
# 13
Sementara itu, bulan Purnama masih menggantung diatas langit Alas Sewu Dino yang cerah. Cahaya keemasannya berpadu dengan gemerlap cahaya bintang. Beberapa ekor kelelawar terbang melintas mengepakkan sayap sambil memekik pelan, mereka seakan bernyanyi mengiringi perjalanan malamnya yang hanya tinggal beberapa jam lagi.
Dari kejauhan, tampak sebuah asap hitam kemerahan bergulung-gulung rendah di tengah udara sementara tak jauh di belakangnya, sebuah asap putih tipis mengikutinya. Mereka saling kejar, saling kurung dan saling berbenturan. Setiap kali beradu, terdengar bunyi dentuman yang cukup keras. Sepersekian detik kemudian, asap-asap itu saling membelit dan berputar-putar di udara bagaikan pelintiran angin ****** beliung yang semakin lama semakin merendah dan menghantam sebuah batu cadas.
Asap tersebut berubah menjadi 2 sosok bayangan manusia yang sedang berdiri berhadap-hadapan. Salah satu sosok itu berbaju merah, menggendong tubuh seorang wanita; sementara, yang lain adalah seorang pria gagah perkasa, berdiri kokoh.
“Hm, bukan main hebat sekali ilmu meringankan tubuhmu, kisanak,” kata pria berbaju merah itu.
“Kau terlalu merendah, paman... kaulah sebenarnya yang lebih hebat, bergerak lincah sambil menggendong orang dari Tunggal Bayu sampai ke Alas Sewu Dino ini,” kata pemuda gagah itu.
“Apa maksudmu dengan menghadang jalanku, kisanak ?”
“Saya tidak bermaksud menghadang paman. Akan tetapi, paman telah lancang membawa pergi Siluman Tengkorak Merah itu. Padahal, jelas-jelas ia harus kutangkap karena telah meneror warga,”
“Jika kau ingin menangkapnya, maka, kau harus menghadapiku terlebih dahulu, karena Tirta Sari adalah muridku satu-satunya .... murid KALA MAYIT,” kata orang itu.
“KALA MAYIT ? Bukankah paman dulu yang pernah menghadapi PANJI GUMILANG sewaktu Sandekala menyerang Tunggak Bayu yang kedua kalinya ?”
“Siapa sebenarnya kau ini, kisanak ? Apa hubunganmu dengan Panji Gumilang ?”
“Jika saya tidak melihat dengan mata kepala sendiri kepandaian Paman, mungkin saya ragu dengan ucapan Panji Gumilang,”
“Kau terlalu berlebihan, Kisanak... diantara sekian banyak orang yang menjadi lawanku, mungkin Panji Gumilang-lah yang paling tangguh, aku nyaris tewas di tangannya dulu. Tapi, sekarang... dia bukanlah tandinganku,” ujar orang yang bernama Kala Mayit itu.
Laki-laki yang menggendong tubuh seorang wanita itu adalah memang benar KALA MAYIT, salah satu bekas panglima perang kerajaan Sandekala. Jika para pembaca sekalian mengikuti kisah ini dari awal hingga akhir, pasti tahu siapa Kala Mayit.
Setelah Sandekala diobrak-abrik oleh Nimas Selo, Yuangga tidak lagi mengurusi kerajaannya, ia lebih suka berlatih bela diri memperdalam ilmu-ilmu kepandaiannya. Maka, banyak para senopati atau para panglimanya mundur, memilih pulang ke kampung halaman. Demikian pula 5 Kala Bersaudara, 3 diantaranya memilih bertahan sementara : KALA SUDRA dan KALA MAYIT memilih untuk berpetualang di tempat yang berbeda. Sandekala bagaikan kehilangan salah satu sayapnya, tetapi, tidak bisa diremehkan, masih mengerikan bagi kerajaan-kerajaan lain.
Dalam petualangannya, Kala Mayit bertemu dengan seorang gadis cilik yang tengah dikejar-kejar oleh sekawanan perampok, entah mengapa tiba-tiba hati nuraninya tergerak untuk menolong. Setelah membunuh para perampok itu, harapan Kala Mayit adalah bantuannya itu tak berkelanjutan, nyatanya, salah. Gadis cilik yang bernama Tirta Sari malah mengikutinya kemanapun ia pergi. Berbagai cara dilakukan Kala Mayit untuk mengusir Tirta Sari, namun, gadis itu tetap keras kepala. Tirta Sari telah mengembalikan sisi-sisi kemanusiaan Kala Mayit dan akhirnya, gadis cilik itu diangkat menjadi anak sekaligus murid.
