DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
[ Horor ] M a n e k i n ( babak pertama ) Oleh : Leonardus Eric K.


__ADS_3

#1


Manekin setinggi orang dewasa pada umumnya itu diletakkan di sebuah lemari kaca yang terletak di ruang tengah rumah mewah yang cukup luas dan lapang, ia tidak sendirian. Di kanan kirinya juga terdapat manekin – manekin dengan ukuran serupa, rata – rata berwujud seorang wanita dewasa dan tak mengenakan sehelai kainpun dengan pose berbeda. Ada kira – kira 10 buah manekin di ruangan itu selebihnya adalah barang – barang antik dan kuno. Mereka tampak hidup, manakala cahaya lampu senter penjaga rumah mewah itu menerpanya.


“Aku tak menyangka, Bos Hadi suka sekali mengoleksi barang – barang antik, aneh dan menyeramkan,” kata salah seorang penjaga pada temannya yang sedang menguap.


“Apanya yang mengerikan, bro... semua yang ada disini adalah benda mati, tak mungkin bergerak dan membunuhmu,” sahutnya.


“Iya. Mengapa harus kita yang disuruh menjaga di lingkungan ini ? Kenapa bukan Si Umar atau Yogi. Bukankah mereka lebih berpengalaman daripada kita ?” kata orang pertama.


“Ah, sudahlah, bro ... tak usah berkeluh kesah. Beruntung kita masih diberi pekerjaan oleh Keluarga Hadi Firmanto. Jika tidak, mungkin sampai sekarang kita jadi gelandangan. Jadi, lakukan saja tugas kita. Jika, bos mendengar keluh kesahmu ini, kita bakal ditendang ke jalanan lagi. Nah, isteri dan anak – anakmu mau makan apa ?”


“Krk... kkrrkk...kkkrrrkkk....kkkkrrrrkkkk...”


“Eh, suara apa itu ? Kau mendengarnya ?” tanya orang kedua.


“Se... sepertinya dari arah dalam ruangan,” kata orang pertama, “Ayo, kita periksa,” ajaknya sambil menarik tangan orang kedua yang gemetaran.


Saat mereka tiba di ambang pintu, suara itu makin terdengar dengan jelas. Jantung mereka berdegub dengan kencang. Sekalipun ketakutan, mereka segera membuka pintu.


“Kkkrrriieeettthhh ...”


Pintu terpentang lebar dan tampak oleh mereka, salah satu kaca tempat penyimpanan manekin wanita berambut ikal, panjang sebatas bahu itu retak – retak dan...


“Ppprrraaannnggg ....”


Kaca itu pecah, manekin itu seperti meleleh, bak lilin terbakar oleh api.


‘Kkrrkk... kkkrrrkkk.... kkkrrrkkk’


Sesosok tubuh berwarna hitam, merangkak keluar dari lemari antik tersebut, perlahan – lahan sosok itu bergerak mendekati 2 laki – laki yang masih menyorotnya dengan senter, mereka tak mampu menggerakkan kaki – kakinya untuk lari, rahangnya serasa kaku dan sepasang mata mereka terbelalak lebar, manakala sosok itu sudah ada di depan hidung.


“Aaarrrggghhh....”


Teriakan mereka membahana, memenuhi sekitar tempat itu, menggema menembus kegelapan malam purnama yang larut, mengusik langit sebelah Timur yang mulai menebarkan warna jingga, mengejutkan hewan – hewan malam yang semakin lama semakin sepi dan digantikan oleh kicauan burung-burung menyambut fajar. Mengiringi hembusan angin yang membelai lereng – lereng pegunungan Anjasmara, kabut serta hawa dingin yang mulai terasa.


__________


Hadi Firmanto duduk di ruang kerjanya yang penuh dengan tumpukan buku – buku, kedua kakinya diletakkan diatas meja, sementara, dagunya menahan salah satu gagang telepon.


Mendadak, dari arah pintu masuk, seorang pria datang tergopoh – gopoh, “Mohon maaf, pak saya mengganggu,” katanya.


“Ada apa, paman ?”


