DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
[ Horor ] M a n e k i n ( babak kedua ) Oleh : Leonardus Eric K.


__ADS_3

#2


Hadi Firmanto berdiri sambil memandangi manekin-manekin yang dipajang di sebuah ruangan yang cukup besar. Ia tampak terkagum-kagum sehingga tak menyadari ada orang lain yang datang.


"Indah, bukan?" suara berat itu mengejutkannya, buru-buru Hadi Firmanto menoleh ke asal suara itu. Seorang laki-laki botak, gemuk dan pendek sudah duduk sementara sepasang matanya menatap tajam ke arahnya.


Hadi Firmanto tampak salah tingkah, ia tertawa, "Maaf, pak... karena terlalu asyik memandangi patung-patung ini, saya tidak menyadari kehadiran bapak,"


Pria itu tertawa, "Tidak apa-apa, mas Hadi.... benar, ya nama Anda Mas Hadi pemilik perusahaan CV. First Ride Sales ?"


"Benar, pak... dan apakah bapak yang bernama Wasis Sudibyo ? Pengrajin patung lilin terbaik di kota Banyuwangi ini ?"


"Benar, mas... maaf sudah menunggu lama," katanya.


2 laki-laki itu saling berjabat tangan, senyum menghiasi sudut bibir mereka. Mereka tampaknya sudah mulai bisa mengendalikan suasana yang dingin dan kaku.


"Jika Anda ingin melihat-lihat karya saya yang lain mari saya antar," pria botak yang bernama Wasis Sudibyo itu tampak bersemangat sekali, maka, ia tak lagi untuk memperlihatkan karya seninya.


Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dan menuju ke arah Utara. Setelah berjalan lebih kurang 15 menit, sampailah mereka di sebuah bangunan tua dengan pintu gerbang yang tingginya sekitar 2 kali tinggi manusia dewasa pada umumnya. Diatas pintu gerbang tersebut terdapat sebuah papan nama dengan panjang 100 cm dan lebar 75 cm. "WASIS SUDIBYO ART GALERY" kalimat ini berupa ukiran lilin dan di bawahnya terdapat pula tulisan "No. 1 best art galleria on this city".


Pak Wasis segera membuka pintu dan dari dalam seorang pria bertubuh tinggi tegap dan kekar datang menyambutnya. Ditempat itulah Hadi Firmanto bagaikan terkena sihir manakala menyaksikan deretan manekin yang dipajang hampir di semua sudut ruangan. Begitu halus dan tampak hidup. Selain patung manusia, juga terdapat patung bangunan terkenal seperti Taj Mahal, Kincir Angin, Menara Eiffel dan lain sebagainya. Semua patung itu tampak asli, tak bercacat , halus dan lembut.


Mulut Hadi Firmanto hanya berdecap-decap saja, ia memang harus mengakui keunggulan produk buah karya Pak Wasis ini. Sepasang matanya beralih pada manekin-manekin wanita cantik yang berada di dalam kotak kaca dengan berbagai pose. Sementara itu, di pihak Pak Wasis, airmukanya berubah menjadi pucat, saat Hadi Firmanto menanyakan perihal rumor yang beredar akhir-akhir ini.


"Pak, Wasis... Manekin-manekin di dalam lemari kaca itu memiliki label nama, apa maksudnya ?"


"Oh, itu... biarlah Pak Yudi yang menjelaskannya,"


"Rumor tentang menghilangnya siswi-siswi berumur 13 - 20 tahun itu adalah sebuah tragedi yang memilukan di kota ini," Pria bertubuh jangkung kurus itu mulai menjelaskan, "Kami kenal dekat dengan mereka, mas... sebab, mereka sering sekali mampir kemari untuk melihat-lihat. Maka, begitu mendengar mereka menghilang kami mencoba untuk membuat patung lilin menyerupai mereka. Tanpa mereka, galeri ini tidak akan dikenal penduduk sini. Itulah sebabnya, kami membuatkan patungnya dan memberinya nama. Apakah, mas Hadi tertarik untuk membeli manekin-manekin ini ? Kalau mas Hadi suka, kami tidak keberatan toh kami bisa membuatnya lagi,"


"Nanti biar saya rundingkan dengan bagian pemasaran, Pak Yudi," ujar Hadi Firmanto sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sepanjang hari itu, Hadi kebingungan untuk memilih mana manekin yang hendak dibelinya untuk koleksi pribadi atau dipasarkan ke tempat lain, memang manekin karya Pak Wasis sulit dicari tandingannya.


