DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 35 : S o s o k #6 ( T e r o r )


__ADS_3

#6


Semenjak aku telah memutuskan hubunganku dengan Adnan, aku kembali kepada Mas Reksa. Sejak saat itu, Mas Reksa seringkali mengajakku bertemu. Aku bahagia sekali bisa bersama dengannya... Walau terkadang melihat perlakuannya yang begitu memanjakanku, aku merasa berdosa sekali karena telah mengkhianatinya. Aku baru menyadari betapa berartinya Mas Reksa pada diriku... Semakin dia menyayangi, mencintai dan memperhatikanku, aku jadi malu sendiri. "Yang lebih berharga ada tepat di mataku, tapi, karena nafsu sesaat, karena tak mampu menahan rasa rindu, mengapa aku harus memilih yang lain. Maafkan aku, mas Reksa... Maafkan aku yang bodoh ini," keluhku dalam hati.


Tapi, seiring dengan membaiknya hubungan kami, masalah lain timbul. Bukan berasal dari faktor internal tapi dari faktor eksternal.


Tampaknya, hubungan cinta kami kembali diuji dengan hal-hal yang rasanya tidak masuk akal... Dan, aku semakin tahu mana yang benar-benar mencintaiku sepenuhnya, atau cuma sekedar lips service belaka.


***


Aku turun dari pembaringan manakala mendengar Felix memanggilku dari pintu kamarku, "Kak Thia... Keluarlah, ada sesuatu yang aneh pada Ditha. Cepat, kak,"


Begitu pintu kamar terbuka, Felix segera menarik tanganku dan mengajakku ke kamarnya sementara, Felix bersembunyi di balik punggungku, tubuhnya gemetaran, wajahnya sepucat kertas manakala aku membuka pintu kamar adik-adikku.


Mataku terbelalak manakala melihat Ditha berteriak-teriak keras sementara pandangannya mengarah ke udara kosong yang terletak tak jauh dari sisi kanan lemari pakaian.


"Pergi... Pergi... Jangan ganggu aku," teriak Ditha.


"Ditha, ada apa ?!" tanyaku padanya. Gadis cilik berumur 6 tahun itu berlari ke arahku sementara pandangannya tidak lepas dari sebelah kanan lemari baju, ia tampak ketakutan. "Kak ada bayangan menyeramkan di sebelah lemari itu," katanya sambil menunjuk-nunjuk ke arah lemari sebelah kanan.


Aku menatap ke arah yang ditunjuk Ditha, tak kelihatan apa-apa. Ditha malah menjerit histeris, "Kak, dia mendekat... Ayo, kita keluar dari tempat ini !!" Ditha melepaskan genggamanku dan berlari keluar kamar, aku dan Felix mengejarnya, telingaku sempat mendengar suara, "Kek... Kek... Kek... Kek... Kek..."


Di luar ruangan kembali Ditha berteriak-teriak, "Kak, mengapa rumah ini sekarang banyak makhluk-makhluk mengerikan ?!!"


"Ditha, tak ada apa-apa disini ?" ujarku sambil menatap udara kosong mengikuti arah tatapan Ditha. Demikian pula Felix, ia tak kalah bingungnya manakala Ditha mengoceh tidak keruan.


"Ditha mau pulang ke tempat ayah dan ibu," rengeknya.


"Dith, jangan bicara yang tidak-tidak," bentakku, "Memangnya hari ini kau ini kenapa ?"

__ADS_1


Ditha tidak menjawab melainkan menutup mata dengan tapak tangannya, "Ditha takut, kak," katanya kemudian sambil menangis. Aku sendiri kebingungan, udara malam ini terasa menyesakkan, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. "Ada apa sebenarnya yang terjadi ? Mengapa Ditha jadi begini rewel,"


Sepanjang malam itu, aku dan adik-adikku berada di teras rumah, hanya itu satu-satunya yang bisa membuat Ditha diam dan tertidur pulas, Felix pun tertidur di kursi dari bambu sementara aku... Berulang kali terbangun saat terdengar suara aneh seperti di kamar Ditha beberapa menit lalu. Suara itu berasal dari dalam rumah, tapi sama sekali tidak ada wujudnya.


Kejadian itu membuat malam serasa panjang.


Keesokan harinya, Ditha mengalami kejang-kejang, muntah-muntah dan suhu badannya tinggi sekali. Tak ada pilihan lain selain membawanya ke RS. Aku yang selama ini bekerja dengan predikat baik, tanpa cuti, harus cuti selama 1 Minggu untuk menjaga Ditha di RS.


Saat keadaan Ditha mulai membaik, ia menolak untuk pulang ke rumah.


"Kita tidak bisa terus menerus di tempat ini, Dith... Biaya rawat inap tidak murah," bujukku.