“Dua satpam penjaga rumah barang antik ditemukan meninggal pagi ini, Tuan,”


Wajah Hadi Firmanto memucat, “Bagaimana bisa demikian, Paman ? Lantas apakah ada barang yang hilang ?” tanyanya.


“Tidak ada, Pak... hanya saja ada yang aneh pada salah satu lemari penyimpanan Manekin yang baru datang tempo hari. Saya akan mengantarkan Bapak kesana,” kata pria paruh baya itu.


Hadi Firmanto segera mengikuti pria paruh baya itu. Setelah berjalan kira – kira 15 menit, mereka tiba di Rumah Penyimpanan Barang Antik.


“Untung pihak berwajib tidak memeriksa tempat ini ? Kalau tidak aku bisa kena sanksi,” ujar CEO berusia 28 tahun itu.

__ADS_1


“Mayat 2 Satpam itu ditemukan lebih kurang 500 meter dari sini, pak. Keadaannya cukup mengenaskan,” ujar pria paruh baya itu sambil membuka pintu masuk bangunan mewah berarsitek Belanda itu.


Saat pintu terbuka, mereka berdua melangkah masuk. Sepasang mata Hadi Firmanto menyapu ke setiap sudut ruangan, dan terhenti pada lemari berisi Manekin wanita berambut ikal panjang sebatas bahu itu. Bersama pria paruh baya, ia mengamatinya dan tampak oleh mereka seperti bekas – bekas pecahan lilin di bagian bawah lemari, memanjang hingga mengarah pada pintu masuk. Serpihan lilin itu terhenti disana, sementara, kotak kaca yang menyimpan manekin itu tetap utuh.


“Jangan bilang, manekin itu hidup dan bisa menembus lemari kaca tersebut,” kata Hadi Firmanto.


“Tapi, bagaimana mungkin ada serpihan lilin di bawahnya dan memanjang sampai disana ?” tanya pria itu.


“Ah, sudahlah... mungkin Mbok Ijah lupa membersihkan lantai saat manekin itu diletakkan disana,”


“Bisa Jadi. Tapi, sayalah yang membersihkan lantai ini setelah Manekin itu disimpan disana,”


“Tak perlu dipikirkan, sebentar lagi ada 2 manekin lain didatangkan dari wilayah Banyuwangi, Paman. Jadi tolong siapkan tempat untuk meletakkan manekin-manekin itu. Oya, apakah jenazah 2 Satpam itu sudah dibawa ke RS untuk keperluan otopsi ?”


“Sudah, pak... Apakah Bapak ingin melihatnya ?”


“Tolong antarkan saya kesana,”


“Siap, pak...” kata pria itu sambil menutup pintu. Mereka tidak tahu bahwa sepeninggalnya dari tempat Penyimpanan Barang Antik, Manekin itu bergerak perlahan sepasang matanya seakan memancarkan cahaya merah membara bagaikan nyala api.


__________


RS Tirta Husada. Sudah beberapa hari ini, pihaknya menerima banyak sekali mayat mengerikan. Mayat – mayat itu seperti dicabik – cabik oleh binatang buas sehingga tidak dikenali lagi identitasnya. Siang tadi, ada 2 jenazah lain berjenis kelamin pria dan mengenakan pakaian Satpam. Satu – satunya identitas pengenal adalah label nama pada dada kiri pakaian yang dikenakan. Theo dan Rino. Satpam penjaga rumah penyimpanan barang – barang antik milik Hadi Firmanto.


Saat CEO muda itu itu memeriksa Jenazah Theo dan Rino, ia tak tahan untuk memuntahkan hampir seluruh isi perutnya. Wajah kedua satpam itu rusak dan bagian perutnya terkoyak, sebagian ususnya tersembul keluar diantara daging dan darah yang mulai mengering. Bau amis dan busuk itulah yang membuat CEO muda itu muntah – muntah.


Sementara, pria paruh baya yang menemaninya hanya memalingkan wajah ke arah lain, ia benar – benar ngeri melihat keadaan 2 Satpam itu.


"Kita harus segera memberitahukannya pada pihak keluarga, pak..."


