DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 4 : Menerobos Lorong Ruang dan Waktu ( babak keempat )


__ADS_3

04. Larasati dan Rangga


Larasati. Demikianlah nama wanita itu, ia mengajak Bachtiar berpetualang. Menembus lorong dan waktu. Waktu dimana wanita itu masih malang-melintang di dunia sebagai manusia seperti halnya dengan Bachtiar. Masa perang adalah masa yang paling menakutkan dan mengerikan sepanjang sejarah hidup manusia. Pemerintah Kolonial Belanda sudah mendengar isu hancurnya Pearl Harbor (Pangkalan angkatan laut Amerika Serikat, 07 Desember 1941), oleh Jepang. Juga meletusnya Perang Dunia II (1939 – 1945) serta ekspansi Jepang ke berbagai negara Asia. Mendaratnya Tentara Jepang ke berbagai daerah di Indonesia awal tahun 1942, menandai dimulainya Masa penjajahan Jepang atas Indonesia (Thn. 1942 – 1945). Tentara Jepang menyebar ke seluruh pelosok tanah air termasuk Jawa dan Madura.


Larasati lahir ke dunia dengan status : anak haram, hasil hubungan gelap tuan tanah Belanda, Rottenburgh dengan Karmila, salah seorang pelayannya. Untuk menutupi hasil hubungan gelapnya, Karmila menitipkan Larasati pada Ki Ladoyo, adik ipar ayahnya di Rogojampi. Lewat Ki Ladoyo, Larasati dibekali berbagai ilmu pengetahuan, ilmu bela diri, termasuk Ilmu Gaib. Larasati tumbuh menjadi gadis yang cantik, cerdas dan pintar membuat kaum pria tergila-gila padanya. “Siapapun boleh jatuh hati pada Larasati, asalkan mereka mampu menjaga dan melindunginya,” demikianlah Ki Ladoyo menanggapi setiap laki-laki yang mau melamarnya.


Maka, diadakanlah perlombaan Tanding Jodoh. Semacam pertandingan mencari jodoh, dimana pesertanya adalah laki-laki tampan bertubuh tinggi dan kekar yang paling penting masih belum memiliki isteri. Mereka akan bertanding dengan Larasati, siapapun yang bisa menyanggupi setiap persyaratan yang diajukan baik oleh Ki Ladoyo maupun Larasati, dialah yang akan menjadi suami Larasati. Diantara semua persyaratan yang diajukan, syarat menarik pusaka gaib untuk mas kawinlah yang paling berat. Tak seorangpun mampu menyanggupinya. Maka, tak seorang dari banyak laki-laki itu berhasil, namun, mereka pulang tidak dengan tangan hampa. Ki Ladoyo membagikan beberapa hartanya untuk mereka. “Larasati memang tidak ingin menikah. Larasati ingin selamanya menemani Ayah disini” kata Larasati.


Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pemuda tampan lagi gagah, namanya Rangga. Ia berhasil melalui semua persyaratan yang diajukan oleh 2 orang itu. Dan memang, semenjak pertama kali bertemu dengan Rangga, Larasati sudah jatuh hati, begitu pula halnya dengan pemuda itu. Ki Ladoyo mengetahui hal ini, dan ia pun setuju untuk menikahkan mereka berdua.


Di malam pesta pernikahan mereka, Karmila mendadak datang, dia mengatakan bahwa Belanda sudah kalah perang, rumah Keluarga Rottenburgh juga sudah dikuasai oleh tentara Jepang dan mereka dalam waktu dekat akan menyerang Banyuwangi dan sekitarnya, termasuk : Rogojampi. Kehadiran Karmila sempat memicu ketegangan di antara Larasati dan Rangga. Namun, demi keselamatan semua orang, Rangga segera bertindak cepat. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Ki Ladoyo, Larasati dan Karmila sudah berada di tempat asing yang tak pernah dikunjungi oleh Ki Ladoyo. Mereka semua berada di sebuah hutan yang cukup lebat dan luas serta berkabut.


Hutan tersebut letaknya sangat terpencil, tampaknya, jarang sekali dijamah oleh tangan-tangan manusia.


“Sambil menunggu situasi aman, kalian tinggallah disini sementara waktu,” kata Rangga Warsito, suaranya yang tenang dan berwibawa membuat semua orang tak bisa menentangnya, sementara ia membalikkan badan dan melangkah meninggalkan tempat itu, “Kang Rangga mau kemana ?” suara Larasatilah yang mampu menghentikan langkah-langkahnya.


