DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 30 : S o s o k #1 ( Adnan )


__ADS_3

#1


Namanya, Adnan. Dia bekerja di bagian security kantor hotel tempatku bekerja. Karena aku sudah bekerja nyaris 8 tahun, aku tahu latar belakang semua pegawai juga prestasi kerja mereka. Tak terhitung berapa kali pegawai keluar masuk dari hotel Sekar Wadung. Entah karena ketidak cocokan mereka dengan pemilik hotel atau teman sekantor, gaji tak mencukupi karena tidak sesuai dengan UMR.


Sementara, aku bekerja di bagian administrasi sekantor dengan Lilis dan Karmila. Boleh dibilang Lilis adalah seniorku, tapi, bukannya menyombongkan diri, gajiku lebih tinggi dibandingkan dengan mereka. Karena selain bekerja di kantor, aku juga merangkap sebagai baby sitter.


Baby sitter ? Kelihatannya aneh, bukan ? Tapi baby sitter disini, bukanlah merawat balita ( bayi lima tahun ) ataupun batita ( bayi tiga tahun ), melainkan orang tua di atas enam puluh tahun alias jompo.


Adnan adalah salah satu dari sekian banyak teman yang menaruh hati padaku. Umurnya lebih muda 1 tahun dariku tapi cara berpikirnya luas, mungkin karena dia sudah menjadi seorang ayah dengan seorang anak perempuan berumur 5 tahun namun bercerai dengan isterinya entah karena suatu hal yang tidak sembarang orang boleh mengetahuinya.


Ibu pernah berkata, "Nduk, yen Kowe nggolek bojo, lek iso, yo sing gati Karo Kowe terus ora males, gemi nyambut gawe, ora boros, tampang Ojo klemis-klemis, biasane uwong sing klemis Kuwi, kakean medok," ( nak, kalau kau mencari suami, kalau bisa ya perhatian, tidak malas dan rajin bekerja, tidak boros. Wajah jangan terlalu rupawan, biasanya orang yang seperti itu suka main perempuan ). Adnan memang tampan, mungkin dialah yang paling tampan diantara pegawai-pegawai pria lain. Setidaknya itu menurutku juga pegawai-pegawai perempuan yang lainnya.


Dia memang banyak yang naksir, tapi, ia cuma menanggapinya biasa-biasa saja. Berbeda perlakuannya padaku, dia sangat perhatian. Itu membuat karyawati hotel iri, tapi mereka adalah yuniorku, apa boleh buat. Selama ia bekerja di Sekar Wadung, ia sering di-bully oleh para seniornya. Tapi, entah bagaimana caranya sehingga membuat para seniornya takluk. Demikian pula aku.


Aku sebenarnya sudah memiliki pujaan hati, setiap hari aku berharap ia segera melamarku bukannya orang lain. Tapi, entah kenapa tiba-tiba, Adnan singgah di hatiku dan membuatku melupakan, Reksa padahal hubungan kami nyaris lebih dari 5 tahun. Jika anda bertanya mengapa kami tidak segera menikah .... Kompleks, itulah yang bisa kujawab saat ini.


Membina hubungan kasih sayang, kepercayaan dan cinta dalam waktu sekian tahun tidaklah mudah. Ini masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan hingga Reksa yang sedikit memahami hal-hal yang berhubungan dengan dunia gaib menanyakan... Apakah sebelum kau jadian sama Adnan, dia memberimu sesuatu ? Itu mengingatkanku pada kejadian 2 tahun yang lalu.

__ADS_1


***


Pemuda itu telah melewati seleksi atau serangkaian tes yang diadakan oleh pihak hotel. Hasilnya benar-benar memuaskan baik dari segi kesehatan, fisik, niat dan lain sebagainya. Keesokan harinya adalah hari pertama masuk kerja. Ia mencoba bersosialisasi dengan para senior. Bagiku ia terkesan pendiam, lugu dan polos. Para pegawai di Sekar Wadung memang suka usil, ia dikerjai banyak hal yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan bagian keamanan sebagai contoh : membersihkan kamar yang seharusnya dikerjakan oleh bagian office boy diberikan kepadanya, tapi Adnan dengan sukarela melakukannya.


Hari demi hari ia melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidangnya. Karmila merasa kasihan, demikian pula halnya dengan Lilis...


