DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 18 : Mimpi Buruk Sebuah Celullar ( babak kesebelas )


__ADS_3


Gazebo


Malam itu Melly, termenung sendirian di ruang kamarnya, ia mengingat kenangan bersama Richard selama di Thailand, tangannya menimang-nimang sebuah kamera polaroid. Kamera itu dibeli dari Thailand. Ia tersenyum sendiri ketika melihat tingkah laku almarhum teman-temannya yang lucu di depan kamera, sesekali menangis mengingat kematian mereka yang mengerikan.



Hingga pada akhirnya, sepasang matanya terbelalak ketika dalam foto tersebut terpampang pada sebuah bangunan mirip gazebo. Seingatnya, ia tidak pernah berkunjung ke tempat itu. Sekeras apapun berpikir, ingatan tentang tempat itu sama sekali tak muncul, "Siapakah yang membawa kamera tersebut ke tempat itu ?" tanyanya dalam hati.


***


Gazebo itu berdiri di atas sebuah tanah lapang yang luas, berpondasi kayu-kayu Meranti dengan diameter 10 cm, dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu dengan corak yang cukup rumit. Luasnya, sekitar 4x8 M².


Pintu, jendela dan lantai juga terbuat bahan alami demikian pula perabotan-perabotan serta interiornya, semuanya terbuat dari kayu dan bambu. Benar-benar alami, memanfaatkan apa yang telah disediakan oleh alam.


Saat memasuki ruangan, sebuah rak buku setinggi satu setengah meter membentang di sebelah kiri, tak jauh dari rak tersebut sebuah meja kayu sepanjang satu meter dengan 1 buah sofa dan 3 buah kursi kayu di sisi kanan kirinya sementara di hadapan 5 perabot itu sebuah Rak TV lengkap dengan sound system-nya juga pemutar video box. Pada beberapa sudut dipasang kamera cctv.


"Gazebo ini digunakan sebagai homestay para wisatawan yang suka dengan ketenangan dan kenyamanan. Jauh dari keramaian," kata Melly kepadaku.


Kami sudah hampir 3 hari di Thailand dan baru menemukan tempat ini, seandainya tahu dari awal tak mungkin kami menginap di hotel yang harganya nyaris 3 kali lipat dibandingkan dengan gazebo ini. Tapi, karena menyangkut urusan nyawa, masihkah aku memikirkan harga atau jumlah uang yang dikeluarkan?


Menurut keterangan Tuan Bian Sitticai, pengelola tempat ini, lebih kurang 8 tahun yang lalu menyewa tempat ini. 4 pasangan bule, 3 orang pria asal Indonesia dan 1 orang wanita yang merupakan gaet. Mereka menyewa tempat ini selama 3 hari. Saat check-out hanya tersisa 7 orang dan wanita muda yang menjadi gaet itu sudah pergi. Setelah itu tidak ada lagi yang menyewa tempat ini kecuali kami.


Aku dan Kris menatap sekitar, sementara Melly dan Rita bekerja mempersiapkan makan di dapur.


"Suasana tempat ini benar-benar tenang sekali, cocok sekali untuk refreshing," kataku.


"Jangan tertipu dengan suasana seperti ini, Mike..." kata Kris.


"Apa maksudmu?"


"Bagi orang yang kurang sensitif, maka, suasana ini memang cocok untuk refreshing. Tapi, bagiku... aku seperti merasa sedih. Entah mengapa. Sejak memasuki tempat ini, ada sebuah energi negatif yang kuat dan itu berasal dari...."


jelas Kris sementara tangan kanannya terangkat dan telapaknya mengambil gerakan seperti meraba-raba ke udara kosong lalu ia melangkah ke sebuah ruangan yang tertutup rapat, "Disini..." katanya.


"Kkrriieetthh..."


Pintu kayu beranyam bambu itu terpentang lebar, ada hawa dingin menusuk dari arah dalam, seketika bulu kudukku meremang terlebih setelah melihat sebuah dipan ( sandaran tempat tidur ) kayu dengan kasur yang ditutupi sprei ( alas tidur ) berwarna putih.


"Apa yang kau lihat diatas pembaringan itu ?" tanya Kris.

__ADS_1


"Aku tidak melihat apa-apa," sahutku sambil meraba tepi pembaringan dan tempat tidur. Dingin dan empuk juga bersih, tampaknya si pemilik tempat ini sangat memperhatikan kebersihan.


Kris tersenyum dan aku merasa aneh dengan gelagatnya itu.


"Kenapa, Kris ?" tanyaku.