"Benar. Paman... permasalahan ini paman tangani dengan baik, sementara itu, aku akan mencari siapa dalang pembunuhan ini,"


" Maaf, anak muda..." mendadak seorang wanita berambut kelabu, berbaju hitam muncul entah darimana, membuat 2 pria itu melompat kaget, "Apakah mereka itu ada hubungan dengan Anda ?" tanyanya lagi.


Baru saja Hadi hendak menjawab, pria yang ia panggil dengan sebutan paman itu memberi isyarat untuk segera meninggalkan tempat itu. Hadi Firmanto mengangguk, "Maaf, Bu... kami ada urusan yang mendesak, kami mohon diri dulu," katanya sambil melangkahkan kakinya hendak meninggalkan tempat itu.


Akan tetapi, wanita berbaju hitam itu menarik lengan bajunya, membuat langkah pemuda itu terhenti, "Anak muda, manekin-manekin yang ada di rumah penyimpanan barang antikmu itu, tak seharusnya dijadikan pajangan karena akan meminta korban lagi," kata wanita itu sambil membelalakkan matanya.


"Apa maksud ibu ?"


"Baumu, anak muda... kau gemar sekali mengoleksi barang-barang antik terutama patung wanita-wanita cantik. Tak sadarkah, kau itu berakibat buruk sekali,"


"Maaf, Bu... kami tidak ada waktu untuk melayani Anda berbicara. Tolong singkirkan tangan anda dari bajuku," sahut Hadi sambil menempiskan tangan wanita aneh itu.


"Celakalah, kau anak muda... manekin-manekin itu akan segera membunuhmu... he...he...he... tinggal menunggu waktu yang tepat," kata wanita itu sambil menatap kepergian Hadi Firmanto, ia menyeringai mengerikan.


Di tempat lain, tak jauh dari kota dimana Hadi Firmanto tinggal, hampir setiap hari tersebar kabar beberapa orang pelajar berusia lebih kurang 13 - 19 tahunan menghilang seusai pelajaran sekolah usai, rata-rata para pelajar yang hilang itu sebagian besar wanita. Bukan hanya pelajar, tapi, para ABG juga menghilang.


Pemerintah setempat tidak mampu berbuat apa-apa selain menyatakan agar siapa saja yang memiliki anak gadis diharapkan untuk menjaga anak gadisnya dengan baik sambil menunggu perkembangan lebih lanjut.


Para wali murid terpaksa melarang anak-anak khususnya wanita keluar rumah atau bersekolah. Ini menyebabkan mereka menderita tekanan psikologis yang cukup kuat. Mereka bagaikan burung dalam sangkar emas.


__________

__ADS_1


Wajah Hadi Firmanto merah padam manakala mendengar bahwa pengiriman paket yang telah disepakati bersama dengan perusahaan "Batu Alam" tertunda terancam dibatalkan. Ini baru pertama kalinya terjadi, sebab, sejauh ini proses transaksi berjalan lancar tanpa ada halangan apapun.


Maka, dipanggillah Soeradijo untuk dimintai pendapat, "Paman Dijo, apa paman sudah tahu kalau perusahaan Batu Alam itu menunda proses pengiriman barang selanjutnya,"


"Manekin ?" tanyanya.


"Benar, paman... apa paman punya jalan keluarnya ?"


"Tenang saja, pak... saya masih punya kenalan pengusaha Manekin. Justru bentuknya tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan sebesar Batu Alam," kata Soeradijo sambil tersenyum.


"Maksud, paman... bagaimana ?"


"Namanya, Pak Wasis, pak... seorang pengrajin patung lilin yang tempat tinggalnya di kota Banyuwangi. Biarpun ia tidak memiliki perusahaan sebesar Batu Alam, namun, banyak pelanggan yang memesan patung lilin atau manekin padanya. Kalau berbicara soal kualitas dan kuantitas barang, saya berani menjamin tidak kalah dibandingkan dengan perusahaan manekin-manekin lain seperti, Perusahaan Baru Alam," jelas Soeradijo.


"Baiklah, paman... tolong bantu aku untuk membuat jadwal pertemuan dengannya, kalau memang seperti apa yang paman ucapkan, aku tak tanggung-tanggung lagi,"


"Siap, pak..."