Siang itu, Adnan diberi pekerjaan mengganti alas tempat tidur, membersihkan salah satu kamar tamu yang baru saja check out. Kamar itu berantakan, banyak sampah organik maupun non organik berceceran.


"Tamu sialan," umpat Ali seorang petugas office boy kepada salah satu rekannya, "Sudah dikasih peraturan bahwa para tamu diharapkan ikut menjaga kebersihan kamar, malah membuat kotor dengan barang-barang menjijikkan,"


"Hei, kan ada Adnan, suruh saja dia membersihkannya, toh dia lagi santai, tuh," tukas Edwin sambil menunjuk ke arah Adnan yang sedang menyapu halaman hotel.


"Berhentilah mempermainkan dia. Atau aku akan melaporkan hal ini pada mama ( sebutan kami pada Bu Lis Harjati pemilik hotel Sekar Wadung ). kelakuan kalian itu bisa jadi aib untuk para pegawai lainnya, tahu ?!" Sahut Karmila.


Adnan yang mendengar kejadian itu kebetulan sudah menyelesaikan pekerjaannya, berjalan mendekat, "Sudahlah, mbak... Biarkan saja, kita semua harus saling membantu dan menjaga. Mungkin mereka letih karena sudah seharian membersihkan kamar, sementara saya ... Daripada diam lebih baik membantu mereka, dong,"


Jawaban ini membungkam semua orang yang ada di halaman, Adnan segera meraih peralatan kebersihan dari tangan Ali untuk kemudian menuju ke kamar no. E-121 yang berada paling ujung. Namun Karmila mencegahnya, "Mas Adnan, biarkan mereka yang bekerja, itu sudah jadi tugasnya, bukan tugasmu,"

__ADS_1


Adnan hanya menanggapinya dengan tersenyum ramah.


Seluruh kamar blok E-100 sampai E-125, letaknya agak terpisah jauh dari kamar-kamar lain, lokasi yang berdiri diatas tanah seluas 100 H, konon didirikan di atas tanah bekas pemakaman, selain penerangannya minim, juga terdapat pohon-pohon tinggi berdaun lebat dan boleh dibilang tak seorangpun menginginkan menanam pohon tersebut sebagai salah satu hiasan kebun rumah. Maka, jarang sekali ada orang yang memilih untuk menginap di kamar blok E, karena terkesan angker. Itulah sebabnya, Ali dan Edwin enggan untuk menginjakkan kaki atau membersihkan atau merapikan blok tersebut.


Pintu kamar E-121 terbuka, Adnan mencium bau apek, sementara matanya menyapu ke sekeliling. Plastik, kertas tissue, sisa-sisa makanan berserakan di sepanjang lantai, "Benar-benar jorok banget tamu yang menginap disini," katanya seorang diri lalu memasang sarung tangan dan sepatu boot lalu mulai bekerja. Mendadak telinganya mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Ia tersentak, "Maaf, tuan... Saya kira kamar ini sudah kosong," katanya.


Tak ada jawaban, suara gemericik air itu terhenti sesaat mendengar suara Adnan. 5 menit kemudian suara itu terdengar lagi... Adnan termenung, ia teringat akan pesan Mama... "Saat kau memasuki sebuah kamar, ketuklah pintu terlebih dahulu biar orang yang ada di dalam tahu kalau ada tamu. Jangan buru-buru masuk, karena orang akan menyangka kita maling atau apa,"


"Tidak. Sebelum aku masuk kemari, aku sudah memastikan bahwa tamu sudah check out apalagi Mas Ali dan Mas Edwin juga sudah mendapatkan laporan perihal ada atau tidaknya orang di dalam kamar. Jelas, kamar ini sudah kosong. Tapi, mengapa terdengar seseorang di kamar mandi ?" Katanya sambil melangkah menuju ke kamar mandi.


"Tok... Tok... Tok..."


Adnan mengetuk pintu, "Permisi, apakah masih ada orang ?" tanyanya. Lagi, tak ada jawaban maka ia memutuskan untuk membuka pintu itu dan....


" Kkrriieetthh...."


Pintu terpentang lebar dan di dalam kamar mandi tersebut, kosong.

__ADS_1


__________


__ADS_2