Danau Cintaku

Danau Cintaku
Undangan pernikahan


__ADS_3

Setelah menghantar keluarganya, Alza kemudian mengajak Tiara untuk mencari hotel terdekat di kota Medan.


"Bang Alza lagi ngapain? sirus banget kayaknya," tanya Tiara saat melihat Alza mengerjakan sesuatu meja sofa kamar hotel mereka.


"Ini sedang menulis undangan pernikahan kita. Sayang sini deh, kamu ingin desain untuk undangan kita seperti apa?" tanya Alza.


Tiara mendekat ke arah Alza, dan melihat apa yang ditunjukkan Alza di HPnya.


"Ini Bagus, ini juga, ini juga, yang mana sajalah terserah Bang Alza, aku suka semua. Oh iya memangnya udangannya sudah mau di cetak saja ya Bang. Kita bukannya harus mengurus yang lainnya dulu?" tanya Tiara.


"Tanggalnya sudah ditentukan sayang, mau menunggu apa lagi?" tanya Alza.


"Semisal, seperti gedung pernikahan gitu, bukannya kita harus menentukan tempatnya dulu?" tanya Tiara.


"Itu sudah beres semua terkhusus untuk gedung. Untuk catetring mungkin kamu dan Mama yang akan mengurusnya. Lagian gedung pernikahan kita akan di adakan di ballrom hotel Wijaya sendiri. Dan untuk yang lainnya mungkin aku akan mengadakan miting dengan beberapa karyawanku. Sekarang kamu pilih dulu mau yang mana undangannya, supaya langsung aku kirim ke Ryan supaya langsung di cetak." jelas Alza.


"Yang mana sajalah terserah Bang Alza aku ngikut saja," ucap Tiara.


"Ya sudah, aku pilih yang ini ya. Kalau untuk dekorasi hotelnya kamu suka yang mana? agar aku langsung menghubungi pihak WOnya." ucap Alza.


Tiara memperhatikan gambar yang di tunjukkan Alza dengan serius.


"Yang mana sajalah Bang, terserah Bang Alza, aku ngikut saja." ucap Tiara.


Alza melongo mendengarnya. "Hey, kamu serius gak sih menikah sama aku, suruh milih yang ini ngikut aja, yang itu juga ngikut saja, seperti orang pasrah saja tidak ada kemauan dan semangat sama sekali. Apa hanya aku yang begitu menginginkan pernikahan ini?" ucap Alza sedikit kesal, dia sudah sangat semangat tapi respon Tiara malah seperti itu.


"Bukan begitu Bang Alza, aku juga sangat menginginkan pernikahan ini. Tapi semua gambar yang Bang Alza tunjukkan, aku suka semua, yang mana saja sama saja menurutku bagus semua. Yang penting bagiku, aku dan Bang Alza yang menjadi Raja dan Ratu seharinya. Bang Alza jangan marah ya, karena aku tidak mengerti sama sekali, tentang konsep pernikahan seperti yang Bang Alza maksud" ucap Tiara takut-takut dan langsung menundukkan kepalanya.


Melihat Tiara menunduk seperti itu, Alza langsung merasa bersalah. Alza langsung menarik tangan Tiara dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, maafkan aku, aku yang terlalu berlebihan. Tadinya aku pikir kamu pasti sangat antusias, ingin seperti ini, ingin seperti itu, maunya begini dan begitu. Kamu mau kan memaafkanku?" ucap Alza menyesal.


"Iya, aku juga minta maaf Bang Alza, tidak bisa memberi ide apa-apa, dan hanya menurut saja. Karena sejujurnya dalam dunia hayal pun, aku tidak pernah membayangkan akan melakukan pernikahan seperti ini. Penikahan ini lebih dari sekedar mimpi untukku. Dan juga menurutku Bang Alza adalah yang terbaik, dan aku sangat yakin apapun yang diputuskan Bang Alza, adalah yang terbaik dari yang terbaik." ujar Tiara mantap.


"Bisa saja kesayangaku ini, ya sudah aku hubungi Ryan dulu ya, supaya undangannya langsung bisa di cetak." ucap Alza, dan Tiara langsung menganggukkan kepalanya.


Pambicaran mereka masih terus berlanjut hingga tenggah malam.


***


Pagi hari tiba, "Sayang, kamu mau ikut aku ke kantor, atau kamu mau menungguku disini saja?" tanya Alza begitu mereka selesai sarapan.


"Memangnya Bang Alza lama di kantornya?" tanya Tiara.


"Enggak, hanya sebentar saja hanya ngecek kantor cabang sekaligus ingin miting sebentar dengan kepala pemasaran. Setelahnya aku juga ingin ngecek perkembangan proyek perumahan, sudah sejauh mana perkembangannya." jelas Alza.


