DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Gerbang Kematian Episode 01 - Alas Sewu Dino ( babak kesepuluh )


__ADS_3

#10


Angin berhembus perlahan, menyapu badan Gunung Seribu Bunga, menerbangkan gumpalan-gumpalan awan putih di langit senja, seakan menggiring sang raja siang ke tempat peraduannya. Sinar-sinar jingga yang menyeruak masuk ke tepian awan membentuk garis-garis yang indah, semakin lama, semakin lemah untuk kemudian memudar, digantikan oleh wajah kuning keemasan bulan purnama.


Dari kejauhan, terdengar suara derap langkah kaki kuda mendekat. Sembada dan Jatayu telah tiba di desa Tunggak Bayu.


Sekalipun suasana malam itu tampak indah, namun, jalanan sudah sepi. Hanya beberapa petugas ronda yang masih berseliweran keliling dari rumah satu ke rumah lain sambil membawa obor.


"Hei, bukankah kau Sembada ?" tanya salah seorang penduduk. Dia berusia sekitar 35 tahunan.


Sembada segera mengenali siapa dia, Dullah. Teman seperjuangannya saat serangan pertama kerajaan Sandekala ke Tunggak Bayu ini.


"Dullah..." sapa Sembada.


"Sembada," sahut Dullah sambil menyalami dan memeluk Sembada erat-erat.


"Bagaimana kabarmu, Bada ? Sama sekali tak kusangka.... kau bisa menjadi raja di Adhep Bumi," ujar Dullah.


"Aku hanya memberikan apa yang menurutku baik untuk semua orang. Oya, ini adalah anakku... namanya Jatayu," ujar Sembada.


"Hai, bagaimana kabarmu, nak ?" tanya Dullah sambil membelai kepalanya.


Jatayu tertawa, "Baik-baik saja, paman... apakah ini desa Tunggak Bayu ?"


"Waduh ... anak yang berani. Anakmu hebat, Bada. Setelah orang tuamu meninggal, kami masih tetap menjaga dan membersihkan rumahmu. Sayangnya, Tak ada yang tinggal disana sekarang," jelas Dullah.


"Terima kasih atas perhatian kalian. Budi kalian tak bisa kubalas,"


"Jangan seperti itu, Bada ... jasa-jasamu untuk desa ini cukup besar. Tanpa adanya kau, belum tentu kami bisa hidup sampai sekarang. Tapi...."


"Kenapa, Dullah ?"


"Akhir-akhir ini, banyak kejadian yang membuat para penduduk desa ketakutan. Terutama saat malam-malam purnama begini,"


"Hei, Dullah... sebaiknya kau antar dulu Sembada ke rumahnya. Lihatlah, si Jatayu nyaris sudah tidak bisa membuka matanya," sahut Parto yang semenjak tadi berdiri di samping Dullah.


"Astaga, aku sampai lupa kalau Sembada sudah punya putera. Baiklah, biar Satrio yang menemanimu sebentar. Aku akan mengantarnya pulang," ujar Dullah.


***


Rumah sederhana itu terletak tengah tanah lapang yang cukup luas. Beratap rumbiah dan berdinding anyaman bambu. Sekalipun bentuknya sederhana, namun, asri dan nyaman untuk ditinggali.


Sembada termenung sesaat lamanya, sementara, Jatayu sudah berlarian kesana-kemari. Ia tampak senang sekali. Namun, ia terkejut saat melihat seorang pria paruh baya muncul dari dalam rumah.


"Ayah... ayah... rumah itu ada orangnya," teriak Jatayu sambil berlari menghampiri Sembada dan bersembunyi di balik tubuhnya.


Sembada menatap tajam ke arah laki-laki paruh baya namun masih bertubuh tinggi, tegap dan kekar.


Dullah tertawa, ia menghampiri laki-laki itu.


"Ha... ha... ha... Sembada, beliau adalah Ki Jampang. Selama ini beliaulah yang menjaga dan mengurus rumahmu,"


"Ki Jampang," ujar Sembada sementara sepasang mata laki-laki paruh baya menatap tajam ke arahnya. Sembada balas menatapnya, 4 pasang mata itu seperti memancarkan kilatan cahaya putih, kilatan cahaya itu bertemu di tengah udara, saling dorong dan saling menekan. Mendadak saja hawa di sekitar tempat itu serasa menyesakkan dada. Dullah dan Jatayu merasa tidak nyaman dengan udara panas itu.

__ADS_1


Mendadak orang yang dipanggil Ki Jampang itu tertawa, "Ha... ha... ha... ha..., tampaknya Kakek Jagabaya tidak salah memilihmu sebagai suami Sasmita Sukma Candramaya. Tenaga dalammu hebat juga anak muda,"


"Anda terlalu tinggi menilai saya, Ki... terima kasih atas kebaikan hati Anda telah mengampuni saya," ujar Sembada.


