DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 7 : Menerobos Lorong Ruang dan Waktu ( babak ketujuh )


__ADS_3

07. Pertemuan dan Perpisahan


Siang itu, SD Negeri 1 Banyuwangi, tempat dimana Maribeth dan Wiguna bersekolah digegerkan dengan munculnya sesosok makhluk tinggi, berbulu hitam lebat dan mengenakan seragam sekolah. Makhluk itu diburu oleh guru beserta karyawan sekolah, anak-anak dipulangkan lebih awal dari biasanya. Guru-guru beserta karyawan memeriksa semua ruangan, memeriksa setiap jengkal tanah di sekitar sekolah. Akan tetapi, makhluk itu tidak nampak, pencarian berlangsung hingga sore hari.


Di saat semua murid pulang, hanya Maribeth saja yang masih tinggal di sekolah itu hingga Pak Rusli, Kepala Sekolah menegurnya.


“Semua teman-temanmu sudah pulang. Mengapa kau masih disini ? Tak tahukah kamu kalau hari ini sekolah digegerkan oleh sosok makhluk aneh dan semua orang mencarinya ? Jika terjadi sesuatu padamu, bagaimana kami mempertanggung jawabkannya pada orang tuamu ?”


“Kakak saya, Wiguna, belum pulang. Kalau dia tidak ikut pulang, saya bisa kena marah orang tua,”


“Mungkin dia sudah pulang. Pulanglah terlebih dahulu, kalau memang belum pulang kau bisa kembali ke sekolah bersama orang tuamu, nak. Jika kau masih disini, bapak khawatir kalau makhluk itu mencelakaimu,”


“Kakakku belum pulang. Saya yakin itu. Setidaknya itu bisa membantu,”


“Terserah kau, jika ada apa-apa padamu... sekolah tak akan bertanggung jawab, lho. Yang jelas, kau jangan jauh-jauh dari kami.”


Maribeth mengangguk, lalu berjalan bersama dengan Pak Rusli yang sudah bergabung dengan guru-guru lain. Hingga akhirnya, tibalah mereka di ruangan perpustakaan. Sepasang mata Maribeth bergerak menyapu ke setiap sudut ruangan. Buku-buku usang berdebu, tertata sembarangan di dalam rak buku bercat hitam dan tingginya 3 kali lipat dari tinggi manusia dewasa pada umumnya. Rak-rak itu berdiri berjejer, bagaikan barisan sebuah pasukan raksasa di lapangan terbuka. Hampir seluruh rak berdebu itu diselimuti oleh sarang laba-laba berbagai ukuran, sebagian bergerak perlahan manakala si pembuatnya berjalan di atasnya, sebagian lagi bergerak naik turun saat udara sore berhembus masuk melalui celah-celah lubang udara juga saat pintu ruangan dibuka.


Begitu memasuki ruangan perpustakaan, semua orang disuguhi bau pengap dan meremangnya bulu kuduk, karena, sejak sekolah itu berdiri, ruangan inilah yang jarang dimasuki orang. Konon para guru senior menganggap ruangan itu adalah ruangan dimana para makhluk halus berkumpul. Di pihak Maribeth, bocah itu menutup matanya manakala melihat sosok wanita berwajah rusak, berlumuran darah dan berbaju putih, berdiri di ujung ruangan yang merupakan sebuah podium * (mimbar besar, tempat berpidato).


Maribeth mengintip dari sela-sela jari-jari lentiknya, ia berharap Wiguna ada juga di tempat itu meski ketakutan menjalari sekujur badannya. Wiguna tidak disana, ia kemudian mengalihkan perhatiannya ke deretan rak-rak buku hitam legam itu dan pada rak sebelah ujung, tampak olehnya sosok tinggi besar hitam dan berbulu lebat duduk disana. Disamping sosok itu ada sosok lain, ia mengenakan seragam almamater SD Negeri 1 Banyuwangi. Dialah Wiguna, kakak angkatnya.


Karena Ruangan Perpustakaan itu luas, guru-guru berpencar dan Maribeth memilih untuk berdiri di ambang pintu seperti yang disarankan oleh Pak Rusli. Melihat Maribeth berdiri sendirian, Wiguna dengan hati-hati menuruni Rak tempat dia duduk dan begitu kakinya menapak lantai, ia segera berlari menghampiri Maribeth.


