DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 38 : S o s o k #9 ( Perburuan Bagian Kedua )


__ADS_3

#9


Jam telah menunjukkan pukul 18:30, aku terlambat pulang karena harus menemani Mama jalan-jalan tanpa tujuan... Aku bosan harus menemaninya sehabis kerja seharian, aku capek dan ingin segera beristirahat. Tadi, sepulang dari jalan-jalan beliau ingin mengajakku keluar lagi entah kemana, aku terpaksa menolaknya... Tak peduli dia marah atau tidak yang jelas, aku harus segera pulang...


Kupacu sepeda motorku secepat mungkin, menyusuri jalanan-jalanan yang mulai gelap. 20 menit kemudian roda-roda sepeda motorku sudah menapaki jalan penghubung rumahku dengan jalan utama.


Pada jam-jam segini, daerah situ mulai sepi dan lengang, lampu-lampu di tepi jalan seakan malas menerangi deretan pohon beringin yang cukup lebat dan berukuran raksasa. Pepohonan itu bagaikan penjaga-penjaga raksasa dari dunia lain yang membuat siapapun tak berani melewatinya. Aku sudah terbiasa melalui jalanan itu, tapi, entah mengapa masih saja ketakutan.


Aku menambah kecepatan laju sepeda motorku, aku tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Tapi mendadak aku menginjak pedal rem manakala seratus meter di depanku berdiri sesosok bayangan putih.


Sosok itu diam bagaikan patung, namun, saat kusorotkan lampu sepeda motorku, sosok itu menghilang. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, sekalipun aku penasaran dengan bayangan putih itu, aku tak ingin membuang-buang waktu lagi, aku harus segera tiba di rumah.


Deru mesin motorku memecah kesunyian, sepeda yang kukendarai itu segera membelah angin, menerobos kegelapan.


Setelah terguncang-guncang di sadel motor lebih kurang 15 menit, sampailah aku di pintu gerbang rumah. Aku menghela nafas lega, setelah membuka gerbang dan memasukkan sepeda motorku, mendadak saja Murni sudah berada tepat di depan hidungku.


"Murni, ada apa denganmu... Kau membuatku terkejut saja," sapaku.


Murni tidak menjawab, ia diam sementara sepasang matanya tampak tajam mengamatiku, selama dia bekerja di tempat ini, dia memang tidak pernah tertawa atau tersenyum sekalipun. Ia hanya memandangi lawan bicaranya dengan tatapan tajam, kadangkala aku merasa takut menatap matanya lama-lama, seperti ada kekuatan magis yang membuatku bergidik ngeri.


"Nona sudah pulang," katanya datar dan dingin.


"Bagaimana Ditha dan Felix ?" tanyaku.


"Mereka baik-baik saja,"

__ADS_1


"Bukan itu maksudku, apakah kau sudah mempersiapkan makan untuk mereka,"


"Mereka tidak mau makan sebelum nona pulang,"


"Berarti dari tadi siang mereka belum makan, ya?" tanyaku sedikit emosi.


"Mereka tidak mau makan saat saya suruh,"


"Baiklah... Dimana mereka sekarang ?" tanyaku.


"Di rumah Bi Yusi dari tadi siang,"


"Apa sebenarnya mau mereka ? Murni... Aku minta tolong... Pergilah ke Bi Yusi untuk menjemputnya," sahutku mencoba sebisa mungkin mengendalikan emosiku.


"Baik," kata Murni dan saat hendak melangkah keluar dari pintu gerbang tampak Mas Reksa dan Mbah Alas, Ditha dan Felix juga ada disana.


Saat itulah aku melihat Murni buru-buru meninggalkan tempat itu tapi, "Kau bernama Murni, kan ?" Mbah Alas memanggilnya, "Tunggu sebentar, nduk,"


Bagai tak mendengar panggilan Mbah Alas, Murni terus berjalan tanpa ekspresi sama sekali, aku mendadak menjadi kesal karena tingkah lakunya, "Murni !" seruku, "Begitu sikapmu pada orang tua ?! Tidak bisakah kau menghormati atau setidaknya memandangku sebagai tuan rumah,"


"Murni, aku tahu siapa kau sebenarnya, jadi kau tak bisa menyembunyikan identitas aslimu sebagai kuntilanak," seru Mas Reksa, "Apa sebenarnya yang telah dia janjikan kepadamu sehingga kau rela jadi budaknya,"


Murni menghentikan langkahnya, sementara Mas Reksa memberi isyarat padaku untuk mendekat ke arahnya, aku menurut, saat aku sudah berdiri di belakangnya, wanita itu membalikkan badan. Tatapannya dingin dan hampa seperti tak ada kehidupan disana, ia mengalihkan pandangannya ke arahku juga Ditha dan Felix.


