
#9
Setelah melalui perundingan yang cukup alot, Sasmita Sukma Candramaya menyetujui Jatayu akhirnya dibawa ke Desa Tunggak Bayu. Jatayu tampak senang sekali diajak keluar istana oleh Sembada. Selama ini, Jatayu hanya hidup di lingkungan istana yang selalu banyak aturan, hidupnya bagaikan burung dalam sangkar emas. Itulah sebabnya, saat Sembada mengajaknya keluar istana, ia menyambut dengan penuh suka cita. Akan tetapi, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, mereka harus menyamar menjadi rakyat jelata.
Tak henti-hentinya, bocah cilik itu bertanya macam-macam pada Sembada sampai yang ditanya kewalahan. Di sepanjang jalanan ibukota, Sembada selalu disambut dengan hangat dan penuh rasa hormat oleh para penduduk.
"Tayu... selama di perjalanan, Ayah minta tolong, jangan memanggil dengan sebutan Ayahanda. Ingat, ya... kita sedang menyamar," itulah nasihat yang diberikan oleh Sembada pada Jatayu. Sekalipun bocah itu heran, tapi, akhirnya menurut juga.
Setelah sekian lama terguncang-guncang di punggung kuda, Sembada memilih beristirahat di tepi sungai yang berair jernih dan tenang.
"Ayah... sebenarnya kita ini mau kemana ?" tanya Jatayu yang duduk tak jauh dari Sembada.
"Kita akan menuju ke Tunggak Bayu. Mencarikanmu guru untuk belajar banyak hal," ujar Sembada.
"Apakah dulu sewaktu Ayah masih kecil juga harus keluar dari istana mencari guru ?"
"Tayu, Ayah bukan berasal dari kalangan orang-orang istana. Ayah lahir dan besar di tengah-tengah rakyat jelata,"
"Tayu pernah membaca sebuah buku di perpustakaan istana, apabila seseorang ingin menjadi raja, orang itu haruslah memiliki keturunan darah biru atau keturunan dari raja-raja terdahulu lah yang boleh menjadi raja sementara rakyat jelata, sukar sekali kemungkinannya untuk menjadi raja. Bagaimana Ayah bisa menjadi raja dan dihormati banyak orang ?"
Sembada tertegun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa anak yang baru menginjak usia 5 tahun itu memiliki wawasan yang cukup luas. Dulu sewaktu ia masih seumuran dengan Jatayu, ia termasuk salah seorang anak yang cerdas, berbakat dan rajin, diantara anak-anak lain pada umumnya, tapi, tampaknya kecerdasan Jatayu nyaris menyamainya.
"Tayu, siapapun boleh menjadi raja, siapapun boleh menjadi pemimpin atau panutan bagi banyak orang, akan tetapi, yang terpenting kita harus bisa melepaskan diri dari kepentingan pribadi atau rasa ego kita, terlepas dari itu kita juga harus bisa mengayomi kepentingan masyarakat luas. Artinya, untuk menjadi seorang raja atau pemimpin, kita tidak boleh memikirkan diri kita sendiri, kita harus selalu mengutamakan kepentingan masyarakat luas, baru setelah itu, atas seijin-Nya... dan jika rakyat menghendaki, tidak ada hal yang tidak mungkin, itu pasti akan terjadi," jelas Sembada.
"Kau masih terlalu kecil untuk memahami semuanya itu, nak... kelak akan tiba waktunya bagimu untuk memahami dan mengerti semuanya itu," kata Sembada lagi.
"Masih jauhkah Tunggak Bayu dari tempat ini, Ayah ?" tanya Jatayu.
"Tidak seberapa jauh. Setelah melewati Karang Gajah dan Karang Paten... kita akan masuk ke sebuah desa... keluar. Setelah keluar dari desa itu baru kita sampai di Tunggak Bayu,"
Karang Paten mengingatkan Sembada pada kejadian di masa lalu saat Puteri Ambarwati menitipkan Jatayu kepadanya. Mendadak saja, timbul keinginan Sembada untuk melihat keadaan Ambarwati yang sudah lama bertapa di Ledokombo.