Lewat Kala Mayit, Tirta Sari mendapat warisan ilmu-ilmu tingkat tinggi; Sayangnya, Kala Mayit yang sudah lama berkecimpung dalam dunia hitam, belum bisa mengajarkan nilai-nilai kebenaran yang berlaku dalam masyarakat pada umumnya. Tirta Sari TERSESAT.
Tirta Sari adalah seorang anak yang cerdas, rajin, mau bekerja keras dan pandai, dalam waktu singkat, mampu menyerap habis ilmu-ilmu yang diturunkan oleh Kala Mayit, ia berhasil menanamkan rasa hormat, patuh dan berdisiplin tinggi. Itulah sebabnya, Tirta Sari begitu patuh dan menghormati gurunya, membuat Kala Mayit makin menyayanginya.
Pada umur 15 tahun, Kala Mayit memperbolehkan Tirta Sari turun Gunung dan mengembara. Dari sekian banyak ilmu kepandaian yang diturunkan, hanya ilmu LEBUR JIWA masih jauh dari sempurna. Untuk menyempurnakannya, si empunya ilmu tersebut harus menyerap sari-sari kehidupan dari makhluk hidup di malam purnama, menjadikan diri awet muda, tanpa itu, ilmunya akan merusak tubuh sendiri. Setiap makhluk hidup yang diserap sari-sari kehidupannya, akan menjadi keriput bahkan menjadi tulang-belulang. Dalam hal ini, jelaslah sudah bahwa sepak terjang Tirta Sari di Desa Tunggak Bayu adalah semata-mata demi menyempurnakan ilmu sesatnya itu.
Sementara itu di Gunung Tengkorak dimana Kala Mayit tinggal, kepergian Tirta Sari yang dirasa cukup lama, membuatnya kesepian. Maka, ia memutuskan untuk turun gunung dan mencari keberadaan Tirta Sari. Dengan menelusuri kabar tentang Siluman Tengkorak Merah, banyaknya orang yang menghilang secara misterius selama beberapa hari dan saat ditemukan tinggal tulang belulang, akhirnya ia tiba di Tunggak Bayu.
Keributan demi keributan di desa tersebut mempertemukannya dengan Tirta Sari yang tengah bertarung dengan Sembada. Kedatangannya sedikit terlambat, ia mendapati Tirta Sari tengah dikepung oleh hawa dingin Tenaga Inti Salju milik Sembada. Semula, ia yakin muridnya berada di atas angin, tapi, ia salah. Ilmu lawan berada jauh di atasnya, begitu nasib Tirta Sari berada di ujung tanduk, iapun terjun ke kancah pertarungan.
Kini mereka telah berdiri berhadap-hadapan, mendengar nama Panji Gumilang disebut-sebut, mau tak mau terkejut juga; Ia tidak tahu sedang berhadapan dengan RAJA ADHEP BUMI, pemimpin utama 5 Ksatria Penjuru Mata Angin.
__ADS_1
***
Lewat Panji Gumilang, Sembada mengetahui bahwa Kala Mayit memiliki ilmu kebal yang cukup tinggi, ia mempersiapkan segala kemungkinan yang ada dan tidak berani memandang rendah ilmu lawan.
“Kisanak ... aku takkan membiarkanmu menyakiti muridku juga kembali ke Tunggak Bayu dengan selamat. Sekarang, bersiaplah menjemput kematianmu,”
Setelah berkata demikian, Kala Mayit melompat mundur beberapa tindak, sepasang matanya memerah, mulutnya komat-kamit dan menyusul, terdengar bunyi gemerantak buku-buku jarinya. Asap merah tipis kehitaman dan berbau busuk keluar dari kuku-kukunya yang hitam dan seakan meruncing.
“HHHIIIAAATTTHHH !!!”
Kala Mayit melompat tinggi ke udara sementara jari-jemarinya bergerak menyambar kesana-kemari. Sembada merasakan adanya desiran angin dingin tajam bergerak ke arahnya. Tipuan, itu adalah pengalih perhatian, serangan sebenarnya berasal dari atas cakar-cakar Kala Mayit sudah berada tepat di batok kepalanya. Kala Mayit menyeringai, energi jahatnya sudah mengepung Sembada di berbagai penjuru, sekali gebrak ke arah batok kepala lawan, habislah sudah. Itulah yang ada di pikiran Kala Mayit. Benar saja, cakar-cakar tersebut mendarat mulus di kepala Sembada, akan tetapi ....
