
Petaka Di tengah malam gulita
'Kkrriieetthh'
pintu gazebo terbuka perlahan, aku dan Kris melangkah masuk. Sinar lampu yang temaram menyorot seisi ruangan.
"Hei, ada apa ini ?" tanyaku sambil memandang ke sekeliling. Kertas foto berserakan di lantai sementara kamera polaroid milik Melly tergeletak di bawah rak buku dekat dengan pesawat televisi.
Saat aku kebingungan mencari Melly dan Rita, Kris bergerak mengambil kertas-kertas foto yang berserakan di lantai itu, sepasang matanya mengamati gambar-gambar di dalamnya.
"Mike... kemarilah, lihat apa yang ada dalam foto ini," panggilnya.
"Melly dan Rita menghilang, aku harus mencarinya, khawatir terjadi apa-apa pada mereka... waktu kian sempit, mengapa harus sibuk melihat foto-foto tersebut?" tukasku kesal.
"Hei, kemari dan lihatlah, ada yang aneh dalam foto ini,"
Aku menghela nafas kesal tapi toh akhirnya menurut juga dan mulai mengamati foto-foto yang disodorkan oleh Kris, "Ini adalah gambar ruangan ini, tapi difoto dalam sudut yang berbeda," sahutku.
"Benar," jawab Kris, "Tapi apakah kau tak melihat ada sesuatu yang aneh, bayangan putih tipis itu," sambung Kris sambil menunjuk sebuah bayangan putih menyerupai bayangan sesosok wanita berambut hitam panjang. Ada lebih kurang 10 lembar foto.
Lembar pertama, bayangan putih itu muncul dari sudut kiri bawah. Lembar kedua, bayangan itu seakan bergerak maju 2 cm, setiap lembarnya bayangan itu maju 2 cm mengarah pada sofa.
"Kalau perkiraanku tidak salah... ini seperti gambar pada film kartun," kata Kris sambil menumpuk lembaran-lembaran foto, jari jemari kanannya menahan salah satu sisi foto itu dan jari jemarinya yang lain membuka lembar pertama, kedua, ketiga dan seterusnya secara cepat.
Bayangan putih itu seakan bergerak maju secara melayang dan saat lembar terakhir dibuka bayangan itu berhenti di bagian atas rak buku.
Aku terpana, refleks pandanganku beralih pada bagian atas rak buku. Tepat di sudut kanan tampak olehku sebuah kotak persegi panjang terbuat dari kayu Cendana terselip diantara buku-buku usang.
Aku mengambil kotak Cendana itu dan saat membuka penutupnya aku melihat beberapa lembar foto yang ditindih oleh sebuah ponsel. Wajahku merah padam manakala melihat gambar yang terpampang di foto tersebut, sementara Kris meraih sebuah buku bersampul kuning dibungkus dengan kain berwarna putih kecoklatan.
***
__ADS_1
"Maaf, nona Mayuree...
bisakah kami berkunjung ke makam Malivalaya?" tanyaku.
"Malivalaya, sudah dimakamkan dengan baik oleh pihak keluarga... tapi, pihak keluarga terkejut manakala setelah 7 hari pemakamannya, kuburannya kosong. Kami mencari-cari mayatnya namun tidak ketemu. Bagi kami mayat yang menghilang dari kubur itu dianggap sebagai kutukan dan kami harus rela pindah karena para tetangga mulai menjauh. Takut terkena musibah," jelas Mayuree.
"Pantas saja, sewaktu kami tiba di desa nona, orang-orang pada menyingkir mereka tampak ketakutan. Tapi, dari sekian banyak tetangga nona masih ada yang menaruh perhatian. Jika kami tak bertemu dengannya, mungkin kami tidak akan menemukan nona,"
"Jika kau ingin mematahkan kutukan Monica, putarlah gangsing berlawanan dengan arah jarum jam...." ujar Mayuree.
***
"Kita harus segera mencari jasad Monica, Kris... kurasa itu jalan satu-satunya untuk mematahkan kutukannya," kataku pada Kris.
"Thailand cukup luas dimana kita harus mencari ... sebuah jarum dalam tumpukan jerami," sahut Melly.
Aku menunjukkan kotak kayu Cendana itu pada Melly, "Mel, di dalam kotak ini tersimpan segala sesuatu yang berhubungan dengan kematian Monica. Aku tahu kau sempat berdebat dengan Rudi malam sebelum Monica menghilang," ujarku.
"Kulihat kau masih menyembunyikan sesuatu, Mel..." sahut Kris, "Kami tidak bisa berbuat apa-apa, selama kau dan Rita masih menyembunyikan sesuatu. Arwah Monica akan terus bergentayangan jika kalian tidak jujur pada kami,"
Rita menundukkan kepalanya, sepasang matanya berkaca-kaca, ia memeluk Melly. 2 wanita itu saling peluk dan menangis.
***
Paul dan James mulai menjalankan ide dan rencana jahatnya.
Mereka sengaja mengajak Roni, cs untuk pergi ke tempat yang cukup jauh dari kota bersama Monica dan akhirnya berhenti di gazebo yang terletak di tengah hutan milik Tuan Bian Sitticai.
Kob Sook, seorang driver diminta untuk datang ke tempat itu 2 hari lagi tanpa sepengetahuan Monica dan yang lain. Paul dan James ternyata sudah terlebih dahulu mengetahui adanya gazebo yang berdiri di tengah hutan, tak heran semua keperluan untuk jatah 2 hari itu sudah dipersiapkan semua, termasuk 3 botol berisi minuman keras yang disimpan di tempat tersembunyi. Sementara itu di pihak Monica, beranggapan bahwa semua keperluan rumah tangga sudah disiapkan oleh pengelola tempat itu.
Malam itu...