"Oya, Tayu... nanti kita singgah dulu di Ledokombo. Ayah ingin bertemu dengan teman lama. Mudah-mudahan dia masih tinggal disana..."
ujar Sembada. Jatayu menganggukkan kepala, "Pasti teman ayah juga hebat," ujar Jatayu semangat.
__ADS_1
"Dia lebih hebat, tangguh dan tegar daripadaku, nak... karena dia ibu kandungnya," kata Sembada dalam hati. Ia merasa terharu sekali sampai sekarangpun, Jatayu tak tahu siapa orang tua kandungnya.
***
Karang Gajah sudah dilewati, dahulu tempat ini adalah Medan perang, dimana Sembada dan Yuangga, ayah kandung Jatayu terlibat pertarungan hidup dan mati. Kini tempat ini adalah sebuah pematang sawah yang cukup luas dan subur.
Setelah melewati Karang Gajah, mereka memutari deretan perbukitan. Ingatan tentang peperangan antara warga Tunggak Bayu dan Istana Adhep Bumi menghadapi Kerajaan Sandekala, terulang lagi bagaikan sebuah slide film yang diputar dalam adegan sama berulang-ulang di benak Sembada.
Semenjak menjadi raja di Adhep Bumi, Sembada terlalu disibukkan dengan urusan pemerintahan jarang bahkan tidak pernah keluar dari Istana. Dulu sewaktu masih menjadi rakyat jelata, berpetualang kemanapun ia suka.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah danau. Salah satu danau, Jatayu terlahir dari rahim seekor ular siluman raksasa yang merupakan jelmaan dari Puteri Ambarwati.
"Ayah, lihat danau itu... airnya begitu jernih," ujar Jatayu.
Sembada tersenyum, "Inilah danau Ledokombo, nak. Setelah melewati danau ini kita sampai di Tunggak Bayu," katanya.
"Ayah, Tayu ingin mandi di danau ini, kelihatannya airnya segar, Ayah," ujar Jatayu tanpa persetujuan Sembada ia segera melepas seluruh pakaiannya dan menceburkan diri ke dalam danau.
Jatayu sudah berada di dalam air, ia tertawa-tawa riang sambil berenang kesana-kemari.
"Ayah, mengapa tidak ikut mandi, segar sekali airnya," teriak Jatayu pada Sembada yang duduk pada sebuah batu.
"Kau berenanglah, Tayu... setelah itu kita harus segera menuju ke Tunggak Bayu sebelum malam tiba," kata Sembada.
Baru saja Sembada menutup mulutnya, tubuh Jatayu seperti dilemparkan ke atas oleh kekuatan tak kasat mata. Sembada terkejut, buru-buru ia melompat ke udara dan menyambar tubuh Jatayu yang masih melayang di udara. Bersamaan dengan itu dari dalam air keluar seekor ular raksasa berwarna hitam, bertanduk emas.
"Bocah kurang ajar berani benar kau mengganggu meditasiku," terdengar suara keras dan menulikan telinga. Sembada mendarat agak jauh dari bibir danau. Baru saja mendarat, kepala ular tersebut bergerak gesit menyambarnya. Dan...
"Dduuaarr !!"
Sebuah ledakan keras terdengar memekakkan telinga, sementara, tubuh Sembada seakan hilang ditelan bumi, membuat Makhluk itu kebingungan, desisannya seakan terdengar mirip angin ribut dan sepasang matanya tertuju pada sesosok bayangan berdiri pada ranting pohon.
Ular itu menyabetkan ekornya ke arah dimana bayangan itu berada. Namun lagi-lagi terkejut manakala bayangan itu menghilang lagi dan tahu-tahu sudah berdiri persis pada hidungnya.
Bayangan itu menatapnya dengan lembut sambil menggendong Jatayu yang tampak syok.
