
#5
Sebagai binatang buas, ia tak bisa mengendalikan hasratnya untuk membunuh atau memangsa, maka dari itu setiap malam ia keluar istana untuk mencari mangsa dan setelah mengeringkan darah mereka atau terkadang memangsa daging, ia harus bermeditasi untuk menyatukan daging dan darah ke tubuhnya. Itulah yang membuat Puteri Ambarwati tidak bisa menerima perlakuan Yuangga ini. Iapun membenci para penduduk Sandekala karena semenjak datang ke negeri itu, hampir seluruh penduduk memandangnya dengan tatapan sinis. Menurut kabar burung yang beredar di masyarakat Sandekala, Puteri Ambarwati disebut-sebut sebagai wanita murahan.
Maka dari itu dengan tubuh berbentuk ular, Puteri Ambarwati menjadikan mereka mangsa. Di pihak sang Puteri sendiri para penduduk itu sebagian besar adalah orang-orang yang cacat mental karena mempelajari ilmu hitam, dan pantas dibinasakan. Hal inilah yang menjadikan hubungannya dengan Sembada merenggang.
Puteri Ambarwati mengakhiri ceritanya dan Sembada menghela nafas panjang. "Kejam sekali Yuangga itu, hingga memperlakukanmu seperti ini," kata Sembada.
"Bang Sembada, aku tak menyangka kau akan datang sebelum hari yang ditentukan," kata Ambarwati.
"Yuangga datang ke negeri Adhep Bumi, dia berniat mencari orang-orangnya yang menghilang disana. Karena secara kebetulan bertemu denganku. Karena aku tak tahu dimana orang-orangnya menghilang, dia berniat membunuhku. Kami bertarung, aku berhasil dikalahkan tanpa bantuan Sasmita Sukma Candramaya, mungkin aku tidak bisa bertemu denganmu. Dia terluka dalam cukup parah dan aku mendapat tugas untuk mengantarnya kemari," jelas Sembada.
"Kulihat hubunganmu dengan penguasa Adhep Bumi itu luar biasa sehingga kau rela berkorban untuk membela rakyatnya,"
"Aku melakukan apa yang menurutku benar. Dan memang, Yuangga adalah penguasa yang kejam dan banyak tidak disukai oleh rakyatnya. Apakah aku harus berdiam diri saja sementara ada orang main bunuh begitu saja ?"
"Bang Sembada, ijinkanlah aku bertanya satu hal saja padamu,"
"Silahkan Ambarwati,"
"Setelah kau melihat wujudku sekarang ini, apakah kau masih tetap mencintaiku, terlebih keadaanku sekarang ini ?"
"Puteri Ambarwati, sejak dulu aku mencintai dan menyayangimu, berharap kelak bisa bersatu sebagaimana mestinya.... Yah, aku tetap mencintaimu dan menyayangimu. Siapapun engkau, kau tetaplah Puteri Ambarwati dan yang bisa kulakukan sekarang adalah batas pertemuan kita masih 3 bulan lagi. Aku akan berusaha memaksa Yuangga untuk mengembalikan wujud aslimu, dan jika memang tidak mau, aku terpaksa akan membunuhnya," jelas Sembada.
"Kau masih mencintai dan menyayangiku, layakkah aku kau perjuangkan sementara aku mengandung anak bukan dari Bang Sembada, itu yang kusesalkan... mengapa ini harus terjadi pada kita, bang... mengapa kita tidak boleh mengecap kebahagiaan bersama di dunia ini ... mengapa ?"
tangis Puteri Ambarwati meledak, Sembada tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkannya.
"Ambarwati, aku harus kembali ke negeri Adhep Bumi. Rawatlah suami dan anakmu baik-baik 3 bulan lagi, aku akan kembali. Kuharap kau bisa memperoleh kebahagiaan disini dan suamimu kembali ke jalan yang benar. Jika tidak, maafkanlah aku jika aku harus membunuhnya," ujar Sembada. Setelah itu ia dan 5 orang temannya bergegas meninggalkan tempat itu. Ambarwati hanya memandanginya dengan mata yang berkaca-kaca.
***
Hati Sembada benar-benar hancur melihat keadaan Ambarwati. Namun, ia bersyukur bisa menemuinya dan membuatnya tak ragu lagi mengambil Sasmita Sukma Candramaya sebagai isterinya. Sepulang dari Sandekala, ia mengurung diri di kamar latihan.
