
Malivalaya's Diary ( bagian pertama )
"Keluargaku bukan berasal dari keluarga yang kaya, namun, cukup disegani oleh orang-orang di sekitar desa Congya Nawyat yang hidup di tepian sungai. Aku bangga memiliki saudara seperti Mayuree. Sekalipun sifat, watak dan karakter yang bertolak belakang, karena tanpanya tidak mungkin aku bisa bekerja sebagai gaet. Aku tak tahu, mengapa suka sekali menelusuri berbagai macam kebudayaan dan sejarah di dunia ini, itulah sebabnya orang tua menyekolahkanku ke jurusan sosial. Tapi, setelah ayah menderita sakit kronis, aku memilih berhenti sekolah demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarga yang mulai merosot. Ibu menasihatkan padaku agar fokus pada pelajaran-pelajaran sekolah tapi, aku menolak. Aku harus melanjutkan pekerjaan ayah walau tak sesuai dengan bidangku. Dokter. Akan tetapi, itu tak bertahan lama, aku merindukan pekerjaanku yang dulu dan akhirnya Mayuree lah yang meneruskan pekerjaan Ayah dan aku kembali melanjutkan pekerjaanku sebagai gaet.
Kantor tempat aku bekerja pertama kali sebagai gaet, tidak merasa keberatan menerimaku kembali bekerja... Pimpinan perusahaan malah menggajiku lebih tinggi. Hingga suatu hari, pekerjaan mempertemukan ku dengan seorang pemuda yang berasal dari Indonesia. Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana saat pertama kali bertemu mungkin seumur hidup, selamanya masih membekas. Waktu itu ada seorang preman kota menggodaku. Namanya, Decha. Preman itu memang ditakuti oleh banyak orang, setiap kali bertemu denganku, ia selalu melontarkan pernyataan yang kasar dan kotor. Pernyataan yang melukai nuraniku sebagai seorang wanita. Aku ingin sekali menamparnya, memukulnya hingga ia tidak lagi mengatakannya di hadapan umum, tapi ... Aku masih menjaga citra perusahaan yang telah membuatku menjadi orang berguna. Dia adalah anak seorang pejabat tinggi di kota Bangkok ini. Itulah sebabnya, ia berlaku seenaknya sendiri tanpa mempedulikan perasaan orang lain.
Tak seorangpun berani melawannya, tapi, pemuda dari Indonesia itu tidak merasa gentar bahkan berani menemui ayahnya. Sebenarnya, aku tak ingin melibatkannya dalam urusan pribadi terlebih menyangkut kehormatan negara, tapi, demi menjaga menjaga harga diri dan kehormatanku sebagai wanita, mungkin juga wanita-wanita yang telah dihina oleh Decha, dia memberanikan diri untuk melawan. Aku semakin kagum padanya. Aku tak tahu sihir apa yang membuat Decha bertekuk lutut dan permusuhannya dengan pemuda Indonesia itu berubah menjadi sebuah persahabatan. Yang jelas, Sikap Decha berubah drastis. Nama pemuda itu, Jackie. Ia sering datang ke Bangkok. Dia mengatakan bahwa keluarganya memiliki bisnis di Bangkok dan kebetulan ia ditempatkan disini sebagai manajer perusahaan.
Kami sering bertemu dan aku pernah diajak berkunjung ke perusahaannya. Aku benar-benar tidak menyangka pertemanan ku berkembang menjadi pasangan kekasih. Jackie adalah cinta pertamaku dan mudah-mudahan bisa berakhir di pelaminan. Itu harapanku terbesar dalam hidupku.
***
Decha menemuiku, dia mengatakan bahwa Jackie pulang ke Indonesia karena Ibunya meninggal. Sebuah berita yang cukup mengejutkan karena tak biasanya Jackie pulang tanpa berpamitan denganku. 7 hari lagi dia baru kembali ke Thailand.
Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang tua jaman dahulu, 'Penyakit yang paling membahayakan dan mematikan di dunia ini adalah Cinta. Tapi, cinta juga dapat membuat dunia seakan penuh warna.'
Semenjak Jackie pulang, aku serasa lumpuh, setengah jiwaku seakan hilang entah kemana. Menanti 1 hari, bagaikan 1 tahun. Ingin rasanya waktu berjalan dengan cepat menuju hari ketujuh. Tapi, rasa rindu bercampur dengan berbagai macam perasaan aneh, was-was dan takut. Entah mengapa. Terlebih dia sama sekali tidak memberi kabar.
Decha menyarankan supaya aku menelepon ke rumahnya. Yah, mengapa tidak ? Aku punya no ponselnya, maka, kugerakkan jari-jemariku menekan tombol pada keypad ponselku, aku berharap ia menjawab teleponku. Tapi, aku kecewa karena yang terdengar hanyalah mesin penjawab saja. Aku kecewa, namun, kucoba untuk bersabar dan menunggu.
Hari kedua, ketiga dan keempat masih saja tidak ada kabar darinya. Aku benar-benar kesal, berat badanku merosot drastis membuat pimpinan perusahaan khawatir.