DDUUAARR...
Ledakan keras terjadi, Sembada tidak mengelak atau menangkis, melainkan membiarkan saja kuku-kuku Kala Mayit menancap di kepala. Sembada tersenyum, sementara wajah Kala Mayit tampak aneh. Membiru seakan menahan rasa sakit yang amat sangat.
Yah, Kala Mayit merasakan jari-jemarinya seakan menghantam dinding baja yang cukup keras, sebuah kekuatan aneh mengalir dari jari-jemarinya menuju ke pangkal lengan dan berhenti di bahunya.
Tubuh Kala Mayit terjengkang ke belakang satu setengah tombak jauhnya, beruntung masih bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh terbanting. Ia sama sekali tak menyangka serangannya bakal dimentahkan begitu saja, rasa penasaran lebih kuat daripada rasa sakit pada jari-jemarinya, ia mengubah jurusnya.
“Hiath !”
Pekikan itu kembali membahana, tubuh Kala Mayit meluncur deras bagaikan anak panah terlepas dari busur ke arah dada Sembada. Kala Mayit merubah tubuhnya menjadi gumpalan asap hitam dan menebarkan aroma busuk menyengat. 2 serangan dahsyat pemecah perhatian lawan, satu aroma busuk dan yang kedua, serangan fisik dibarengi dengan tenaga dalam yang dahsyat. Jika Sembada adalah seorang yang berkemampuan biasa-biasa saja, pastilah ia roboh terlebih dahulu oleh aroma aneh. Namun, aroma tersebut diabaikan sekalipun membuat dada sesak dan perut serasa diaduk-aduk.
Sekalipun tubuh Kala Mayit berubah menjadi gumpalan asap hitam dan berbau busuk, Sembada mampu melihat serangan-serangan yang dilancarkan olehnya. Sesekali Kala Mayit menyerang dengan cakarnya, sesekali pula menyerang dengan tinju dan tendangan. Sembada menyambut serangan itu dengan tinju dan tendangan pula. Setiap kali tinju dan tendangan mereka beradu, terdengar bunyi ledakan keras menggetarkan bumi dan langit. Hawa energi mereka seakan hendak mengguncang alam semesta.
Sementara itu, Sembada pun melompat mundur, sementara sepasang matanya menatap tajam ke arah Kala Mayit. Keadaannya berbeda dengan Kala Mayit. Wajahnya masih tampak segar dan nafasnya tetap tenang, jelas ia berada diatas angin.
“Ternyata benar perkataan Panji Gumilang, ilmu Kala Mayit cukup tinggi, ia hanya menggunakan sebagian tenaganya saja untuk melayani setiap seranganku,”
“Berhati-hatilah anak muda... kali ini aku akan bersungguh-sungguh,” kata Kala Mayit setelah berhasil mengatur kembali pernafasannya. Tak lama kemudian, tubuhnya seakan bersinar kuning keemasan, KLAMBI WESI MULYO ROGO yang merupakan ilmu pamungkas Kala Mayit telah dirapal.
Kala Mayit adalah salah seorang pendekar pilih tanding pada jamannya, selain ilmu LEBUR NYAWA yang jadi andalannya, ia juga memiliki jurus andalan lain : KLAMBI WESI MULYO ROGO. Dalam kisah pewayangan ada sebuah pakaian yang disebut RAKSUKAN KRE ANTAKUSUMAH, pakaian yang dikenakan oleh Raden Gatotkaca. Itulah yang membuatnya dijuluki Otot Kuwat Balung Wesi, kebal akan segala macam senjata. Tapi, Klambi Wesi Mulyo Rogo milik Kala Mayit ini bukanlah berbentuk baju, tapi lebih menjurus kepada olah nafas, tenaga dalam dan fisik. Kuncinya adalah olah nafas, semakin pandai seseorang mengolah nafas dan dipadukan dengan tenaga dalam, maka, jurus tersebut akan semakin tinggi dan tak terkalahkan. Semakin tinggi sang empunya jurus tersebut, semakin tinggi pula perlindungan dan kekuatannya, tidak menutup kemungkinan akan semakin mudah terluka.
