DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Gerbang Kematian Episode 01 : Alas Sewu Dino ( babak pertama )


__ADS_3

#1


Bocah cilik berumur sekitar 10 tahunan itu berjalan kesana-kemari sambil memanggil-manggil nama teman-temannya. Bajunya biru terbuat dari katun. Sinar merah matahari sore menerpa wajahnya yang kuning Langsat. Tubuhnya kurus namun berisi. Jatayu namanya.


Ia tinggal di kawasan Karang Paten, sebuah wilayah kecil di kaki Gunung Seribu Bunga. Ia tak pernah mengetahui siapa orang tuanya, sebab, Paman Tua, panggilan Jatayu pada laki-laki tua yang tinggal bersamanya tidak pernah mengungkit-ungkit kedua orang tuanya.


"Paman, saya iri dengan teman-teman. Mereka semuanya memiliki Ayah dan Ibu. Tapi saya.... Tayu selalu diejek oleh teman-teman karena tidak memiliki orang tua," keluhnya, yang selalu dikemukakan di hadapan Paman Tua. Laki-laki yang berumur nyaris seperempat abad itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak tahu apa yang harus ia katakan.


Bagi Paman Tua yang sebenarnya memiliki nama Jampang itu, bukan hal yang mudah untuk merahasiakan jati diri Jatayu. Karena kecerdikan juga kecerdasan bocah itu Ki Jampang nyaris saja menjelaskan asal-usul orang tuanya.


"Jatayu, sekalipun kau bukan anak kandungku, tapi, kau kuanggap sebagai anak kandungku, darah dagingku sendiri, maka, tolong jangan desak Paman lagi, ya... karena itu nantinya akan melukai hari paman... kau mau aku sakit dan mati ?" hanya itulah senjata Ki Jampang dalam menghadapi kecerdasan dan kecerdikannya. Tapi, cara yang sama, tidak akan bisa terulang kedua, ketiga dan selanjutnya. Sebab, Jatayu kelak tumbuh menjadi dewasa, dia pasti akan kembali menanyakan perihal orang tuanya. Untuk sementara Jatayu bisa dibujuk, entah sampai kapan.


Sebenarnya, Ki Jampang tidak tega merahasiakan perihal kedua orang Jatayu kepada bocah itu, namun ia punya alasan tertentu. Jatayu yang kesal karena Paman Tua tidak mau memberitahukan siapa orang tuanya, maka, ia memilih diam dan menunggu saat yang tepat untuk bertanya tentang asal-usulnya, selain itu ia juga tak kehabisan akal untuk menggali informasi lebih lanjut tentang asal-usul kedua orang tuanya pada penduduk setempat.


Tapi lagi-lagi ia kecewa, karena para penduduk itu tidak mau menjawab, bahkan mereka selalu menghindar saat bertemu dengan Jatayu. Keadaan ini membuat Jatayu yang pada dasarnya ceria, menjadi sedih. Sekalipun demikian, ia tetap bermain dan beraktifitas seperti biasa, tidak peduli lagi akan ejekan teman-temannya sebagai anak Haram atau yatim piatu. Harapannya kelak adalah bisa menemukan sendiri siapa kedua orang tuanya itu.


"Tayu, cari aku," terdengar suara jauh dari tempatnya berdiri, ia tersenyum, perlahan-lahan berjalan menghampiri ke asal suara itu. Suara itu berasal dari balik rimbunan semak belukar 1 meter di depannya. Ia bisa melihat sesosok bayangan di balik sana. Dan...


"Dor, kena kau Agang !" serunya sambil menyibakkan semak belukar itu, tapi ia kecewa karena ternyata bayangan itu adalah sebuah boneka kayu.


"Tayu... Tayu... dimana kau, nak... mari pulang hari sudah menjelang sore," itu suara bibi Menik isteri paman tua....


Jatayu tersenyum nakal, bukannya menemui Bi Menik, malah ia bersembunyi, sehingga wanita berumur 48 tahunan itu kebingungan,


"Dimana, kau, nak ?" tanyanya.


Jatayu mengambil sebuah ranting kecil tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Ia tersentak, manakala saat ranting itu diangkat seekor ular kobra yang berwarna kuning keemasan melompat keluar dan menyambar betisnya.


"Aduh... " teriak Jatayu sambil keluar dari persembunyiannya membuat Bi Menik terkejut. Terlebih saat melihat tubuh bocah itu limbung untuk kemudian roboh pingsan.


"Tolong... tolong..." teriak wanita itu. Suaranya keras seakan menggema di segala penjuru daerah itu. Tak lama kemudian, beberapa laki-laki yang kebetulan sedang bercocok tanam tak jauh dari tempat itu segera mendekat.


"Ada apa, Nyai..." kata salah seorang pria.


"Jatayu... Jatayu..., mendadak pingsan bantu saya untuk membawanya pulang,"


"Tunggu... jangan sembrono," sahut pria lain.