__________


Malam itu "WASIS SUDIBYO ART GALERY" tampak lengang, Hadi Firmanto baru saja meninggalkan tempat itu. Yang berjaga di tempat itu adalah laki-laki tinggi dan jangkung yang dipanggil dengan nama Yudhi dan seorang pria bertubuh tinggi tegap dan kekar yang oleh Pak Wasis dipanggil dengan sebutan Sarwono.


"Tampaknya, pemuda bernama Hadi itu berkeinginan kuat untuk membeli semua manekin Pak Wasis, ya ?" kata Sarwono.


"Mudah-mudahan... dengan demikian kita juga mendapat persenan yang lumayan besar, bukan ? Kalau mendapatkan persenan aku ingin mempunyai galeri sendiri, tidak harus diperintah oleh majikan. Kalau kau... apa rencana mu ?" kata Yudhi.


"Sebaiknya kita jangan terlalu berharap banyak, dech... jaman sekarang, sebanyak apapun uang yang kita miliki tidak akan menjamin hidup kita berkecukupan,"


"Ah, jangan begitu, dong... lebih baik punya cita-cita daripada tidak sama sekali," sahut Yudhi.


"Iya, kau benar... tapi, tetap saja aku merasa bersalah karena bekerja di tempat ini," ujar Sarwono.


"Memangnya kenapa ?"


"Coba kau pikirkan, di balik manekin-manekin itu tersembunyi mayat-mayat para pelajar juga ABG yang dikabarkan menghilang akhir-akhir ini. Semuanya, cantik-cantik dan seksi-seksi. Bayangkan saja kalau salah satu dari mereka adalah anak gadismu, apa yang hendak kaulakukan ? Aku merasa bersalah karena harus melindungi dan menjaga kewibawaan Pak Wasis. Padahal tangannya sudah berlumuran darah. Ujung-ujungnya, toh duit juga," jelas Sarwono.


"Hati-hati kalau bicara, bro... jika sampai ucapanmu didengar oleh beliau.... kau bakalan dijadikan patung pula," tukas Yudhi.


Baru saja Sarwono hendak menimpalinya, mendadak mereka mendengar suara aneh yang berasal dari dalam Wasis Sudibyo Art Galery.


"Kkrrkk, kkkrrrkkk, kkkkrrrrkkkk...."


"Hei suara apa itu," baru saja Yudhi menutup mulutnya mendadak di hadapan muncullah sesosok tubuh berwarna hitam... merangkak semakin lama semakin dekat. Dan...


"Aarrgghh..." Yudhi berteriak tertahan, tubuhnya yang bersimbah darah dan usus terburai itu tergeletak tepat di dekat Sarwono berdiri. Sepasang cahaya merah bak nyala api menyorot tajam ke arah pria bertubuh tinggi, tegap dan kekar itu. Sarwono melompat mundur dan sebisa mungkin menjauh dari sosok hitam itu.


Sarwono berhasil menjauhkan diri, tapi ia tak mampu bergerak lagi saat punggungnya menempel pada sebuah batu sebesar gunung. Ia menghela nafas lega, hanya sebentar saja. Keringat dingin mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya yang gemetaran, manakala di balik batu itu bermunculan sosok-sosok aneh lainnya.


Sosok-sosok itu menyeringai mengerikan manakala di depan mereka ada sosok lain lagi, ia berjalan seperti manusia pada umumnya, tapi, bergerak tidak wajar, kaki kirinya lebih kecil dibanding kaki kanannya, untuk berjalan sosok itu harus menyeret kaki kirinya.


"Aaahhh..." Sarwono menjerit histeris saat sosok itu telah memperlihatkan sebagian wajahnya yang rusak parah bagai terbakar dan masih mengucurkan darah. Bola mata kirinya menggantung ke bawah menempel pada tulang pipinya yang sudah tidak memiliki daging dan kulit, disana-sini menempel ulat belatung, cacing, kelabang dan kalajengking, aroma busuk tercium membuat seisi perut serasa diaduk-aduk.

__ADS_1


Teriakannya makin lama makin melemah hingga akhirnya tak terdengar lagi. Digantikan oleh suara-suara hewan malam.


__________


Wisma Hadi Firmanto, CEO muda itu tampak sedang mengamati foto-foto manekin yang baru diambil dari Wasis Sudibyo Art Galery. Hasratnya adalah ingin memiliki semua manekin-manekin tersebut.


Tetapi mendadak, pandangannya tertuju pada sebuah surat kabar yang tergeletak di meja kerjanya. Ada topik berita yang menyita perhatiannya.


