DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 1 : Menerobos Lorong Ruang dan Waktu ( babak pertama )


__ADS_3

01. Wanita Berkebaya Merah


Hari mulai malam saat pria itu keluar dari kantor polisi, sebelum menaiki sepeda motor buntutnya, ia menatap kantor mentereng dan mewah, "Dasar polisi mata duitan," desahnya kemudian sambil menginjak pedal gas, bunyi menderu disertai kepulan asap knalpot mengiring kepergiannya.


Sepeda motor itu berjalan menerobos jalanan setapak yang mulai gelap. Pada tepi kanan kiri jalanan itu, tumbuh lebat pohon Jambe berukuran raksasa, satu - satunya penerangan adalah lampu dari sepeda motor.


" Cciieetthh..."


Bunyi roda sepeda bergesekan dengan aspal jalanan terdengar bagai jeritan orang, pria itu mendadak menginjak rem sementara sepasang tatapan matanya tampak gusar karena di hadapannya sesosok wanita mengenakan kebaya berwarna merah berdiri, "Hei, siapa kamu? Mengapa pula berdiri di tengah jalan?"


"Maaf, mas... " jawab wanita itu sambil tersenyum manis, "Tadinya, saya mau menyeberang jalan, karena jalanan gelap, tak melihat kalau ada kendaraan lewat,"


Jawaban yang konyol. Pikir pria itu, tapi senyuman manis serta kata-kata yang lemah lembut meredakan amarahnya.


Pria itu membuka penutup helm, "Tidak apa - apa, mungkin lampu sepeda motor saya kurang terang nyalanya tak terlihat kalau ada orang yang hendak menyeberang. Silahkan," sahutnya.


Wanita itu mengangguk perlahan, lagi-lagi tersenyum manis, "Terima kasih, mas," katanya sambil melangkah kecil menuju tepi jalan sementara sepasang mata pria itu tak lepas memandangnya. Mereka saling pandang, diam membisu hingga sebuah klakson mobil dari arah belakang menyadarkan pria itu, iapun memberi jalan dan saat mobil lewat, wanita itu sudah tidak ada lagi di tempatnya berdiri. "Dia sudah pergi. Kelihatannya ia seorang pendatang,"


Pria itu kembali menyalakan sepeda motornya, kali ini tak berani mengendarainya sekencang tadi, tapi, di benaknya, wajah wanita Berkebaya Merah itu tak hilang, "Siapa dia ?" itulah yang selalu terlintas di benaknya, mengiringi kepergiannya menembus kegelapan dan akhirnya menghantarkannya di depan pintu gerbang sebuah rumah sederhana berhalaman luas dan berhiaskan berbagai macam tanaman hias. Tertata begitu rapi dan pada dinding rumah tergantung sebuah papan nama yang bertuliskan "DA'I BACHTIAR".


Setelah turun dari sepeda motornya, Pria itu merogoh saku kanan, begitu tangan kanannya dikeluarkan dari saku, sebuah kunci model khusus siap untuk dimasukkan pada gembok pintu gerbang. Ia memandang rumah itu sambil menggeleng-gelengkan kepala, ia menghela nafas panjang, “Maaf... saya pulang terlambat. Gara-gara bocah gemblung itu,” Pintu gerbang terbuka, pria itu menuntun sepedanya masuk, bunyi roda-roda melindas batu-batuan di halaman meski perlahan tapi sempat membuat beberapa burung malam yang hinggap pada salah satu dahan pohon terkejut dan terbang membelah langit malam.


Pintu rumah terbuka sesosok tubuh ramping wanita cantik muncul dari dalam diiringi dengan 2 sosok tubuh bocah cilik berlari menghampiri pria itu, “Ayah ... “ serunya sambil berlomba-lomba memeluk pahanya. Pria itu tertawa setelah meletakkan sepeda motornya dengan benar, ia mengangkat tubuh kecil bocah-bocah itu bergantian dan melangkah ke teras rumah menghampiri sang wanita berdiri dengan wajah berseri-seri. Setelah mereka masuk ke dalam di luar gerbang muncullah sesosok wanita cantik berkebaya merah. Sepasang matanya memandang tak berkedip ke arah rumah sederhana itu sementara pada bibirnya tersungging senyuman tipis. Ada sebuah teka-teki besar di balik senyuman itu.