"Pokoknya, Ditha tidak mau pulang kesana, banyak sekali makhluk-makhluk menyeramkan," tolak Ditha. Aku sudah membujuknya berulang-ulang, tapi dia tetap bersikeras tidak ingin pulang.


Aku menggerakkan jari-jemariku pada keypad ponselku, tujuanku adalah Mas Reksa, "Mas, bolehkah aku membawa adik-adikku ke rumah Mas Reksa,"


Mas Reksa membawa kami ke rumahnya. Untuk sementara waktu kami menginap disana walau sebenarnya aku merasa tidak enak.


"Untuk sementara, kalian tinggallah disini dulu, aku akan memeriksa rumah kalian kelihatannya ada yang kurang beres disana. Kau mau ikut atau menemani adik-adikmu?"


"Sebaiknya aku ikut saja, mas... Aku ingin tahu apa sebenarnya yang membuat Ditha jadi seperti itu. Toh disini ada Mbak Jum yang menjaganya,"


"Baiklah kalau begitu,"


***


Kami sampai di rumah setelah lebih kurang setengah jam terguncang-guncang di mobil. Saat berada di halaman rumah, Mas Reksa meraih tanganku dan menarikku ke belakang punggungnya, "Apapun yang terjadi. Tetaplah kau di belakangku, dari sini saja aku bisa melihat ada kekuatan jahat tak kasat mata menyelimuti rumahmu itu," katanya.


"Aneh, padahal dulu baik-baik saja tapi kenapa jadi seperti ini ?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Aku sendiri tidak tahu, tapi akan kucoba mencari tahu," ujar Mas Reksa.


Kami sudah tiba di depan pintu, teringat akan kejadian beberapa waktu lalu, bulu kudukku meremang, jari jemariku gemetaran saat meraih gagang pintu dan membuka kuncinya. Tapi, Mas Reksa berusaha menenangkanku, "Ada aku disini, jangan takut,"


Pintu terbuka, dari dalam berhembus angin tajam dan dingin, Mas Reksa melangkah masuk, sepasang matanya menatap ke sekeliling, menatap udara kosong di sudut-sudut ruangan, ia memicingkan mata saat pandangannya mengarah ke kamarku.


"Beberapa waktu yang lalu, kau melihat bayangan hitam melintas melewati kamarmu, bukan ?" tanya Mas Reksa, "Sosok itu tinggi besar dan berbulu berdiri disana," katanya sambil menunjuk ke arah lorong penghubung rumah utama dengan halaman menuju dapur.


"Mas, memang tempo hari aku merasa tidak nyaman sekali saat berada disana, sejak kapan ia ada disana ?" tanyaku.


"Dia adalah kiriman seseorang untuk membuat kalian tidak tenang, membuat kalian selalu ketakutan. Tampaknya, si pengirim itu memiliki ilmu yang tinggi sehingga mampu menundukkan jin yang berwujud genderuwo itu,"


"Kiriman ?" tanyaku tak percaya.


Mas Reksa mengangguk, "Mungkin ada seseorang yang tidak menghendaki kau bahagia, Thia... Bisa jadi orang itu sakit hati dan ingin kau juga ikut merasakan sakit hati seperti yang ia alami bahkan berkali-kali lipat. Ini baru permulaan, Thia,"


"Maksud, mas... Ia ingin mencelakakanmu,"


"Tidak sampai seperti itu. Dia hanya ingin membuatmu menderita, ia ingin kau jatuh terpuruk hingga tak berdaya apa-apa. Ini lebih jahat daripada sekedar membuatmu celaka,"


"Siapa orang itu, mas ?"


"Entahlah. Aku akan menghubungi temanku yang lebih ahli. Jika kau ingin tahu orangnya, kau bisa meminta petunjuknya,"


"Mas... Siapapun dia, ini sudah keterlaluan... Dia pikir siapa dirinya bisa melakukan ini padaku," kataku geram.


"Tenangkanlah dirimu. Jangan kau turuti emosimu, itu hanya akan membuatmu sengsara. Dia memang pandai membuat orang tak mampu mengendalikan diri, itulah sumber kekuatannya. Untuk sementara, kurasa kau lebih aman tinggal di rumah Mbak Jum, sementara aku dan teman-teman akan mencari solusi yang bijak untuk mengakhiri ini semua. Genderuwo itu memiliki banyak anak buah dan salah satunya telah membuat Ditha sakit. Kami akan mencegahnya berbuat di luar batas. Jika memang masih acuh tak acuh, apa boleh buat, kami akan memberikan pelajaran yang setimpal untuknya," jelas Mas Reksa.


__________

__ADS_1


__ADS_2