DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 12 : Mimpi Buruk Sebuah Celullar ( babak kelima )


__ADS_3

05. MMS & Foto Pembawa Maut


Frustrasi. Itu yang kulihat pada wajah John. Ada kantung mata berwarna hitam pada bagian bawah matanya, jelas ia tidak tidur semalaman. Suaranya pun terdengar lemah saat ia berbicara padaku, "Apakah ada berita tentang wanita yang tertabrak tadi malam ?"


Aku menggelengkan kepala, "Tidak ada,


sebelum menuju kemari, aku sempat mampir ke tempat kejadian, tapi, tak ada tanda-tanda bekas kecelakaan," jawabku.


"Aneh... padahal kemarin aku jelas-jelas telah menabraknya, tapi, mengapa seakan tidak terjadi apa-apa?"


"Sudah, tak perlu kau pikirkan. Yang penting kau harus menjaga kesehatanmu. John... boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa yang ingin kau tanyakan ?"


"Kau sudah mendengar bahwa Roni dan Yuniar meninggal dunia ?"


John mengangguk, "Ya, keadaannya sama persis dengan Roni. Mereka meninggal secara tidak wajar dan misterius. Seandainya..."

__ADS_1


"Seandainya apa, John... kau kelihatannya ada sesuatu yang disembunyikan,"


"Seandainya, aku dan yang lain tak menghubungi gadis bernama Monica itu, mungkin keadaan kita akan lebih baik, ya?"


Aku tertawa tawar, "Nasi sudah menjadi bubur, John... Apa yang dikatakan Ririn dulu memang benar. Aku sendiri tidak menyangka kalau akan terjadi seperti hal ini,"


"Mike, apa kalau kita sudah mati, apa bisa bertemu dengan teman-teman, ya?"


"Untuk apa kau berkata seperti itu ? Bicara tentang hal-hal yang menyenangkan, gitu, Lo..."


"Benar, juga... aku ingin tahu saja. Oya, sewaktu kau menemukan mayat Roni dan Yuniar tempo hari .... "


"Setelah kejadian ini, aku jadi trauma untuk mencari jodoh lewat biro iklan," ujar John.


Aku tersenyum, "Sudahlah... tidak perlu diungkit-ungkit lagi, yang lalu biarkan berlalu. Ke depannya, kita harus berusaha lebih baik lagi,"


"Mike... aku jadi teringat sesuatu.

__ADS_1


Sebelum Roni, Rudy, Yuniar meninggal tepat 7 hari sebelum meninggal, mereka menerima foto dari Monica itu. Tepat satu hari sebelum mereka meninggal, mereka sempat menunjukkan foto tersebut dan ukuran fotonya lebih besar dari ukuran semula, seperti ini..." John menyodorkan ponselnya. Foto itu kali ini membesar, nyaris memenuhi lcd ponsel, "Sudah kucoba menghapus, tapi, tidak bisa hilang," sambungnya.


"Ini sama persis dengan kepunyaan Rudy. Tapi setelah dia meninggal foto ini lenyap tanpa bekas," sahutku.


"Apakah aku akan mengalami nasib yang sama dengan mereka?" tanya John putus asa.


"Bagaimana, kau bisa berkata demikian? kalau boleh tahu setelah kalian siapa lagi teman-teman yang memiliki foto Monica?" tanyaku.


"Entahlah," jawab John singkat.


"Kkrriinngg..."


Ponsel John berbunyi nyaring, ada panggilan masuk dan nama Monica tercantum di LCD-nya. Wajah John pucat pasi, telepon terus berdering dan bergetar. Aku mencoba untuk menjawabnya tapi, mendadak aku merasakan jari jemariku yang memegang ponsel tersebut seperti disengat listrik. Refleks aku melemparkan ponsel tersebut dan jatuh tak jauh dari John. John menyeret pantatnya menjauhi ponsel yang masih berbunyi nyaring, sepertinya, iapun tak ingin menjawab panggilan tersebut.


Angin dingin berhembus perlahan, bulu kudukku juga John berdiri manakala sayup-sayup terdengar suara perlahan "Satu hari lagi,"


Entah pada siapa kata-kata itu ditujukan. Namun, kami dapat mendengarnya dengan jelas sekalipun dilontarkan secara perlahan dan halus.

__ADS_1


"SATU HARI LAGI"


...__________...


__ADS_2