Keluarga DA’I BACHTIAR. Begitulah penduduk sekitar menyebutnya. Pak Da’i adalah seorang tokoh yang cukup disegani dan dihormati oleh semua orang. Meski memiliki rumah sederhana, akan tetapi, sesungguhnya merupakan sebuah keluarga yang kaya raya. Sempurna. Ditambah lagi pekerjaannya sebagai salah seorang PNS dengan gaji yang lumayan besar juga jiwa sosialnya dengan penduduk setempat, membuat Pak Da’i semakin dikenal di luar daerah tanah kelahirannya.


Sekalipun keluarga kaya raya, namun, tidak pernah menyombongkan diri. Demikian pula sang isteri, Bu Lastri Bachtiar, tak pernah mengenakan perhiasan-perhiasan atau pakaian-pakaian mewah. Suami-Isteri tersebut memiliki prinsip yang sama, yakni : sekalipun memiliki harta, namun, mengingat semua itu titipan dari YANG MAHA ESA, sifatnya sementara saja. Dengan demikian makin besar pula harapan pasangan suami-isteri itu untuk hidup tenang dan damai sepanjang hari.


Jauh dari mara bahaya dan malapetaka yang bisa memporak-porandakan bahtera rumah tangga yang telah mereka jalani lebih dari 5 tahun itu. Akan tetapi, setelah diajak berburu di Alas Purwo dengan teman-temannya, Pak Da’i akhir-akhir ini merasa gelisah, musibah datang silih berganti.


Beberapa hari yang lalu, kena marah atasan gara-gara terlambat masuk kerja hanya beberapa menit, menyusul kemudian harus mengurus perdebatan suami-isteri yang berujung pada tawuran antar warga yang bersangkutan, dan tadi harus berurusan dengan pihak berwajib gara-gara menyerempet sepeda motor seorang siswa sekolah yang mengendarainya secara ugal-ugalan, detik terakhir saat perjalanan pulang nyaris menabrak seorang wanita yang menyeberang jalan tanpa lihat kanan-kiri.

__ADS_1


Tengah malam, saat semuanya sudah tertidur pulas, mendadak Da’i Bachtiar terbangun, ia duduk di tepi pembaringan sementara, pikirannya berkelana menuju masa-masa saat dimana teman-teman kantor mengajak berburu di Alas Purwo.


Saat itu, Lukman menemukan sekumpulan monyet berwarna hitam legam bergelantungan pada sebuah dahan pohon beringin, kemudian melompat dari satu pohon ke pohon lain. Gerakannya cukup lincah, “Beranikah kau bertaruh ?” tiba-tiba saja Lukman bertanya kepada Da’i. Da’i yang terkesima dengan gerakan lincah monyet hitam itu, mendadak saja terkejut, “Apa ?” tanyanya.


Lukman tertawa, “Tembakanku bisa mengenai monyet itu sekalipun tubuhnya berada di udara,” katanya. Kecuali Da’i Bachtiar, teman-teman lain ikut-ikutan tertawa. Da’i Bachtiar tersenyum kecut, “Kita cari hewan lain saja, jangan monyet itu. Ada sebuah firasat yang mengatakan bahwa moyet hitam itu tidak boleh diganggu,”


“Hei, sejak kapan kau percaya pada tahayul seperti ini,” ujar Lukman, nadanya terdengar tidak senang, ”Monyet itu hanyalah binatang, kita adalah manusia. Sasaran ada di depan mata, haruskah kita membiarkan hidangan lezat lewat begitu saja ? Tahukah, kau ... monyet hitam itu jarang sekali kita ketemukan... orang bilang, daging monyet khususnya yang berwarna hitam itu bisa membuat isteri semakin tergila-gila dengan kita karena ....” sambil berkata demikian ia tersenyum nakal sementara mengerdipkan mata kanannya seakan meminta pendapat dari teman-teman lain bahwa apa yang dikatakannya benar.