'LAGI, 5 SISWI SMP NEGERI 01 KETENG - BANYUWANGI MENGHILANG'


Dahi Hadi Firmanto berkerut, nama-nama yang tertera pada surat kabar sama dengan nama-nama manekin-manekin yang dipajang di dalam lemari kaca Wasis Sudibyo Art Galery.


"Apakah ini kebetulan atau ...," gumamnya seorang diri; Mendadak ia melompat kaget, disampingnya telah duduk seorang wanita, kulitnya melepuh, dagingnya seperti sebuah lilin terbakar api, separuh wajahnya rusak dan tangan kanannya menggapai-gapai seakan hendak meraih ujung lengan baju CEO muda itu.


Kejadian itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja, sosok itu menghilang tiba-tiba saat telepon berdering.


"Ha... hallo," kata Hadi Firmanto dengan suara gemetar.


"Maaf, mas... " terdengar suara berat Pak Wasis diseberang, "Mungkin pengiriman manekin-manekin yang anda pesan sedikit terhalang karena ada kesalahan tehnis,"


"Oya, pak tidak apa-apa. Sebenarnya, ada yang hendak saya bicarakan dengan bapak," kata Hadi.


"Oh, kira-kira masalah apa, ya ?"


"Masalah bisnis saja... sebenarnya sy mau pesan manekin atau patung lilin-nya para selebritis... kira-kira, bapak bisa atau tidak, ya ?"


"Oh, tentu saja bisa, mas... tapi, butuh waktu. Dan, itu tidak boleh terburu-buru..."


"Saya paham, pak... itu menyusul saja, pak. Nantinya saya pasti menghubungi Pak Wasis,"


"Ok. Terima kasih, mas. Mohon maaf kalau saya harus memberi kabar kurang bagus,"


"Tidak usah dipikirkan, pak ... saya paham, kok. Ok, sampai ketemu lagi, pak,"


Pembicaraan lewat telepon selesai, Hadi Firmanto masih syok dengan munculnya sosok aneh tadi. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi. Ia berharap itu hanyalah halusinasinya saja.


Telepon kembali berbunyi, Hadi Firmanto melompat kaget lamunannya buyar seketika. Buru-buru ia menyambar gagang telepon.


"Hallo..." sapanya.


"Maaf, pak... di rumah penyimpanan barang antik, telah terjadi sesuatu. Mohon, Pak Hadi segera datang," itu suara Soeradijo.


"Baik, saya segera berangkat," ujar Hadi singkat. setelah itu ia meraih jaket kulit dan kontak mobil yang tergeletak di sofa. Tak lama kemudian, mesin mobil dinyalakan dan roda-rodanya telah beradu dengan kerikil dan bebatuan di halaman rumah setelah itu mobil tersebut meluncur menerobos kegelapan malam.


__________


Mobil sedan itu berhenti di halaman rumah penyimpanan barang-barang antik. Hadi Firmanto segera keluar dan menemui Soeradijo yang saat itu sedang memeriksa serpihan-serpihan lilin di lantai.


"Apa yang terjadi, paman ?" tanyanya.


"Manekin-manekin itu," kata Soeradijo.


Hadi tersentak, "Lo, seingatku... aku tidak pernah mengoleksi manekin berpose aneh seperti itu," katanya sambil melihat salah satu manekinnya duduk meletakkan kaki kanannya ke paha kiri sementara kedua tangannya dilipat di depan dada. Sebagian rambutnya yang hitam agak keriting tergerai menutup pipi kanannya, sementara mata di sebelah kiri tampak seperti menyala merah bak bara api.


"Dia manekin yang sama dengan yang kita miliki, pak... cuma .... cuma.... " Soeradijo tak melanjutkan kata-katanya, ia ragu-ragu.


"Cuma, apa ?" desak Hadi.


"Ma... ma... manekin itu .... hi... hi... hidup, pak," ujar Soeradijo ketakutan. Matanya terbelalak lebar saat melihat, manekin yang dibicarakan itu mendadak bergerak aneh dan berjalan mendekat, sementara Hadi masih belum menyadarinya.


"Omong kosong !" bentak Hadi, "Itu tidak mungkin," sambungnya.


Tubuh Soeradijo bergetar hebat, wajahnya pucat pasi. Sepasang matanya tak berkedip saat sosok itu sudah berdiri persis di belakang Hadi. Melihat Soeradijo tampak ketakutan sekali, iapun segera menoleh ke arah dimana pria paruh baya itu menatap dan...