“Kak, mengapa kakak ada di sini ? Apa yang terjadi ?” tanya Maribeth dengan nada lirih.


“Kau tahu, jika orang-orang mengetahui wujud asliku, mereka pasti akan ketakutan atau mungkin bisa membunuhku. Aku sendiri tak tahu mengapa pagi tadi tubuhku ini ditumbuhi bulu-bulu hitam dan lebat seperti ini,”


“Kak, sebaiknya kita pulang sekarang. Ceritakan semuanya pada Kakek Ladoyo dan Nenek Karmila,”


“Baiklah. Mungkin aku tak akan bisa lagi bersekolah disini setelah kejadian hari ini...”


“Kak, keluarlah terlebih dahulu, jangan sampai para guru tahu, makhluk itu adalah kau...”


Wiguna mengangguk, saat itu pula tubuhnya berkelebat lalu menghilang di antara semak-semak belukar yang tumbuh lebat di sekitar sekolah. Tak lama kemudian, Pak Rusli muncul diikuti dengan guru-guru lain, “Sebaiknya, pencarian kita hentikan dulu. Besok usahakan teman-teman sekalian bersikap biasa-biasa saja,” katanya sambil mengisyaratkan agar semua orang keluar dari ruangan Perpustakaan. Sesaat sebelum semua orang pergi, telinga Pak Rusli menangkap suara seperti lantai dipukul-pukul oleh benda keras, begitu ia mengalihkan perhatiannya ke tempat bunyi itu berasal, ia tak melihat apapun. Namun, Maribeth tahu apa yang terjadi. Sesosok tubuh dibungkus kain kafan berwarna putih, bergerak ke arah pintu masuk dengan cara melompat-lompat, saat pintu ditutup, suara itu tak terdengar lagi.


***


Maribeth duduk di ruangan tengah rumah Keluarga Alas Purwo, ia duduk di sebelah Karmila yang tengah menidurkan Lita, sementara, Wiguna menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. Dalam penjelasannya, Wiguna menceritakan bahwa, saat di sekolah ada beberapa orang anak dari kelas 6 tengah menggoda anak perempuan kelas 4. Karena merasa kasihan pada anak itu Wiguna membelanya, tak disangka anak-anak kelas 6 mengajaknya berkelahi. Wiguna menolak, hingga akhirnya diejek habis-habisan, hingga ia harus menerima pukulan dan tendangan mereka. Saat dihajar habis-habisan, mendadak saja, permukaan kulit wajah, tangan dan kaki bahkan sekujur badannya tumbuh rambut hitam dan lebat. Mati-matian Wiguna menyembunyikan itu dengan berlari ke kamar kecil. Sialnya, ia bertabrakan dengan Bu Nur, hingga tubuh guru wanita itu terjengkang ke belakang.


Keributan segera saja terjadi, teriakan makhluk aneh yang keluar dari mulut Bu Nur didengar oleh guru-guru lain. Sesaat terjadi kejar-kejaran, sementara, para murid dipulangkan lebih awal. Pengejaran itu berakhir di ruangan perpustakaan. Disitulah ia bertemu dengan Maribeth, dengan bantuan Maribeth, ia bisa pulang dengan selamat. Wiguna mengakhiri ceritanya, wajahnya tampak sayu seakan tidak ada lagi semangat dalam dirinya.


Ki Ladoyo menghela nafas panjang, “Hmm... sebenarnya, ini takkan terjadi bila kau bisa menahan diri,” katanya. Wiguna tertegun, “Maksud Kakek, saya harus diam saja melihat ada orang yang diperlakukan seperti itu ?” tanyanya.


“Kau bisa saja melaporkan hal itu pada bapak-ibu guru. Tak perlu kau turun tangan,” sahut Ki Ladoyo, “Kalau sudah begini, sulit rasanya bagimu untuk kembali bersekolah disana,”


“Maksud kakek, Kak Wiguna harus pindah sekolah ?” tanya Maribeth, “Kakak sudah kelas 6, sebentar lagi ujian kenaikan kelas dimulai. Jika pindah sekolah, bukankah harus mengulang semua materi pelajaran yang sudah diberikan oleh bapak-ibu guru selama ini ?” sambungnya.