Ia memusatkan diri untuk pertemuan 3 bulan yang akan datang.
Sementara itu Sasmita Sukma Candramaya juga berlatih dengan tekun. Namun, karena ia hamil latihannya jadi terhambat tanpa sadar ilmunya kini berada di bawah Sembada satu tingkat. Ia bangga karena ilmu murid sekaligus suaminya itu melebihinya, jadi, ia merasa aman.
Setelah peristiwa di Tunggak Bayu itu, Istana Adhep Bumi memperketat penjagaan, masing-masing prajurit juga berlatih dengan tekun. Pada saat itu, diantara para punggawa kerajaan ada sekitar 20 orang Jenderal yang memiliki ilmu tinggi, mereka bertugas menjaga pintu perbatasan. Diantara 20 orang itu, yang paling tersohor adalah Panji Gumilang, Bedul Beduk, Jarak Lempong, Kudayana dan Bada Brantang. Selain ilmu mereka tinggi, mereka bertugas sebagai penjaga gerbang 5 penjuru mata angin atau dijuluki 5 Ksatria Penjuru Angin.
5 orang itu dididik langsung oleh Sasmita Sukma Candramaya. Masing-masing memiliki pasukan yang kuat dan tangguh. Sebagai pagar betis Adhep Bumi, pertahanan mereka sulit sekali untuk dijebol. Sandekala, boleh dibilang kerajaan terkuat dan tangguh, tapi, belum tentu bisa menghadapi Adhep Bumi.
***
__ADS_1
3 bulan berlalu. Sandekala masih belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerang tapi Adhep Bumi sudah mempersiapkan penjagaan dengan ketat. Suasana tegang tampak terlihat di Gerbang Utara, cahaya matahari merah menyinari tembok gerbang yang terbuat dari susunan batu-batu kali. Beberapa orang prajurit tampak berlalu lalang di sekeliling gerbang.
Karang Gajah. Merupakan perbatasan antara Tunggak Bayu dengan Istana Adhep Bumi. Disebut Karang Gajah, karena terdapat 2 batu karang yang tinggi, besar dan kokoh, berdiri sebelah menyebelah, kanan dan kiri. Jarak antara karang sebelah kanan dan kiri sekitar 300 meter. 2 karang berbentuk gajah yang mengangkat belalainya itu berdiri di tepi jurang yang cukup dalam dan curam, sementara, di dasar jurang terdapat sungai berarus deras, dengan kedalaman mencapai 100 meter dan panjang 177 kilometer, bermuara di Dusun Karang Rejo, desa terakhir wilayah Karang dan sekitarnya juga merupakan perbatasan wilayah tersebut dengan Alas Sewu Dino, jalan masuk satu-satunya menuju Gunung Kembang Sewu.
Para prajurit Adhep Bumi jarang menjaga pintu keluar-masuk perbatasan Tunggak Bayu dan Adhep Bumi. Dikarenakan, banyaknya jebakan gaib yang dipasang oleh para sesepuh 2 desa itu dan hanya orang yang bersangkutan bisa keluar ataupun masuk. Selama jebakan gaib itu tidak dicabut atau diketahui orang luar, maka, perbatasan itu pastilah aman dan terkendali.
Dulu sewaktu Yuangga datang untuk meminang Puteri Ambarwati, jebakan gaib itu belum terpasang, maka, orang-orang Sandekala bebas keluar ataupun masuk. Namun, setelah terjadinya perang antara Tunggak Bayu dengan Sandekala, jebakan gaib yang diberi nama Wedhut Sastra Kala dipasang. Jebakan ini terdiri dari 3 lapis : Ngurat Angkasa, Ngurat Bayu dan Ngurat Bumi. Semuanya, bersifat menggoda dan mencelakakan, terlebih saat yang bersangkutan ( para tamu ) mempunyai pikiran yang tidak baik, mereka akan terjebak Wedhut Sastra Kala seumur hidupnya. Oleh karena itu, tidak mudah memasuki Istana Adhep Bumi, sekalipun bisa masuk, sulit untuk keluar.
***
"Lapor, Gusti Putri," seorang prajurit datang menghadap Sasmita Sukma Candramaya yang saat itu duduk di singgasana-nya.