Dalam pertandingan cari jodoh beberapa hari yang lalu, ilmu kanuragan / bela diri Larasati hanya berbeda satu tingkat di bawah Rangga. Namun, ketegasan dan kecerdikan Larasati itulah yang membuat Rangga rela mengalah. Pemuda itu meraih tangan Larasati, mereka berdua berjalan ke tempat yang agak jauh dari tempat dimana Ki Ladoyo dan Karmila berdiri.


“Terus terang ... aku membenci semua orang yang menjajah negeri ini seenak perutnya. Sebenarnya, aku juga kurang setuju dengan perbuatan ibumu di masa lalu yang membiarkanmu diasuh dan dirawat oleh Paman Ladoyo selama 17 tahun. Tapi, karena aku mencintaimu sejak pandangan pertama, aku rela membuang semua itu. Ketahuilah, aku takkan membiarkan negeri ini dijajah bangsa lain, aku tahu bahwa orang-orang yang disebut Nippon itu adalah orang-orang kejam dan beringas. Maka, untuk mencegah jatuhnya korban juga mengurangi penderitaan bangsa ini, aku harus turun tangan. Setidaknya, apa yang kupunya ini berguna bagi umat manusia di dunia ini,” jelas Rangga Warsito.

__ADS_1


“Ijinkanlah aku berjuang bersamamu, kang Rangga. Kau tahu aku tak bisa meninggalkanmu sendiri di medan perang,” pinta Larasati. Rangga tersenyum, “Apapun yang kau minta, aku bisa menuruti bahkan mengabulkannya. Akan tetapi, yang satu ini, mohon maaf, aku tidak bisa. Tenanglah aku akan kembali, sementara kau jaga Paman Ladoyo juga ibumu disini, di Alas Purwo.”


Setelah berkata demikian, Rangga mendekatkan telunjuk kanannya ke perut Larasati, “Aku akan kembali, demi anak kita, WIGUNA” Saat itu juga Larasati merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam perutnya, hingga ia merasa mulas dan mual. Larasati mengaduh-aduh sementara Rangga hanya tersenyum, senyuman yang menyejukkan hati. Perlahan-lahan tubuh Rangga berubah seperti raksasa, dari permukaan kulitnya keluar bulu-bulu hitam dan lebat. Pandangan mata Larasati mendadak kabur, kepalanya terasa pusing dan semuanya gelap.


“Rangga ternyata adalah Gondoruwo. Tapi, bagaimanapun juga ia adalah suamiku dan aku mencintainya,” Larasati mengakhiri ceritanya. Bachtiar takjub bercampur ngeri mendengar cerita Larasati, namun, tetap berusaha tenang, “Lalu apa yang terjadi selanjutnya ? Apakah suamimu datang untuk menengokmu juga keluargamu ?” tanyanya kemudian.


Pandangan mata Larasati beralih ke arah tirai putih penutup jendela kamar yang bergerak perlahan dihembus angin malam yang masuk melalui lubang kamar. Kembali diterobosnya lorong ruang dan waktu, Bachtiar mendengarkan dengan penuh minat, rasa tenang mulai mengalir dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya, sambil memandangi wajah wanita cantik yang kini duduk disampingnya, ia terlena.


Rangga memang beberapa kali pernah mengunjungi Larasati tapi hanya sebentar saja namun meninggalkan kesan yang cukup mendalam di hati Larasati. Larasati melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama WIGUNA, kebahagiaan keluarga Larasati lengkaplah sudah. Setelah Wiguna berusia 2 tahun, Rangga tak lagi berkunjung, sebelumnya ia memberi nasihat pada Larasati, “Keadaan negeri ini semakin parah, kemiskinan hampir terjadi di seluruh negeri. Nippon benar-benar menguras semua yang kita punyai. Aku tidak bisa berpangku tangan melihat semuanya. Meski aku memiliki darah bangsa jin, namun, disinilah aku tinggal. Disinilah aku bertemu denganmu, memiliki anak dan keluarga. Disinilah aku belajar bagaimana berhubungan dengan manusia. Aku akan kembali meski dalam waktu yang agak lama, bersediakah Kau menungguku ?”


“Kang Rangga, aku adalah isterimu. Apa yang kau perbuat di luar sana aku percaya semua demi kebahagiaan umat manusia. Aku bersedia menunggumu sampai kapanpun, kang”


Setelah itu Rangga membalikkan tubuhnya dan menghilang, seakan kabut di tempat itu menelannya. Sejak saat itulah, Rangga tidak lagi muncul di hadapan Keluarga Larasati. Menjelang akhir penjajahan Jepang atas Indonesia, tepatnya tahun pertengahan tahun 1944, tak juga terdengar kabar dari Rangga. Larasati yang tengah dirundung rindu, nekad meninggalkan Alas Purwo. Dia mencari sang suami kemana-mana, namun tetap saja tidak ketemu malah di tengah perjalanan ia bertemu dengan lebih kurang 20 orang tentara Jepang bersenjata lengkap.


Melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Larasati, Nafsu birahi tentara Jepang itu bergolak, berusaha untuk berbuat tidak senonoh padanya. Namun, mereka harus berjuang keras untuk menundukkan wanita yang ternyata bukan wanita biasa. Sesekali Larasati harus menghidari serangan bayonet, sesekali waktu harus menghindari sabetan samurai, beberapa orang dari mereka berhasil dirobohkan. Karena gagal mengalahkan wanita itu Tentara jepang yang terkenal tanpa ampun dan menyerah itu merubah pola serangannya, mereka tidak lagi menyerang dengan bayonet ataupun samurai akan tetapi, memilih menembak.


Timah-timah panas beterbangan di udara, Larasati jadi kesulitan menebak arah serangan peluru, hingga akhirnya beberapa peluru menembus tubuhnya. Ia berteriak tertahan, darah mengucur membasahi baju merahnya. Ia masih bisa merobohkan beberapa orang lagi, akan tetapi, karena stamina yang terkuras juga kehabisan darah, iapun akhirnya roboh ke tanah. Saat ia roboh ke tanah, telinganya masih mendengar tawa para tentara itu juga suara kain dirobek-robek, setelah itu ciuman dan pelukan bertubi-tubi hingga akhirnya sepasang matanya terbelalak menyaksikan dirinya digilir lebih kurang 12 orang berkulit kuning. Selesai menggilir tubuhnya, salah seorang tentara mencabut samurai dan memenggal kepalanya.


Di tempat itulah, Larasati menyaksikan kematiannya. Keinginannya untuk bertemu dengan suami bukannya terwujud malah kandas di tengah jalan. Sekalipun ia menyadari bahwa masa hidupnya di dunia berakhir secara mengenaskan, tekadnya untuk mencari suaminya masih tetap bulat. Dimana-mana ia berada, disitulah ia melihat mayat-mayat bergelimpangan : anak-anak, orang tua, pria dan wanita. Hatinya bagai tersayat-sayat sembilu melihat keadaan itu, pantas saja suaminya berulang kali meninggalkan keluarga demi membela dan mengusir penjajah dari bumi nusantara.

__ADS_1


Larasati yang tak berhasil menemukan suaminya, kembali ke Alas Purwo. Tapi, keadaan sudah tidak seperti dulu lagi, Wiguna sering sering menangis dan menyendiri di kamarnya. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Karmila dan Ki Ladoyo selain menghiburnya walau tahu cara itu tidak berhasil saat Wiguna berteriak marah sambil membanting-banting barang, “Aku mau ibuku !! Kalian jangan ganggu aku !!”


Terkadang saat Ki Ladoyo dan Karmila sudah tidur, Wiguna duduk sendirian pada dahan sebuah pohon beringin lebat dan berukuran raksasa. Kadang dia bergelantungan pada akar-akarnya, hanya dengan itu hatinya terhibur. Disanalah untuk pertama kalinya, Larasati menemuinya. Meski kini ia berwujud arwah, tapi, Wiguna bisa melihatnya dan bercakap-cakap dengannya, demikian pula Ki Ladoyo juga Karmila. Mereka bertemu kembali, akan tetapi, keadaannya tidak seperti dulu lagi.


Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, terjadi gempa bumi yang cukup besar, dunia juga ikut merasakan getaran itu. Dari jauh Keluarga Larasati melihat gumpalan bola raksasa di langit sebelah Utara. Gumpalan bola raksasa itu mirip letusan gunung berapi, cahayanya seakan membelah langit merah di senja hari. Mendadak saja hujan turun dengan deras sekali, meski hanya sebentar namun cukup membasahi seluruh Alas Purwo. Ki Ladoyo menatap langit, “Hari baru akhirnya datang juga, perang dan derita bangsa ini segera berakhir. Bangsa ini menyambut datangnya era baru,” katanya.


Beberapa hari kemudian, secara mendadak pula Rangga muncul lagi. Ia membawa sebuah kabar gembira, 2 jantung kota terbesar di Jepang : Hiroshima dan Nagasaki hancur dibom oleh tentara sekutu. Tentara-tentara Jepang yang ada di negeri ini ditangkap dan diadili, yang melawan dibunuh. Kabar yang menggembirakan semua orang, akan tetapi, saat melihat keadaan isterinya Larasati, Rangga bersedih. Tetapi, pria itu tidak bisa berbuat apa-apa. 3 hari 3 malam Rangga tinggal bersama keluarganya. Setelah itu kembali menghilang. Malam sebelum pergi, Rangga dan Larasati berbincang-bincang. Dalam perbincangannya, Rangga memberikan cukup banyak nasihat pada sang isteri.