__ADS_1
"Ambarwati.... bagaimana kabarmu ?" tanya bayangan itu yang tak lain adalah Sembada.
"Ka... kakang Sembada," terdengar suara menggema dan itu hanya bisa didengar oleh Sembada seorang.
Sembada tersenyum, ular itu perlahan-lahan menurunkan hidungnya, membiarkan pemuda gagah dan Jatayu turun ke darat.
"Anakmu nakal sekali, kakang... berani benar dia mengganggu meditasiku,"
"Sayang sekali, Ambarwati.... dia bukanlah anakku... tapi, dia adalah anakmu. Jatayu," ujar Sembada yang kemudian menurunkan Jatayu.
Ular raksasa bertanduk emas itu, tidak lain dan tidak bukan adalah makhluk jelmaan Puteri Ambarwati. Mendengar nama Jatayu disebut - sebut, sepasang matanya yang tampak beringas itu perlahan-lahan berubah menjadi lemah lembut sepersekian detik berikut, ia menitikkan air matanya.
"Mengapa ular itu menangis ayah ?" tanya Jatayu yang sudah mulai bisa menenangkan diri.
"Dia mengaku kalah, nak..." ujar Sembada sengaja berbohong.
"Hebat, hanya dengan pandangan mata Ayah saja, ular sebesar itu kalah..." kata Jatayu sambil melompat-lompat kegirangan, "Tapi, mengapa bisa ada ular sebesar itu di dalam danau, ya ?"
Sembada tersenyum, "Tayu, ini adalah teman Ayah. Kau bisa memanggilnya Nyai Ledokombo. Dia dulunya adalah seorang Puteri yang cantik jelita, tinggal di daerah Tunggak Bayu ini. Kecantikannya luar biasa bagaikan bidadari, maka dari itu banyak laki-laki yang ingin meminangnya. Tapi, ia menolak. Hingga suatu hari ada seorang pemuda yang gagah dan tampan juga sakti, pemuda itu juga ingin meminangnya, tapi, sang Puteri menolak karena ia berasal dari negeri seberang sana. Marah karena lamarannya ditolak, maka, pemuda itu mengutuknya menjadi seekor ular dan bersemedi di dalam danau ini. Berdoa agar Tuhan Yang Maha Esa, Kuasa dan Kekal, bermurah hati mengembalikan ke wujud asalnya,"
"Kasihan sekali, kau, Nyai Ledokombo... Jatayu juga berdoa agar apa yang menjadi keinginan Nyai bisa segera dikabulkan," ucapan polos tanpa dibuat-buat oleh Jatayu malah membuat ular itu terharu, biar bagaimanapun juga, Jatayu adalah anak kandungnya. Ia merasa bahagia dan bersyukur, Jatayu dirawat dengan baik oleh Sembada.
"Terima kasih, kakang Sembada karena kau telah mempertemukan ku dengan anakku satu-satunya, mudah-mudahan dia bisa menjadi orang yang baik berbeda dengan Ayahnya," suara itu kini terdengar bergetar karena haru.
"Ambarwati... Aku sengaja mengajaknya kemari agar kau bisa melihat keadaan anakmu, sebentar lagi dia akan kubawa ke Tunggak Bayu untuk mencari Ki Jampang,"
"Iya, kakang.... saranku berhati-hatilah. Menurut kabar burung yang beredar, bahwa... Tunggak Bayu dan sekitarnya sekarang ini tengah dilanda musibah,"
" Musibah apa ?"
"Belakangan ini, Desa tersebut didatangi oleh Siluman Tengkorak Merah. Pasangan muda-mudi lah yang jadi sasarannya. Aku tak tahu darimana mereka berasal. Tetapi, yang jelas penduduk desa itu sudah cukup menderita dengan musibah itu. Para pasangan muda, memilih pergi dari Tunggak Bayu daripada menetap disana,"
"Baiklah, sebelum hari gelap, kami harus sampai disana,"
__________ Bersambung Jilid Ke-10
__ADS_1