DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 34 : S o s o k #5 ( Kembali ke sarang )


__ADS_3

#5


"Mas Adnan, ada yang perlu kubicarakan padamu," panggilku saat jam istirahat tiba, saat itu ia sedang berjalan menuju cafentaria bersama dengan 3 orang temannya.


"Maaf, mbak... Saya lagi ada urusan yang perlu dibicarakan dengan teman-teman. Jika sudah selesai, aku akan mencarimu," katanya.


Ini sudah yang kesekian kalinya ia berkata seperti itu. Entah mengapa akhir-akhir ini aku mendapat kesan ia sengaja menghindariku semenjak aku menceritakan mimpiku tempo hari. Akan tetapi, aku tidak pernah menyinggung-nyinggung telepon dari Mas Reksa sama sekali di hadapannya. Aku berusaha bersikap biasa-biasa saja, tapi memang dia sudah berubah.


Baiklah kalau begitu, aku akan menemui Mbak Lilis saja. Kataku dalam hati sambil mencari-cari dimana dia berada.


***


"Oalah, Mbak Thia..." ujar Mbak Lilis, "Nasibmu kok malang benar, setelah ditinggal Reksa sekarang kau malah diabaikan oleh Adnan. Sebenarnya, ada apa, sich dengan dirimu, kok rasanya cowok-cowok pada menghindar," sambungnya saat berada di gazebo sebelah Utara.


"Heran, ya..." Sambung Karmila, "Wajahmu begini cantik dan bodymu juga bohay, tapi, apes," sahutnya sambil jari-jemarinya bergerak menepuk pantatku.


"Entahlah, mbak... Aku juga heran," sahutku.


"Ehm... Jangan-jangan kau jatuh cinta sama cowok lain, ya... Terus ketahuan Adnan dan dibuang," goda Karmila lagi.


"Hei, Mil... Kalau bicara mbok, ya hati-hati... Sudah tahu teman kesusahan, malah dibilang macem-macem," tukas Lilis.


"I...iya, sorry, mbak," kata Karmila salah tingkah.


Aku tersenyum, "Tidak apa-apa, mbak... Mungkin perkataanmu ada benarnya,"

__ADS_1


Karmila tampak menyesal dengan kata-katanya yang sembarangan, ia menghela nafas panjang baru kemudian bicara dengan nada serius, "Tapi, memang... Adnan sekarang sepertinya menjauhiku saat kamu memintanya untuk melangkah ke jenjang pelaminan," dia menatap Lilis yang seakan mengisyaratkan agar bicara hati-hati, "Menurutmu, bagaimana, Lis ?"


"Sebenarnya, apa yang telah Mbak Thia katakan pada Adnan ? Kok sampai dia berubah seperti itu ?" tanya Lilis.


"Saya tidak berkata apa-apa, mbak... Setelah dia melamarku beberapa bulan yang lalu, sikapnya mulai berubah dan mulai menghindariku," jelasku, "Tadi baru saja saya mau mengajaknya bicara, lagi-lagi dia menghindar,"


"Akan kucoba menanyakannya langsung, mbak," sahut Karmila.


"Jangan," potong Lilis, "Itu tak memecahkan masalah, tapi malah menambah masalah. Coba kau pikir... Diantara semua pegawai, cuma kita yang paling dekat dengan Mbak Thia. Jika kau menemuinya, tentu Adnan juga tidak peduli, penilaiannya terhadap Mbak Thia jadi negatif, kan ?" 


"Lalu, kita bersikap acuh tak acuh, begitu? Mbak Thia jadi lebih menderita, dong,"


"Kita tidak akan tinggal diam, Mil.... Eh, aku punya ide..." ujar Lilis sambil mendekatkan kepalanya dan berbicara pelan nyaris tak terdengar.