Mendadak saja terlintas di benakku. Sebuah ide yang mungkin konyol. Tapi, tak ada salahnya aku mencoba. Yah, mungkin dengan cara itu kerinduanku padanya bisa terobati.
***
Aku memasuki gudang bawah tanah yang berada tepat di bawah kamar tidurku. Lama sudah aku tidak memasuki tempat ini semenjak aku dan Mayuree beranjak dewasa.
Dulu aku dan Mayuree sering bermain petak umpet disini. Ayah membangun tempat ini semata-mata sebagai tempat penyimpanan barang ( buku, peralatan rumah tangga, peralatan perkebunan dan lain sebagainya ). Akan tetapi, karena peralatan rumah tangga dan berkebun selalu dipakai, tempat ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan buku juga barang-barang kuno lagi antik.
__ADS_1
Yang lebih ekstrim lagi adalah tempat ini digunakan sebagai tempat ritual atau sembahyang karena memang suara-suara berisik yang mengganggu di luaran sana tidak sampai ke tempat ini.
Aku terus melangkah dan berhenti tepat di depan sebuah lemari yang di dalamnya tersimpan banyak sekali buku mulai dari ensiklopedi, obat-obatan, berkas-berkas kedokteran di Rumah Sakit tempat Ayah bekerja sampai buku-buku yang berhubungan dengan metafisik dan gaib. Jari-jemariku meraih buku tebal bersampul merah jambu.
Halaman demi halaman kubuka dan akhirnya aku menemukan mantra ini, dan kubaca sebanyak tiga kali setiap tengah malam purnama :
"Xô thephī h̄æ̀ng khwām rạk...
K̄ĥāphcêā k̄hxk rāb thūl xỳāng nxbn̂xm....
K̄hx phlạng yêā ywn cı h̄ǹxy dị̂ h̄ịm....
Xeā cǽkh kī̂ mā
k̄heā h̄ạn h̄lạng h̄ı̂ kạb c̄hạn mị̀ dị̂
xeā cǽkh kī̂ mā
k̄heā ca mị̀ s̄āmārt̄h h̄lạbtā dị̂ cnkẁā k̄heā ca phb c̄hạn
xeā cǽkh kī̂ mā
pord yxmrạb khả xṭhis̄ʹṭ̄hān læa khwām h̄wạng k̄hxng c̄hạn"
IahaW gnaS iweD aramsA ...
nagned hadner itah uka nohomem
umadapek...
halidus uakgne naknurunem tikides ayad umtakip ukadapek...
halawab eikcaJ ilabmek,
__ADS_1
ai nakkat asib gnilapreb ukirad;
halawab eikcaJ ilabmek,
Ai nakkat asib putunem atam mulebes umetreb uknagned;
Halawab eikcaJ ilabmek,
ai nakkat asib uknakapulem, aynamales.
halnanklubak aod nad uknaparah ini.
Aku melakukan itu semata-mata karena iseng. Tapi, siapa yang menyangka kalau hal tersebut malah menyebabkan gerbang antar dimensi terbuka, dan hasilnya benar-benar membuatku terpana.
***
Sebuah mobil sedan memasuki halaman rumahku. Bunyi roda-roda melindas tanah berbatu diiringi dengan deru mesin mobil mengejutkan seisi rumah.
Saat aku mengintip dari balik tirai jendela kamar, sebuah BMW X5 berhenti, pintu mobil terbuka dan seorang pemuda yang selama ini kurindukan keluar. Pagi ini Jackie tampak tampan dengan setelan sutera ungu, sementara membuka kacamata transparannya, ia berjalan ke arah pintu depan.Dadaku berdebar-debar saat mendengar bunyi ketukan perlahan.
Aku salah tingkah, ini benar-benar mengejutkanku, padahal baru kemarin kurapal mantera yang tertulis di buku kuno dari ruang bawah tanah.
"Mantera yang cukup kuat," gumamku seorang diri.
Buru-buru aku merapikan penampilanku yang acak-acakan, lesu karena baru bangun tidur dan ....
"Malivalaya, Jackie datang menemuimu," itu suara Mayuree dari luar kamar, "Apakah kau mau menemuinya atau tidak?" sambungnya.
"Tentu saja," sahutku, "Tolong sampaikan padanya, aku akan menemuinya beberapa menit lagi. Aku masih membersihkan badanku terlebih dahulu," sambil berkata demikian, aku segera melangkah ke bilik mandi.
***
Jackie mengajakku makan di rumah makan favorit kami. Memang penampilannya, menurutku sudah modis tapi, satu hal yang kuherankan dia tampak seperti robot, ia hanya berbicara sepatah dua patah kata selebihnya hanya memandangiku bagaikan orang yang kena sihir.
__ADS_1
Yah, aku ingin bertemu dengannya, menghabiskan waktu berdua bersamanya saat aku libur, berbincang-bincang seperti dulu lagi tapi bukan Jackie yang seperti ini. Kaku dan bodoh.... mungkinkah aku salah merapal mantra?
***