang islam, atau pemberkatan bagi yang kristen, mereka kan melakukan proses bayar utang adat dulu, baru bisa mengadakan pesta adat atau resepsi." jelas Pak Danu.


"Lalu Bapak dulu perosesnya seperti apa?" tanya Alza.


"Bapak dulu menikahnya di KUA di Bogor, kami tidak ada resepsi. Tapi begitu pulang kampung Neneknya Tiara, memita kami melakukan Bayar utang adat. Sebenarnya proses bayar uang adat itu cuma sebentar kok paling satu jam, utang(mahar) juga tidak sampai 1 juta rupiah. Dan Prosesnya juga gak harus mengundang banyak orang, 10 orang juga bisa, yang penting sudah mewakili bagiannya masing-masih." Jelas Pak Danu.


"Kalau begitu kita lakukan saja bayar utang adatnya. Biar bagaimanapun Tiara kan dibesarkan disana, anggap ini sebagai ucapan terima kasih. Juga agar Tiara tetap dianggap orang kampung sana." ucap Alza.


"Tapi kan Bang, keluargaku ada di kampung semua dan itu jauh." ucap Tiara.


"Benar juga sih ya, ribet juga ternyata." ucap Alza.


" Sebenarnya kalau untuk Tiara sendiri gak di lakukan juga gak apa-apa, kerena marga aslinya juga tidak ada kan. Kecuali marga yang yang diberi orang tua angkat Bapak. Terlebih lagi dia nikahnya dengan Nak Alza, jadi sah deh jadi orang Jawa nanti. Hanya saja dulu, karena Ibunya Tiara anak tunggal, jadi neneknya Tiara ingin kami melakukan utang adat, terlebih kami sudah tinggal di kampung kan. Paling enggak saat ada saudara yang nikah, kami tahu masuk bagian mana, entah itu Kalimbubu, Sembuyak atau Anak Beru. Karena kalau tidak tau bagiannya apa, kita akan terlihat seperti orang asing." jelas Pak Danu.


"Wah, namanya unik ya Pak," ucap Alza.


"Iya dan masing-masing itu ada tugasnya, yang paling dihormati ya Kalimbubu dan yang paling capek ya Anak Beru. Karena tugas Anak Beru itu memasak, juga melayani apapun keperluan Kalimbubu." jelas Pak Danu.

__ADS_1


"Ribet, tapi seru juga sih kayaknya Pak, nanti saya akan lihat di YouTube seperti apa jelasnya. Karena hari sudah sangat malam sebaiknya kita tidur dulu, besok dilanjutkan lagi pembahasannya." ucap Alza.


Pembahasan tentang pernikahan pun dihentikan untuk sementara.


***


Pagi ini penghuni kediaman Wijaya kembali dengan kesibukan masing-masing.


"Ana apa Axel belum pulang juga?" tanya Mama Ike.


"Belum Nyonya Besar, Tuan Muda Axel belum ada pulang dari kemarin." jawab Ana.


"Ya sudah, kamu lanjutkan kerjanya." ucap Mama Ike.


Mama ike kemudian mengambil HPnya menghubungi Axel, tapi HPnya belum aktif juga.


"Kamu kemana sih Nak, kenapa kamu sering sekali seperti ini? Kapan kamu bisa berpikir dewasanya? Jangan terlalu egois." Gumam Mama Ike.


Mama Ike melihat foto masa kecil Alza dan Axel, yang terlihat kompak dan mereka tertawa bersama. Sudah sangat lama mereka tidak pernah terlihat seperti ini, tertawa dan bercanda bersama.


Dari kecil memang mereka sering berkelahi karena memperebutkan sesuatu. Mungkin karena usia yang hanya beda 2 tahun dan sama-sama anak laki-laki. Apapun milik Alza, Axel selalu menginginkannya.


Masih jelas diingatan Mama Ike, saat Alza mendapat juara 1 di sekolahnya, dan Papa Andy membelikannya mainan rumah-rumahan.



Dan Axel yang melihat Alza begitu senang dengan mainan barunya, Axel langsung merebutnya. Awalnya Alza kekeh mempertahankan mainannya, tapi Axel akhirnya malah menghancurkan mainannya. Sejak saat itu Alza berusaha mengalah, jika Axel menginginkan milikknya, Alza akan memberikannya.


Dan saat ini, Mama Ike juga merasa, mereka juga meperebutkan Tiara. Dan terlihat jelas sekali Alza tidak mau mengalah untuk kali ini. Kalau ini benar adanya, Mama ike semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Axel. Harus seperti apa dia mengatakannya pada Axel. Tiara itu bukan mainan yang bisa mereka perebutkan seenaknya.


***


Malam hari tiba, Alza dan Tiara seperti biasa sedang bercerita di atas kasur.


Mereka sedang tiduran, dan Alza membawa Tiara bersandar padanya.


"Sayang kamu ingin kita melakukan prewedding dimana, apa ada tempat yang ingin kamu datangi, atau tempat yang menjadi impian kamu?" tanya Alza.


"Memangnya untuk konsep pernikahan kita Bang Alza sudah tahu ingin seperti apa?" tanya Tiara.


