
03. Larasati
“Bang ... Bang Da’i, kau masih belum tidur ? Apa yang kau lamunkan ?” seorang wanita cantik bertanya sambil meletakkan kepala ke dada bidang Bachtiar. Bachtiar menghela nafas lega, sambil membelai rambut hitam legam wanita itu berkata, “Cuma urusan kantor. Semuanya baik-baik saja. Tak ada yang perlu dicemaskan,” Sepasang mata indah wanita itu menatap wajah kusut Pria berusia 43 tahun itu, “Kau tak pandai berbohong, bang. Kau kira saya tidak tahu apa yang terjadi disana ?” ujarnya. Suaranya begitu merdu, tatap matanya begitu teduh, bibirnya merah merekah, sensual mengundang nafsu birahi orang yang memandangnya. “Isteriku, mengapa malam ini kau tampak begitu cantik sekali ?” tanya Bachtiar.
Wanita itu tersenyum, senyuman yang manis lagi menawan ditambah lagi pandangan matanya, gerak-geriknya, plus pakaian dalam yang tipis berwarna merah hati. Ia tersenyum nakal, mengisyaratkan sesuatu yang tidak bisa ditolak oleh Kaum Adam. Tak ayal lagi Bachtiar segera menubruk tubuh wanita di hadapannya itu bagaikan seekor harimau yang sudah mengincar mangsanya. Wanita itu tak menolak, ia bersikap pasrah, ia membiarkan pria di hadapannya itu memeluk dan menciumi dahi, pipi, hidung, bibir dan saat jari-jemari Bachtiar melucuti pakaian yang dikenakan, wanita itu balas memeluk dan mencium.
Beberapa saat lamanya 2 sosok tubuh telanjang bulat itu bergumul di atas tempat tidur diiringi dengan ******* nafas perlahan. Mereka mengarungi lautan asmara, menerjang badai hasrat-hasrat cinta kasih, mengarungi samudera tak bertepi. Hingga saat alas tempat tidur kusut dan basah oleh keringat bercampur cairan orgasme. Segala kejenuhan yang ada di benak Bachtiar lenyap begitu saja, digantikan oleh puncak-puncak kenikmatan yang baru direngkuh bersama Sulastri, isteri tercintanya. Sebelum terlelap, sepasang mata Bachtiar menangkap sosok bayangan merah berkelebat kemudian bergerak mengelilingi ruangan kamar beberapa kali. Bergerak halus dan mendadak lenyap, seakan menyatu dengan udara malam berkabut keluar-masuk melalui celah-celah lubang udara, menggerakkan tiap helai kain tirai jendela naik turun perlahan. Ia tidak peduli dengan aroma bunga kamboja harum menyengat memasuki kedua lubang rongga hidungnya. Hingga tak lama setelah itu, ia memasuki dunia mimpi. Mimpi yang indah sekaligus aneh.
...***...
Bachtiar terbangun saat cahaya mentari pagi menerpa wajahnya, hawa dingin dan berkabut membuatnya malas bangun dari tidur nyenyaknya kemarin malam. Kicauan burung yang merdu makin membuatnya terlena, rasanya enggan sekali meninggalkan tempat tidur yang telah menenggelamkannya dalam samudera cinta. Perlahan-lahan ia membuka pelupuk matanya, dia terkejut manakala melihat tubuhnya tidak terbaring di tempat tidur, isterinya pun tak nampak. Ia tengah terbaring pada rimbunan rumput-rumputan dan semak belukar yang empuk dan menebarkan bau harum. Harum bunga kamboja, buru-buru ia bangun dan memandang ke sekitar.
Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui lebatnya daun-daunan hijau menimbulkan garis-garis sinar yang indah. Sebagian sinarnya menerpa titik-titik embun pada kuncup bunga kamboja yang baru mekar dan menebarkan bau harum sehingga menimbulkan sinar kemilau laksana mutiara berusia ratusan tahun. Namun yang menarik perhatian Bachtiar adalah sosok wanita cantik berbaju merah, duduk membelakanginya di bawah salah satu pohon kamboja yang rimbun. Tubuh wanita itu ramping, rambutnya hitam, panjang sebatas punggung dibiarkan tergerai dan dibuat mainan oleh udara pagi yang sejuk nan indah itu.
