
P r o l o g :
Aku memanjakan diriku berbaring di pembaringan yang kubeli tadi pagi. Sebuah spring bed, bagi orang yang sudah merasakan enaknya tidur di spring bed yang selalu dipromosikan di layar kaca maupun banner... Tidur di spring bed, Itu sudah biasa. Akan tetapi, aku yang nyaris berumur kepala 3, selama ini hanya tidur di pembaringan yang terbuat dari kapuk. Itu bagiku sudah mewah.
Mengapa ? Karena ini adalah hasil dari jerih payahku bekerja di kantor yang kata orang-orang tidak berani bayar gaji mahal karena berbagai alasan... Seandainya ada pekerjaan yang lebih bagus dan sesuai dengan bidangku, aku memilih pindah saja dari kantor terkutuk itu.
Spring bed. Baunya begitu harum, dan saat tubuhku terbaring, aku bisa bergerak naik turun, konon apa yang ada pada bagian spring bed itu juga berfungsi sebagai pelancar peredaran darah, memijat otot dan urat yang kebas sehingga keesokan hari saat bangun, tubuh kembali segar. Aku terus memanjakan diriku, membayangkan esok saat bangun tubuhku benar-benar segar kembali.
"Kkkrrriiieeettthhh...."
Terdengar pintu depan dibuka dan tampak sesosok bayangan hitam berkelebat melintas dari ruang depan menuju ke dalam melewati kamarku. Jarak antara pintu depan dengan kamarku tidak seberapa jauh, penerangan pun belum kumatikan.
Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidur, melangkah ke ruang depan. Pintu memang terbuka, buru-buru kututup pintu dan kukunci. Setelah memastikan pintu dan jendela tertutup, aku melangkah ke arah belakang dimana bayangan itu masuk. Tak ada siapapun. Aku yakin ada bayangan masuk tapi pemilik bayangan itu tak kelihatan. Kuperiksa seluruh ruangan, siapa tahu adik-adikku sudah pulang dari rumah tetangga sebelah, tapi, setelah menghubungi ponselnya, mereka masih asyik main video game.
__ADS_1
Aku sampai di dapur, sepasang mataku menyapu ke sekeliling ruangan ke setiap sudut, tidak ada siapapun. Angin dingin berhembus perlahan melalui celah-celah lubang udara, desiran angin membuat bulu kuduk meremang. Aku menggosok-gosok pangkal lenganku yang mendadak saja merasa aneh dan tidak nyaman.
"Kretek... Kretek....kretek... Kretek...."
Batang-batang pohon bambu yang tumbuh di belakang rumah saling bergesek ditiup angin diiringi bunyi lolongan anjing hutan menambah hati merasa tidak nyaman. Aku membalikkan badan, melangkah meninggalkan dapur. Langkah kakiku terhenti manakala sebuah aroma wangi menyengat tercium yang tak tahu darimana asalnya. "Aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini," gumamku sendirian.
Lokasi dapur memang terpisah agak jauh dari rumah utama, halaman belakang, penerangan pun minim ditambah lagi banyaknya pohon bambu yang nyaris tidak pernah dirapikan, padahal dulu sudah meminta ayahku untuk memberikan penerangan yang maksimal disini, juga menebang pohon-pohon yang sudah tua atau layak dipanen tapi, tidak digubris. Sekalipun dipasang batu bata setinggi 2 meter lebih sebagai pembatas halaman belakang dan sungai penghubung sawah tetangga, tapi itu tetap saja membuat kami was-was. Dan, sejak aku tinggal di rumah ini, baru sekarang mengalami hal yang aneh. Aku yakin tadi benar-benar melihat ada sebuah bayangan masuk, melewati depan pintu kamarku, namun setelah aku memeriksa di sekitar rumah, bayangan itu menghilang entah kemana.
Aroma itu memudar berubah menjadi aroma wangi melati, mataku terbelalak lebar manakala melihat sosok tinggi besar mengenakan pakaian putih kecoklatan berdiri membelakangi ku di pintu depan namun, hanya sebentar saja begitu terdengar sebuah ketukan dari pintu luar dan namaku dipanggil-panggil.
"Kak Thia, kami sudah pulang... Tolong buka pintunya,"
Aku melirik jam dinding yang tergantung tepat diatas pintu keluar, pukul 20:00, aroma aneh itu masih terasa walau tidak sekeras tadi. buru-buru aku membuka pintu, Si Felix dan adiknya, Ditha berdiri diambang pintu.
__ADS_1
"Kalian janji mau pulang sebelum jam delapan malam, kok meleset...." tanyaku mulai menyidang.
"Maaf, kak... " Ujar Felix sambil menundukkan wajah, merasa bersalah.
"Ditha sudah mengajak kak Felix pulang jam tujuh tadi, tapi, dia bilang bentar lagi... Bentar lagi... Tinggal sedikit lagi. Malas jadinya," sahut Ditha, "Kakak pakai parfum, ya... Kok baunya harum ?" tanyanya kemudian.
"Tidak... Memangnya, kau mencium bau apa ?" tanyaku sambil mengunci pintu begitu mereka masuk.
"Bau bunga melati, kak ?" jawab Ditha.
Jantungku seakan mencelos keluar mendengar perkataan Ditha. Di sudut sana dekat pintu masuk... Sosok itu berdiri membelakangi kami. Rambutnya hitam, panjang, kusut dan dibiarkan menutupi punggungnya.
__________
__ADS_1