“Itu adalah resiko Wiguna. Dengan ini dia bisa mendapatkan pelajaran bahwa, tidak seharusnya ikut campur dalam masalah bodoh seperti itu lagi,” ujar Ki Ladoyo.


Keputusan Ki Ladoyo memang beralasan, meski banyak ditentang orang, namun, itu semua demi kebaikan dan masa depan Wiguna. Wiguna seringkali pindah-pindah sekolah karena alasan yang berbeda-beda. Semuanya, adalah demi menjaga jati diri Wiguna, dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya.. Beruntung Wiguna adalah anak yang cerdas, sehingga tak perlu mengulang semua materi pelajaran yang sudah diajarkan oleh guru-gurunya. Ia selalu naik kelas dengan nilai yang sangat istimewa.

__ADS_1


Demikian pula halnya dengan Maribeth; setelah kejadian yang dialami oleh kakak angkatnya Wiguna, ia jadi bahan perbincangan orang-orang di SD Negeri I Banyuwangi. Banyak anak-anak yang mengatakan bahwa ‘ia adalah anak aneh’, ‘memiliki saudara siluman’, juga perkataan-perkataan yang menyakitkan hati. Sebenarnya, ia ingin sekali pindah sekolah, tetapi, Sulastri dan keluarga Alas Purwo berusaha membesarkan hatinya, bahkan Wiguna ingin sekali memberi pelajaran pada anak-anak yang menyakiti hati dan usil padanya.


Siang itu, sepulang sekolah, Maribeth berkunjung ke rumah Wiguna. Setelah mencari kesana-kemari, Maribeth menemukan Wiguna tengah duduk sendirian di sebuah pohon beringin yang tumbuh di halaman belakang. Sepasang matanya menatap lurus ke depan, dimana hamparan sawah hijau dan luas membentang di hadapannya. Teriakan Maribeth membuyarkan lamunan Wiguna, buru-buru pemuda itu menoleh. Tubuh pemuda itu melompat-lompat ringan dari dahan pohon satu ke dahan yang lain sesekali tangannya meraih akar-akar yang bergelantungan liar tak beraturan.


Sesaat kemudian Wiguna sudah berdiri di hadapan Maribeth. “Bagaimana kakak bisa sampai di atas sana ? Apa yang kakak lihat ?” tanya Maribeth. Wiguna tersenyum, lalu ia menggendong tubuh Maribeth dan membawanya ke tempat dimana tadi ia duduk. Maribeth menutup matanya, karena memang ia tak suka ketinggian. “Bukalah matamu, lihatlah, aku menemukan teman yang indah untuk menghilangkan rasa bosan,” kata Wiguna.


Perlahan-lahan Maribeth membuka matanya, dan apa yang ia lihat benar-benar membuatnya kagum, seumur hidup, ia hanya melihat banyak pemandangan membosankan juga mengerikan karena secara tak sengaja bertemu dengan sosok-sosok makhluk yang aneh-aneh dan mengerikan. Akan tetapi, pemandangan yang kini dilihatnya benar-benar membuat hatinya gembira sekali. Untuk sesaat mereka berdua menikmati pemandangan alam yang disajikan oleh sang Maha Kuasa, segala yang pernah terjadi beberapa waktu terakhir seakan terlupakan begitu saja.


Beberapa saat kemudian, Wiguna menatap Maribeth yang masih mengagumi keindahan alam yang ada di hadapannya, tadi wajahnya tampak kusut sekali, kini berseri-seri. Meski masih berumur 10 tahun, ia sudah kelihatan cantik dan manis, Wiguna benar-benar menyayanginya bagaikan saudara kandung sendiri, apapun yang dirasakan adiknya, ia turut merasakannya pula. Kedatangan Maribeth ini pasti berhubungan dengan masalah yang dihadapi di sekolahnya, “Maribeth, kali ini ada masalah apa di sekolahmu ?” tanyanya.


Maribeth menoleh dan sesaat kemudian menundukkan kepala, “Setelah kakak pindah sekolah, mereka (Adi, Januar, Bobby, Nadya, dan Abel) masih saja mempermainkan Emil. Pak Rusli tampaknya membiarkan saja kejadian itu. Sepertinya, beliau takut sekali dengan keluarga mereka terutama Bobby yang merupakan orang berpengaruh di kota ini,” jelasnya. Wiguna menghela nafas panjang, “Memang Bobby adalah anak orang yang paling berpengaruh disini, sampai-sampai para guru tidak berani bertindak tegas pada mereka. Ehm, kau masih ingat ruangan perpustakaan, bukan ?” tanyanya.