__________


MOHON PERHATIAN.... PADA BAGIAN INI, TERDAPAT ADEGAN YANG MUNGKIN BISA MENGGANGGU SISI PSIKOLOGIS PEMBACA KARENA TERDAPAT BEBERAPA ADEGAN KHUSUS UNTUK 21 THN +, MOHON PARA PEMBACA BISA MENYIKAPINYA DENGAN BIJAK


Kuali berisi wax, cairan karet dan gypsum tampak mendidih diatas tungku api yang membara. Kepulan asap yang keluar dari kuali tersebut menebarkan aroma aneh, menyesakkan dada siapa saja yang berada di ruangan dengan cahaya remang-remang tersebut. Di bawah tungku pembakaran sesosok tubuh wanita terikat erat pada pembaringan berlapis besi. Ia berontak hendak melepaskan diri dari tali-tali pengikat tangan dan kakinya.


Wajah wanita itu memerah terkena nyala api di dalam tungku tapi, tidak menyamarkan kepucatannya. Sepasang matanya yang basah oleh bercak-bercak airmata menghitam terbelalak, ia hendak berteriak, tapi, kain hitam mengikat erat rahangnya sehingga suara yang keluar dari kerongkongannya mirip Geraman putus asa seseorang yang dicekik.


Pemberontakan malah menjadikan tangannya dan kakinya lecet dan itu membuat geram pria botak yang berdiri tak jauh dari wanita itu terbaring.


"Hei, anak manis... bisakah kau tenang sedikit, semakin kau berontak, tangan dan kakimu semakin terluka. Seumur hidup kau menginginkan kecantikan dan keindahan tubuhmu abadi, inilah jalan satu-satunya. Jadi, sayang bukan kalau cantik tapi cacat," katanya lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki bertubuh gempal dan tinggi serta tegap yang berdiri di belakang kuali.


"Kecantikan dan keindahan tubuhmu itu tak akan memudar walau sampai ratusan tahun, nak," setelah itu tangan-tangannya bekerja menggunting seluruh kain yang menempel di tubuh wanita itu, wanita itu menggeram-geram, hingga tak sehelai kain pun menutupi tubuhnya.


Tak berhenti sampai disitu, pria botak itu menyiramkan air dingin ke tubuhnya dan membuat wanita itu menggigil, sementara ia tak berdaya manakala tubuhnya dibasuh. Setelah dirasa bersih, pria botak itu mengangkat kepalanya dan memberi isyarat pada si penjaga kuali untuk menumpah ruahkan cairan yang ada di dalam kuali ke tubuh wanita itu.


Terdengar jeritan tertahan. Wanita itu menggeliat-geliat bak cacing kepanasan, hingga akhirnya terdiam saat cairan karet ( alginat ), beeswax dan gypsum itu menutupi sekujur tubuhnya. Pria botak itu tersenyum dingin, setelah itu tangannya kembali bekerja mengukir, memahat, melukis dan mewarnai.


"Kkrriinngg..."


Bunyi telepon membuatnya berhenti bekerja, ia melirik ke arah seorang pria bertubuh tinggi dan jangkung yang tengah membersihkan sebuah lemari kaca yang di dalamnya terdapat sebuah manekin. Saat sepasang matanya beradu dengan sepasang mata laki-laki botak itu, ia menganggukkan kepala dan mengangkat gagang telepon.


"Hallo...." katanya, "Baik kita bertemu pukul 10 pagi besok. Terima kasih telah menghubungi kami," sambungnya sambil menutup telepon.


"Telepon dari siapa, Yud ?" tanya pria botak itu.


"CV. FIRST RIDE SALES. Pimpinan perusahaan tersebut ingin bertemu dengan bapak besok untuk membicarakan kontrak kerjasama," kata pria jangkung itu.


"Oh, baiklah... pertemuannya besok jam 10 pagi, bukan ?" tanyanya.


"Benar, pak..."


"Bagus... bagus sekali," kata pria botak itu sambil memotong pergelangan tangan dan kaki patung yang baru dibuatnya itu. Setelah meletakkan patung lilin berukuran setengah badan manusia dewasa pada sebuah kotak kaca, ia menuliskan nama LEA pada bagian pangkal paha kanan yang sudah tidak memiliki kaki lagi.


__________

__ADS_1


__ADS_2