
#11
Dengan ilmu Meringankan Tubuhnya, Sembada melompat dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lain gerakannya lincah bagaikan seekor tupai. Daun-daun Cemara seakan bukanlah penghalang baginya untuk menerobos masuk ke dalam hutan dan sesekali ia berhenti sejenak untuk mengamati keadaan sekitar. Ia meningkatkan kewaspadaannya karena Alas Sewu Dino, bisa membuat orang tersesat. Akan tetapi, bagi seorang yang berilmu tinggi seperti Sembada, itu bukanlah apa-apa. Tujuannya, semata-mata hanya untuk mengejar 2 sosok muda-mudi yang ditemui di tepi hutan.
Beruntung cahaya purnama yang terang benderang itu bisa membantu penglihatannya mengamati keadaan sekitar. Dan, tampak olehnya di bawah sana 2 titik bayangan kecil sedang berlari menuju ke arahnya. Salah satu dari dua bayangan itu berhenti dan duduk di bawah salah satu pohon Cemara.
"Tirta, mengapa kau meninggalkanku ? Mengapa kau justru pindah di desa kecil dan miskin ini ?"
"Bang Benawa... untuk apa kau mencariku ? Bukankah diantara kita sudah tidak terdapat hubungan apa-apa lagi ?"
"Kau pikir, mudah bagiku untuk melupakanmu, Tirta ? Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan fatal sehingga membuatmu kesal sewaktu di Tirta Bening, apakah kau tidak mau memaafkanku ?"
"Bukan begitu, bang... aku hanya khawatir saat tak mampu mengendalikan kekuatanku, kau bisa tewas... Kau sudah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri, coba pandai-pandailah menempatkan diri,"
"Tirta, aku tak ingin dianggap sebagai kakak... aku ingin memilikimu seutuhnya,"
"Bang, jangan membuatku marah. Terima kasih kau telah membantuku melarikan diri dari kejaran para penduduk itu... tetapi, gara-gara kau, aku kehilangan dia,"
"Apa maksudmu, Tirta ?"
Bayangan hitam yang duduk di bawah pohon Cemara itu menatap tajam ke arah pemuda yang berdiri di hadapannya.
"Aku bukanlah Tirta Sari yang dulu, bang.... maka dari itu sebelum aku berubah pikiran, pergilah sejauh mungkin dari hadapanku !"
"Aku takkan membiarkanmu pergi lagi, Tirta... aku sudah berkorban mencarimu kesana-kemari hingga sampai di desa ini. Aku tak ingin kau menolakku mentah-mentah... jadi jaga sikapmu,"
"Lalu, kau mau apa ? Membunuhku ? Kau terlalu meremehkanku Bang Benawa. Cukuplah bagiku menjadi seorang wanita yang lemah. Sudah kukatakan padamu, aku bukanlah Tirta yang lemah yang selalu menuruti keinginan orang-orang di sekitarku, terlebih kau, bang. Aku bisa membunuhmu dalam sekejap mata,"
"Oh, jadi kau ingin membunuhku ? Silahkan saja, takutnya tak mudah kau melakukannya,"
"Baik. Sesuai dengan permintaanmu. Berhati-hatilah, kau,"
Setelah berkata demikian, bayangan wanita yang disebut sebagai Tirta Sari itu, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Pada saat itulah, tubuh wanita itu perlahan-lahan menjadi asap hitam.
Pemuda bernama Benawa itu terkejut, "Hah, apa yang terjadi ? Kemana Tirta Sari dan asap apakah ini ?" gumamnya seorang diri sambil mencoba menyingkirkan asap yang mengelilingi tubuhnya. Tapi, ia menjerit kesakitan manakala tangannya yang menyentuh asap tersebut seakan terbakar. Hal yang sama terjadi pada saat asap itu menyentuh kulit-kulitnya yang lain, seakan ada api yang membakarnya. Jika tidak ingin merasakan hal yang sama, ia harus menjauhi asap tersebut.
Sembada yang menyaksikan itu terpana, dalam hati ia kagum pada ilmu gadis itu, "Ilmu Kanuragan yang cukup tinggi aku baru pertama kali ini melihatnya. Apakah dia salah seorang penduduk Sandekala ?"