Maribeth mengangguk perlahan, “Ada apa dengan ruang itu, kak ? Saya tak berani datang kesana sendirian apalagi ada wanita berwajah rusak dan mengerikan berdiri di podium,”


Wiguna tersenyum, “Yah, aku tahu. Bukan hanya satu atau dua makhluk yang tinggal disana, banyak sekali. Tapi, aku berteman dengan beberapa dari mereka, dan aku menyuruh mereka untuk menjaga dan melindungimu. Jika perlu mereka bisa berteman denganmu,”


“Siapa mereka ?” tanya Maribeth penasaran.


“Wanita berwajah mengerikan itu bernama Rukmini, meski memiliki wajah yang rusak parah itu sebenarnya dia baik. Terus sosok berkain kafan yang disebut orang sebagai pocong itu adalah pak kebun yang dulu pernah bekerja di sekolah itu. Namanya, Slamet. Dan, masih banyak lagi. Aku tak bisa menyebutkan nama mereka satu persatu. Disamping itu masih ada lagi, beberapa sosok anak kecil yang hidup pada jaman Belanda. Merekalah yang akan menjaga dan melindungimu. Nanti kau bisa berkenalan dan bersahabat dengan mereka,” jelas Wiguna.


Maribeth terdiam, ia tak berkata apa-apa selain mengalihkan pandangan ke hamparan sawah luas nan hijau di hadapannya. Ia memejamkan mata, perasaannya serasa tenang sekali. Tak lama kemudian ia menghirup udara sekitar dan memenuhi rongga dadanya. Segar dan sejuk. Berulang kali ia melakukan itu dan segala yang terjadi di sekolah siang tadi benar-benar terlupakan. Sejak saat itulah, Maribeth sering menghabiskan waktu disana bersama Wiguna. Namun, jika Kakak angkatnya tidak ada di tempat ia duduk sendirian disana.


Seiring dengan berjalannya sang waktu, Maribeth kecil tumbuh menjadi seorang gadis jelita. Apapun yang dialami semasa masih SD pahit, manis, suka dan duka bersama Kakak angkatnya Wiguna menjadikan dirinya sebagai gadis yang mandiri. Hingga saat usianya 13 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa keluarga Alas Purwo, harus kembali ke tempat mereka berasal. Peristiwa ini membuatnya terpukul, harus berpisah dengan Wiguna yang selama ini menghiburnya saat sedih, membantunya bangun saat jatuh terpuruk dan memberinya semangat. Maka dari itu saat sendiri, ia selalu menyanyikan lagu TONIGHT’S SO COLD, yang ditujukan untuk kakak Angkatnya Wiguna. Berikut lirik lagu tersebut :


First time I saw you standing there


I felt a magic in the air


You simply ordered me to stay


"Tonight I need your love"


And now I need you more and more


Take a look in my eyes


You'll see love's been hurt


Tonight's so cold inside my room


I close my eyes and feel blue


I talk with shadows on the wall


They know that I still wait for you


Tonight's so cold inside my room


I close my eyes and feel blue


I talk with shadows on the wall

__ADS_1


Tonight's so cold inside my room


And now I sit here by the phone


Why don't you call? I'm here alone


I hear some footsteps on the floor


But it's the neighbour locked his door


"Tonight I need your love"


And now I'm crying in the dark


Oh I wish you were here


To heal the pain in my heart


Tonight's so cold inside my room


I close my eyes and feel blue


I talk with shadows on the wall


They know that I still wait for you


Tonight's so cold inside my room


I close my eyes and feel blue


I talk with shadows on the wall


Tonight's so cold inside my room


Maybe someday you'll be free


Take all your dreams you can share with me


I know together we'll be strong


No more sadness, no more fears


Tonight's so cold inside my room


I close my eyes and feel blue


I talk with shadows on the wall


They know that I still wait for you


...__________...

__ADS_1


^^^( 06 Oktober 2017 )^^^


__ADS_2