Memang benar, monyet hitam legam itu jarang sekali muncul di Alas Purwo. Hari itu mendadak saja Da’i Bachtiar dan teman-temannya kebetulan menemukan binatang itu, Lukman bermaksud menembaknya. Akan tetapi, terjadi perselisihan kecil di antara mereka. Da’i Bachtiar tidak dapat berkata apa-apa saat Lukman mengarahkan moncong senapan anginnya ke arah sekawanan monyet hitam yang sedang bermain-main di atas pohon beringin yang jaraknya lebih kurang 20 meter di depan mereka.


“Dor !!”


Letusan senapan angin Lukman memecah kesunyian, bersamaan dengan itu terdengar lengkingan kesakitan salah satu monyet yang berada di atas pohon dan suara jatuhnya benda berat ke tanah. Lukman melonjak kegirangan, “Tepat sasaran !” serunya. Ia tidak peduli dengan monyet-monyet lain yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam sambil menyeringai menakutkan. ‘Dor !!’ letusan kedua membuat monyet-monyet itu terkejut dan berlarian tak tentu arah, saat itu juga pohon beringin yang tadi penuh dengan kawanan monyet itu mendadak sunyi. Itulah yang diinginkan oleh Lukman dan kawan-kawan, dengan demikian ia dapat dengan mudah mencari buruannya.


Tanpa banyak bicara lagi, Lukman segera berlari ke arah jatuhnya monyet yang ditembaknya diikuti dengan yang lain, sementara, Da’i Bachtiar berdiri mematung dan wajahnya tampak sedih bercampur cemas. Tak lama kemudian, Lukman memanggilnya, “Apa yang kau lakukan disitu ? Kemarilah !” Dengan langkah gontai, ia melangkah menuju ke tempat dimana teman-temannya berkumpul. Di tempat itu, tampak teman-temannya tengah sibuk mencari sesuatu, sebagian menyibak daun-daunan, sebagian memangkas tanaman liar, sebagian lagi menyodok-yodokkan senapan anginnya ke semak belukar, monyet hitam yang tertembak itu hilang.


Hilang bagaikan tertelan bumi, itu mengecewakan hati Lukman. Akan tetapi, di pihak Da’i Bachtiar, tersenyum dalam hati sekaligus merasa heran. Bagaimana mungkin monyet itu bisa hilang padahal jelas-jelas mereka melihat bahwa binatang itu tertembak dan jatuh dari ketinggian lebih kurang 4 kaki. Tak mungkin ada makhluk hidup yang bisa hidup bila jatuh dari ketinggian itu. Setelah sekian lama mencari dan tak membuahkan hasil,


“Sudahlah kita cari binatang lain, keburu malam. Mungkin bukan rejekimu, Lukman...” sahut Najib setelah itu mengajak Lukman mencari lokasi berburu yang lain. Meski rasa penasaran dan kecewanya masih menyelimuti sekujur tubuhnya, ia menurut. Mereka berlima segera meninggalkan tempat itu sementara, Da’i Bachtiar masih berdiri terpaku, pandangannya mendadak mengarah pada sesosok tubuh berwarna hitam dan berbulu lebat tergeletak tak jauh dari tempat Lukman berdiri. Semak belukar yang tumbuh liar menutupi sebagian tubuhnya yang tertelungkup. “Aneh, bukannya tadi mereka sudah memeriksa tempat ini dengan teliti ? Masak benda itu terlewatkan begitu saja ?” tanyanya dalam hati.


Perlahan-lahan Da’i Bachtiar melangkah perlahan-lahan menuju ke tempat dimana sosok itu tergeletak, “Benar, monyet inilah yang tadi ditembak Lukman, kelihatannya masih hidup,” katanya dalam hati. Dengan hati-hati ia memeriksa tubuh monyet itu, ada lubang peluru menembus pahanya dan mendadak ia terkejut karena mendapati bahwa yang tergeletak itu bukanlah monyet akan tetapi, menyerupai manusia. Ia masih anak-anak, namun ukuran tubuhnya 2 kali lipat lebih besar daripada anak-anak lain pada umumnya. Tubuhnya tumbuh lebat bulu-bulu berwarna hitam legam, bagi orang biasa ia tampak seperti seekor monyet atau kera berwarna hitam.