Sembada mencabut sebatang bambu kuning yang kebetulan tumbuh tak jauh dari tempatnya berdiri, ia memandang bambu itu sementara mulutnya komat-kamit, bersiap-siap menghadapi serangan Kala Mayit yang datang sewaktu-waktu.
“Maaf, paman... jika paman berhasil menahan serangan Panji Gumilang, tentunya Anda juga bisa menahan potongan bambu kuning ini,” kata Sembada.
“Kurang ajar, kau terlalu meremehkanku, kisanak.... jangan salahkan aku kejam padamu. Akan kuhancur leburkan bambu lapuk itu berkeping-keping setelah itu tubuhmu menyusul,” kata Kala Mayit. Sepasang mata Kala Mayit terpejam rapat, sinar kuning keemasan di tubuhnya berangsur-angsur lenyap, sepersekian detik kemudian ia berseru keras dan menerjang ke arah Sembada dengan kepalan tangannya.
Sembada tahu, kali ini Kala Mayit bersungguh-sungguh, maka, iapun melayani serangan lawan dengan bersungguh-sungguh pula. Ujung bambu kuningnya terjulur lurus ke depan saat tinju Kala Mayit bergerak semakin lama semakin dekat.
Sembada merasakan desiran angin panas yang menyesakkan dada, bertanda tinju itu dialiri tenaga dalam yang cukup dahsyat. Tapi, Sembada terkejut saat melihat tinju lawan berubah menjadi gumpalan-gumpalan asap hitam. Ujung bambu kuning Sembada menerpa ruangan kosong, sementara asap itu menyebar ke berbagai penjuru dan ....
__ADS_1
“Mampus, kau !!” terdengar seruan yang cukup keras, menyusul punggung Sembada yang terbuka seakan dihantam oleh suatu benda yang cukup keras.
“Dash ...”
Jantung Sembada seakan keluar dari dadanya, serangan itu benar-benar di luar dugaan. Tubuhnya seakan didorong keras ke depan, untung saja ia masih bisa bertahan. Tapi itu tak lama hantaman kedua, ketiga, keempat dan seterusnya membuat Sembada benar-benar kehilangan keseimbangan, iapun jatuh tertelungkup.
Kesempatan itu digunakan oleh Kala Mayit untuk kembali menyerang secara beruntun. Sembada bergulingan di tanah saat merasakan adanya desiran angin panas di punggungnya. Serangan beruntun Kala Mayit, hanya sebagian saja yang mendarat di tubuh Sembada, itupun tidak berarti apa-apa bagi Sembada. Pertahanan Sembada kokoh bak karang, membuat Kala Mayit gusar sekali. Ia menarik serangannya dengan melompat mundur beberapa tindak, dadanya seakan mengembang, ia memenuhi paru-parunya dengan udara untuk kemudian melenting tinggi ke udara. Kali ini ia benar-benar berniat membunuh Sembada dengan seluruh kekuatannya.
Sepasang mata Kala Mayit membelalak lebar, wajahnya memerah, ia menggeram sambil membentangkan kedua tangannya. Mendadak saja angin bertiup kencang, batu-batuan, kerikil dan dedaunan kering seperti dihisap oleh sebuah kekuatan tak kasat mata yang cukup besar. Dalam sekejap, tubuh Kala Mayit seakan dikelilingi oleh bayangan hitam dan berukuran raksasa.
Dalam keadaan seperti itu, Kala Mayit bagaikan sesosok malaikat pencabut nyawa, memandang tak berkedip ke arah Sembada. Dari ubun-ubunnya mengepul asap hitam legam, rambut dan jubahnya seakan berkibar-kibar. Kala Mayit tengah menyerap kekuatan alam sekitar untuk merapal Lebur Jiwa. Sepersekian detik kemudian, tubuh Kala Mayit meluncur deras ke arah Sembada.
Sembada menggenggam erat bambu kuningnya, ia tahu bahwa serangan Kala Mayit kali ini lebih berbahaya dan mematikan. Oleh sebab itu, ia mengaliri seluruh tubuh dengan tenaga murninya, bagi orang yang paham mengenai Kanuragan dan tenaga dalam tentu dapat melihat cahaya putih tipis menyelimuti tubuhnya. Berpadu dengan cahaya kuning keemasan pada bambu Sembada, boleh jadi itu hanya bambu biasa, akan tetapi, bila dialiri dengan hawa murni milik Sembada, bisa menjadi senjata paling mematikan.