"Memangnya kenapa ?"


"Dia keracunan,"

__ADS_1


" Justru karena itu, kita harus segera membawanya pergi dari sini,"


"Dia keracunan, Mang Nurdin... racunnya tidak biasa. Sebelum membawanya pergi olesi dulu tubuh kita dengan getah tanaman ini, kalau tidak, racun itu juga menjalar ke tubuh kita,"


Beberapa orang penduduk segera menurut, setela mengolesi tubuh mereka dengan tanaman yang dimaksud, orang yang dipanggi Mang Nurdin itu segera mengangkat dan membawanya ke rumah Ki Jampang.


***


Suhu tubuh Jatayu panas sekali, keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhnya, betis kanannya bengkak dan membiru. Ia mengoceh tak keruan sementara Ki Jampang mencoba untuk menekan racun itu dengan tenaga dalamnya agar tidak merembet ke jantung.


"Bagaimana betis kanannya bisa terluka cukup parah begitu ?" tanya Mang Nurdin.


"Mana saya tahu, mang... kalaupun tahu, pastilah ular itu akan kubunuh," kata Nyai Menik.


"Jangan bicara sembarangan, Nyai.... kau tahu, kita berada di kawasan Alas Sewu Dino. Kawasannya Kakek Jogo Boyo. Sekali kita salah bicara, penguasa hutan ini bisa saja membahayakan nyawa kita semua," jelas Ki Jampang sambil kedua tangannya mencengkram kuat betis kanan Jatayu yang membengkak dari dua sisi, ia memekik keras.


"Hah !!"


Pekikan itu mengejutkan semua orang.


"Ccrroott!"


Suhu tubuh Jatayu yang semula panas perlahan-lahan menurun. Warna biru pada permukaan kulit, berangsur-angsur menghilang. Ia berhasil melewati saat-saat kritisnya.


Ki Jampang dan yang lain menghela nafas lega. Namun, saat kondisi badan Jatayu membaik masih juga tidak sadarkan diri. Nyai Menik tampak cemas, "Aki, mengapa Jatayu belum sadar juga ?"


tanyanya.


"Tunggulah sebentar lagi, dia butuh istirahat yang cukup, apalagi terkena gigitan ular emas. Tolong bantu aku menjaganya, Nyai," kata Ki Jampang.


"Aku mau kemana ?" tanya Nyai Menik.


"Aku akan menemui Ki Jagabaya. Sementara, tolong bantu aku untuk merendam kaki Jatayu dalam air hangat, masukkan permata ini ke dalam air itu," kata Ki Jampang sambil memberikan batu merah delima itu, "Tolong jangan biarkan ada orang lain memasuki ruangan ini sebelum aku keluar," sambungnya.


"Baik, aki..." kata Nyai Menik yang segera bekerja cepat mengikuti arahan Ki Jampang, setelah itu menutup pintu ruangan.


Sepeninggal Nyai Menik, Ki Jampang menatap tubuh Jatayu. Ia menarik nafas panjang beberapa kali, setelah itu memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Sesaat kemudian, sebuah asap putih tipis keluar dari ubun-ubun-nya. Asap itu melayang kesana kemari, setelah berputar-putar sebentar, asap itu bergerak berarak memasuki celah-celah lubang udara lalu menghilang entah kemana....


***


Seorang laki-laki tua duduk di sebuah pecahan batu berukuran raksasa. Ia mengenakan sebuah sorban putih sebagai penutup kepala, pakaiannya seputih sutera dan sebuah selendang merah, mengikat pinggangnya. Tepat di sebelah kirinya sebuah kayu kuning berbentuk seperti badan ular seakan menancap pada salah satu sisi batu raksasa itu Sekalipun ujungnya seakan tak menyentuh tanah.

__ADS_1


"Selamat datang, Ki Jampang...." suaranya datar namun berwibawa saat sesosok bayangan putih muncul dan duduk bersila dihadapannya. Laki-laki tua itu mengangkat wajahnya perlahan-lahan, sekalipun usianya sudah satu abad lebih, namun, tak ada garis-garis ketuaan menghiasi wajahnya yang tenang dan memancarkan kebijaksanaan. Sorot matanya sekalipun tampak teduh, namun, di balik itu tersimpan sebuah kekuatan besar yang mampu menundukkan siapa saja yang jadi lawan bicaranya.


"Maaf, mengganggu waktu istirahat, anda Kakek Jagabaya..." kata Ki Jampang.


"Ho... ho... ho... ho... kita adalah saudara senasib dan seperjuangan, mengapa hari ini kau tampak seperti orang asing, Jampang," kata laki-laki tua itu sambil mengelus jenggotnya.


"Ini mengenai Raden Bagus Jatayu, Ki Jagabaya..."