Rita, Kat dan Nat menemani Monica berbincang-bincang di halaman sementara John, Paul, James, Roni dan Rudi bermain video game. Monica yang belum pernah melihat video game tertarik dan mencoba untuk memainkannya.
"Ok..." kata Paul, "Kalau kau kalah, kau dihukum minum, ya... kalau kau menang kami akan memberimu hadiah," sambungnya sambil mengeluarkan dan meletakkan di meja beberapa lembar uang $100, "Ini ada uang $1000, siapapun yang keluar sebagai pemenang, dapat uang $100. Tapi, kalau kalah... akan dapat hukuman minum satu gelas. Setuju ?!"
__ADS_1
James mengajarkan bagaimana cara bermainnya. Monica adalah orang yang cerdas dalam waktu singkat, mampu memahami dan mengerti apa yang telah diajarkan oleh James.
Pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima ia memenangkan pertandingan tapi, begitu memasuki pertandingan ketujuh dan seterusnya ia kalah dan harus menerima hukuman. Minuman yang disodorkan oleh Paul dan James berbeda dengan minuman yang diminum oleh Paul, cs. Dalam minuman itu dicampur dengan minuman keras yang sudah disiapkan. Pertama ia tidak merasa ada yang aneh dalam tubuhnya. Tapi, perlahan-lahan ia mulai merasakan hal yang aneh... tubuhnya seakan terbakar oleh api, keringat membasahi sekujur tubuhnya.
"Kalau kau merasa panas, kau boleh menanggalkan pakaianmu, nona Monica," ujar James.
Monica merasa kepalanya berat, pandangannya berkunang-kunang dan sekujur tubuhnya lemas, kilatan cahaya diiringi dengan bunyi jepretan kamera menambah kabur penglihatannya.
Ia merasakan tubuhnya diangkat dan dibaringkan ke tempat yang nyaman dan empuk...untuk sesaat, ia memanjakan diri berbaring di ranjang itu. Bunyi jepretan kamera masih terdengar, ia merasakan udara dingin merasuk mengalir menusuk setiap aliran nadi dan pembuluh darahnya, saat membuka matanya, ia berteriak manakala tubuhnya mulai dijadikan sasaran ciuman, gigitan dan jilatan. Ia menjerit, berontak dan kesakitan saat bagian vital dari tubuhnya seakan-akan ditusuk-tusuk oleh benda keras. Tawa dan jepretan kamera masih terdengar.... sekalipun pandangannya kabur namun, bisa melihat seorang wanita dengan kamera tengah mengambil gambarnya, wanita itu tak lain adalah Nat.
Pemuda-pemuda itu terus melakukan aksi brutalnya. Jeritannya seakan tak didengar. Saat berada antara hidup dan mati, terdengar seruan keras.
"Ada apa ini... apa yang kalian lakukan !" pemilik suara itu adalah Melly. Sepasang matanya berubah menjadi liar manakala melihat bahwa kekasihnya Rudi juga terlibat dalam aksi brutal itu.
"Kau juga, Rit... mengapa kau tega membiarkan aksi bejat mereka berlarut-larut. Dimana nalurimu sebagai wanita ?! Jika kau sendiri yang mengalaminya, bagaimana perasaanmu?" Yuniar yang berdiri di samping Melly juga geram menyaksikan sahabatnya menonton adegan tidak manusiawi itu.
Rudi, Richard dan John segera merapikan pakaiannya lalu menarik keluar Yuniar, Rita dan Melly. Tapi, baru saja melangkah beberapa tindak terdengar suara, "Tunggu..."
Pada saat itulah, Monica yang mulai mendapatkan kesadarannya sedikit demi sedikit, bangun meringis kesakitan, wajahnya merah padam Semerah matanya, ia menatap tajam ke arah Paul dan yang lain....
"H̄etukārṇ̒ khụ̄n nī̂ c̄hạn ca cả wị̂ s̄emx læa c̄hạn ca mị̀ pl̀xy h̄ı̂ khuṇ xyū̀ xỳāng s̄ngb s̄uk̄h mị̀ ẁā khuṇ ca xyū̀ thī̀h̄ịn!! Cả s̄ìng nī̂ wị̂ h̄ı̂ dī!!"
( "PERISTIWA MALAM INI, AKAN KUINGAT SELALU DAN TAKKAN KUBIARKAN KALIAN HIDUP TENANG DAN BAHAGIA DIMANAPUN KALIAN BERADA !! INGAT INI BAIK-BAIK !!" )
Setelah berkata demikian, mulutnya komat-kamit seperti sedang merapal mantra dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh semua orang.
Mendadak....
Kilat menyambar, bagaikan hendak mencabik-cabik kumpulan awan hitam berarak menutupi langit menyusul kemudian...
"Duar !!" bunyi Guntur yang cukup keras mengejutkan semua orang, selang beberapa detik kemudian hujan turun dengan lebatnya disertai dengan angin kencang.
Setelah berkata demikian, di bawah guyuran air hujan, ia melangkah keluar tertatih-tatih, menahan darah yang terus merembes keluar dari bagian kewanitaannya, hujan deras yang membasahi rambut dan sekujur tubuhnya tak ia hiraukan. Tatapannya kosong seakan penuh keputusasaan, hatinya hancur membayangkan keluarganya yang jauh disana, ia merasa diperlakukan tidak adil, takdir seakan mempermainkannya, tubuhnya menghilang di kegelapan malam diiringi bunyi lolong anjing dari kejauhan juga tawa aneh... menggema memenuhi tempat itu.
Kutukan telah terlontar, tak seorangpun mampu dan bisa menghindarinya.
__ADS_1
Sejak saat itulah Paul dan yang lain merasa tidak nyaman, mereka harus segera meninggalkan Thailand.
...__________...