Diantara banyak nasihat yang diberikan, sebuah nasihat yang juga merupakan perintah dari sang suami pada sang isteri dan harus dipatuhi. Nasihat itu adalah, “Kau tidak memenuhi permintaanku untuk menjaga Wiguna baik-baik. Kau malah meninggalkannya sehingga kau celaka. Kini aku minta padamu, permintaanku tidak berbeda dengan permintaanku dulu, yakni : Menjaga, melindungi dan merawat Wiguna hingga kelak dewasa. Di masa-masa mendatang, cepat atau lambat manusia akan mengetahui keberadaan Alas Purwo ini... saat itulah, nyawa para penghuni ini akan terancam. Termasuk, Wiguna. Ada manusia baik, ada pula manusia buruk. Manusia baik akan menerima kebaikannya, kau harus membantunya selagi manusia itu tak berubah. Manusia buruk atau jahat ... juga akan menerima apa yang diperbuatnya ... jika selama ia masih bisa berubah, kita masih bisa mengampuninya. Tapi, jika mereka bertindak di luar batas kemampuannya, menyalahi kodrat serta menyamakan diri dengan sang pencipta. Kita bisa bertindak, sebagai hakim dan algojo, tapi, jangan di luar batas. Jika kau meninggalkan Wiguna lagi, maka, aku takkan menemuimu lagi,” Setelah berkata demikian, Rangga berdiri, ia menatap langit yang penuh dengan gemerlap bintang, Aku takkan menyalahkanmu, bila demi hidup Wiguna kau harus melakukan apa yang dirasa perlu dan harus dilakukan. Itulah yang disebut tanggung jawab,”


Perkataan Rangga menggema, angin malam membawa suara itu menyatu dengan kabut lalu hilang bersamaan dengan menghilangnya tubuh Rangga dari hadapan Larasati. Suara itu masuk melalui kedua lubang telinga dan merasuk dalam sanubari terdalam. Larasati masih berdiri terpaku, sepasang matanya masih menatap ke tempat dimana suaminya berdiri sambil menatap langit.


Udara malam terasa begitu dingin, kabut yang turun dari lereng-lereng pegunungan, menyelimuti Alas Purwo. Bunyi hewan dan serangga malam terdengar saling sahut, mengalun merdu memanjakan semua makhluk Tuhan yang ada di bumi ini. Sebagian udara malam yang membawa kabut-kabut tipis itu bergerak ke sebuah bangunan sederhana dengan pintu gerbang besi berwarna merah. Kabut itu terus bergerak memasuki lubang udara setiap ruangan di dalam rumah itu, dan berhenti pada 2 sosok bayangan pria dan wanita yang duduk di lantai kamar.


Tubuh Bachtiar menggigil perlahan, udara malam yang dingin itu menyadarkannya bahwa waktu sudah menunjukkan tepat dini hari. Sebenarnya, ia sudah mengantuk ... namun, kisah hidup Larasati membuat rasa kantuk itu hilang. Ia asyik mendengarkan dari awal sampai akhir. Cerita Larasati berakhir, ia masih tetap diam sementara sepasang matanya tak berkedip menatap wajah Larasati sekian lama.


“Kau tahu, apa yang membuatku merasa ngeri dan terpukul ?” tanya Larasati menyadarkan Bachtiar yang tengah menatapnya tanpa berkedip. Bachtiar menggelengkan kepala, ”Kau bercanda. Mana aku tahu, kau adalah Larasati, sedang aku adalah Da’i Bachtiar,” jawabnya. Larasati tersenyum, senyuman manis memabukkan siapapun yang memandangnya, “Ketika aku melihat kematianku sendiri. Kukira, siapapun akan merasa seperti itu. Saat para Nippon itu memperkosaku bergantian sekalipun tubuhku sudah menjadi mayat dan kepalaku terpisah dari tubuhku. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu ? Aku tidak terima. Aku ingin membunuh mereka semuanya, tapi, tak berdaya. Yang kedua adalah, menyaksikan anakku menangis berhari-hari, membanting barang-barang yang ada di rumah, membentak Ayah angkatku juga ibuku. Hatiku sakit sekali, seumur hidup aku memperlakukan Wiguna dengan baik, namun, siapa nyana kepergianku malah membuatnya kacau. Yang ketiga adalah, saat Wiguna ditembak oleh temanmu Lukman. Aku marah dan ingin membalas perbuatannya itu, tapi, dia mati atas kesalahannya sendiri,” jelas Larasati.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2