"Ho... ho... ho..., aku sudah mengetahui kejadian yang ia alami hari ini, Jampang. Tapi, sepertinya kau berhasil menyembuhkannya dan mengambil batu permata Merah Delima dari luka gigitan ular emas itu,"


"Benar. Akan tetapi, sampai sekarang ia belum siuman sekalipun kondisi tubuhnya sudah membaik. Bisakah Ki Jagabaya menceritakan apa sebenarnya yang sudah terjadi ?"


"Aku sendiri tidak mengerti... bagaimana Jatayu bisa bertemu dengan ular langka tersebut. Seumur hidup yang kutahu apabila ingin bertemu dengan ular emas itu, pihak yang bersangkutan harus mengadakan sebuah ritual pemanggilan Raden Roro Dyah Ayu Sitoresmi. Mereka akan terikat perjanjian demi mendapatkan mustika merah delima tersebut. Tapi, Jatayu, tanpa sengaja terkena gigitan ular emas tersebut dan mendapat mustikanya. Aku hanya bisa mengatakan ini adalah jodoh," jelas laki-laki tua yang dipanggil dengan sebutan Ki Jagabaya itu.


"Kalau memang demikian, sudah saatnya Jatayu saya serahkan pada penguasa Alas Sewu Dino untuk digembleng fisik dan mentalnya. Akan tetapi, dia..."


Ucapan Ki Jampang diputus oleh Ki Jagabaya, "Jangan khawatir, Jampang... aku tahu dimana ia sekarang berada. Aku akan menemuinya dan memintanya berangkat ke Alas Sewu Dino. Biarlah Datuk yang menggemblengnya. Maaf, Jampang... aku tahu kau telah mendidik dan memeliharanya sejak ia masih kecil. Jika dulu, kedua orang tuanya tidak melakukan kesalahan yang fatal, mungkin kau tidak perlu melakukannya. Sekarang, kalian harus merelakan kepergian Jatayu untuk sementara waktu. Dia dipersiapkan untuk menjadi penguasa Hutan Seribu Hari dan .... apakah kau tidak merasakan adanya kekuatan hitam yang jahat dan bisa membahayakan alam semesta. Dulu kitalah yang harus menjaga keseimbangan alam semesta ini... namun, kita sudah tidak muda lagi. Biarlah yang muda ini menggantikan kita untuk menjaga ketenangan dan kedamaian dunia seisinya. Jika sudah tiba saatnya, berharap saja kerja keras kita ini membuahkan benih dan hasil yang baik,"


"Baiklah, Ki... saya hanya khawatir, Jatayu tersesat seperti kedua orang tuanya,"


"Jampang.... percayalah bahwa kau telah mendidiknya dengan baik. Janganlah ragu-ragu,"


***


Jatayu membuka kedua belah matanya, ia terkejut mendapati dirinya sudah berada di tempat asing. Ia tidak tahu sejak kapan berada di tempat ini, yang ia ingat adalah seekor ular emas menggigit betis kanannya. Gigitan itu membuatnya panas dingin, aliran darahnya tidak stabil, mematikan seluruh syaraf yang mengarah ke otak, pandangannya kabur, kepalanya terasa pening sekali dan seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga.


"Selamat datang di kawasan Alas Sewu Dino ini, anakku,"


Suara tanpa wujud itu bagai terdengar di segala penjuru. Ia menoleh kesana-kemari mencari darimana suara itu berasal.


"Siapa kau ? Mengapa aku berada di tempat ini ?" tanya Jatayu.


"Jika kau ingin mengenalku, kutantang kau untuk datang ke tempat ini 3 hari lagi. Kalau kau berani, aku berjanji, akan mengabulkan seluruh keinginanmu. Jika tak berani, itu artinya kau pengecut dan luka pada betis kananmu itu cepat atau lambat akan membusuk dan.... he...he...he... selamanya, kau akan menjadi orang lumpuh. Nah, aku akan membantumu kembali ke rumah paman tua. Ingat 3 hari lagi kau harus kembali ke tempat ini, sendirian. Nah, pejamkanlah matamu,"


Jatayu menurut, ia memejamkan matanya dan ia merasakan adanya hembusan angin kencang, tubuhnya seakan melayang-layang ke udara. Tak lama kemudian, tubuhnya seakan dilempar jauh... jauh sekali dan ...


Jatayu membuka matanya, kini ia mendapati dirinya terbaring di sebuah tempat tidur sementara Nyai Menik duduk setengah terbaring dengan kepala menempel di tepi pembaringan sedang Paman Tua terbaring di lantai ruangan dengan selembar kain tipis sebagai alasnya. Melihat kedua orang itu, Jatayu merasa iba. Mereka bukanlah orang tua kandungnya tapi perlakuan kepada dirinya melebihi segala-galanya.


"Ingat, nak... tiga hari lagi," suara itu kembali terdengar menggema, semakin lama semakin jauh untuk kemudian suasana kembali sunyi.


__________ Bersambung ke Jilid 2

__ADS_1


__ADS_2