"Tidak apa-apa, bung..." katanya, namun aku merasa bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Katakanlah, Kris.... waktu kita tidak banyak," ujarku.


Kris menganggukkan kepalanya, "Aku tahu. Kemarilah, aku akan memberitahukannya kepadamu. Tapi, ingat jangan sampai para gadis tahu sebelum ada bukti yang kuat,"


Walau aku heran, toh akhirnya menurut juga. Saat aku berjalan menghampirinya, Kris memegang lengan kananku, mengangkatnya sebatas bahu dan, "Bukalah telapak tanganmu dan rasakan aliran udara yang keluar dari pembaringan itu. Aku akan membawamu menerobos dimensi lorong ruang dan waktu, sebuah peristiwa yang telah terjadi di masa lalu namun, mereka sengaja menutup-nutupi kejadian tersebut. Pejamkan matamu, setiap tarikan nafasmu akan mempengaruhi apa yang kau rasakan,"


***


Aku berdiri di depan pintu ruangan bercat hijau, ruangan tempat dimana aku dan Kris sekarang berada.


Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita menjerit histeris.


"Tidak.... tidak....


lepaskan aku.... lepaskan aku ...


biarkan aku pergi dari sini.... jangan...."


"Apa itu tadi ?" tanyaku pada Kris.


"Tenanglah... tetap fokus," Kris memerintah, aku tak berani membantah.


Lagi-lagi terdengar jeritan, kali ini jeritannya begitu memilukan...


"Jangan.... jangan...


Lepaskan... lepaskan....


aduh.... sakit... sakit...


hentikan .... sakit... hentikan...."


Di sela-sela teriakan dan tangisan terdengar pula suara tawa. Dan...

__ADS_1


Kini di hadapanku terpampang sebuah adegan yang tidak manusiawi. Seorang wanita jelita tengah dicekoki miras oleh 5 orang pria... aku mengenal beberapa dari mereka, Richard, Roni dan John sementara seorang wanita berada di sudut lain membawa kamera yang menyorot langsung ke arah wanita yang dicekoki miras itu.


Adegan selanjutnya, wanita itu didorong ke tempat tidur dan salah seorang pemuda bule tengah melepas paksa pakaian wanita itu sementara wanita yang memegang kamera itu terus merekam adegan brutal di hadapannya.


Wanita itu berontak,


"Tidak.... tidak....


lepaskan aku.... lepaskan aku ...


biarkan aku pergi dari sini.... jangan...."


Namun, para pemuda sepertinya semakin bersemangat. Mereka terus mencekoki miras dan merobek-robek pakaiannya hingga tak tersisa sehelai kain pun.


Si pemegang kamera, menjepretkan fotonya tanpa henti, ia tidak bergeming saat 5 pemuda itu memperkosa wanita itu secara bergantian.


"Jangan.... jangan...


Lepaskan... lepaskan....


aduh.... sakit... sakit...


hentikan .... sakit... hentikan...."


Wanita itu menatap si pemegang kamera, mengharap pertolongannya tapi tidak ada tanggapan hingga akhirnya ia membiarkan para pemuda itu memeluk, mencium dan menggerayangi sekujur tubuhnya sementara teriakannya makin melemah.


Tempat tidur yang semula rapi dan bersih kusut masai, basah oleh darah bercampur cairan orgasme, sementara wanita itu yang tidak lain adalah Monica terbaring lemas, 2 titik bening dari sudut matanya yang sayu mengalir membasahi pipinya.


Ia meraih selimut, digunakan untuk membungkus tubuhnya yang telanjang bulat dan perlahan-lahan melangkah meninggalkan tempat itu.


***


"Nah, kau sudah melihatnya, bukan ?"


perkataan Kris ini membuatku tersadar.


"Yah, aku mengerti sekarang... lalu apa yang harus kita lakukan sekarang ?" tanyaku.


"Putar gangsing secara berlawanan dengan arah jarum jam, maka, porosnya akan rusak," sahut Kris mengulang apa yang telah dikatakan oleh Mayuree.


"Aku tidak mengerti, Kris,"

__ADS_1


"Kau tadi melihat, kejadian itu direkam oleh seseorang, bukan ? Aku merasa foto-foto itu sengaja disembunyikan olehnya entah dimana. Kita harus mencarinya sampai ketemu dan memusnahkannya. Dan, MMS atau pesan gambar itu coba kau kirim balik ke pemiliknya. Kalau perkiraan ku tidak salah, itu cara mematahkan kutukannya," jelas, Kris


...__________...


__ADS_2