
#8
Setelah Kerajaan Sandekala dipukul mundur, Sembada secara resmi memimpin Istana Adhep Bumi dan meminang Sasmita Sukma Candramaya sebagai permaisurinya. Sembada memimpin Kerajaan Adhep Bumi secara Arif dan bijaksana. Banyak negeri-negeri kecil lain bergabung dengan istana Adhep Bumi sehingga kerajaan tersebut menjadi salah satu kerajaan terbesar di bumi Nusantara.
Sekalipun Sembada mampu menyelesaikan seluruh urusan pemerintahan dengan baik, namun, dipusingkan oleh urusan keluarga. Setelah menikah dengan Sasmita Sukma Candramaya, Sembada dikaruniai seorang Puteri yang diberi nama Dyah Sekar Ayu Cahyaning Wulansari yang artinya cantik bagaikan cahaya purnama, dan memang wajahnya begitu jelita seperti ibunya, baik hati dan disukai banyak orang. Semenjak keluar dari rahim ibunya, ia memiliki kulit kuning keemasan dan lesung Pipit pada kedua belah pipinya.
Pada babak terdahulu telah dikisahkan bagaimana Puteri Ambarwati menitipkan Jatayu kepada Sembada sebelum memulai pertapaannya. Baik Sembada maupun Sasmita sangat menyayangi Jatayu bagai anak sendiri, namun, belakangan ini Sembada disibukkan dengan sikap anehnya.
Bocah yang baru berusia 5 tahun itu seringkali mengigau dalam tidurnya. Dalam igauannya, ia selalu menyebut-nyebut Kakek Jagabaya, keesokkan harinya ia menghilang, membuat seluruh istana gempar. Setelah dicari kesana-kemari, akhirnya, bocah itu ditemukan di tepi hutan Sewu Dino.
"Siapa yang menyuruhmu kemari, nak ?" tanya Sembada.
"Kakek Jagabaya," jawab bocah itu polos.
"Siapa Kakek Jagabaya itu, apakah kau pernah bertemu dengannya ?"
"Kakek Jagabaya, adalah penguasa Gunung Seribu Bunga... tuh, Gunung yang puncaknya menjulang tinggi ke atas langit," ujar Jatayu sambil menunjuk ke arah gunung yang terpampang megah di hadapan mereka.
"Apakah Ayah boleh tahu, kapan kau bertemu dengan Kakek Jagabaya ? Apa saja yang beliau katakan,"
"Kakek Jagabaya selalu datang dalam mimpi Tayu, Ayah.... Kakek itu bilang nanti setelah Tayu berumur 10 tahun, beliau akan datang menjemput Tayu. Beliau baik sekali dan sakti. Beliau mampu melubangi batu karang dengan jari telunjuknya," Jatayu tampak bersemangat sekali bercerita.
"Kalau melubangi batu dengan jari telunjuknya, Ayah juga bisa, mau tahu buktinya ?"
"Mau, mau... Ayah... cobalah. Nah, itu ada batu karang yang cukup besar, ayah kasih lihat ke Tayu, ya," kata bocah itu sambil menunjuk ke arah batu karang yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Sembada tersenyum, ia berdiri dan berjalan ke arah batu karang yang ditunjuk Jatayu. Setelah memejamkan mata, Sembada mengusap badan karang dengan tapak kanan dan setelah itu ia menyentuhnya dengan telunjuk kanan.
Sembada menarik jari telunjuknya, dan tampak lubang yang cukup dalam, lubang sebesar jari telunjuk. Jatayu membelalakkan mata, mulutnya menganga, tampaknya ia merasa kagum dan bangga sekali melihat ayah angkatnya berhasil melubangi batu karang dengan jari telunjuknya.
"Bagaimana, nak ? Kau percaya, kan ?"
"A... ayah, bisakah Tayu mempelajarinya ?"