Jantung CEO muda itu serasa berhenti berdetak, kaki-kakinya menjadi mati rasa, ia hendak berteriak namun suaranya seperti tertahan di kerongkongan, sepasang matanya melotot seperti mau melompat keluar saat beradu pandang dengan sepasang mata merah manekin tersebut.

__ADS_1


Soeradijo lari terbirit-birit tanpa tujuan sambil berteriak-teriak histeris, ia lepas kendali dan tak menyadari sebuah truk meluncur dengan kecepatan tinggi dan ....


"Bbrraakk..."


Soeradijo terpental ke udara saat moncong truk menabrak tubuhnya, lalu jatuh bergulingan di jalanan dan kepalanya membentur trotoar hingga hancur, saat itulah nyawanya melayang. Suasana yang semula tenang dan lengang menjadi hiruk pikuk, orang-orang segera berdatangan, "Kecelakaan ! Kecelakaan!" teriak mereka.


__________


Pak Wasis Sudibyo, baru saja menyelesaikan pekerjaannya membuat patung lilin dan manekin pesanan dari CV. FIRST RIDE SALES. Ia tersenyum, tangannya menimang-nimang beberapa lembar kertas cek yang diterimanya dari Hadi Firmanto pemilik CV tersebut, dengan uang yang nominalnya tertera pada lembaran-lembaran cek itu, ia mampu berbuat apa saja.


Semenjak masih kecil, Wasis selalu dihadapkan pada peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan. Ayahnya adalah seorang pemarah, pemabuk dan lebih cenderung menggeluti dunia hitam membuat Sang Ibu harus pergi meninggalkannya juga adik-adiknya yang masih kecil menikah dengan orang lain. Hidup Wasis dan 3 orang saudarinya tanpa sang ibu benar-benar menderita.


Wasis kecil harus memenuhi kebutuhan hidup adik-adiknya, ia mengorbankan sekolah SD-nya demi mencarikan sesuap nasi. Perlakuan kasar sang Ayah, memacunya untuk semakin giat bekerja sekalipun menjadi pemulung. Tak terhitung berapa kali tamparan, pukulan dan lecutan kayu rotan dari Sang Ayah mendarat di tubuh kurusnya, ia terus bertahan meski kaki kirinya rusak akibat kekerasan yang dilakukan oleh Ayahnya.


Ia sangat menyayangi dan mencintai adik-adiknya, ia rela berbuat apa saja demi membahagiakan mereka. Namun, begitu adik pertamanya menginjak usia 9 tahun, adiknya itu dipaksa melayani nafsu birahi sang ayah yang sudah lama terpendam. Ia sedih melihat adiknya yang pertama itu tergolek lemas di pembaringan dengan darah mengucur deras dari alat kelaminnya yang terluka parah. Tidak berhenti.


Maka, untuk mengakhiri penderitaan adiknya itu, ia mulai menorehkan semen, bukan pendarahan memang berhasil dihentikan akan tetapi, saat itu juga sang adik meninggal. Wasis menangis tersedu-sedu sementara tangannya bekerja mengolesi seluruh tubuh sang adik dengan semen, hingga terciptalah patung pertama kali dalam hidupnya.


Nasib yang sama dialami oleh 2 adiknya yang lain, mereka juga diperkosa bergiliran oleh sang ayah dan 5 orang temannya. Kemarahannya memuncak maka bagai orang kesetanan, Wasis membantai mereka semua, termasuk sang Ayah. Mereka semua dijadikan patung, sementara 2 patung adiknya diperlakukan secara istimewa, mereka dijadikan Manekin, dengan demikian harapan Wasis adalah bisa hidup bersama dengan adik-adiknya sekalipun mereka hanya berupa manekin.


Lama setelah kejadian itu, Wasis bertemu dengan seorang pengusaha bule. Pertemuan ini sama sekali tak disangkanya. Waktu itu si bule mencari patung asli buatan tangan manusia dan kalaupun ada ia berani membelinya dengan harga yang tinggi. Wasis menawarkan 6 buah patung buatannya patung dimana tersembunyi mayat sang ayah dan teman-temannya.


Pengusaha bule itu langsung terpikat dan membelinya dengan harga yang cukup mahal. Saat melihat sebuah patung dan 2 buah manekin yang kebetulan diperlakukan secara istimewa oleh Wasis, pengusaha bule itu juga ingin membelinya tapi Wasis tidak menjualnya.


