DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 13 : Mimpi Buruk Sebuah Celullar ( babak keenam )


__ADS_3

06. Luka Hati Seorang Wanita


Sepulang dari rumah John, aku menghubungi teman-teman, menanyakan siapa saja yang memiliki foto Monica. Sebelum itu aku berpesan pada John untuk memblokir no ponsel Monica untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Aku bagaikan orang gila menelepon kesana-kemari.


Dan setelah seharian, akhirnya aku mendapatkan nama - nama teman yang memperoleh foto dari Monica. Mereka adalah : Melly, Rita, Ajeng dan Jackie.


Rata-rata mengalami kasus yang sama. Perubahan ukuran pada foto. Aku juga memilikinya, tapi, kasusnya berbeda foto tetap pada ukuran normal.


Malam itu, aku memberanikan diri untuk menelepon Monica. Lama tak ada jawaban, hingga akhirnya, ponselku berdering namun, itu bukan berasal dari Monica melainkan John.


"Hallo," sapaku.


"Hallo, Mike... bisakah malam ini kau datang kemari ? Aku butuh teman untuk diajak ngobrol," suara John dari seberang sana. Suaranya seperti bergetar, ada perasaan cemas disana.


"Baiklah, kau tunggu sebentar,"


"Ok... sekalian nanti.... kalau.... " suara John terputus-putus, aku tak dapat mendengarnya dengan jelas, "Hallo, John... hallo, kau masih ada disana.... hallo,"


Tak ada jawaban, wajahku memucat, saat itu aku kembali melihat dari sela-sela layar LCD ponselku merembes cairan kental berwarna merah dan bau amis tercium menyengat hidungku.

__ADS_1


"Hallo... John... " aku terus memanggil mengabaikan cairan merah itu mengalir membasahi tanganku. John tidak menjawab.


Baru saja aku hendak turun dari tempat tidurku, mendadak tubuhku tak bertenaga. Suara-suara aneh keluar dari speaker ponselku, dan aku merasakan tubuhku ringan, ringan sekali dan aku bisa melihat diriku tengah terbaring di tempat tidur.


...***...


Aku seakan terbang dengan jari jemari kakiku menyentuh awan. Melintasi sebuah ruangan yang gelap dan tercampak di sebuah kamar dengan cahaya remang-remang.


Ditengah keremangan cahaya, aku bisa melihat seorang wanita cantik tengah berjalan memasuki salah satu ruangan. Wanita itu berambut ikal, berwarna hitam dan panjang sebatas bahu. Dilihat dari postur tubuhnya yang tinggi, ramping dan berkulit sawo matang juga wajahnya, dia bukan asli pribumi. Setiap kali berpapasan dengan orang ia selalu merapatkan kedua tapak tangannya sambil menganggukkan kepala.


Begitu di dalam ruangan, beberapa orang duduk di ruang tengah, 3 orang pria dan 3 orang wanita. Aku mengenal mereka : Roni - Yuniar, Richard - Melly dan John - Rita. Aku tak ingat kapan mereka ada di tempat ini.


Tubuhku kini beralih ke tempat lain, sebuah gang kecil, kulihat wajah Rita tampak merah padam menatap John, mulut mereka bergumam tidak jelas, sepersekian detik kemudian Rita membalikkan badan, melangkah meninggalkan John sendirian sementara matanya basah oleh air mata.


Sebuah pemandangan lain tersaji di depan mataku, kali ini tampak Richard tengah menampar pipi Melly, membuatnya terpelanting dan jatuh terduduk membelakangi Richard. Tak lama kemudian, Melly menatap garang ke arah Richard. Sudut bibir sebelah kiri Melly tampak pecah, darah keluar dan pipi kanannya matang biru. Ia membuka mulutnya dan berkata, "Ini yang kesekian kalinya kau menamparku, mas,"


Wajah Richard tampak menyesal, "Maafkan aku, Mell.... maafkan aku yang tak bisa mengendalikan diri," ia menghampiri Melly dan hendak membimbingnya berdiri tapi, Melly menepiskan tangan Richard dan berlari meninggalkan ruangan itu.


Sesosok bayangan tampak mengintip dari celah-celah pintu, pemilik bayangan itu adalah wanita cantik yang pertama kali kulihat memasuki ruangan yang mirip kamar dimana John dan teman-teman berkumpul. Ia perlahan-lahan meninggalkan tempat itu sambil menundukkan wajah.

__ADS_1


"Aku hanya butuh teman, tapi mengapa selalu berakhir buruk ?"


Suara itu nyaris tak terdengar, dilontarkan dengan logat Thai Mueang ( bahasa yang biasa digunakan oleh orang-orang dari negeri gajah putih, Thailand ). Sekalipun dilontarkan dengan bahasa Thai, aku bisa memahaminya, sebab, aku banyak bergaul dengan orang-orang Thailand. Akupun mewarisi darah negeri gajah putih tersebut.


Mendadak di sekeliling ku terasa berputar-putar begitu hebat, apa yang kulihat menjadi samar, sosok wanita itu berikut seluruh isi perabotan lenyap. Aku kembali melayang-layang ringan dan dicampakkan ke sebuah tempat, tempat yang tidak asing bagiku, rumah John. Ponselnya berbunyi nyaring, menulikan telinga.


Sepasang mata John membelalak lebar, mengarah pada sesosok tubuh wanita berpakaian putih kecoklatan, compang-camping. Berambut hitam kusut dan panjang, wanita itu berjalan menghampiri John... wajah John pucat pasi, tubuhnya bergetar hebat, mulutnya menganga lebar. Saat tubuh wanita itu sudah dihadapan John, bola mata John seakan keluar dari tempatnya, otot lehernya menegang, urat-urat lehernya yang bagai cacing berwarna kebiruan bermunculan, tubuhnya mengejang dan selang beberapa menit kemudian tak bergerak - gerak lagi.


"John," teriakku, tapi, sepertinya tak ada yang mendengar. Sosok wanita itu masih berdiri sambil memandangi John, perlahan-lahan, kepalanya menoleh ke arahku, "Siapa kau ?!" seruku.


Tak ada jawaban. Perlahan-lahan tubuh wanita itu menghilang diiringi suara tawa mengerikan.


Kkkrrriiinnnggg....


Bunyi itu keras sekali, aku tersentak dan kembali merasakan adanya tekanan yang cukup kuat menarikku jauh... jauh sekali... dan saat semuanya kembali seperti semula, terdengar suara Melly.


"Mike, John meninggal"


...__________...

__ADS_1


__ADS_2