"Tentu saja. Tapi, tunggu sampai kau dewasa, ya. Ayo, pulang... ibu dan adikmu sudah menunggu di rumah," kata Sembada sambil menggendong tubuh kecil Jatayu, "Waduh... kau sudah besar, ya... beberapa tahun lagi, Ayah tak bisa menggendongmu lagi. Tapi, tolong... jangan kau ulangi lagi perbuatanmu ini, Ayah dan Ibu khawatir terjadi apa-apa denganmu, nak..."
Jatayu menganggukkan kepala, ia tersenyum sambil menempelkan kepalanya ke dada bidang Sembada, ia membiarkan saja tubuhnya dipeluk erat dan rambutnya dielus-elus pria yang sebenarnya bukan ayah kandung tapi mencintai dan menyayangi sepenuh hati itu.
***
Malam itu Sembada duduk bersila di ruang berlatihnya. Matanya terpejam rapat. Di hadapannya tampak sebuah sesajen yang diatasnya tertancap beberapa dupa, sementara mulutnya komat-kamit membaca mantra. Angin berhembus perlahan menerbangkan asap putih tipis ke segala penjuru ruangan. Menebarkan aroma harum semerbak.
"Atas ijin Yang Maha Kuasa, Kekal dan Agung, berilah hamba-Mu yang hina ini kekuatan untuk bertemu dengan Kakek Jagabaya...."
__ADS_1
Tak terhitung berapa kali Sembada mengucapkan mantra-mantra itu hingga akhirnya sebuah asap tipis keluar dari ubun-ubunnya, bercampur dengan asap dupa terbang melayang-layang, memutari ruangan untuk kemudian keluar melalui celah-celah lubang udara.
Asap putih tipis itu menyebar dan terhenti pada sesosok bayangan duduk di atas sebuah batu gunung yang cukup besar. Bayangan itu mengenakan pakaian serba putih, sebuah tongkat bambu kuning melintang di pangkuannya. Ia mengangkat kepalanya saat asap putih tipis yang menyerupai wajah dan tubuh Sembada.
"Heh...heh...heh...heh.... kau sudah datang Sembada,"
"Kakek Jagabaya ?" tanya Sembada.
"Aku tahu kau pasti datang untuk menanyakan perihal Jatayu, bukan ?" kata sosok berpakaian putih itu.
"Iya, kek... Jika boleh saya tahu, mengapa Kakek setiap malam menemui Jatayu, putera Yuangga penguasa negeri Sandekala,"
"Sembada, ketahuilah, ngger... Aku sangat kagum akan kepribadianmu, kau memberi tauladan yang baik untuknya, akan tetapi, kelak, Jatayu cepat atau lambat akan mengetahui siapa ayah kandungnya. Apakah kau siap untuk itu ?"
"Saya paham, kek.... kelak sayapun akan menceritakan hal tersebut padanya, tapi, untuk sementara dia belum siap," ujar Sembada.
Sosok yang disebut Kakek Jagabaya itu mengelus jenggotnya, ia menatap wajah Sembada dalam-dalam, lalu kembali berkata, "Jatayu adalah anak yang baik, namun, kita harus menguji mental dan kepribadiannya agar kelak tidak salah jalan seperti Ayahnya,"
"Apa maksud kakek ?"
"Dengarlah, ngger.... aku melakukan ini demi kebaikan bersama. Kau harus menitipkan Jatayu pada salah seorang desa Tunggak Bayu yang bernama Ki Jampang. Dia adalah salah satu muridku... nah, ada sebuah perkataan yang cukup bijaksana.... selama kau mendidik anakmu dalam kemewahan, maka, ia akan hanyut dalam kemewahan seumur hidupnya, takkan pernah sekalipun melihat ke bawah. Arti dari kata-kata ini adalah... saat kita berada di atas, lebih bijaksana jika sekali-kali melihat ke bawah agar kita bisa tahu penderitaan orang lain," jelas Kakek Jagabaya.