"Hi... Hi... Hi... Hi..." Mendadak Murni tertawa mengerikan, "Siapa kau, apa yang kau ketahui tentangku... Hi... Hi... Hi..."

__ADS_1


"Murni. Katakan pada kami, apa yang ia janjikan padamu sehingga kau sampai bergentayangan di tempat ini,"


Tatapan mata Murni tajam dingin dan menusuk mendadak saja bulu kudukku bergetar hebat, sementara, Felix dan Ditha memegangi tanganku kuat-kuat. Mereka bersembunyi di balik punggungku.


"Hi... hi.... hi... hi.... Dia berjanji mau mengembalikan anakku dan menghidupkan kembali kami berdua... hi... hi... hi... Aku rela memberikan diriku untuk melayani wanita itu, tapi, sampai sekarang dia malah mengingkari janjinya. Maka, aku bertekad untuk membunuh wanita itu dan mengambil si Ditha sebagai ganti anakku. Anak manis kemarilah, bibi akan mengajakmu jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan, Hi... hi... hi... hi..." Tangan Murni terjulur mengarah ke Ditha, tapi, Mbah Alas sudah menghadangnya.


"Aku tahu kau mencintai dan menyayangi anakmu... Tapi, tak seorangpun bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Dia telah merusak kebahagiaanmu, haruskah kau merusak kebahagiaan orang lain di dunia ini... Dengarkanlah, urusan duniawi, biar diselesaikan oleh yang masih hidup, alammu sudah berbeda... Kembalilah kau ke alammu, kami akan membantumu dengan doa agar kau dan anakmu, bisa berkumpul kembali di alam sana,"


Setelah Mbah Alas berkata demikian Murni jatuh bersimpuh di hadapannya, "Terima kasih, Mbah," katanya sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam tampak olehku sebuah cahaya kuning keemasan di ubun-ubun-nya. Mbah Alas menghela nafas panjang dan meraba ke arah benda berwarna kuning keemasan itu.


"Orang itu memang jahat, memasang paku di kepalamu. Mari kubantu mencabut pakumu agar kau bisa kembali ke asalnya dengan tenang," setelah berkata demikian mulut Mbah Alas komat-kamit. Detik berikut, benda sepanjang 75 cm, berwarna kuning keemasan keluar dari kepalanya. "Terima kasih, Mbah.... hi...hi...hi...hi..." Murni kemudian berdiri, kini wajahnya tampak pucat pasi, ia telah kembali ke bentuk asalnya dan perlahan-lahan menghilang sementara, Mbah Alas masih mengumandangkan doa-doa dan pujian kepada Allah SWT.


"Sebenarnya, dia sudah mengikutimu dari pertama kali masuk daerah ini, nduk," ujar Mbah Alas.


"Benarkah ?" tanyaku, mendadak saja aku teringat pada sesosok wanita berbaju putih yang berdiri di depanku beberapa menit lalu sewaktu berada di tengah hutan.


"Itulah sosok asli Murni yang sebenarnya, untung sekali adik-adikmu mengetahui kedatangannya pertama kali," kata Mas Reksa, "Kalau tidak... mungkin mereka hilang berhari-hari diculik olehnya. Dia memang sengaja dikirim olehnya untuk membuatmu menderita, Thia,"


"Katakan padaku siapa dia, mas.... Aku sudah tak bisa menahan diri lagi. Kalian selalu menyembunyikannya dariku, ada apa sebenarnya ?!"


"Tenanglah, nduk... Semua ini demi kebaikanmu juga demi untuk melindungi mu," ujar Mbah Alas.


"Melindungiku dari apa, Mbah ?! Tolong jangan buat saya penasaran lagi. Saya sudah muak dengan ini semua dan harus segera diakhiri,"


"Baiklah, Thia... Aku akan mengatakannya padamu sekarang," sahut Mas Reksa yang kemudian menoleh ke arah Mbah Alas untuk meminta persetujuan. Dan, apa yang dikatakannya membuatku tersentak. Aku tidak percaya bahwa yang berusaha menghancurkan kebahagiaanku adalah dia. Dan, aku baru menyadari alasan mereka menyembunyikannya dariku.

__ADS_1


__________


__ADS_2