Tangan Da’i bekerja cepat mengeluarkan peluru yang bersarang di pahanya, setelah itu mengobati dan membalut luka-lukanya. Sesaat setelah Da’i selesai memberikan pengobatan, mendadak saja dari berbagai penjuru bermunculan sosok-sosok bayangan hitam yang kemudian mengelilinginya. Da’i memandang ke sekeliling, kali ini ia tahu benar bahwa sosok-sosok itu bukanlah manusia yang baru saja diobati, melainkan mereka adalah monyet-monyet berwarna hitam legam, pandangan mata mereka tidak lagi liar dan beringas melainkan pandangan mata mereka memancarkan kehangatan seolah berterima kasih pada orang di hadapannya.


Da’i tersenyum, setelah kembali menaruh ranselnya di punggung, ia berjalan ke arah teman-temannya yang sudah berjalan cukup jauh. Namun, mendadak saja, langit yang semula cerah perlahan-lahan ditutupi oleh awan hitam. Angin berhembus dengan kencang, kilat menyambar-nyabar seakan-akan hendak mencabik-cabik awan-awan hitam yang bergulung-gulung, beberapa detik kemudian terdengar bunyi petir yang saling sahut membuat kawanan monyet atau kera berwarna hitam itu berlarian tak tentu arah sambil memekikkan suara nyaring. Dalam sekejab, mereka sudah menghilang dari pandangan Da’i.


Pria berusia 43 tahunan itu tampak kebingungan, terlebih saat muncul kabut tipis menyelimuti Alas Purwo beserta isinya. Suasana mendadak saja jadi gelap, dingin dan butiran-butiran air dalam jumlah tak terhitung mengguyur tempat dimana Da’i Bachtiar berada.


Dalam bingungnya, pria itu tergelincir dan tubuhnya terguling pada jalanan berlumpur yang menurun. Tak tahu berapa lama tubuhnya bergulingan, saat berhenti sudah berada pada mulut gua yang ditutupi oleh akar, semak belukar dan tanaman menjalar.


Hujan masih turun cukup deras, tak ada jalan lain bagi Da’i selain memasuki mulut gua. Gua itu cukup luas, gelap gulita, akan tetapi, hawa di dalamnya seakan tak terpengaruh oleh dinginnya udara di luar yang dingin. Da’i menyalakan senter, sedikit lebih nyaman daripada tadi. Cahaya pada lampu senter menerangi setiap inci demi inci suasana di dalam gua. Stalaktit * dan stalakmit * bertebaran hampir di seluruh langit-langit dan lantai ruangan. (Stalaktit : batangan kapur yang terdapat pada langit-langit gua dengan ujung meruncing ke bawah; Stalakmit : Susunan batu kapur berbentuk kerucut berdiri tegak di lantai gua). Bentuknya beraneka ragam, akan tetapi, ada sebuah batu yang menarik perhatian Da’i. Bentuk batu itu menyerupai seorang wanita cantik berkebaya merah hati, memiliki sepasang tatap mata indah. Sepasang mata itu menatap ke arahnya, tatapannya membuat Da’i terpaku.

__ADS_1


Mendadak secara perlahan-lahan permukaan batu itu retak-retak, sebagian retakannya berjatuhan di lantai ruangan. Dan dari dalam batu itu muncul sesosok wanita cantik berkebaya merah, Da’i terkejut dan mundur beberapa tindak. Ia jatuh terduduk saat wanita berkebaya merah itu berjalan menghampirinya dengan langkah kaki anggun bagaikan puteri keraton. Tapak-tapak kaki yang berkulit putih seputih salju, halus dan tak beralas kaki terhenti di hadapan Da’i yang masih terguncang dengan peristiwa aneh itu tidak dapat berkata apa-apa, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam manakala sepasang matanya beradu pandang dengan sepasang mata indah milik wanita itu.