"Aku sudah memutuskannya utuk menyerahkannya pada WO saja, jika kita ingin ada acara tambahan kita bisa membicarakannya nanti." jawab Alza.


" Ribet juga ya Bang," ucap Tiara.


" Ya bisa juga sih gak ribet, kita tinggal ke KUA juga langsung sah, seperti pernikahan palsu kamu dulu." ucap Alza.


"Benar juga, tapi aku juga ingin seperti orang-orang kebanyakan Bang. Bisa merasakan menjadi raja dan ratu sehari. Dan juga indahnya kebersamaan, karena hanya saat di pernikahan kan, kita bisa berkumpul dengan semua saudara kita." ucap Tiara.


"Sama aku juga, terlebih menikah dengan orang yang sangat dicintai, pastilah ingin benar-benar merasakan menjadi raja dan ratu sehari. Maka dari itu aku ingin saat penikahan kita nanti benar-benar seperti keinginan kita. Sekarang kamu sudah tahu ingin prewed di mana?" tanya Alza.


Tiara terlihat berpikir, Tiara mengangkat kepalanya dan menatap Alza. Tiara ragu untuk mengatakan keinginannya, dia takut Alza tidak akan menyetujuinya.

__ADS_1


"Kenapa, bilang saja." ucap Alza meyakinkan Tiara.


"Sebenarnya ... sebenarnya aku ingin prewed di kampung saja Bang Alza, aku juga ingin zarah ke makam Ibu. Dan aku juga ingin sekali mengenalkan Bang Alza pada ibuku." ucap Tiara dan langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alza.


"Hei sayang lihat aku," Alza kemudian menggeser kepala Tiara agar melihat kepadanya, dan Alza menatap mata Tiara. "Kamu beneran ingin pulang kampung?" tanya Alza.


Tiara mengagukkan kepalanya.


"Baiklah kita akan pulang ke kampung dan zarah ke makam Ibu. Tapi kamu beneran, ingin kita melakukan prewed di sana? kita bisa prewed di tempat-tempat yang lebih bagus dan indah." jelas Alza.


"Jadi kita akan pulang ke kampungku, makasih Bang Alza makasih, Bang Alza memang yang terbaik." ucap Tiara begitu senang dan memeluk erat Alza.


Alza masih sedikit ragu untuk prewed di kampung. Haruskah dia mengalah untuk kali ini. Biar bagaimanapun Alza juga kan, ingin prewed di tempat yang diinginkannya.


"Sudah dong pelukannya, sesenang itu ya bisa pulang kampung?" tanya Alza.


"Iya Bang, hehe. Dan untuk prewednya aku tahu mungkin tempatnya tidak seperti keinginan Bang Alza. Hanya saja aku ingin kampungku, bisa selalu aku kenang. Bukahkah tujuan prewed itu, untuk menciptakan momen manis dan yang akan menjadi kenangan manis. Jadi begitu melihat foto prewed kita, aku juga akan selalu melihat kampungku. Anggap saja itu sebagai pengganti ibuku." Jelas Tiara.


Alza melongo mendengarnya, " Hey kamu belajar darimana kata-kata seperti itu?" tanya Alza.


"Dari hati," ucap Tiara mantap


"Haha ...ya ampun gemasnya aku cup ... cup ... cup ..." Alza menciumi gemas wajah Tiara. Keraguannya sirna seketika begitu mendengar penjelasan Tiara.


***


Siang ini Tiara dan Mama Ike kembali melakukan perawatan.


"Tiara kalian sudah menentukan konsep pernikahan kalian?" tanya Mama Ike.


" Kata Bang Alza sih biar WO saja yang mengurusnya Ma." ucap Tiara.


"Kalau untuk waktunya apa kalian sudah menentukannya?" tanya Mama Ike.


"Belum juga Ma," jawab Tiara.


"Kalian ini bagaimana sc, ingin cepat-cepat menikah tapi belum ada persiapan apa-apa. Mama bahkan belum menjaitkan seragam, karena belum tahu konsep pernikahan kalian seperti apa." gemas Mama Ike.


"Mungkin setelah pulang kampung nanti, kami akan menentukannya ma. Kami akan prewed di kampung. Semalam kami baru membicarakan tema prewed kami." ucap Tiara.


"Kalian ingin prewed di kampung, Mama ikut ya, mama janji tidak akan mengganggu acara prewed kalian. Mama hanya ingin tahu seperti apa kampung menantu Mama." pinta Mama Ike.


Tiara bingung harus menjawab apa. Bagaimana nanti reaksi Mama Ike, jika melihat rumahnya di kampung. Membayangkannya saja Tiara tidak berani.


"Mama tanyakan Bang Alza saja ya," final Tiara.


Bersambung ....


Semoga ini cepat upnya guys, kemarin seharian masih juga direview.


Sebelum Sah, kita jalan-jalan ke daerah sekitar kampung Tiara dulu ya guys. Biar jangan cepat-cepat tamatnya, makanya proses nikahnya sedikit diperlambat.

__ADS_1


Sekaligus pengobat rindu untuk penulisnya, karena udah 1 tahun gak pulang kampung.


Jangan lupa Vote, like, dan komennya ya teman-teman. Terima kasih.


__ADS_2