Wanita itu menoleh perlahan, pandangan mata yang teduh namun tajam menusuk beradu dengan sepasang mata Bachtiar yang masih berusaha menyesuaikan keadaan di sekitar yang hijau, berbeda dengan tempat dimana dia bekerja. Buku-buku bertumpuk setinggi kepala seakan bersaing dengan tingginya CPU dan monitor komputer, peralatan kantor yang berantakan tak tentu arah. Disini Bachtiar merasakan suasana tenang, damai serta asri. Dia seakan dimanjakan dengan suasana alam yang jauh dari kebisingan dan kejenuhan.
Baru saja Bachtiar hendak membuka mulut, wanita itu berdiri. Tubuh wanita itu tinggi semapai, gerakannya lemah gemulai sedap dipandang. Wajah wanita itu cantik, yah ... Bachtiar segera mengenali siapa wanita itu. Dia adalah wanita yang ditemuinya di Alas Purwo, wanita berkebaya merah. Bachtiar terpesona dengan segala yang ada pada wanita itu, kali inipun ia tidak bisa berkata apa-apa, dia diam bagaikan patung seakan tersihir oleh sebuah kekuatan tak kasat mata, tersihir oleh paras cantik dan elok wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan Bachtiar yang masih duduk bagaikan sebuah arca batu sambil memandangi wajah wanita yang kini sudah berlutut di hadapannya. Bibir merahnya tersenyum tipis, senyuman yang menggoda siapapun, terlebih kaum pria. “Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu, Bang Da’i. Namun, ingatlah ... aku akan senantiasa menjagamu juga keluargamu. Dalam waktu dekat, kau akan memiliki seorang putri. Mungkin kelak dia akan diasingkan atau mungkin memperoleh banyak teman... karena, DIA BERBEDA. Kumohon, jaga dan bimbinglah dia sebaik mungkin, karena darahku akan mengalir juga di dalam dirinya. Jika tidak, perjanjianku denganmu akan berakhir,”
Setelah berkata demikian, wanita itu memegang lembut tangan kanan Da’i Bachtiar. Ia tak berdaya apa-apa saat wanita itu dengan jari-jemarinya memberikan sebuah kalung emas berbandul hati pada tangan kanannya. Kemudian dengan hati-hati, wanita itu mendekatkan bibirnya ke punggung tangan Da’i Bachtiar. Ada hawa hangat mengalir dari tangan pria itu ke seluruh aliran jalan darah hingga ke ubun-ubunnya. Pada saat yang sama, Da’i Bachtiar merasakan keningnya dikecup dan terakhir bibirnya yang semula kering, basah karena dikulum lembut dan cukup lama oleh bibir wanita itu.
Kejadian itu begitu cepat sekali, Bachtiar seakan baru bangun dari tidur yang cukup lama, matanya mengedip perlahan dan barulah ia sadar, tubuh ramping wanita berbaju merah itu bergerak semakin lama semakin jauh. Buru-buru Bachtiar berdiri dan berlari dengan maksud mengejarnya. Namun, setiap kali ia sudah berhasil mengejar dan hendak meraih tangannya, tubuh wanita itu bergerak menjauh untuk kemudian lenyap di dalam kabut tipis yang masih menyelimuti hutan itu.
Entah tiba-tiba tanah yang dipijak oleh kaki-kaki Bachtiar terasa lembek dan basah. Pria itu tidak peduli, ia terus berlari mengejar, menerobos rimbunan semak belukar berduri, tak peduli berapa kali terjatuh dan darah mengucur dari luka-lukanya itu, dia bertekad ingin bertemu dan berbicara dengan wanita itu. Hingga ketika tiba di sebuah tempat yang luas dan lapang, entah mengapa tanah di tempatnya berdiri seakan bergetar hebat dan membuatnya hilang keseimbangan. Ia terkejut manakala tanah tempatnya jatuh mendadak terbelah. Belum habis rasa kagetnya, tahu-tahu tubuhnya sudah masuk ke dalam tanah yang terbelah itu.
“Tttiiidddaaakk ....”
