
#12
Sembada dan para penduduk desa bergegas menuju ke arah dimana asap berwarna merah itu muncul. Dari kejauhan Sembada bisa melihat asap merah itu makin membara bagaikan nyala api, tak seorang penduduk pun berani keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka hanya melihat asap itu bergerak menyebar kesana-kemari.
"Rafa, asap itu menyebar ke pelbagai penjuru, tolong beritahu Pak Lurah agar semua penduduk menutup celah-celah pintu dan jendela... jangan biarkan asap itu masuk ke dalam rumah," ujar Sembada.
Baru saja Sembada menutup mulutnya, terdengarlah seruan keras dari kejauhan.
"Lastri, menghilang ! Lastri menghilang !"
"Kurang ajar, Siluman itu lebih cepat," umpat Rafa.
"Bukan," ujar Sembada, "Bukan siluman itu yang menculiknya, akan tetapi, kaki tangannya,"
"Bukankah kau yang mengatakan bahwa siluman Tengkorak Merah itu cuma satu saja ? Mengapa ini bisa terjadi ?" tanya Dullah.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu... kita harus mengejar penculik Lastri," ujar Rafa.
"Iya, tapi, dimana harus mengejarnya ?" tanya Dullah.
Mendadak Sembada melompat tinggi ke udara dan hinggap di salah satu dahan pohon tak jauh dari tempat mereka berada. Dari dahan itu, tampak olehnya, sebuah gumpalan asap dari arah Timur tengah bergerak mendekat. Sembada tersenyum dan saat asap itu sudah berada tak jauh di dekatnya.
"Mau lari kemana, kau siluman ?" setelah berkata demikian Sembada memutar kedua telapak tangannya ke belakang untuk kemudian didorongkan ke depan.
"Wwuusshh... "
Seberkas sinar putih bagai berlian meluncur kearah asap tersebut dan terhenti sesaat sebelum akhirnya membeku bagaikan patung es. Tak lama kemudian, es tersebut bagaikan tak bertenaga dan akhirnya, jatuh ke tanah sementara Sembada sudah turun dari tempat persembunyiannya dan menghampiri gumpalan es tersebut.
Sembada menepuk gumpalan es itu dan mendadak saja berubah menjadi seorang pemuda bertubuh kurus. Ia tergeletak di tanah berdampingan dengan sesosok tubuh wanita. Wanita itu membuka pelupuk matanya, pertama kali yang terlihat adalah sesosok tubuh kurus tergeletak di sampingnya untuk kemudian ia melompat bangun dan Dullah segera menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa, nduk ?" tanya Dullah, "Bagaimana pemuda itu bisa masuk ke dalam rumah dan membawamu pergi ?"
"Entahlah, saat itu aku tengah mencuci perabotan rumah di halaman belakang dan mendadak muncul pemuda kurus ini dari kegelapan di hadapanku. Baru saja aku hendak berteriak, dia sudah menebarkan asap berbau harum menyengat dan membuatku pingsan. Saat sadar, sudah ada di tempat ini," jelas wanita yang ternyata bernama Lastri itu.
__ADS_1
"Hentikan wanita itu !"
Mendadak terdengar seruan yang semakin lama semakin dekat. Semua penduduk yang ada di tempat itu menoleh dan tampak oleh mereka seorang wanita muda yang cantik jelita tengah berlari. Saat melihat di hadapannya berdiri lebih kurang 6 orang, ia berhenti dan menatap tajam ke arah mereka.
Wanita itu seakan tidak memandang sebelah mata pada para pengejarnya yang juga berjumlah 6 orang. Satu yang menjadi perhatian utama, wanita yang berdiri di antara para penduduk itu, Lastri.
"Jangan sampai kau beradu pandang dengannya, sebab, itu akan membuatmu terkena sihirnya," ujar Sembada. Lastri menurut, ia hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam ke tanah.
"Mau lari kemana lagi kau Siluman Tengkorak Merah ?" tanya salah seorang pengejar wanita itu.
Wanita itu menyeringai, "Berikan wanita itu padaku, setelah itu aku akan segera enyah dari tempat ini,"
"Jangan mimpi, siluman jahat... selama ada kami, dia takkan bisa kemana-mana," sahut salah seorang penduduk.
Wanita itu tidak menjawab melainkan menatap penduduk itu dengan tajam dan dengan gerakan yang tak bisa diikuti oleh mata, jari-jemari kanannya yang sudah membentuk cakar-cakar mengerikan berkelebat menyambar dadanya. Saat cakar-cakar itu ditarik kembali, ia sudah menggenggam segumpal daging berwarna merah. Dan, penduduk tadi membelalakkan mata, dadanya berlubang dan jantungnya berpindah ke telapak tangan kanan wanita itu.
"Lihatlah, mudah sekali aku membunuh kalian, bukan ? Jika kalian ingin menghalangiku, maka, nasib kalian akan sama.... hi... hi.... hi.... hi...," tawa wanita itu meledak, terdengar begitu mengerikan terlebih saat ia mengangkat jantung itu tinggi-tinggi ke udara, membiarkan darah itu mengalir membasahi wajahnya, ia membuka mulut lebar-lebar dan memakan jantung itu mentah-mentah. Sebuah pemandangan yang mengerikan, membuat nyali para penduduk menciut. Tubuh mereka bergetar hebat, nyali merekapun mulai menciut.
"Serahkan gadis itu, atau aku akan membunuh kalian semua," kata wanita itu sementara, dari sela-sela jari-jemarinya yang membentuk cakar mengepul asap tipis berwarna merah kehitaman.