Pria bernama Benawa itu mencoba untuk terus menjauhi asap tersebut.
__ADS_1
"Hi... hi... hi... hi... bagaimana, bang kau masih berani melawanku ?" suara itu terdengar menggema. Bersamaan dengan itu asap tersebut kembali ke wujud aslinya.
Benawa benar-benar tidak menyangka bahwa wanita yang dulu menjadi idamannya menjadi seorang wanita berilmu tinggi. Ia tidak percaya, tapi, itulah kenyataannya.
"Darimana kau mempelajari ilmu sesat seperti itu ?" tanya Benawa.
"Sesat ? Kau tahu apa tentang sesat dan tidak sesat ? ini adalah keinginanku, aku tak ingin direndahkan lagi oleh orang-orang di sekitarku. Karena kau telah mengacaukan rencanaku, aku akan membunuhmu," wanita itu berseru lantang ia menggerakkan cakar-cakarnya ke berbagai penjuru.
Benawa mencoba menahan cakar itu dengan tangan dan kakinya, akan tetapi, saat kaki dan tangannya beradu, cakar wanita itu berubah menjadi asap dan segera mengurung kaki dan tangan pemuda itu... pemuda itu terlambat menarik kaki dan tangannya masuk ke dalam lingkaran asap merah kehitaman itu.
Benawa tahu, asap itu bisa membakarnya sewaktu-waktu tapi, ia tidak peduli, ia sudah siap dengan resiko yang ada dan ia terkejut manakala asap-asap itu bergerak memasuki rongga hidung, telinga dan mulutnya...
Sebuah kejadian dahsyat dan mengerikan segera terjadi, tubuh pemuda itu mengeriput, daging dan kulitnya seakan bagai disedot ke dalam... jika digambarkan... ibaratnya seperti bangunan-bangunan atau gedung yang runtuh dan masuk ke dalam tanah... itulah yang terjadi pada Benawa.
Tak terdengar lagi jeritan atau teriakan histeris, tahu-tahu, tubuh Benawa berubah menjadi tengkorak, menyusul kemudian tulang belulang itu tergeletak berserakan di tanah.
Sembada terkejut. Baru pertama kali ini dalam hidupnya menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.
Belum habis rasa kagetnya, telinganya mendengar teriakan nyaring. Wanita yang dipanggil dengan sebutan Tirta Sari itu berteriak-teriak seperti orang kesakitan. Tubuhnya bergulingan di tanah. Tirta Sari menanggalkan seluruh pakaiannya dan tampak oleh Sembada, sekujur tubuh molek itu berlubang-lubang mirip sarang tawon.
Sepersekian detik kemudian, dari dalam lubang itu seakan muncul daging baru untuk kemudian menutupi lubang tersebut dan ....
"Hi... hi.... hi... hi... aku gagal menculik pemuda dari Desa itu namun sebagai gantinya aku memperoleh tubuh yang lebih segar. Harusnya kau bersyukur karena telah membuatku awet muda, Benawa.... hi... hi... hi... tapi, kulit pria terlalu kasar dan menyakitkan. Tidak cocok dengan tubuhku ... ke depannya aku akan mencari gadis-gadis yang lebih cantik jelita dan lebih muda dengan itu ilmu ini akan jauh lebih sempurna.... hi... hi... hi..." suara tawa wanita itu menggema lantang memenuhi sekitar dan semakin lama semakin menjauh. Tubuh Tirta Sari lenyap diantara bayangan-bayangan pohon Cemara.
Sembada melompat turun dari tempat pengintaiannya dan berdiri di dekat tulang belulang yang berserakan di tanah. Ia tak habis pikir ilmu apa yang dikuasai wanita itu hingga mempunyai kemampuan untuk menyerap daging dan darah tubuh orang.
***
"Ilmu ini langka sekali, den Sembada.... beruntung kau cermat, jika tidak mungkin nasibmu akan sama dengan pemuda yang bernama Benawa itu," ujar Ki Jampang.
"Apakah Ki Jampang pernah berhadapan dengan ilmu ini ?" tanya Sembada.