Teriakannya membahana, memenuhi tempat dimana tubuh Da’i Bachtiar melayang-layang di udara. “Bruk !” telinga pria itu mendengar suara keras seperti benda besar jatuh dari ketinggian dan ia merasakan rasa sakit yang amat sangat menjalar ke sekujur tubuhnya. Tak lama kemudian, ia mendengar namanya dipanggil-panggil. Suara itu berasal dari atas tak jauh dari kepalanya. Sepasang matanya terbelalak lebar manakala melihat Sulastri menatapnya heran.
Sebagai jawaban atas pertanyaan sang isteri, Bachtiar memeluk erat, erat sekali. Itu membuat sang isteri heran. Sulastri membimbing Bachtiar duduk di tepi pembaringan, setelah berhasil menenangkan diri dengan air putih yang disuguhkan, Bachtiar menghela nafas panjang, “Cuma mimpi. Namun, cukup indah juga mengejutkan,” lalu mencoba untuk menjelaskan sebisanya dengan menghilangkan sosok wanita berbaju merah yang hadir dalam mimpinya.
Mengetahui suaminya baik-baik saja, Sulastri kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia masih terlena dengan apa yang baru didapatkan dari suaminya. Tidak seperti biasanya, malam ini suaminya lebih hebat dari malam-malam sebelumnya dan ia benar-benar berada di puncak kebahagiaan sebagai seorang isteri, sebagai seorang wanita yang benar-benar berharga di mata suaminya. Ia melirik sebentar ke arah suaminya, tersenyum manis sekali sebelum kembali tertidur pulas.
Sementara itu, Bachtiar masih terduduk di tepi pembaringan, ia membuka telapak tangan kanannya. Sebuah kalung emas berbandul hati, pada bandul itu terdapat ukiran yang membentuk sebuah kalimat “LARASATI”. Mungkinkah wanita berbaju merah yang ia temui dalam mimpinya bernama Larasati ? Bachtiar termenung lama sekali hingga tanpa terasa telinganya mendengar kokok ayam jantan. Suara serangga-serangga malam perlahan-lahan digantikan oleh kicauan burung, kegelapan malam pun tersapu oleh garis-garis sinar mentari yang menerobos masuk melalui celah-celah lubang udara.
__ADS_1
Fajar menyingsing dengan segala keindahannya, namun, Bachtiar masih saja duduk di tepi pembaringan ... sementara, kedua tangannya diletakkan di paha dan pandangan matanya yang kosong kini beralih pada sosok tubuh yang terbaring tak jauh darinya. Isterinya masih tertidur pulas, meski tidur ... ia tetap cantik dan tak bosan-bosannya Bachtiar memandang. Perlahan-lahan Bachtiar berdiri dan berjalan menghampiri isterinya itu, dan dengan penuh kasih sayang ia membelai rambut dan kemudian mengecup keningnya. Ia tersenyum lalu melangkah keluar kamar, kantor sudah menanti kehadirannya meski ia lebih suka menghabiskan waktu bersama sang isteri tapi, toh tenaganya masih diperlukan. Tak ada alasan baginya, untuk tidak masuk kerja.
...***...
Setelah kejadian malam itu, terjadi perubahan baik dalam diri Bachtiar maupun isterinya. Bachtiar sering menyendiri sambil memandangi kalung yang entah darimana berasal, pendapatnya adalah kalung bertuliskan nama LARASATI itu adalah pemberian dari wanita berbaju merah yang muncul dalam mimpinya, memang tidak masuk akal namun, itulah kenyataannya. Kalung itu disimpan baik-baik olehnya dan berusaha agar sang isteri tidak mengetahuinya, sebab, bisa berakibat fatal. Ia akan memberitahukan hal itu pada saat yang tepat.
Sementara, isteri Bachtiar Sulastri memiliki kebiasaan baru, ia gemar sekali mengenakan baju serba merah dan menyanggul rambutnya, memasak menu masakan yang sama sekali belum pernah ia masak. Bukan masakan ala Sulastri, mungkin tidak pernah memasak menu itu selama menjadi isteri Bachtiar. Hubungannya dengan Lukas pun kembali seperti semula, mereka seringkali saling berkunjung dan makan malam bersama.