***


"Dari sini Mbak Thia, tahu, kan pemuda macam apa Adnan itu ? Dulu dia tergila-gila berat dengannya, sekarang, kesannya Mbak Thia dicampakkan. Padahal sudah 3 hari kita berusaha menyuruh Mbak Thia sembunyi, tapi, dia sama sekali tak menanyakan dimana keberadaan Mbak Thia, aku jadi bingung... Apa maunya orang itu,"


Kami terdiam sesaat lamanya. Aku boleh dibilang wanita yang paling sabar, tapi, itu ada batasnya. Maka, saat aku melihat Adnan melintas dari ruang kerjanya, aku buru-buru berjalan menghampirinya.


"Mas Adnan, aku mau bicara dengan pean sekarang. Kalau masih banyak alasan maka aku tak akan main-main lagi !" bentakku dengan suara tinggi mengejutkan semua orang yang ada di sekitar. Aku tidak peduli, Adnanpun tampaknya tidak berani lagi bicara apa-apa.


***


Aku dan Adnan duduk di cafentaria, sepi pengunjung. Sebuah hal yang tidak biasa sehingga kami bisa berbicara dengan leluasa. Adnan duduk di hadapanku, sepasang matanya tak berkedip manakala beradu pandang denganku. Suasana tampak dingin dan kaku, kami tegang dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Mau pesan apa, mbak," suara Adnan-lah yang pertama kali memecah kesunyian.


" Tidak usah. Kalau mas mau pesan, pesanlah sendiri," jawabku ketus.


"Kok gitu, sich ?" Adnan mencoba bercanda di saat wajahku merah padam.


"Sudahlah. Aku ingin tahu, mengapa kau selalu menghindariku saat aku ingin bicara denganmu,"


"Aku tidak menghindar, mbak... Memang akhir-akhir ini banyak urusan yang harus diselesaikan,"


" Baiklah kalau begitu, aku tak ingin berlama-lama... Aku cuma ingin bertanya, apakah kau sudah mempersiapkan hari pernikahan kita ? Sampai kapan kita seperti ini terus sementara usia kita semakin bertambah ?"


Adnan tertawa tawar, "Mbak, pean sudah tak lamar, itu artinya sudah menjadi tunangan saya, masalah pernikahan bisa kita atur ke depannya,"


"Pean sudah janji dalam waktu 3 bulan akan memberikan keputusan. Sekarang sudah tiga bulan lebih tapi, tetap saja tak ada keputusan yang pasti.


Akhir-akhir ini, kau menjauhiku saat aku ingin bicara. Mau pean itu sebenarnya apa ?"


"Baiklah, mbak...saya tidak ingin berdebat. Bagaimana kalau kita nikah siri dulu ?"


"Nikah siri ?" tanyaku, "Maaf, mas ... pean harusnya bisa memberi keputusan yang jelas dan tegas. Dulu pean pernah berjanji tidak akan membuatku kecewa, tidak akan membiarkanku menjalani hidup dengan samar... Tapi, kau sudah melupakannya. Saya sudah bosan diperlakukan demikian. Maaf, mas lebih baik kita akhiri saja hubungan yang tidak pasti ini," kataku sambil melepas cincin di jari tengah kananku.


Cincin pemberiannya saat ia melamarku, memberiku banyak harapan dan keinginan. Dan, saat cincin indah itu terlepas aku menyerahkannya pada Adnan sambil berkata, "Maaf, mas... Mulai hari ini dan seterusnya, kita tak ada hubungan apa-apa. Cincin ini mungkin tidak cocok untukku, maka, berikanlah pada orang lain yang lebih layak menerimanya,"


Setelah berkata demikian, aku melangkah meninggalkan kantin, aku tak peduli lagi bagaimana reaksi Mas Adnan saat itu. Entah mengapa, bahu ini mendadak saja serasa ringan. Dadaku yang seakan penuh dengan berbagai macam persoalan hilang entah kemana. Aku merasa bebas dan aku senang sekali. Plong...

__ADS_1


__________


__ADS_2