"Bukankah, kau adalah salah seorang prajurit andalan Panji Gumilang?"
"Benar, Gusti Putri. Beberapa orang dari Sandekala, ingin menyampaikan sesuatu untuk Sang Prabu,"
"Hmm, tampaknya mereka tidak mampu menembus Karang Gajah lalu mengambil jalan dari sebelah barat. Ada berapa orang, paman ?"
"5 orang, Gusti Putri,"
"Persilahkan mereka masuk, tutup gerbang sebelah barat dan perketat penjagaan," Sasmita memerintahkan.
"Baik, Gusti Putri,"
Tak lama kemudian, prajurit itu datang lagi kali ini ditemani oleh Panji Gumilang sambil membawa 5 orang asing. Sasmita tersenyum ramah, "Apa yang hendak kalian sampaikan ? Sayang sekali, kalian tidak dapat bertemu dengan Sang Prabu karena beliau tidak ada di tempat,"
Sasmita menerimanya dan membuka gulungan lontar itu dan di dalamnya tertera tulisan, sebagai berikut :
"Maaf, Saudara Sembada, aku tidak ingin melibatkan banyak orang untuk menyelesaikan urusan pribadi kita di masa lalu. Maka, aku menunggumu di Karang Gajah. Kita olah raga sejenak. Jika aku kalah, aku akan mengembalikan wujud asli Puteri Ambarwati, dan menyerahkannya padamu. Sebaliknya, jika kau kalah, pergilah kau dari Adhep Bumi ini dan aku tak kan mengganggu kalian lagi,"
Sasmita menyerahkan Daun lontar itu kepada Panji Gumilang, "Paman, tolong berikan lontar ini pada beliau, Saya ingin tahu bagaimana pendapatnya,"
Sementara itu, di pintu masuk dusun Tunggak Bayu dikejutkan dengan munculnya seekor ular raksasa bertanduk. Ular raksasa itu mengobrak-abrik segala yang ada dan para penduduk berusaha menangkapnya hidup-hidup untuk diserahkan pada para tetua dusun. Tapi, apalah daya para penduduk yang hanya mempunyai kepandaian rendah dalam menghadapi kegesitan dan kebuasan ular tersebut.
Ular itu mendesis-desis, suara desisannya lebih mirip raungan, makhluk itu sama sekali tidak berniat membunuh para penduduk desa, tapi, para penduduk desa itu mencoba dengan berbagai cara untuk menaklukkan keganasan ular tersebut.
Karena berulang kali disakiti, maka ular tersebut mau tak mau terpaksa membuat pingsan para pengeroyoknya dengan sabetan ekor maupun bebatuan yang ada di sekitarnya.
"Hentikan !" teriak salah seorang pemuda gagah dan tampan. Teriakan ini seakan tak didengar oleh para penduduk dan memaksa pemuda ini mengangkat tangan kanannya dan pada saat itu terdengar suara Guntur menggelegar membuat para penduduk tersentak dan menghentikan aksinya.
Pemuda itu berdiri di antara para penduduk dan ular raksasa yang kini mulai tenang.
"Mengapa kau mencegah kami menangkapnya, ular itu telah membuat kekacauan di wilayah ini," tanya salah seorang penduduk.
__ADS_1
"Aku mengerti, kalian ketakutan dengan munculnya ular ini secara mendadak. Ular ini mengerikan karena selama beberapa dasawarsa, dusun ini tidak pernah didatangi oleh makhluk-makhluk aneh dan mengerikan semenjak penyerbuan Sandekala atas dusun ini," jelas pemuda itu, "Ketahuilah, ular ini dulunya adalah salah satu penduduk kalian. Dan karena dialah, kalian bisa kembali berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang kalian sayangi dan kalian cintai,"
"Siapa dia, dosa apa sekiranya yang telah diperbuat hingga diubah menjadi makhluk mengerikan ini,"
"Dia adalah Puteri Ambarwati," jawab pemuda itu.
"Tidak mungkin, Puteri Ambarwati adalah wanita jelita bagaimana bisa menjadi seekor ular raksasa ?"
"Itu karena kekejaman Prabu Yuangga, penguasa tunggal istana Sandekala," jawab pemuda itu.