"Begini saja, beri aku waktu 3 bulan untuk membuat manekin yang lebih bagus daripada itu, saya jamin anda pasti berminat untuk membelinya,"


"Ok... saya menunggu kabar baik dari Anda,"


Sejak saat itulah, dimulai teror menghilangnya wanita-wanita berumur 11 - 20 tahun juga ABG. Polisi tidak dapat mengungkap ataupun memecahkan kasus itu, hingga dibiarkan berlalu begitu saja dan kasus serupa terulang lagi hingga saat ini.


__________


Wasis terbangun saat telinganya mendengar pintu kantor Wasis Sudibyo Art Galery diketuk. Buru-buru ia berjalan menuju pintu depan dan saat pintu terbuka, Hadi Firmanto muncul. Wajah CEO muda itu pucat pasi, tatapannya yang kosong tertuju pada laki-laki botak dan pincang itu.


"Selamat malam, mas... saya tidak tahu kalau Anda datang selarut ini. Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Wasis.


Hadi Firmanto tak menjawab, dengan gerakan yang terpatah-patah, berjalan mendekati sebuah ruangan yang ditutup oleh pintu besi bercat hitam.


"Maaf, mas... ini kawasan pribadi, orang luar dilarang masuk," seru Wasis.


Hadi Firmanto tidak peduli, ia hanya berdiri mematung sementara di hadapannya pintu besi masih tertutup rapat. Mendadak ia mengepalkan tangannya dan memukuli pintu itu sehingga menimbulkan suara bagaikan dentuman meriam.


"Bum... bum... bum..."


Wajah Wasis mulai menunjukkan tidak senang, diam-diam ia meraih sebuah tongkat terbuat dari besi, "Mas... ini adalah ruangan pribadi, jangan sembarangan masuk," ujarnya sambil bersiap-siap hendak memukulkan besi itu ke batok kepala Hadi.


"Bbbuuummm.... bbbbuuuummmm.... bbbbbuuuummm..."


Bunyi itu terdengar lebih keras, menggema menembus ke setiap sudut ruangan dan akhirnya suara tersebut membuat penduduk sekitar tempat itu terganggu dan dalam waktu singkat tempat itu dipenuhi oleh cahaya obor.


"Mas... kau sudah keterlaluan!!" kata Wasis sambil mengangkat tongkat besinya tinggi-tinggi ke udara dan diayunkan ke batok kepala Hadi.


"Prak... pprraakk... ppprrraaakkk...."


Tongkat itu dipukulkan berkali-kali, darah menyembur keluar, tapi, Wasis tidak berhenti, ia terus memukul. Setelah tubuh Hadi tak bergerak-gerak lagi, barulah ia menghentikan aksinya. Nafasnya tersengal-sengal, keringat dingin mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya baru saja ia hendak meletakkan pantatnya ke sebuah meja, ia terkejut melihat tubuh Hadi bergerak-gerak lagi. Dengan gerakan yang terpatah-patah, ia bangun dan berjalan mendekat ke arah Wasis sementara tangannya menggapai-gapai. Tubuh itu tampak mengerikan dengan kepalanya yang sudah tidak utuh sesekali menyemburkan darah kental merah kehitaman.


Wasis benar-benar kalap, ia lepas kendali, tongkatnya kembali terayun hendak memukul kepala Hadi sebisa mungkin ia harus merobohkan tubuh itu, tapi, gerakannya tertahan oleh cengkeraman tangan penduduk yang sudah menyeruak masuk, sebagian diantaranya memeriksa ruangan dimana terdengar suara orang minta tolong.


"Hei, coba lihat bukankah wanita-wanita yang ada di dalam ruangan ini yang dikabarkan menghilang akhir-akhir ini ?" seru salah seorang penduduk.


Beberapa orang penduduk menyeruak masuk ke dalam ruangan tersebut, "Benar... ini adalah gadis-gadis yang menghilang itu, kalau begitu pria botak, pincang bernama Wasis Sudibyo itulah pelaku penculikan. Ayo, tangkap dia bawa ke pihak berwenang..."


Wasis Sudibyo tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia membiarkan saja para penduduk beramai-ramai memukuli dan menyeretnya di sepanjang perjalanan menuju ke kantor polisi, sementara, wanita-wanita korban penculikan, semuanya berhasil diselamatkan dan kembali ke rumahnya masing-masing. Akan tetapi, bagi orang tua yang tidak mendapati anaknya kembali, mereka menangis sedih.


__________ T a m a t __________

__ADS_1


Kamis, 06 Oktober 2022


__ADS_2