"Kau berlebihan, nak... mari kita masuk,"


Sembada, Jatayu dan yang lain melangkah masuk.


"Terima kasih karena anda telah menjaga rumah warisan ayah saya, Ki," kata Sembada.


"Sudahlah, nak ... ayahmu, Sobo Bayu adalah pria berjiwa ksatria maka, sudah selayaknya kami menjaga peninggalannya," ujar Ki Jampang.


***


"Siluman Tengkorak Merah. Darimana sebenarnya dia berasal ?" tanya Sembada.


"Kami tidak tahu, Den Sembada...," ujar Ki Jampang.


"Korban tewas di desa ini, sudah 8 orang. Semuanya, adalah pemuda-pemuda gagah dan tampan, rata-rata mereka belum menikah," jelas Dullah.


"Pemuda-pemuda itu sempat menghilang selama 3 hari 3 malam, hari keempatnya muncul kembali. Mereka lebih gagah dan tampan... namun, memiliki kebiasaan aneh... suka memakan daging mentah. Entah itu ayam, kambing, sapi dan hewan-hewan ternak lainnya. Tepat hari ketujuh, mereka mengeluh sekujur badannya sakit semua dan ... yang lebih mengerikan daging di sekujur badannya menyusut, mereka menjadi kurus kering dan berubah menjadi tengkorak. Pada kasus lain daging mereka ada yang mendadak mengeluarkan cairan kental berwarna putih dan saat cairan itu menghilang, tubuh mereka hanya tinggal tulang belulang saja," tambah Ki Jampang.


"Apakah Ki Jampang sudah mencoba untuk mencari tahu dimana sarang siluman itu ?"


"Den Sembada... itu sulit, Siluman itu bisa berubah menjadi salah satu dari penduduk desa ini entah itu wanita, entah itu pria, anak-anak lugu dan polos sekalipun. Maka dari itu, untuk menghindari saling curiga, kami memasangkan gelang bambu kuning ini ke semua warga. Kau dan Jatayu pakailah juga,"


Ki Jampang menyodorkan gelang tangan terbuat dari bambu kuning dan dipasangkan ke tangan kanan Sembada.


"Apa keistimewaan gelang ini, Ki ?"


"Apakah Ki Jampang pernah bertemu dengan Siluman itu ?"


"Pernah. Waktu itu tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang wanita cantik. Namanya : Tirta Sari, berasal dari Desa yang letaknya jauh dari tempat ini. Desa Tirta Bening. Dia benar-benar cantik jelita, tak heran banyak pemuda desa ini yang tergila-gila padanya. Saat itu tanpa sengaja, aku berpapasan dengannya dan gelang kuningku ini menyerempet lengan kirinya. Dia berteriak-teriak kesakitan, gara-gara itu, aku sampai dituduh berbuat tidak senonoh padanya. Tapi, bukan itu yang jadi masalah... goresan kecil itu seperti membakar kulitnya, dan mendadak ia berlari sambil memegangi lengannya yang perlahan-lahan menjadi abu,"


"Karena aku merasa bersalah, aku mengejarnya. Aku berhenti mengejar saat ia tiba di bibir hutan Sewu Dino. Ia membalikkan badan dan aku terkejut saat melihat wajahnya. Separuh wajah sebelah kiri berubah menjadi tengkorak dan wajah sebelah kanan berubah keriput. Setelah itu dari dalam hutan muncul lebih kurang 3 sosok bayangan yang kemudian menyerangku dengan gumpalan asap putih berbau busuk, membuatku roboh tak sadarkan diri. Sejak saat itulah, Siluman Tengkorak Merah muncul dan meneror warga,"


"Alas Sewu Dino ? Bukankah itu adalah wilayah sakral bagi para penghuni Gunung Seribu Bunga? Bagaimana mungkin tempat itu dihuni oleh segerombolan siluman," ujar Sembada.


"Saya tidak tahu tentang itu, den... kakek Jagabaya pun tidak pernah mengatakan hal itu pada saya,"


Pada saat itulah terdengar bunyi ribut-ribut di luar. Sembada, Ki Jampang dan Dullah buru-buru keluar.


"Ada apa ini ?" tanya Dullah.


"Ada seorang pemuda dari desa ini menghilang lagi, Dullah ..." kata seorang laki-laki bertubuh gemuk pendek.


"Baiklah, kita cari bersama-sama," sahut Dullah.


"Aku akan ikut kalian," ujar Sembada sambil menoleh ke arah Ki Jampang, "Ki, saya pergi dulu, tolong jaga Jatayu dengan baik,"


Ki Jampang menganggukkan kepala, "Baiklah, den... berhati-hatilah,"


***

__ADS_1


Hutan Cemara. Merupakan salah satu tempat atau pintu masuk menuju Alas Sewu Dino. Pohon-pohon itu tingginya mencapai 10 meter dan tumbuh begitu lebatnya. Dengan diterangi oleh cahaya kuning keemasan sang Dewi malam.... deretan pohon Cemara itu bagaikan sekelompok raksasa dari dunia lain menjaga tempat tersebut.