"Puteri Ambarwati adalah pengkhianat," kata seorang penduduk. Dia adalah seorang laki-laki berumur 38 tahunan, mengenakan baju merah dan dagunya ditumbuhi oleh jenggot kelabu yang cukup lebat dan panjang sebatas dada, "Kami lebih baik mati daripada harus membiarkan Puteri Ambarwati menjadi isteri raja terkutuk itu," katanya lagi.
Pemuda itu menatap tajam ke arah laki-laki yang baru saja muncul dari kerumunan penduduk dan berdiri di hadapan pemuda itu.
"Hei, bukankah kau berasal dari Sandekala ?" tanya pemuda itu.
Laki-laki itu mengelus jenggotnya, "Sejak lahir, aku sudah tinggal di dusun ini," katanya.
"Tidak mungkin, aku juga lahir di tempat ini namun aku sama sekali tidak pernah bertemu denganmu," kata pemuda itu
"Siapa sebenarnya kau, anak muda ?" tanya laki-laki berjenggot panjang itu.
"Justru aku yang harus bertanya, siapa kau ? Aku kira penduduk asli dusun Tunggak Bayu ini juga mengetahui siapa penduduk lokal dan siapa pula pendatang. Kau adalah termasuk pendatang dan kupikir ular raksasa itu pun tahu siapa rakyatnya yang pernah ia selamatkan dulu," pemuda itu tersenyum lalu pandangannya menyapu ke arah para penduduk desa yang kini terdiam, "Kalau kalian memang penduduk asli dusun ini, pastilah mengenal siapa aku dan siapa pula Puteri Ambarwati,"
"Jangan bicara sembarangan," seru laki-laki berjenggot itu.
"Ya, kalian semua bukanlah penduduk asli Tunggak Bayu ini, kalian pastilah orang-orang utusan Yuangga. Aku bisa menatap dari tatapan mata kalian yang garang dan ..." mendadak tubuh pemuda itu melesat dan menyambar ke arah pria berjenggot itu, dan merobek baju bagian dadanya. Ada sebuah gambar gurita dengan 6 kaki sementara kepalanya berbentuk tengkorak berwarna merah.
Dan pada saat yang sama beberapa orang penduduk merasakan bagian dadanya terbuka dan memiliki gambar serupa. Itu adalah simbol orang-orang Negeri Sandekala. Sepasang mata ular raksasa hitam bertanduk emas itu memerah, maka, dengan gerakan gesit menyambar beberapa orang penduduk yang memiliki simbol tersebut. Gerakan itu sama sekali tidak diduga-duga dan cepat sekali, tahu-tahu para penduduk itu sudah berpindah ke mulut ular tersebut.
"Tampaknya, Yuangga masih menjalankan taktik yang sama seperti penyerbuan pertama kali di Tunggak Bayu ini. Aku harus segera melaporkannya pada Sasmita Sukma Candramaya," kata pemuda itu sambil hendak melangkah meninggalkan tempat itu akan tetapi tampak olehnya Panji Gumilang datang bersama 5 orang prajurit Sandekala.
"Gusti Prabu Sembada, mereka ingin bertemu denganmu," kata Panji Gumilang.
"Kemarilah, paman Panji," kata pemuda itu.
"Sandekala sudah menyerang Tunggak Bayu melancarkan strategi yang sama saat penyerangan pertama kali ke wilayah ini. Berhati-hatilah," kata pemuda itu.
"Maksud, Anda?"
"Orang-orang Sandekala memiliki ciri khusus, ada gambar gurita berkepala tengkorak di permukaan kulitnya. Siapa saja yang memiliki tanda itu, mereka adalah orang-orang Sandekala," bisik pemuda itu, "Mereka bisa menyamar menjadi siapa saja, tapi, simbol itu tidak mungkin bisa disamarkan. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan ?"
"Baik, Sang Prabu, segera kami laksanakan," sahut Panji Gumilang dan segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Ular raksasa hitam bertanduk emas itu terus menyerang ke arah penduduk yang ada di sekitarnya, tampaknya ia begitu marah sekali dan pemuda itu yang tak lain adalah Sembada hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Kejam sekali Yuangga, isterinya dikorbankan demi pemuasan nafsu dunianya, ia tidak bisa diampuni lagi. Aku harus segera mencarinya agar tidak ada lagi korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
__________ Bersambung Jilid Ke-6