Lastri mengangguk lalu bergegas meninggalkan tempat itu, namun...
"Aku takkan membiarkanmu pergi, gadis cantik," ujar siluman Tengkorak Merah itu sambil melompat ke arah Lastri, sementara, cakar kanannya terjulur hendak menyambar batok kepala Lastri.
Lastri menundukkan kepalanya sementara matanya terpejam, pasrah dengan bahaya yang akan mengancam... akan tetapi, Sembada melompat menghadang Siluman wanita itu.
Siluman Tengkorak Merah yang bernama Tirta Sari itu menyeringai, "Apa kau sudah bosan hidup ?" tanyanya.
"Kau terlalu meremehkan orang, nona .... " ujar Sembada sambil menepiskan cakar-cakar Tirta Sari yang nyaris menyambar Lastri.
"Hm... kau memiliki kemampuan rupanya, tak pernah ada orang yang bisa menepiskan cakar-cakar ini. Baiklah kalau begitu, terima ini !" seru Tirta Sari sementara cakar kanannya bergerak mengarah ke dada Sembada.
Sembada melompat mundur, lalu bersalto dua kali di udara, melewati kepala Tirta Sari. Tubuhnya sudah berada di belakangnya. Siluman wanita itu sudah menduga arah gerak Sembada, maka, ia merubah dirinya menjadi asap dan bergerak ke arah dimana Dullah dan Lastri berlari.
__ADS_1
"Celaka, aku terkecoh... licik sekali Siluman ini," seru Sembada dalam hati lalu tubuhnya melenting ke udara menyusul Siluman Tengkorak Merah itu.
Tujuan Siluman itu adalah menculik para gadis cantik dan masih belia, tidak berniat untuk terlibat dalam pertarungan. Ia tidak peduli Sembada mengejarnya maka dari itu, ia mempercepat gerakannya. Sembada pun juga meningkatkan kecepatannya, ia tidak ingin melepaskan Siluman itu. Kejar mengejar pun terjadi, mereka bagaikan sepasang cahaya melintasi kegelapan malam sesekali berhenti sejenak untuk kemudian kembali berkelebat.
"Jika terus menerus begini, siluman itu tidak akan tertangkap. Baiklah, aku harus merapal Aji Rambah Jejak, dengan demikian aku bisa menghadangnya," kata Sembada lalu ia duduk bersila dan memejamkan mata, sementara mulutnya komat-kamit membaca mantra. Detik berikut, asap putih tipis keluar dari ubun-ubunnya dan menyebar ke pelbagai penjuru mata angin.
Sementara itu, Tirta Sari yang masih mengejar Dullah dan Lastri saat melihat Sembada tidak lagi mengejarnya, merasa kegirangan, "Akhirnya, pria itu tidak lagi mengejarku. Ilmunya tinggi sekali, bisa mengikuti kemana saja aku pergi, siapa dia sebenarnya ?"
"Namaku, Sembada. Takkan kubiarkan kau bertindak seenaknya,"
Suara penuh wibawa itu mengejutkan Tirta Sari, ia berhenti dan menoleh ke asal suara itu, tapi, tidak ada seorangpun disitu.
"Dimana kau berada ?" tanya Tirta Sari.
"Jikalau kau memang hebat, kau pasti tahu dimana aku berada," jawab Sembada.
"Dengar, bung... aku tidak mempunyai waktu untuk bermain petak umpet, tunjukkan dirimu,"
"Maaf, nona... terpaksa aku menangkapmu. Nah, rasakan Tenaga Inti Salju ini. Aku ingin melihat seberapa lama tengkorak bisa bertahan jika dikurung dalam es," sahut Sembada.
Mendadak, udara di sekitar tempat itu berubah menjadi dingin. Dingin sekali. Tubuh Tirta Sari menggigil kedinginan. Batu, tanah, kerikil dan tanaman-tanaman liar mendadak berubah menjadi es. Tenaga Inti Salju mulai dirapal.
Tirta Sari merasakan darahnya seakan membeku. Siluman Tengkorak Merah itu tidak mudah menyerah begitu saja... maka, ia mengerahkan tenaga dalamnya yang memiliki tenaga Inti api untuk menekan hawa dingin tersebut.
Suhu udara di sekitar tempat itu jadi aneh, sebentar dingin, sebentar panas. Dullah dan Lastri yang kebetulan berada di tempat itu merasa tersiksa. Namun, pada saat yang lain ada sebuah hawa sejuk mengurung mereka, sehingga tak terpengaruh lagi dengan 2 hawa yang saling bertolak belakang itu. Sepersekian detik kemudian tubuh 2 orang itu perlahan-lahan terangkat keatas dan melesat menjauh.
Hawa dingin itu kini lebih terasa dan Tirta Sari tak bisa menahannya lebih lama, dan...
"Hoekh..."
Tirta Sari memuntahkan darah segar, tubuhnya terbungkus oleh kristal-kristal es. Ia hanya bisa pasrah menunggu ajal menjemput. Akan tetapi, mendadak, sebuah asap hitam membumbung tinggi ke udara dan mengelilingi tubuh wanita itu.
Sembada terkejut, ia sama sekali tak menyangka ada seseorang yang ikut campur dalam pertarungan dahsyat itu. Ia sempat melihat gumpalan asap hitam pekat itu perlahan-lahan menghilang begitu pula tubuh Tirta Sari, entah kemana.
__ADS_1
"Siapa orang itu ? Hebat sekali bisa menghilang begitu saja dari pandanganku," katanya dalam hati.
__________ Bersambung Jilid ke-13