"Saya paham, apa maksud kakek. Biarlah saya akan membicarakannya pada Sasmita,"
"Terima kasih atas perhatian Kakek Jagabaya. Beruntung sekali Jatayu bisa bertemu dengan Kakek Jagabaya. Dulu, sewaktu saya mencari Guru di kaki Gunung Seribu Bunga ini, aku tidak bertemu dengan Kakek,"
"Sasmita Sukma Candramaya, boleh dibilang cucuku, ngger... tapi, tak bisa kusangkal... kalau dia adalah murid paling cerdas dan tinggi ilmunya dibanding dengan murid-murid Gunung Seribu Bunga. Takdir telah mempertemukannya denganmu, ngger. Terima kasih karena kau telah menjaga dan melindunginya, itu sangatlah penting bagiku. Nah, ngger Sembada... sudah saatnya aku kembali ke Gunung Seribu Bunga, ingat-ingatlah perkataanku tadi,"
Setelah berkata demikian, tempat itu seakan bergetar hebat, batu gunung yang menjadi tempat duduk Kakek Jagabaya terangkat tinggi ke udara lalu lenyap dari pandangan Sembada. Pemuda itu tersenyum dan bergegas meninggalkan tempat itu.
***
Sementara itu, nun jauh disana... Di Negeri Sandekala, malam itu tampak mencengkam, semua prajurit tampak berjaga-jaga dan bersiap dengan senjatanya masing-masing di pintu gerbang besi setinggi sepuluh kaki orang dewasa.
Di bawah mereka tampak seorang wanita bongkok berbaju hitam sedang mencerai beraikan para prajurit dengan sebatang tongkat besi berwarna hitam berhiaskan ukiran dua pasang ular melilitkan tubuhnya di sepanjang tongkat, sementara pada pangkalnya terukir tengkorak manusia.
Wanita itu terkekeh-kekeh, suaranya serak seperti tertahan di kerongkongan. Ia menatap para prajurit penjaga gerbang dengan tatapan tajam.
"Ayo... suruh rajamu keluar manusia-manusia tolol, masakan tidak berani berhadapan dengan nenek tua bongkok sepertiku ini... hekh....hekh...hekh...hekh," suara tawanya begitu parau bagai suara burung gagak membuat telinga siapa saja yang mendengarnya sakit.
"Siapa kau ... mengapa membuat kacau Sandekala di malam-malam seperti ini," kata seorang prajurit.
"Hmm, kaukah raja Sandekala ?" tanya wanita berjubah hitam itu.
__ADS_1
"Aku hanyalah seorang abdi. Prabu Yuangga mana mungkin mau bertemu denganmu," ejek prajurit tadi.
Nenek tua itu membanting tongkatnya, "Hmm, berani benar kau menghinaku, rasakan ini," sambil berkata demikian ia mengarahkan tapak kanannya lurus-lurus kearah prajurit itu, dari balik lengan jubahnya melesat keluar beberapa hewan melata dan mendarat di tubuh prajurit itu.
Dia berteriak-teriak ketakutan, wajahnya membiru, urat-urat nadi dan otot-ototnya bertonjolan keluar. Ia memegangi lehernya dari dalam mulut terdengar suara seperti air mendidih dan...
"Ccrroott,"
Darah kental berwarna merah kehitaman menyembur keluar dari mata, hidung, telinga dan mulutnya, sedetik kemudian seiring dengan tubuhnya yang mengejang dan kepala meledak.
Tawa wanita itu menggema, terlebih saat tubuh prajurit itu meluncur ke bawah dan jatuh terbanting. Kejadian tersebut membuat jeri prajurit-prajurit lain.
"Jika kalian tidak ingin bernasib sama dengannya, panggil rajamu keluar, temui aku Nimas Selo," ancamnya.
Beberapa saat kemudian, beberapa orang prajurit membuka pintu gerbang dan dari dalam muncul seorang pemuda bertubuh tinggi, tegap dan kekar. Dialah Yuangga, penguasa Kerajaan Sandekala.