"Kalau aku ikut, aku ngapain disana? tapi kalau disini aku juga bingung melakukan apa," bingung Tiara.


"Aku berenang saja Bang, udah lama juga aku tidak berenang. Tapi Bang Alza janji ya, jangan lama-lama pergi kerjanya." ucap Tiara.


"Siap kesayanganku," ucap Alza sambil mencubit gemes pipi Tiara. "Mau aku antar ke kolam renangnya, atau kamu sendiri yang akan kesana?" tanya Alza.


"Aku sendiri saja Bang, aku bisa tanya-tanya pelayan hotelnya nanti." ucap Tiara.


"Ya sudah, oh iya ini ada uang cash, juga atm dan credit card, terserah mau pakai yang mana. Kalau kamu ingin makan sesuatu gak usah ditahan-tahan ya, cobain saja semua siapa tahu kamu dapat insfirasi untuk menu makanan pernikahan kita nanti. Kamu juga jangan malu bertanya pada orang yang kamu temui. Perhatikan juga orang-orang sekitar kamu kalau misalkan mencurigakan langsung menjauh. Dan kalau terjadi sesuatu langsung hubungi aku, ok." jelas Alza.


"Iya, iya bang Alza aku kayak anak kecil saja." ucap Tiara cemberut.


"Hehe, aku khawatir sayang, kan baru kali ini, kamu sendirian di tempat seperti ini. Ya sudah aku pergi ya ingat pesanku." ucap Alza.

__ADS_1


"Iya ... Bang Alza, sini tangannya salim dulu sama suami atau calon suami ya?" bingung Tiara.


"Yang mana saja boleh sayang," ucap Alza sambil menyodorkan tangannya. Setelah Tiara mencium tangannya, Alza balas mencium kening Tiara dan kemudian memeluk Tiara.


***


Kediaman Wijaya.


Pagi ini Mama Ike sudah mengumpulkan semua pekerjanya. Pekerja di rumah ini ada 10 orang termasuk supir dan satpam. Hanya Ana yang tinggalnya di bagian rumah besar ini. Bude Siti dan suaminya Mang Asep tinggal di paviliun samping rumah. Sementara yang lainnya pulang kerumah masing-masing dan akan datang sesuai jam kerjanya.


"Nih aku ada sedikit oleh-oleh dari kampung untuk kalian semua, anggap saja ini sebagai sogokan, karena sebentar lagi kita pasti akan sangat sibuk." ucap Mama Ike sambil membagi oleh-olehnya.


"Terima kasih Nyonya besar, oleh-olehnya banyak sekali, Nonya Besar memang tidak ada 2nya. Oh iya kalau boleh tahu, sibuk apa Nyonya Besar?" tanya Mang Asep senang.


"Sibuk nyebar undangan, 1 bulan lagi pernikahan ulang Alza akan dilaksanakan. Aku sangat membutuhkan bantuan kalian agar undangannya bisa sampai langsung ke orangnya, terutama untuk kerabat sekitar Jakarta. Dan untuk yang di luar kota mungkin 3 hari lagi kita sudah akan mulai menyebar undangannya." jelas Mama Ike.


"Wah, memangnya undangannya sudah jadi Nyonya Besar? tanggal pernikahannya sudah di tentukan ya? cepat sekali," tanya Mang Asep.


"Sudah saat di kampung kemarin, Kami sudah membicarakan semuanya. Keluarga Tiara langsung ngecek kelender Karo, dan sudah menemukan tanggal yang baik untuk pernikahan, dan Alza juga menyetujui tanggal tersebut. Untuk undangannya sebagian mungkin akan diantar Ryan lusa, kalian tahu sendiri kan udangan yang di luar kota harus segera didahulukan." ujar Mama Ike.


"Iya benar sekali, Nyonya Besar pasti akan sangat sibuk ini. Kami pasti akan siap mebantu apa pun yang di butuhkan Nyonya besar. Oh iya kerena yang paling disibukan itu Nyonya besar, Nyonya besar tetap jaga kesehatan ya, jangan sampai kerena sibuknya Nyonya Besar jatuh sakit lagi." ucap Bude Siti.


"Iya terima kasih ya untuk perhatiannya, kalau begitu kalian bisa melanjutankan pekerjaan kalian kembali. Ana siapkan buku, pulpen juga cemilan ya, dan bawa ke gajebo." ucap Mama Ike. Mama Ike ingin memulainya, dengan mendata kerabatnya yang ingin diundang terlebih dahulu hari ini.


"Siap Nyonya Besar," ucap Ana.


"Nyonya Besar terima kasih yaa oleh-olehnya," ucap pekerja kompak.


"Sama-sama," ucap Mama Ike.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like dan komennya ya teman-teman. Semangat!


__ADS_2