Di sela-sela bayangan pepohonan, tampak dua sosok bayangan bergerak menyelinap. Akan tetapi begitu sampai di tepi hutan, mereka menghentikan langkah-langkahnya, tampak ragu untuk melanjutkan perjalanan memasuki hutan itu


Dari kejauhan, tampak titik-titik nyala api jumlahnya cukup banyak dan bergerak semakin lama semakin dekat. Membuat dua sosok bayangan yang berada di tepi hutan Cemara itu buru-buru bersembunyi di tempat yang dirasa aman.


"Sembada, ini adalah pintu masuk Alas Sewu Dino, setelah munculnya siluman Tengkorak Merah itu, para penatua desa melarang kami memasukinya. Ini adalah kawasan terlarang," ujar Satrio.


"Sekali masuk ke hutan ini, kemungkinan untuk keluar dengan selamat, kecil sekali," sambung Dullah.


"Jangan Khawatir, biarkan aku yang masuk, kalian berjaga disini. Tunggu... tampaknya ada 2 orang bersembunyi di sekitar tempat ini. Kalian waspadalah," ujar Sembada setelah itu memungut sebuah batu dan melemparkannya ke tempat dimana 2 bayangan itu bersembunyi.


"Sing..."


Bunyi itu berasal dari batu yang dilempar oleh Sembada. Potongan batu tersebut segera meluncur kencang ke arah pada sebuah pohon yang jauhnya lebih kurang 5 meter di depan Sembada berdiri.


"Aduh..."


"Kalian berdua keluarlah... jika tidak kami akan menangkap kalian," ujar Sembada.


Tidak ada jawaban. Kembali Sembada memungut batu, kali ini jumlahnya lebih dari 3.


"Aku sudah memperingatkan kalian, kalau kalian tidak keluar juga jangan salahkan batu-batu ini membuat kalian terluka parah," kata Sembada sambil hendak melemparkan batu-batu tersebut. Namun...


"Baiklah, kami akan keluar,"


Bersamaan dengan itu seorang pemuda tampan keluar dari balik sebuah pohon Cemara sambil menggandeng seorang wanita cantik.


"Hei, siapa kalian ?" tanya Dullah.


"Berduaan lagi..." sahut Satrio, "Kalian ini tak tahu tata Krama, ya ?"


Sembada memberi isyarat pada Dullah dan penduduk yang lain tenang. Tapi, beberapa pria mengabaikan peringatan itu, tatapan mata mereka tampak liar dan garang.


"Kalian pasti bukan berasal dari penduduk Tunggak Bayu ini. Katakan siapa kalian sebelum kami bertindak lebih jauh,"


Pemuda itu tersenyum, ia menyuruh si pemudi berdiri di belakangnya sementara ia berdiri dengan gagah, "Maaf, paman-paman sekalian... kami memang bukan dari desa ini, tapi kami berasal dari Desa Tirta Bening,"


Baru saja pemuda itu menutup mulutnya, dari tempat lain, tepatnya dari tempat yang jaraknya lebih kurang 15 meter muncul beberapa bayangan tanpa berkata apa-apa mendadak mereka menyerang Sembada dan para penduduk desa lain dengan kepulan asap berwarna putih dan menebarkan aroma busuk.


"Hati-hati, lebih baik kalian mundur, biar aku yang menghadapi mereka," ujar Sembada sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Saat ia berseru nyaring, kedua telapak tangannya di dorong ke depan dan....


"Wwuusshh... "


Dari kedua telapak tangan Sembada seakan mengeluarkan udara dan membuat asap putih itu kembali ke pemiliknya.


Sosok-sosok yang berjumlah sekitar 5 orang itu bagaikan orang kesetanan. Mereka berteriak-teriak sambil memegang leher masing-masing, matanya melotot dan wajahnya membiru setelah itu mereka ambruk.


Sepasang muda-mudi itu, mendadak saja lenyap dari pandangan Sembada dan para penduduk Tunggak Bayu.


"Sembada," seru Dullah, "Untuk memasuki hutan Cemara ini, kita harus mendapatkan ijin dan para tetua,"


"Kalian, kembalilah ke Desa... biar aku yang mencari Saudara Permadi. Beri aku waktu 3 hari untuk menjelajahi hutan ini, jika aku tidak kembali, kutitipkan Jatayu pada Ki Jampang," setelah berkata demikian, tubuh Sembada melesat tinggi ke udara melompat dari dahan pohon yang satu ke dahan yang lain setelah itu tubuhnya tak nampak lagi.

__ADS_1


Dullah dan yang lain menghela nafas panjang, tak kuasa mencegah kepergiannya.


__________ Bersambung Jilid ke-11


__ADS_2