"Tidak pernah, den Sembada. Ini adalah hal baru, belum tentu kita bisa mengalahkannya,"
"Sudahlah, Ki... yang penting kita harus memperketat penjagaan. Sepertinya, siluman itu akan datang malam ini. Jadi, kita harus waspada. Siluman itu biar saya yang menghadapinya,"
"Jangan buru-buru, den Sembada... kita harus memiliki rencana yang matang untuk menjebak siluman itu," sahut Ki Jampang.
"Dia bisa berubah menjadi asap, Ki. Siapapun yang tersentuh asap itu akan mati. Dengan cara apa kita menangkapnya ?" tanya Dullah.
__ADS_1
"Kau tak perlu memikirkan hal itu, Dul... yang penting kita harus menjaga penduduk desa ini agar selamat dari incaran siluman itu," ujar Satrio.
***
Malam itu bulan purnama tampak begitu indah dengan cahayanya yang kuning keemasan. Demikian pula bintang gemintang yang bertaburan memenuhi langit. Sekalipun tampak begitu indah akan tetapi, suasana tegang tampak dari wajah-wajah para petugas ronda desa Tunggak Bayu, yang sebagian besar adalah pemuda-pemuda tampan.
Mereka berjaga di pos ronda yang ada di titik-titik rawan seperti sungai, sawah dan hutan. Semua orang telah mendengar sepak terjang Siluman Tengkorak Merah yang mempunyai kebiasaan muncul tiap malam bulan purnama dan menculik pemuda-pemuda berumur 13 tahun ke atas.
Maka dari itu para bocah berumur 13 tahun ke atas tidak diperkenankan keluar rumah saat senja tiba. Dan rumah-rumah mereka dijaga dengan ketat sekali. Membuat para penghuninya resah dan gelisah.
Setelah gagalnya serangan Kerajaan Sandekala yang kedua kali, desa ini tampak tenang dan damai namun selang beberapa tahun kemudian Siluman Tengkorak Merah muncul dan mengganggu ketenangan, kedamaian dan ketentraman. Menebar teror saat purnama datang.
Suara lolongan serigala malam yang saling sahut dari kejauhan seakan menggema, terdengar dimana-mana.
"Suara anjing hutan itu membuatku merinding, Pak Jali," kata seorang petugas ronda.
"Bukan cuma kau saja, bung yang merinding mendengarnya, hampir seluruh penduduk mengalami hal yang sama," kata orang yang dipanggil dengan sebutan Pak Jali itu.
"Mengapa desa kita ini selalu diteror malapetaka seperti ini, ya ?"
"Entahlah. Yang jelas, kalau kita bersatu, para siluman itu tidak akan bisa menginjakkan kakinya di tempat ini,"
"Itu, benar... awas, jangan lengah atau teledor, Pak Jali. Tampaknya, siluman itu sangat kuat sehingga hampir separuh penduduk dikerahkan untuk berjaga-jaga,"
"Bagaimana dengan Permadi ? Apakah dia baik-baik saja ?" tanya Pak Jali.
"Dia baik-baik saja, pak... untung pemuda itu menghadang Siluman itu, kalau tidak mungkin dia akan jadi korban selanjutnya. Saya heran, mengapa wanita itu suka menculik dan membunuh para pemuda desa ini,"
"Bukannya Permadi itu temanmu, Rif ? Kudengar ia baru putus dari Ratih...." tanya Pak Jali.
"Itu adalah urusan mereka, pak... saya tak berani ikut campur. Hei, apa itu ?" kata Arif sementara sepasang matanya menatap tajam ke arah asap merah kehitaman melayang-layang di udara.
"Sembada mengatakan bahwa siluman itu bisa berubah menjadi asap... mungkinkah itu dia ?" tanya Jali.
Asap itu bergerak semakin lama semakin dekat. Arif dan Jali menutup rapat-rapat mulutnya, mereka saling pandang untuk kemudian Arif berjalan hati-hati sekali menuju ke arah Utara.
Dari arah Utara, sesosok bayangan menyembul keluar dari semak-semak dan berlari menuju rumah Pak Lurah yang letaknya tidak jauh dari tempat itu.
"Baiklah, aku akan pergi ke rumah Ki Jampang untuk menemui Sembada... sementara kalian... usahakan persempit geraknya dan jangan sampai memasuki wilayah kita.
__ADS_1
__________ Bersambung Ke Jilid 12