Setelah dikalahkan Sembada dalam peperangan antara Sandekala dan Istana Adhep Bumi, Yuangga mengalami luka parah yang cukup serius bahkan nyaris membuat nyawanya melayang. Namun, ia tidak menyerah begitu saja, menutup diri dan melarang siapapun menemuinya. Ia bersemedi, mencoba menyembuhkan luka-lukanya. Tahap pertama ia melumpuhkan semua urat nadi pada persendiannya, tahap kedua menyembuhkan diri dengan cara dikubur, dan tahap terakhir mempelajari kembali ilmu-ilmu juga kesaktiannya. Setelah melalui tiga tahap, ia bisa memulihkan diri namun karena dalam mempelajari kembali ilmu-ilmu tersebut dengan pikiran terpecah-pecah akibatnya jadi tersesat.
Ia tak mampu menahan rasa sakit dan terbakar pada tubuhnya, itu mengakibatkan kulit di sekujur tubuhnya melepuh dan wajahnya pucat bak kertas sesekali ia menggigil, sesekali pula ia merasa kepanasan dan mengamuk bagai orang gila.
"Hekh... hekh... hekh...hekh, jadi kaukah yang bernama Yuangga. Tampaknya kau mengalami luka dalam yang cukup parah... hekh...hekh...hekh,"
"Hentikan tawamu, nenek tua... kau telah mengganggu meditasiku, katakan apa sebenarnya maumu setelah itu pergilah dari tempat ini," bentak Yuangga, suaranya gemetar.
"Hekh... hekh... hekh... hekh... sombong sekali, kau, anak muda... ketahuilah, aku mampu menyembuhkanmu bahkan mampu membuatmu lebih hebat dan kuat dibanding sebelum terjadinya perang antara Sandekala dan Adhep Bumi... ilmumu tinggi, tapi sayang... sekarang kau menjadi orang lumpuh... hekh... hekh...hekh...dengar baik-baik. Aku memberimu sebuah penawaran," kata wanita itu.
"Penawaran apa yang kau inginkan,"
Wanita yang mengaku Nimas Selo itu terkekeh-kekeh, ia berjalan mendekat lalu kembali berkata, "Jika kau mampu menggeser tempatku berdiri seinci saja, aku akan pergi dari sini. Sebaliknya, kalau kau tidak mampu menggeser ku, serahkan negerimu untukku... hekh... hekh... hekh..."
Wajah Yuangga merah padam, lalu dengan gesit ia mencoba menampar pipi wanita itu. Namun, tamparannya seperti lewat begitu saja, wanita itu hanya terkekeh-kekeh.
Yuangga penasaran, kembali ia melakukan hal yang sama tamparan, tinju dan tendangan, namun semuanya seperti menerpa ruangan kosong.
"Hekh... hekh... hekh... hekh... hekh... bagaimanapun juga seranganmu takkan mampu menyentuh atau menggeser ku. Nah, sekarang giliranku," pekik wanita itu. Dengan gerakan yang tak bisa diikuti oleh mata biasa, wanita itu menjulurkan telunjuknya ke arah Yuangga. Pemuda itu menghindar ke kanan dan ke kiri.. namun, wanita itu seakan tahu kemana Yuangga bergerak.
Hingga akhirnya, pemuda itu menjerit tertahan saat telunjuk wanita bernama Nimas Selo itu mendarat di keningnya. Tubuh Yuangga bagai seekor cacing kepanasan, teriakannya membahana, di sela-sela tawa mengerikan. Seluruh mata prajurit Sandekala tak berkedip melihat tuannya, sebagian memalingkan wajah tak tega melihatnya tersiksa.
Setelah lebih kurang setengah jam berteriak dan bergulingan di tanah, Yuangga terdiam sejenak, wajahnya perlahan-lahan tampak berseri-seri dan ia merasakan peredaran darahnya berjalan lancar dan rasa panas di dalam tubuhnya berubah menjadi sejuk, ia sudah sembuh dari luka dalamnya.
Nimas Selo tertawa saat Yuangga memberi hormat dan mempersilahkannya memasuki gerbang. Sejak saat itulah Yuangga dengan dibantu oleh Nimas Selo kembali menyusun kekuatan untuk menghadapi Kerajaan Adhep Bumi.
__________ Bersambung Jilid ke-9
__ADS_1