‘Ia cantik, manis dan menawan, tetapi, mengapa aku tak berani melihatnya lebih lama,’ tanyanya dalam hati.


Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya, tetapi semuanya hilang manakala, ujung jari telunjuk yang lentik wanita itu menyentuh dagunya. Da’i merasakan hawa dingin mengalir dari dagu, mengalir ke wajah dan sekujur tubuh hingga berakhir pada ujung kakinya.


“Bang Da’i, bukan ? Terima kasih karena kau telah menyelamatkan jiwa anakku, Wiguna. Dengan apa harus kubalas kebaikan hatimu itu ?” Sebuah pertanyaan terlontar dari bibir merah lagi sensual dari wanita berkebaya merah. Suaranya halus bagaikan sutera, merdu bagaikan nyanyian dewa-dewi di kahyangan, bening bagaikan gesekan butiran-butiran mutiara berumur ratusan tahun, membuat Da’i Bactiar tak kuasa untuk memandang wajahnya.


Wajah wanita itu bulat telur, kulitnya putih mulus tak ada tebaran riasan wajah, sepasang mata yang bulat berbinar-binar tapi tajam menusuk menatap tak berkedip ke wajah pucat Da’i Bachtiar. Hidungnya mancung dan bibir merah merekah lagi sensual itu tersungging senyuman tipis penuh gairah. Tak seorang pria pun menolak apabila dicium olehnya, demikian pula halnya dengan Da’i. Akan tetapi, ia masih tetap berusaha untuk mengendalikan diri meski hawa nafsunya bergolak terlebih saat melihat kemolekan tubuh wanita itu.


“Mungkin sekarang kau bingung hendak berkata apa. Tapi, kau telah berjasa besar padaku,” lagi-lagi suara indah wanita itu membuat Pria di hadapannya itu tak bisa berkata apa-apa, “Akan kubalas jasamu kelas, bang Da’i” sambungnya setelah itu ia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu sementara Da’i masih saja duduk terpaku matanya melongo. Bersamaan dengan menghilangnya tubuh wanita itu, sayup-sayup telinganya mendengar namanya dipanggil-panggil, “Tiar... menghilang kemana kau ?!”


Itu teriakan Lukman, seakan baru bangun dari tidurnya, Da’i mengusap-usap mata dan memandang ke sekeliling ruangan gua. Tidak ada yang namanya Stalakmit atau stalaktit, yang ada hanyalah hitam. Gelap gulita.


“Apakah aku sedang berhalusinasi ?” tanyanya dalam hati kemudian ia berdiri dan melangkah keluar sambil berseru, “Aku ada disini !” Teriakannya menggema hampir ke seluruh penjuru Alas Purwo, sesaat kemudian Lukman muncul diikuti yang lain. 2 diantara mereka kini menggotong rusa yang sudah kaku, sementara, yang lain tersenyum-senyum penuh kepuasan karena sudah mendapatkan hewan buruan. Da’i memandang ke arah mata rusa yang tertutup dengan perasaan iba.


Mendadak saja mata rusa yang tertutup itu terbuka dan menatap ke arah Da’i Bachtiar, “Aku akan menutut balas pada mereka,”. Pria itu meloncat kaget, membuat semua orang heran, “Ada apa denganmu Tiar ? Kok hari ini sepertinya tingkah lakumu aneh ?” tanya Najib.


Da’i Bachtiar menggosok-gosok matanya dan memastikan apakah mata binatang itu benar-benar terbuka, tidak. Sepasang mata rusa itu masih tertutup, wajahnya tampak memelas. Hati pria itu makin iba tapi, kemudian tersenyum kecut, “Aku ... aku baik-baik saja, tak perlu diipermasalahkan. Mungkin aku sedikit kurang enak badan,” katanya gugup. “Mari kita pulang, hari mulai gelap,” ajak Lukman.