Semuanya kembali seperti semula, rejeki datang bagaikan air bah. 3 bulan kemudian, Bachtiar memperoleh kabar bahwa Sulastri hamil. Berita itu cukup mengejutkan serta menggembirakan hatinya. Ucapan selamat datang dari berbagai pihak. Tak bisa terlukiskan kegembiraan pria itu, hari itu juga ia pulang lebih awal. Sepulang dari tempat kerja, ia langsung disambut hangat oleh isterinya, sebagai balasan atas sambutan hangat itu, Bachtiar memeluk dan mencium isterinya. Tak ada alasan bagi wanita cantik itu untuk menolak dekapan serta ciuman hangat sang suami.
Kembali pasangan berbahagia itu, tenggelam dan mabuk dalam lautan asmara. Hingga saat tengah malam, dimana Sulastri masih terbuai dalam mimpi indahnya, mendadak Bachtiar bangun. Dengan gerakan perlahan dan halus sekali, ia berdiri dan membuka lemari pakaian. Tangan-tangannya bergerak, mengangkat barang-barang dalam lemari itu satu persatu. Begitu tangan-tangan itu keluar jari-jemarinya telah memegang sesuatu. Kunci kecil berwarna putih keperakan.
Bachtiar memandangi kunci itu tanpa berkedip dan beberapa saat kemudian ia melangkah ke sudut kamar. Ada sebuah lemari kecil disana, lemari itu adalah tempat penyimpanan perhiasan Sulastri. Lemari itu memang jarang bahkan tak pernah disentuh oleh isterinya sejak mereka tinggal di rumah itu. Disitulah Bachtiar menyimpan kalung pemberian Larasati, begitu kalung itu dikeluarkan ... Bachtiar memandangi kalung itu, mendadak saja bulu kuduknya merinding saat jari-jemarinya meraba kalimat yang terukir pada bandul kalung itu ‘LARASATI’. “Benar, Bang... namaku Larasati,” terdengar suara lirih dari arah belakang, membuat Bachtiar terkejut dan buru-buru menoleh. Sulastri duduk di belakang Bachtiar sementara sepasang matanya masih menatap kalung yang dipegang oleh suaminya.
Wanita yang berdiri di hadapan Bachtiar memang Sulastri, namun, penampilannya berbeda sekali. Rambut wanita itu tergerai, panjang sebatas punggung. Bagian dada hingga betis paha hanya dibalut dengan sehelai kain merah tipis, sepasang matanya yang tadi menatap ke arah jari-jemari Bachtiar yang memegang kalung, perlahan-lahan beralih ke arah wajah Bachtiar. Sepasang tatap mata yang indah namun tajam, membuat Bachtiar lagi-lagi seperti kena kekuatan sihir. Akan tetapi, kali ini Bachtiar berusaha keras untuk balas menatap. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Kau bukanlah Sulastri. Siapa sebenarnya kau ?”
Wanita itu tersenyum lembut, “Aku sudah mengatakannya padamu, namaku Larasati. Maaf, aku terpaksa meminjam tubuh isterimu. Tapi, kau tak perlu cemas... dia tak apa-apa. Setelah anak dalam kandungan isterimu lahir, semuanya akan kembali seperti biasa,” katanya. “Jadi ... jadi selama ini kau berada di dalam tubuh isteriku ? Beberapa hari ini, aku tinggal dengan orang lain ?” tanya Bachtiar tidak percaya. Wanita itu mengangguk, "Memang, ini melanggar kodrat, tetapi ... ketahuilah, aku sama sekali tidak berniat jahat terhadapmu juga keluargamu. Aku tahu, kau tidak mengerti akan semua yang terjadi. Kuminta, jangan biarkan emosimu membuat segala yang kaubangun hancur berantakan. Untuk segala yang pernah kulakukan, aku minta maaf dan ijinkanlah aku menjelaskan segala-galanya,”
__ADS_1
Bachtiar yang semula tidak bisa mengendalikan perasaannya, berusaha menenangkan diri. Memang setelah kejadian beberapa waktu yang lalu, wanita berbaju merah itu tidak menampakkan diri lagi sekalipun dalam mimpi-mimpinya. Entah mengapa tiba-tiba saja merasa rindu untuk bertemu dengannya, tetapi, begitu dekat dengan isterinya ... perasaan rindu itu hilang seketika. Ia merasa dekat, dekat sekali bahkan tak perlu lagi merindukannya. Kini mendadak wanita itu hadir di hadapannya, ia tak tahu harus marah atau apa. Yang jelas, kehadirannya tidak bisa ditolak.
...__________...