“Maaf, terpaksa saya harus mengembalikan serangan Paman,” kata Sembada sambil melompat ringan ke udara menyambut serangan Kala Mayit. Jarak antara keduanya tinggal sedikit lagi saat mulut Sembada komat-kamit setelah itu berkata, "Kosong itu berisi, berisi itu kosong... Jika dari awal kosong, maka, atas kehendak Yang Maha Kuasa, dikembalikan pada asal muasalnya.... kosong !!" ujar Sembada sambil menyabetkan bambu kuningnya ke sekujur tubuh Kala Mayit.
"Pok... pok... pok... pok... pprraakkhh !"
Suara itu terdengar berulang kali, Kala Mayit tak bisa menghindar dari gebukan bambu kuning itu. Pada gebukan terakhir, tubuh Kala Mayit terbanting cukup keras menabrakq pada sebuah batu cadas yang cukup besar.
Kala Mayit berteriak nyaring, ia tampak kesakitan sekali dan dari mata, hidung, telinga dan mulutnya keluar darah merah kehitaman dan kental.
Jeritan Kala Mayit ini menyadarkan Tirta Sari dari pingsannya, ia melihat tubuh gurunya itu berguling-guling di tanah sambil mengerang kesakitan.
"Guru... Guru... apakah Guru baik-baik saja?" teriaknya cemas sambil berlari menghampiri.
Diatas sudah diceritakan bagaimana kelebihan dan kekurangan dari jurus Klambi Wesi Mulyo Rogo. Boleh jadi Kala Mayit adalah seorang pendekar digdaya, tapi, dengan kecerdikannya Sembada berhasil menghancurkan Jurus itu.
Sesaat sebelum Sembada menyerang dengan bambu kuningnya, ia telah merapal Tenaga Inti Salju yang membuat Kala Mayit kesulitan untuk mengatur pernafasannya, kesempatan itu digunakan oleh Sembada menyerang dengan menggunakan bambu kuning, senjata pamungkas untuk melumpuhkan orang-orang yang berilmu kebal.
Akan tetapi, tanpa adanya tenaga dalam yang besar atau kuat, bambu kuning di tangan Sembada tak mungkin bisa melumpuhkan Kala Mayit.
Dulu sewaktu Panji Gumilang bertarung dengan Kala Mayit, Panji Gumilang bersenjatakan sejenis tombak yang kaku. Maka dari itu tidak dapat mengalahkan Kala Mayit dengan mudah, malah justru menambah tenaga dalam Kala Mayit. Bukan berarti ilmu Panji Gumilang lebih rendah darinya.
Kini, Kala Mayit mengalami luka dalam yang cukup parah. Untuk mengembalikan jurus Klambi Wesi Mulyo Rogo miliknya, membutuhkan waktu yang cukup lama bahkan belum tentu bisa kembali seperti semula. Jika Sembada menginginkan kematiannya, mudah sekali. Tapi, Sembada tidak ingin membunuh lawan bila tidak terpaksa.
"Tirta Sari," sapa Sembada, "Kembalilah ke tempat asalmu, bawa serta Gurumu. Kelak, jika kita bertemu kembali, kuharap kita bisa berada di meja makan yang sama," sambungnya.
Tirta Sari menatap tajam ke arah Sembada, "Singkirkan jauh-jauh keinginanmu itu, tuan.... jangan kau kira, ini akan berakhir begitu saja. Aku akan kembali, untuk membunuhmu, Sembada," ancamnya.
Setelah berkata demikian Tirta Sari membopong gurunya lalu meninggalkan tempat itu, sementara Sembada hanya bisa memandangi sambil menggelengkan kepalanya. Setelah tubuh wanita cantik itu menghilang, Sembada menjejak tanah, tubuhnya melesat ke udara dan berlalu dari tempat itu.
Sepeninggal mereka, dari tempat tersembunyi tampak sesosok bayangan wanita tua bongkok, berpakaian hitam dan tangannya menggenggam sebuah tongkat berukiran ular.
__ADS_1
"He... he... he... he... wanita yang keras kepala juga perkasa. Kelak kau pasti bisa kujadikan muridku ....he... he... he... he....," suara tawa parau nak burung gagak itu menggema ke segala penjuru, semakin lama semakin jauh lalu menghilang dan digantikan oleh kicauan burung yang menyambut langit merah di ufuk Timur.
____ Bersambung Jilid ke-14 ____