Semua orang mengangguk setelah itu melangkah meninggalkan tempat itu sedang di pihak Da’i Bachtiar masih saja bingung dengan kejadian yang baru dialami terlebih sebelum masuk ke dalam gua aneh itu, suasana sekitar basah kuyub oleh guyuran air hujan, ia sendiri masih bisa merasakan tubuhnya seakan dirajam ribuan jarum dan kedinginan. Basah kuyub. Akan tetapi, begitu keluar dari gua, keadaan di sekitarnya biasa-biasa saja sama seperti pertama kali menginjakkan kaki di Alas Purwo, cerah dan sejuk. Begitu pula pakaian serta sekujur tubuhnya, kering tak ada tanda-tanda habis kehujanan.


Sepanjang perjalanan pulang, Da’i tidak banyak berbicara ataupun menceritakan kejadian yang ia alami, karena yakin, mereka pastilah tak akan percaya begitu saja. Ia lebih banyak melamun, sementara, teman-temannya menceritakan pengalaman masing-masing sewaktu di Alas Purwo, Lukman masih kecewa dengan buruannya yang mendadak menghilang. Namun, saat Karman bertanya tentang Da’i Bachtiar yang tiba-tiba menghilang, semua orang kecuali Lukas yang menyetir mobil menatap ke arah Bachtiar, sepertinya mereka meminta penjelasan dari orang yang bersangkutan.


Dipandang sedemikian rupa, membuat Da’i salah tingkah ... tak tahu harus berkata apa, sebisa mungkin, ia menceritakan bahwa ia penasaran dengan sebuah gua yang tersembunyi di balik rimbunan semak belukar, ia masuk ke gua itu dan menelusuri bagian dalam yang cukup luas dan panjang. Karena tak menemukan apa-apa disana, ia mencoba melepas lelah dan tertidur sebentar, hingga terdengar namanya dipanggil-panggil. Pertemuannya dengan wanita berkebaya merah juga perihal tentang hewan buruan Lukman dan keanehan yang menimpanya tidak diceritakan. Sebuah penjelasan yang cukup masuk akal dan bisa diterima semua orang. Cukup cerdik.


Perjalanan pulang terasa lama, karena jalanan yang dilalui oleh mobil yang mereka tumpangi tidak rata ... sesekali menanjak, sesekali menurun kemudian menikung dengan tajam, sementara, langit mulai gelap. Lukas harus lebih berhati-hati menyetir kendaraan jika tidak ingin terperosok ke dalam jurang, menabrak pohon-pohonan asam yang tumbuh lebat dan berukuran raksasa ataupun kendaraan yang berlalu lalang. Diantara ketujuh orang itu yang masih terjaga adalah Lukas, Da’i Bachtiar dan Andre sementara yang lain sudah pada tidur. Andre duduk di samping Lukas, ia turut memperhatikan jalan.


Bachtiar juga ikut memperhatikan jalan, akan tetapi, perhatiannya terpecah menjadi beberapa bagian ... Alas Purwo, makhluk yang ditembak Lukman, gua, wanita berkebaya merah dan lain sebagainya. Wajah wanita itu senantiasa terbayang-bayang di benaknya, berulang kali ia coba untuk membuang sejauh mungkin, tapi, mengapa selalu datang lagi, seakan mengikuti kemana pun pergi. Terlebih suaranya, ‘Bang Da’i ... terima kasih telah menyelamatkan anakku, Wiguna. Dengan apa harus kubalas kebaikan hatimu itu ?’, ‘Aku tahu kau bingung, tak tahu harus berkata apa, tapi, kau telah berjasa besar padaku. Kelak akan kubalas jasamu itu’. Ia masih merasakan dagunya disentuh lembut oleh jari telunjuknya. Sampai sekarang pun masih terasa.


Terakhir sewaktu melihat, rusa, hewan buruan teman-temannya itu membuka mata dan berkata, ‘Aku akan menutut balas pada mereka’. Jalanan yang dilalui sudah rata tidak lagi menanjak ataupun menurun, tidak lagi berbelok-belok ataupun menikung tajam.

__ADS_1


...______...


__ADS_2