
04. B e r k a b u n g
Selasa, 06 Desember 2005
“Pagi ini, udara begitu dingin, aku masih mengantuk sekali, sebab,hampir semalaman aku tidak bisa tidur.Aku masih teringat kejadian semalam, buru-buru kunyalakan, ada pesan MMS dari Monica. Tapi,saat kubuka, isi pesan masuk tersebut kosong, aku masih bisa merasakan cairan kental berwarna merah itu di sela-sela jari-jemariku, bau amis yang menyengat hidungku dan rintihan mengerikan seorang wanita menggelitik telingaku. Mengingat itu semua, bulu kudukku merinding. Kembali aku menggerakkan jari-jemariku pada keypad, kutekan nomor telepon Monica, tapi, tampaknya tidak aktif. Berulang kali kucoba menghubunginya, hasilnya sama.
Ketika aku hendak berangkat mandi, terdengar pintu kamarku diketuk seseorang. Daun pintu terbuka, tampak Richard, Hanafi, Ajeng dan Dian berdiri pandangan mata mereka menunjukkan rasa sedih yang mendalam. Mereka memberiku kabar bahwa Rudy meninggal dunia. Aku tersentak,tidak mempercayai apa yang kudengar.Bagaimana dia bisa meninggal padahal kemarin masih sempat bercanda denganku, berbicara banyak hal sepanjang hari. Aku segera berangkat menuju rumah Rudy, disana ada sebuah mobil ambulan dan polisi, orang-orang berkerumun di sekitar rumah itu. Melly juga hadir disana, menangis tersedu-sedu dan Ririn berusaha menenangkannya. Semua teman-temanku berkumpul disana, namun John tidak kelihatan. Aku bertanya pada Richard tentang keberadaan John tetapi, ia tidak tahu padahal sudah berkali-kali dihubungi tapi tidak ada jawaban.
__ADS_1
Aku menyalakan sepeda motorku bergegas menuju rumah John. Begitu tiba di halaman rumah, aku memarkirkan sepeda motorku di halaman dan melangkah menuju pintu masuk. Kuketuk pintu rumahnya tapi, tidak ada jawaban, kucoba membuka pintu itu, tidak dikunci. Aku langsung menuju ke kamar John dan kulihat dia sedang duduk di sudut kamar sambil memeluk kedua kakinya, wajahnya tidak seceria hari-hari kemarin, ia tampak seperti orang ketakutan. Saat kutanya apa sebenarnya yang telah terjadi, dia hanya menunjuk ke arah hp-nya yang tergeletak di lantai tak jauh dari tempat ia duduk, iamenyuruhku untuk melihat MMS Monica yang diterima beberapa hari yang lalu.
Ukuran foto Monica berubah 6 kali lipat besarnya dibanding beberapa waktu lalu. Sewaktu pertama kali John menerima foto itu, seluruh tubuh wanita yang duduk sambil menundukkan kepala itu terlihat semua, kini, yang terlihat hanyalah separuh gambar, yakni sebatas dada, meski demikian wajahnya tetap tak telihat dengan jelas karena tertutup oleh rambutnya. Bulu kudukku bergetar, kucoba untuk menghapus foto itu berulang kali, tapi, foto itu seakan melekat erat di dalam hp John. TIDAK BISA DIHAPUS. Aku merasa ngeri melihatnya. Aku bertanya, apakah dia sudah mendengar tentang kematian Rudy, dia mengangguk bahkan dialah yang pertama kali melihat tubuh Rudy tergeletak di lantai kamarnya, sedang tangan kanannya memegang Hp yang masih menyala dan terdengar suara Melly memanggil-manggil namanya.
John juga menceritakan bahwa kematian Rudy sangatlah TIDAK WAJAR. Dia kemudian menjelaskan, sebelum mati, Rudy seperti melihat sesuatu yang menakutkan, itulah yang membuatnya mati, itu terlihat jelas di wajahnya. John tidak tahu apa yang dilihat Rudy itu, padahal seumur hidupnya, Rudy bukanlah seorang penakut. Kejadian ini semakin membuatku penasaran dan aku ingin sekali menghubungi Monica, namun, Monica sepertinya hilang begitu saja.
Saat mobil terhenti, kami menoleh ke belakang; Lewat lampu mobil bagian belakang, aku dapat melihat sesuatu tergeletak di tengah jalan. Aku dan John buru-buru keluar dari mobil lalu berlari ke arahnya. Tubuh seorang wanita, wajahnya tidak jelas karena tertutup oleh rambutnya yang panjang, sementara, pakaiannya yang putih sudah bercampur dengan warna merah dan itu adalah darah yang merembes keluar dari tubuhnya. “Astaga, aku telah menabrak orang !!” seruku dalam hati.
__ADS_1
Wanita itu sudah tak bernyawa, aku menoleh kesana-kemari, jalanan itu selain sepi juga gelap. Aku merogoh saku celana jeans-ku hendak mengambil hp dan melaporkan kejadian itu pada polisi. Akan tetapi, John mencegahnya, ia tidak ingin berurusan dengan polisi dan menyarankan padaku untuk segera pergi dari tempat itu. Pada saat itulah, hp John berbunyi, dia mengangkat dan di seberang sana terdengar suara seorang wanita, menurutku itu bukan seperti suara manusia, “Begitu, ya...” yang lebih mengejutkan dari sela-sela LCD Hp John merembes keluar cairan kental berwarna merah dan terdengar suara seperti tulang patah dan rintihan seorang wanita, persis seperti yang kualami beberapa hari yang lalu.
Pandanganku tertuju pada tubuh wanita yang tergeletak di tengah jalan itu, tubuh itu bergerak secara perlahan, dengan menyeret kedua kakinya, merangkak ke arah tempat kami berdiri. Kami melangkah mundur beberapa tindak, tubuh wanita itu semakin lama semakin dekat. Gesekan kaki dan jalanan yang beraspal membuat ngeri telinga-telinga kami. Belum lagi kami menenangkan diri, mendadak saja, tubuh wanita itu sudah berada di hadapan kami. John berteriak keras manakala sepasang tangan yang berlumuran darah dan jari-jari tangannya yang tanpa kuku berwarna kehitaman memeluk kaki John. John berontak, hendak melepaskan diri, namun gagal, dan akhirnya ambruk ke belakang. Aku masih tak percaya dengan pandangan mataku, tak percaya dengan kejadian ini, aku terlalu takut sehingga tak tahu harus berbuat apa.
Aku tersadar dan berlari ke arah John yang tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri, nafas John memburu, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi sekujur badannya.
...__________...
__ADS_1